Sabtu, 28 Februari 2009

Luka Beku

Hary B. Kori'un
http://www.lampungpost.com/

AKU berpikir, inilah mungkin saatnya harus menjelaskan padamu bahwa kesalahpahaman yang terjadi memang harus diselesaikan. Bukan menjadi sebuah kebencian, yang kemudian--kulihat kemarin--menjadi bara di matamu: Barangkali sebuah dendam. Bukan salahmu, tetapi hukum di negeri ini yang tanpa pasti, sehingga memang benar-benar sampai hari ini apa yang terjadi padamu--juga ratusan lainnya--tidak pernah diungkapkan lagi.

Namun, mengapa engkau harus memperlihatkan bentuk kekecewaan itu hanya kepadaku? Matamu. Aku memang benar-benar melihat kekecewaan di sana, di sebuah pertemuan yang tidak terduga yang seharusnya menjadi surprise untuk kita. Tetapi hal itu hanya menjadi kejutan buatku. Karena, ketika aku nyaris patah hati mencarimu selama ini, engkau muncul, dan menjelaskan padaku bahwa masih ada laki-laki yang mau menerimamu, barangkali juga dengan rasa cinta seperti aku dulu. Namun, aku tetap tidak menemukan danau yang bening di mata kecilmu. Ada bara di sana, dan aku tak tahu sampai kapan kamu harus memendamnya.

Hingga kini, aku masih menyimpan cinta untukmu. Sebuah cinta yang harus engkau pahami terbebas dari perasaan iri, ukuran mata atau warna kulit. Aku yakin, engkau masih percaya padaku bahwa hingga hari ini aku masih berusaha mengungkapkan bahwa apa yang terjadi padamu dan perempuan-perempuan lain sekulit denganmu pada peristiwa lebih sepuluh tahun yang lalu, memang benar-benar terjadi. Namun pertemuan kemarin, sedikit-banyak telah menjelaskan padaku, meski aku akhirnya bukan pilihanmu--karena sejak profesiku gagal membantu engkau dan korban lainnya di Mei 1998 yang gelap, engkau kemudian pergi meninggalkanku tanpa sebab dan pesan. Engkau menganggap kami--terutama aku--tidak sungguh-sungguh. Karena, seperti yang engkau katakan dalam emosi yang tinggi dulu, tuduhan bahwa aku tidak bisa menerima dirimu tersebab peristiwa itu, pasti selalu berada dalam benakmu.

"Katakanlah dengan jujur, siapa sih laki-laki yang mau menerima seorang perempuan setelah dia digilir orang-orang tak dikenal dengan brutal. Bahkan polisi pun tidak menolong kami, wartawan menganggap kami mengada-ada, apalagi jaksa. Hukum seperti apa ini? Aku memang China. Kami semua China, apa salahnya menjadi China? Apakah karena ada satu China yang buruk kemudian seluruh orang China semuanya brengsek dan ada pembenaran untuk dijarah, dibunuh, dan diperkosa? Ini benar-benar tidak adil!"

"Engkau salah menafsir, Vi..."

"Di mana salahnya? Apakah kamu ingin aku menjelaskan kepada semua orang, bahwa aku korban perkosaan, mau difoto, kemudian dipampangkan di halaman depan koranmu, dan semua orang menjadi tahu bahwa aku menjadi wanita yang tidak punya masa depan..."

"Apakah engkau merasa tidak memiliki masa depan?"

"Kamu ngomong begitu karena tidak merasakan bagaimana pedih dan sengsaranya kami. Kami dibuat agar tidak punya harga diri lagi. Kami benar-benar dihancurkan..."

Engkau kemudian menangis panjang dan memelukku erat. Sangat erat.
***

Peristiwa itu memang telah mencabik-cabik dirinya: hatinya, perasaannya. Meski aku paham Vivian adalah wanita yang tegar, tapi sampai mana batas ketegaran seorang perempuan jika diperlakukan seperti itu? Sebab aku paham, hampir semua korban perkosaan mengalami trauma sepanjang hidupnya.

Aku berada di lapangan ketika peristiwa itu terjadi. Ketika Jakarta dibakar, toko-toko dijarah dan kerumunan massa membuas seperti beruang lapar, aku memotret dan sekaligus reporting di Slipi Jaya, ketika puluhan pegawai sebuah swalayan terjebak api dan akhirnya mereka tidak terselamatkan. Aku menangis, benar, air mataku meleleh ketika menyaksikan itu, ketika tidak ada seorang pun yang bisa menolong mereka. Dan aku hanya bisa memotret api yang menjadi raja dan sewenang-wenang, dan harus mencatat berapa jumlah korban di sana.

Ketika sampai di kantor dan akan menghidupkan komputer untuk menulis berita, aku membaca pesan yang menempel di monitor: Rusdi, ada telpon dari Vivian Candrawati. Harap hubungi balik ke rumah. Sangat penting. Aku cemas. Kemudian cepat-cepat aku menelpon. Namun, menurut adiknya, dia hanya menangis, tidak mau menerima teleponku. Aku kemudian ke rumahnya. Dia tidak mau menemui. Aku memaksa dan masuk ke kamarnya. Aku mendapati dia tersedu kehabisan air mata menelungkup di pembaringan. Dia kemudian memelukku, lama. Tidak ada kata-kata, hanya isakan.

Hingga akhirnya dia menjelaskan telah terjadi proses penglepasan naluri binantang ke dalam tubuhnya. Tanpa kemanusiaan. Hanya karena dia China. Aku marah, semarah-marahnya. Apakah karena dia China kemudian ada penghalalan dan pembenaran sebuah agama untuk melakukan perkosaan? Mengapa tidak ada orang gereja atau ulama yang menyerukan agar perbuatan itu tidak dilakukan? Ternyata, keyakinan beragama tidak bisa membunuh gejolak binatang. Padahal, hampir semua orang di negeri ini memeluk agama, dan semua agama mengutuk perkosaan.

Dia baru keluar dari kantornya, di sebuah bank swasta di Sudirman, ketika massa mulai marah. Dia mencoba berjalan ke sebuah halte. Namun dia kemudian sadar, tidak ada bus atau angkutan apa pun yang akan datang. Dia kemudian berjalan bersama teman sekerjanya ke arah Blok M. Namun, belum genap 100 meter dia dan teman-temannya berjalan, kerumunan massa mulai mengejar. Mereka berteriak: "China laknat! Kembalikan kekayaan kami! Ayo, mereka sebangsa bangsat, tidak ada harganya. Bahkan kita perkosa pun, kita yang malah dapat pahala. Ayo, kejar mereka!"

Dia dan beberapa temannya mencoba lari, namun itu hanya memperpanjang napas. Karena setelah itu, puluhan laki-laki kekar dan beringas itu sudah menangkapnya bersama teman-temannya. Dia dan tiga temannya kemudian dinaikkan ke sebuah mobil bak terbuka dan dibawa ke suatu tempat, ke sebuah bangunan yang tak berpenghuni. Namun di sekitar itu, saat itu, banyak massa yang merusak dan membakar gedung lainnya. Di sanalah, Vivian, kekasihku, dan tiga temannya harus menerima nasib tragis.

Aku kemudian menulis berita itu. Bahwa dalam kerusuhan Mei 1998, ada perkosaan, dengan indikasi dimobilisasi. Namun, aku harus bertengkar dengan Mas Ruhiat, redakturku. "Kamu jangan aneh-aneh Rusdi. Jangan membuat cerita yang tidak masuk akal-lah..."

"Apakah Mas tetap menganggap tak masuk akal jika itu terjadi terhadap istri atau anak gadis Mas? Ini fakta, dan jika pun bukan pacarku yang diperkosa, aku tetap akan menulisnya! Ini tidak benar. Negeri ini sudah mirip negri drakula, bahkan hewan pun tidak pernah memperkosa lawan jenisnya!"
***

Aku semakin mendapat angin karena beberapa pekan kemudian, beberapa LSM yang bergerak dalam advokasi perempuan menemukan banyak fakta, bahwa memang benar ada kasus perkosaan yang direncanakan dan dimobilisasi sebuah kelompok. Banyak media yang kemudian memberitakannya, dan Mas Ruhiat kemudian menjabat tanganku. "Kita yang pertama kali memberitakannya, Rusdi. Dan kamu yang pertama menulis. Kita menang beberapa langkah..."

Buset! Bahkan yang ada dalam otaknya hanya persaingan.

Namun aku kemudian sangat kecewa. Perkembangan selanjutnya memang buruk. Polisi enggan mengusut kasus itu karena tidak ada bukti autentik, tidak ada bukti meteri yang bisa menjelaskan terjadinya perkosaan itu, apalagi dilakukan secara massal dan terorganisasi. "Kita bekerja berdasarkan bukti materi. Jika tidak ada bukti, hanya kekonyolan yang kita dapatkan. Kecuali, jika ada korban yang mengadu dan bersedia menjadi saksi, baik untuk penyidikan atau saat di depan hakim..," ujar salah seorang pajabat kepolisian.

Hukum memang membutuhkan bukti materi. Tetapi jika para korban kemudian muncul dan memberi kesaksian, aku yakin, masalahnya juga tidak akan selesai kalau tidak ada niat mereka untuk menegakkan hukum. Para wanita itu hanya akan menjadi tontonan dan cemoohan orang sepanjang hidupya.

Namun, alternatif itu kuusulkan kepada Vivian dan LSM-LSM agar melakukan cara itu, jika memang berani menanggung risiko moral.

"Jika kita menang, risiko moral itu akan hilang dan akan menjadi awal bagi pendidikan peradilan kita. Tetapi jika kalah, barangkali memang akan sangat buruk..."

Aku sangat bersemangat, merasa bahwa aku memang seorang pembela. Padahal dengan kesadaran yang sesadar-sadarnya, bahwa aku hanya seorang wartawan dengan jabatan reporter, yang bahkan untuk menurunkan berita yang kutulis pun aku tidak memiki hak.

Vivian marah dan mengatakan bahwa dia tidak bisa mengambil risiko seberat itu. "Aku barangkali bisa menanggung itu, Rusdi. Tetapi bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan ayah, ibu, dan adik-adikku ketika membaca di koranmu atau melihat di televisi, ketika semua orang tahu bahwa aku korban perkosaan? Tidak Rusdi. Jika hukum memang memihak orang benar, tentu kamu tidak mengusulkan cara itu..."

Sayangnya, hukum memang bukan milik masyarakat ketika itu. Aku hanya terobsesi film The Accused. Aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa budaya di Amerika dengan di sini berbeda. Aku kemudian menjadi maklum dan tidak lagi memiliki gairah untuk reporting. Sebab, berbulan-bulan aku melakukan itu, berusaha membela Vivian, teman-temannya dan ratusan wanita senasib dengannya, ternyata tidak ada hasilnya. Aku hanya seorang wartawan, bukan pemilik negara, atau setidaknya pemilik koran. Aku menjadi tidak bangga lagi dengan profesi yang sekian tahun kubanggakan. Aku baru ingat kata-kata ironis, bahwa kadang-kadang, revolusi harus memakan anaknya sendiri.

Hingga akhirnya aku paham, kebencian Vivian kepadaku memang benar adanya muncul dari emosional dan keputusasaan. Meski berkali-kali aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan tetap menerimanya dengan apa adanya. Namun, dia tetap bersikeras bahwa aku sama dengan orang-orang itu. Ada dendam di dadanya. Dan itu sangat membara, membakarnya. "Mengapa Rusdi? Apakah memang orang-orang pendatang seperti kami bukan bagian dari manusia yang memiliki harga diri dan martabat? Apakah sekat pribumi dan orang asing harus tetap ditumbuhkan untuk menjelaskan mana bangsa yang beradab dan lebih unggul? Okelah kalau begitu, aku percaya barangkali aku akan selalu meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tetapi, karena sekat itu akan tetap ada, kita memang tidak bisa untuk tetap bersama. Cinta barangkali memang tidak ada artinya, sebab yang menang adalah kebencian, dendam dan keputusasaan. Aku mencintaimu, sangat. Tetapi aku memiliki sakit hati, dendam dan keputusasaan itu!"

Dia kemudian pergi tanpa kabar. Juga keluarganya. Menurut tetangganya, dia kembali ke Nanking, tanah asalnya. Aku menjadi sangat kehilangan.

Hingga kemudian, kemarin kami berjumpa. Dia bersama seorang laki-laki yang sewarna kulitnya dan sama lebar matanya. Aku tidak tahu apakah dia suami atau kekasihnya. Tetapi, jelas ada yang luka dalam diriku. Bukan hanya sebatas cemburu: barangkali luka, pilu dan ngilu. Sebab, dia tetap memelihara dendam di matanya, juga keputusasaannya, meski aku juga menemukan ada perasaan rindu.

Memang, bukan hanya sebatas cemburu: barangkali luka, pilu, dan ngilu, dalam hatiku. Sebab, meski dia mencintaiku "seperti pengakuan terakhirnya", tapi dia tetap tidak percaya bahwa cinta bisa membebaskan orang dari batas-batas yang membuat perbedaan. Dia memang tidak pernah percaya--aku melihat dari matanya yang sebenarnya indah meski ukurannya kecil--dengan semua itu.

Aku ingat ketika menghiburnya dulu: "Bagiku, tak penting engkau tidak perawan, aku tetap mencintaimu."

"Persoalannya bukan perawan atau tidak, Rusdi. Tetapi harga diri!"
"Di mataku kau tetap wanita dengan segala harga dirimu."
"Suatu saat nanti kau akan menarik ucapanmu..."
Hingga hari ini, aku tak pernah menarik ucapanku itu.

Jakarta November 1999--Pekanbaru Januari 2009
*) Wartawan dan editor buku-buku sastra di Yayasan Sagang (Pekanbaru).

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar