Hary B. Kori'un
http://www.lampungpost.com/
AKU berpikir, inilah mungkin saatnya harus menjelaskan padamu bahwa kesalahpahaman yang terjadi memang harus diselesaikan. Bukan menjadi sebuah kebencian, yang kemudian--kulihat kemarin--menjadi bara di matamu: Barangkali sebuah dendam. Bukan salahmu, tetapi hukum di negeri ini yang tanpa pasti, sehingga memang benar-benar sampai hari ini apa yang terjadi padamu--juga ratusan lainnya--tidak pernah diungkapkan lagi.
Namun, mengapa engkau harus memperlihatkan bentuk kekecewaan itu hanya kepadaku? Matamu. Aku memang benar-benar melihat kekecewaan di sana, di sebuah pertemuan yang tidak terduga yang seharusnya menjadi surprise untuk kita. Tetapi hal itu hanya menjadi kejutan buatku. Karena, ketika aku nyaris patah hati mencarimu selama ini, engkau muncul, dan menjelaskan padaku bahwa masih ada laki-laki yang mau menerimamu, barangkali juga dengan rasa cinta seperti aku dulu. Namun, aku tetap tidak menemukan danau yang bening di mata kecilmu. Ada bara di sana, dan aku tak tahu sampai kapan kamu harus memendamnya.
Hingga kini, aku masih menyimpan cinta untukmu. Sebuah cinta yang harus engkau pahami terbebas dari perasaan iri, ukuran mata atau warna kulit. Aku yakin, engkau masih percaya padaku bahwa hingga hari ini aku masih berusaha mengungkapkan bahwa apa yang terjadi padamu dan perempuan-perempuan lain sekulit denganmu pada peristiwa lebih sepuluh tahun yang lalu, memang benar-benar terjadi. Namun pertemuan kemarin, sedikit-banyak telah menjelaskan padaku, meski aku akhirnya bukan pilihanmu--karena sejak profesiku gagal membantu engkau dan korban lainnya di Mei 1998 yang gelap, engkau kemudian pergi meninggalkanku tanpa sebab dan pesan. Engkau menganggap kami--terutama aku--tidak sungguh-sungguh. Karena, seperti yang engkau katakan dalam emosi yang tinggi dulu, tuduhan bahwa aku tidak bisa menerima dirimu tersebab peristiwa itu, pasti selalu berada dalam benakmu.
"Katakanlah dengan jujur, siapa sih laki-laki yang mau menerima seorang perempuan setelah dia digilir orang-orang tak dikenal dengan brutal. Bahkan polisi pun tidak menolong kami, wartawan menganggap kami mengada-ada, apalagi jaksa. Hukum seperti apa ini? Aku memang China. Kami semua China, apa salahnya menjadi China? Apakah karena ada satu China yang buruk kemudian seluruh orang China semuanya brengsek dan ada pembenaran untuk dijarah, dibunuh, dan diperkosa? Ini benar-benar tidak adil!"
"Engkau salah menafsir, Vi..."
"Di mana salahnya? Apakah kamu ingin aku menjelaskan kepada semua orang, bahwa aku korban perkosaan, mau difoto, kemudian dipampangkan di halaman depan koranmu, dan semua orang menjadi tahu bahwa aku menjadi wanita yang tidak punya masa depan..."
"Apakah engkau merasa tidak memiliki masa depan?"
"Kamu ngomong begitu karena tidak merasakan bagaimana pedih dan sengsaranya kami. Kami dibuat agar tidak punya harga diri lagi. Kami benar-benar dihancurkan..."
Engkau kemudian menangis panjang dan memelukku erat. Sangat erat.
***
Peristiwa itu memang telah mencabik-cabik dirinya: hatinya, perasaannya. Meski aku paham Vivian adalah wanita yang tegar, tapi sampai mana batas ketegaran seorang perempuan jika diperlakukan seperti itu? Sebab aku paham, hampir semua korban perkosaan mengalami trauma sepanjang hidupnya.
Aku berada di lapangan ketika peristiwa itu terjadi. Ketika Jakarta dibakar, toko-toko dijarah dan kerumunan massa membuas seperti beruang lapar, aku memotret dan sekaligus reporting di Slipi Jaya, ketika puluhan pegawai sebuah swalayan terjebak api dan akhirnya mereka tidak terselamatkan. Aku menangis, benar, air mataku meleleh ketika menyaksikan itu, ketika tidak ada seorang pun yang bisa menolong mereka. Dan aku hanya bisa memotret api yang menjadi raja dan sewenang-wenang, dan harus mencatat berapa jumlah korban di sana.
Ketika sampai di kantor dan akan menghidupkan komputer untuk menulis berita, aku membaca pesan yang menempel di monitor: Rusdi, ada telpon dari Vivian Candrawati. Harap hubungi balik ke rumah. Sangat penting. Aku cemas. Kemudian cepat-cepat aku menelpon. Namun, menurut adiknya, dia hanya menangis, tidak mau menerima teleponku. Aku kemudian ke rumahnya. Dia tidak mau menemui. Aku memaksa dan masuk ke kamarnya. Aku mendapati dia tersedu kehabisan air mata menelungkup di pembaringan. Dia kemudian memelukku, lama. Tidak ada kata-kata, hanya isakan.
Hingga akhirnya dia menjelaskan telah terjadi proses penglepasan naluri binantang ke dalam tubuhnya. Tanpa kemanusiaan. Hanya karena dia China. Aku marah, semarah-marahnya. Apakah karena dia China kemudian ada penghalalan dan pembenaran sebuah agama untuk melakukan perkosaan? Mengapa tidak ada orang gereja atau ulama yang menyerukan agar perbuatan itu tidak dilakukan? Ternyata, keyakinan beragama tidak bisa membunuh gejolak binatang. Padahal, hampir semua orang di negeri ini memeluk agama, dan semua agama mengutuk perkosaan.
Dia baru keluar dari kantornya, di sebuah bank swasta di Sudirman, ketika massa mulai marah. Dia mencoba berjalan ke sebuah halte. Namun dia kemudian sadar, tidak ada bus atau angkutan apa pun yang akan datang. Dia kemudian berjalan bersama teman sekerjanya ke arah Blok M. Namun, belum genap 100 meter dia dan teman-temannya berjalan, kerumunan massa mulai mengejar. Mereka berteriak: "China laknat! Kembalikan kekayaan kami! Ayo, mereka sebangsa bangsat, tidak ada harganya. Bahkan kita perkosa pun, kita yang malah dapat pahala. Ayo, kejar mereka!"
Dia dan beberapa temannya mencoba lari, namun itu hanya memperpanjang napas. Karena setelah itu, puluhan laki-laki kekar dan beringas itu sudah menangkapnya bersama teman-temannya. Dia dan tiga temannya kemudian dinaikkan ke sebuah mobil bak terbuka dan dibawa ke suatu tempat, ke sebuah bangunan yang tak berpenghuni. Namun di sekitar itu, saat itu, banyak massa yang merusak dan membakar gedung lainnya. Di sanalah, Vivian, kekasihku, dan tiga temannya harus menerima nasib tragis.
Aku kemudian menulis berita itu. Bahwa dalam kerusuhan Mei 1998, ada perkosaan, dengan indikasi dimobilisasi. Namun, aku harus bertengkar dengan Mas Ruhiat, redakturku. "Kamu jangan aneh-aneh Rusdi. Jangan membuat cerita yang tidak masuk akal-lah..."
"Apakah Mas tetap menganggap tak masuk akal jika itu terjadi terhadap istri atau anak gadis Mas? Ini fakta, dan jika pun bukan pacarku yang diperkosa, aku tetap akan menulisnya! Ini tidak benar. Negeri ini sudah mirip negri drakula, bahkan hewan pun tidak pernah memperkosa lawan jenisnya!"
***
Aku semakin mendapat angin karena beberapa pekan kemudian, beberapa LSM yang bergerak dalam advokasi perempuan menemukan banyak fakta, bahwa memang benar ada kasus perkosaan yang direncanakan dan dimobilisasi sebuah kelompok. Banyak media yang kemudian memberitakannya, dan Mas Ruhiat kemudian menjabat tanganku. "Kita yang pertama kali memberitakannya, Rusdi. Dan kamu yang pertama menulis. Kita menang beberapa langkah..."
Buset! Bahkan yang ada dalam otaknya hanya persaingan.
Namun aku kemudian sangat kecewa. Perkembangan selanjutnya memang buruk. Polisi enggan mengusut kasus itu karena tidak ada bukti autentik, tidak ada bukti meteri yang bisa menjelaskan terjadinya perkosaan itu, apalagi dilakukan secara massal dan terorganisasi. "Kita bekerja berdasarkan bukti materi. Jika tidak ada bukti, hanya kekonyolan yang kita dapatkan. Kecuali, jika ada korban yang mengadu dan bersedia menjadi saksi, baik untuk penyidikan atau saat di depan hakim..," ujar salah seorang pajabat kepolisian.
Hukum memang membutuhkan bukti materi. Tetapi jika para korban kemudian muncul dan memberi kesaksian, aku yakin, masalahnya juga tidak akan selesai kalau tidak ada niat mereka untuk menegakkan hukum. Para wanita itu hanya akan menjadi tontonan dan cemoohan orang sepanjang hidupya.
Namun, alternatif itu kuusulkan kepada Vivian dan LSM-LSM agar melakukan cara itu, jika memang berani menanggung risiko moral.
"Jika kita menang, risiko moral itu akan hilang dan akan menjadi awal bagi pendidikan peradilan kita. Tetapi jika kalah, barangkali memang akan sangat buruk..."
Aku sangat bersemangat, merasa bahwa aku memang seorang pembela. Padahal dengan kesadaran yang sesadar-sadarnya, bahwa aku hanya seorang wartawan dengan jabatan reporter, yang bahkan untuk menurunkan berita yang kutulis pun aku tidak memiki hak.
Vivian marah dan mengatakan bahwa dia tidak bisa mengambil risiko seberat itu. "Aku barangkali bisa menanggung itu, Rusdi. Tetapi bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan ayah, ibu, dan adik-adikku ketika membaca di koranmu atau melihat di televisi, ketika semua orang tahu bahwa aku korban perkosaan? Tidak Rusdi. Jika hukum memang memihak orang benar, tentu kamu tidak mengusulkan cara itu..."
Sayangnya, hukum memang bukan milik masyarakat ketika itu. Aku hanya terobsesi film The Accused. Aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa budaya di Amerika dengan di sini berbeda. Aku kemudian menjadi maklum dan tidak lagi memiliki gairah untuk reporting. Sebab, berbulan-bulan aku melakukan itu, berusaha membela Vivian, teman-temannya dan ratusan wanita senasib dengannya, ternyata tidak ada hasilnya. Aku hanya seorang wartawan, bukan pemilik negara, atau setidaknya pemilik koran. Aku menjadi tidak bangga lagi dengan profesi yang sekian tahun kubanggakan. Aku baru ingat kata-kata ironis, bahwa kadang-kadang, revolusi harus memakan anaknya sendiri.
Hingga akhirnya aku paham, kebencian Vivian kepadaku memang benar adanya muncul dari emosional dan keputusasaan. Meski berkali-kali aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan tetap menerimanya dengan apa adanya. Namun, dia tetap bersikeras bahwa aku sama dengan orang-orang itu. Ada dendam di dadanya. Dan itu sangat membara, membakarnya. "Mengapa Rusdi? Apakah memang orang-orang pendatang seperti kami bukan bagian dari manusia yang memiliki harga diri dan martabat? Apakah sekat pribumi dan orang asing harus tetap ditumbuhkan untuk menjelaskan mana bangsa yang beradab dan lebih unggul? Okelah kalau begitu, aku percaya barangkali aku akan selalu meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tetapi, karena sekat itu akan tetap ada, kita memang tidak bisa untuk tetap bersama. Cinta barangkali memang tidak ada artinya, sebab yang menang adalah kebencian, dendam dan keputusasaan. Aku mencintaimu, sangat. Tetapi aku memiliki sakit hati, dendam dan keputusasaan itu!"
Dia kemudian pergi tanpa kabar. Juga keluarganya. Menurut tetangganya, dia kembali ke Nanking, tanah asalnya. Aku menjadi sangat kehilangan.
Hingga kemudian, kemarin kami berjumpa. Dia bersama seorang laki-laki yang sewarna kulitnya dan sama lebar matanya. Aku tidak tahu apakah dia suami atau kekasihnya. Tetapi, jelas ada yang luka dalam diriku. Bukan hanya sebatas cemburu: barangkali luka, pilu dan ngilu. Sebab, dia tetap memelihara dendam di matanya, juga keputusasaannya, meski aku juga menemukan ada perasaan rindu.
Memang, bukan hanya sebatas cemburu: barangkali luka, pilu, dan ngilu, dalam hatiku. Sebab, meski dia mencintaiku "seperti pengakuan terakhirnya", tapi dia tetap tidak percaya bahwa cinta bisa membebaskan orang dari batas-batas yang membuat perbedaan. Dia memang tidak pernah percaya--aku melihat dari matanya yang sebenarnya indah meski ukurannya kecil--dengan semua itu.
Aku ingat ketika menghiburnya dulu: "Bagiku, tak penting engkau tidak perawan, aku tetap mencintaimu."
"Persoalannya bukan perawan atau tidak, Rusdi. Tetapi harga diri!"
"Di mataku kau tetap wanita dengan segala harga dirimu."
"Suatu saat nanti kau akan menarik ucapanmu..."
Hingga hari ini, aku tak pernah menarik ucapanku itu.
Jakarta November 1999--Pekanbaru Januari 2009
*) Wartawan dan editor buku-buku sastra di Yayasan Sagang (Pekanbaru).
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Sabtu, 28 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar