Selasa, 17 Februari 2009

Jangan Kau Tusuk Hatiku dengan Tajam Pandangmu

Sunaryono Basuki Ks
http://www.lampungpost.com/

Kau letakkan pantatmu di atas kursi berkaki tinggi bertempat duduk bulat berlapis kulit warna cokelat tua di depan meja bar dan dengan serta merta kau pesan: "Lager satu!"

Kau sambar gelas bir itu setelah mengeluarkan satu lembar uang pound dan kau ucapkan thanks, kemudian matamu jelalatan terlempar ke seluruh sudut ruangan. Pasti kamu sedang mencari kursi kosong tempat kau merasa lebih santai dengan segelas besar birmu, atau mungkin juga kau akan membakar rokokmu dan mengepul-kepulkan asapnya memadati ruang sempit Oak Tree Pub yang sempit. Orang bilang di sini dulu ada sebatang pohon Oak tua yang ratusan tahun usianya tetapi sekarang tinggal foto hitam putihnya yang tergantungg di dinding pub.

Sebentar kamu layangkan pandangmu ke foto hitam putih berpigura kaca berukuran besar itu, mungkin kau membayangkan jalan itu: Sebuah pertigaan antara Jalan Headingly dan jalan lain yang sekarang bernama Shireoak Road, tempat Mary Morris Residence terletak, tempatku tinggal sampai bulan Juni depan. Baru kutahu bahwa Marry Morris pembuat kamus dan mungkin dana yang dipakai membangun asrama mahasiswa internasional itu berasal dari royalti bukunya.

Tampaknya kau segera bosan memandang foto yang mungkin saja telah kau pandang seribu kali, kau pandang setiap kamu berkunjung ke pub ini. Lalu, dengan langkah tegas kau melorot dari stool yang kamu duduki, dan menuju kursi kosong di seberang mejaku, padahal tempat duduk papan yang menempel sepanjang dinding dekat jendela kaca masih kosong.

"Hai!" sapanya.

"Hai!" aku menyahut.

Aku bukan pengunjung tetap pub ini, berbeda dengan temanku, mahasiswa Afrika hitam yang setiap malam minum-minum di situ dan setiap malam di dapur dia mengeluh tentang uang beasiswa yang kurang. Dia lalu menjelek-jelekkan Pemerintah Inggris yang memberinya uang belajar. Kadang sebelum berangkat ke pub dia mengetuk pintu kamarku dan meminjam uang satu pound dan tak pernah mengembalikannya. Berbeda dengan James, temanku di Fylde College di Lancaster yang pernah meminjam satu pound sebelum berangkat ke pub, dan pulangnya langsung mengetuk pintu kamarku dan mengembalikan uang itu.

"Lho, bawa saja kalau perlu," kataku.

"Tidak," kata dia. "Maaf, tadi aku pinjam siapa tahu aku harus nraktir minum teman dan uangku kurang. Ternyata cukup."

Aku jadi teringat kata-kata Brian tentang budaya minum bir di pub. Kalau kita pergi bertiga, katanya, masing-masing harus siap mentraktir yang lain secara bergiliran. Kalau sudah selesai minum, maka harus menawarkan mengambilkan minuman kedua, sampai ketiganya sudah sama-sama membayar. Kalau hanya menunggu ditraktir, maka jangan diharap lain kali kita akan disapa teman dan diajak minum bersama. Bukankah pub memang semacam balai banjar di Inggris tempat bersosialisi?

Mengetahui hal itu, ketika aku berkunjung ke rumah Richard Watson di Marske-by-the Sea dan diajak ke pub, dan ditraktir minum oleh Mr. Smith teman Richard, aku menawarkan diri untuk membayar gelas kedua tetapi lelaki itu melarang:

"Tidak. Aku yang bayar. Kamu tamuku!"

Dan kepada teman-temannya di pub kota kecil itu dia perkenalkan diriku sebagai tamu dari Bali. Oh, Bali! Teriak mereka penuh kekaguman, membayangkan negeri eksotis:

"See Bali before you die!" Salah seorang mereka meneriakkan semboyan usang itu.

Dan kau sudah duduk di seberang meja. Mau ngomong apa selain cuaca, atau acara TV atau berita koran?

"Aku suka pub ini. Pengunjungnya kebanyakan mahasiswa. Bukankah di sekitar sini tinggal banyak mahasiswa?"

"Ya, ya, aku juga dari Mary Morris Residence," kataku.

Kau meringis, kelihatann gigimu yang rapi dan seperti kutakutkan, kau mengeluarkan sebungkus rokok dari sakumu dan tanpa basa-basi menyalakan rokok sebatang. Di Indonesia, aku pasti ditawari rokok, tetapi tidak di sini. Aku ingat dalam perjalanan dengan kereta api dari London ke Lancaster, beberapa lelaki di dalam gerbong ngobrol dengan santai. Seorang anak muda yang duduk di depanku dan di sampingnya seorang lelaki lebih tua, mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menyalakannya sebatang. Lelaki muda itu tampaknya tertarik dan minta sebatang untuk menemaninya merokok. Tetapi aku terkejut, sebab lelaki itu menyuruh pemuda itu mengambil rokok beserta bungkusnya dengan nada kurang senang. Dan lelaki muda itu minta maaf tetapi yang tua ngotot menyodorkan bungkus rokoknya. Aku merasakan ketegangan, tetapi lantaran aku tak paham budayanya, aku diam saja. Aku teringat Susan Spencer temanku di Lancaster. Dia beserta suaminya Terry pernah bekerja di Kenya sebagai sukarelawan. Di negeri itu dia belajar bahwa makanan adalah milik sosial, jadi saling menawarkan makanan itu wajar. Dan kebiasaan itu dibawanya sampai pulang ke Inggris. Kalau sedang makan, tak lupa dia menawarkan makanannya dengan sungguh-sungguh bukan basa-basi yang basi.

"Kau pasti mahasiswa juga," katamu.

"Dan kau apa bukan mahasiswa?"

"Ya, aku belajar sosiologi."

"Bagus untuk mengenal masyarakat. Apa kamu mau menulis skripsi atau desertasi tentang Pub Goers?"

Kau tatap mataku tajam seolah kau memprotes atau menelisik? Aku tak tahu. Aku gelisah kau pandang begitu. Katanya, orang Inggris sejak tahun 1967 menjadi permissive, bebas bicara apa saja, jadi kau mempraktekkan hal itu, memandang langsung ke dalam mata lawan bicaramu. Dan aku jadi berdebar sebab setiap pandangan bagiku mengirim getar rahasia yang menusuk kalbuku.

Kulihat bibirmu yang menggigit rokok seolah menggigit bibirku, kulihat rokok itu kau jilat seolah kau menjilatiku. Aku tak tahan melihat tatapan matamu yang langsung seolah mengejek seolah mengundang. Aku tak paham.

"Kamu dari Asia, ya? China?"

"Dari Bali!"

"Bali! Oh, tak kira bisa bertemu dengan orang Bali! Luar biasa. Coba ceritakan tentang sorga terakhir itu. Apa benar-benar sorga?"

Matamu masih penuh sorot bagai spotlight menerangi kegelapan. Dan membuatku berdebar. Lalu kau menaruh kedua sikumu di meja dan menjulurkan seluruh tubuhmu yang dibungkus sweater polo neck berwarna merah menyala itu mendekati tubuhku. Kucium bau asap rokok yang masih mengepul dari mulutmu bercampur bau bir yang menyengat. Aku selalu berdebar memandang gadis yang mengenakan sweater dengan lingkaran tergulung di leher, entah dari peristiwa mana, mungkin sudah lama lalu dan entah dimana.

"Yah, kamu bisa berselancar di Kuta atau di berbagai pantai lain di pesisir selatan, atau memandang sunset di Tanah Lot atau nonton Barong di Singapadu, atau wayang wong di Tejakula, atau liat dolphin di Lovina..."

Kulihat pandanganmu kosong, pasti kau tak paham tentang apa yang kuceritakan, dan aku tak mampu menjelaskannya dengan lebih perinci padamu. Aku bukan penulis buku panduan wisata yang bisa berkisah dengan menarik tentang hal-hal yang akan dialami oleh wisatawan. Aku bukan penulis The Yellow Bible, julukan buku panduan wisata yang banyak dikantongi wisatawan yang datang ke Bali. Namun, tampaknya kamu benar-benar tertarik.

"Kamu mau melancong ke Bali? Aku bisa kasih kamu alamat hotel-hotel murah di Lovina. Atau kalau kamu lebih suka tinggal di Kuta, kamu bisa menginap di salah satu hotel kecil di Pettycoat Lane."

"Hah? Di mana itu?"

"Di Kuta, di Bali bagian selatan. Nama-nama jalannya memang norak. Nyontek nama-nama jalan di negerimu."

"Oke, coba kasih alamatmu nanti aku bersurat."

Kau masih juga menatapku langsung menembus jantungku sambil tersenyum kecil. Aku merasa sesak bukan karena pandanganmu tetapi mungkin karena asap rokok yang mengepul di mana-mana sampai kaca mataku berembun dan kusapu dengan tisue yang kutarik dari kantong celanaku. Kamu menyodorkan notes dan aku menuliskan nama dan alamatku di situ. Dan tanpa kutanya kamu berkata:

"Namaku Nancy."

Aku tersenyum, apakah Nancy Reagan, pasti kamu tak tahu kenapa aku tersenyum.

"Oke. Mungkin kita ketemu lagi di sini lain kali," katamu setelah kamu minum dua gelas tanpa menawariku. Dan kamu dengan langkah pasti meninggalkan aku sendiri dalam pub, masih dengan gelas birku yang setengah terisi. Jatahku hanya satu gelas tak boleh lebih.

Kau tak pernah kujumpai lagi sebab aku memang jarang ke pub dan kamu juga tak mencariku di asrama, dan kau juga tak pernah bersurat ke Bali. Tapi, permintaanku tetap satu: Jangan kau tusuk hatiku dengan tajam pandangmu. Aku takut. Takut jatuh cinta!

Singaraja 23 Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar