Topik Mulyana
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Pada Februari 2005, Musyawarah Nasional I Forum Lingkar Pena (FLP) diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta. Para peserta datang dari Aceh hingga Ternate. Hal terpenting dari Munas tersebut adalah terjadinya pergantian ketua umum. Bagi FLP, pergantian ini merupakan peristiwa penting, karena warna FLP diprediksikan akan berubah drastis. Hal ini mengingat ketua umum terganti Helvy Tiana Rosa (HTR), adalah patron sekaligus brand image yang begitu kuat bagi FLP. HTR adalah FLP, FLP adalah HTR. Sementara, ketua umum pengganti M. Irfan Hidayatullah (FLP Jabar), tidaklah demikian.
Berkenaan dengan itu, ada beberapa informasi tambahan. Pertama, sebetulnya semua anggota FLP masih menginginkan HTR, namun HTR bersikeras menolaknya. Kedua, penggantian itu sendiri bukan tanpa setting. HTR "mengondisikan" agar Irfan menjadi ketua, bukan Izzatul Jannah (FLP Jateng) atau Asma Nadia (Pusat), yang merupakan patron lain selain HTR. Kedua peristiwa ini diikat oleh satu benang merah, yakni bahwa HTR dan beberapa pentolan FLP yang lain menyadari betul bahwa patronisme itu berbahaya.
Satu hal lagi yang harus segera saya tambahkan bahwa pada mulanya kepengurusan FLP oleh Irfan, dibentuklah Divisi Kritik dan Litbang. Divisi ini dibentuk karena Irfan, sebagai akademisi sastra, menyadari bahwa kritik sastra harus segera ditradisikan di FLP, dengan harapan gerakan literasi ini akan lebih sehat. Untuk menunjang divisi tersebut, kawan-kawan FLP dari kalangan akademisi sastra pun direkrut. Sebagai tindak lanjut, divisi ini kemudian menjalin kerja sama dengan beberapa majalah Islam, seperti Annida dan Sabili berupa penyediaan kolom kritik sastra. Di tingkat daerah, bahkan FLP menjalin kerja sama dengan media-media lokal yang warnanya lebih umum, seperti Aceh Magazine, Batam Pos, dan Radar Bandung.
Selain itu, untuk menghentikan "pemanjaan" para penulis FLP oleh beberapa penerbit Islam, yang menyebabkan minimnya kompetisi dan berujung pada munculnya karya-karya religi picisan ala sinetron, FLP juga menggalakkan para anggotanya untuk ikut berjibaku dengan para penulis lain demi dimuat di media massa umum nasional. Upaya ini mulai dijajaki dan terus dikampanyekan. Hal itu, terbukti dengan munculnya semacam "serangan" terhadap media massa nasional selain Republika. Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan Jawa Pos telah disambangi oleh para penulis FLP, seperti Alimudin (Aceh), Ade Efdira (Padang), Fitra Yogi (Padang), Palris Jaya (DKI), Zaenal Radar T. (DKI), Denny Prabowo (Depok), dan Wildan Nugraha (Bandung). Lebih jauh, diharapkan dari FLP akan muncul karya-karya berkualitas, bahkan dapat menjadi kanon bagi dunia kesusastraan di Indonesia.
Namun demikian, FLP tetaplah FLP yang dalam istilah Beni R. Budiman (alm.) adalah para "mualaf sastra". Artinya, FLP masih sangat perlu belajar dari para penulis senior. Maka, sejumlah sastrawan pun diminta untuk turut andil, baik intensif maupun insidental. Tersebutlah mereka, Taufik Ikram Jamil, Isbedy Stiawan Z.S., Ahmad Tohari, Agus R. Sarjono, Taufiq Ismail, Jamal D. Rahman, Ahmadun Yosi Herfanda, Maman S. Mahayana, Joni Ariadinata, Erwan Juhara, Soni Farid Maulana, dan banyak lagi.
Informasi ini penting karena masih ada beberapa pihak yang menilai keberadaan FLP dan karya-karyanya secara stereotip, bahkan mengarah pada gosip. Mereka hanya melihatnya berdasarkan helicoptre view, sehingga menyebabkan luputnya detail-detail dan dinamika objek yang dipandangnya.
Penilaian itu, diperparah dengan munculnya pemberitaan yang tidak komprehensif dari media sehingga membuat stereotivitas itu semakin kuat. Orang yang tadinya berkeyakinan bahwa FLP itu adalah komunitas sastra Islam yang barangkali sesuai harapannya, semakin yakin bahwa FLP itu memang demikian (beberapa waktu lampau, seorang wartawan senior memetakan dunia sastra Indonesia dengan terlampau simplistik, yakni "sastra pengusung moral" (HTR dan FLP) versus "sastra penghancur moral" (Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dll.).
Pun sebaliknya, orang yang tadinya sudah berasumsi bahwa FLP itu mengerucutkan sastra Islam, kian yakinlah bahwa FLP memang demikian (milis Mediacare malah secara menggelikan menyebut FLP sebagai underbouw PKS). Orang pertama akan semakin yakin bahwa FLP adalah satu-satunya komunitas dan karya sastra Islam, sementara orang kedua semakin sinis dan gelisah. Keduanya, baik yang senang maupun yang gelisah, adalah keliru. Yang tidak keliru adalah menilai FLP dengan mekanisme studi, baik studi tentang ke-FLP-annya (historis-ekspresif, meminjam terminologi Abrams) maupun kekaryaannya (objektif).
Melani Budianta pernah melakukan studi objektif. Dia membaca beberapa karya FLP, kemudian mengkritisinya. Dia mengupas beberapa kekurangan teknis yang mendasar dengan menunjukkannya, misalnya membuat komparasi antara logika cerita dan fakta. Maman S. Mahayana pernah melakukan studi historis-ekspresif. Ia menilai bahwa FLP adalah salah satu bentuk perayaan terhadap komunitas literer yang akan turut memberikan sumbangsih pada kemajuan budaya literasi di Indonesia karena kemajuan, apa pun namanya dan siapa pun pelakunya, harus dicapai dengan langkah-langkah strategis.
Amien Wangsitalaja pernah membuat penilaian yang lebih spesifik dan berimbang. Dalam rangka melawan "sastra pizza" yang hendak menghegemonikan "ideologi estetika kelas" kaum perempuan yang suka bereksperimen dengan "kelamin" di dalamnya, model gerakan FLP sudah pas. Hanya saja, diperlukan gerakan serupa dengan perangkat dan modus operandi yang berbeda, komunitas dengan semangat serupa tapi mengusung karya universal, yang tidak hanya membidik segolongan spesifik pembaca dan tidak berparadigma hitam-putih dalam mendedah persoalan.
Setiap orang memang berhak mengkritik, tetapi setiap orang juga berhak menolak kritik karena tidak setiap orang dapat membuat kritik yang baik.
Kritik
Secara umum, pengertian kritik tergolong pada dua hal, yakni "pengecaman" dan "pengupasan". Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2002) mendefinisikan kritik sebagai "kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb." Kritik yang cenderung pada pengecaman adalah pengertian kritik di wilayah umum (pragmatik), sedangkan kritik yang cenderung pada pengupasan adalah kritik yang berada di wilayah khusus (diskursif).
Kritik di wilayah sastra (kritik sastra), sudah pasti merupakan kritik di wilayah diskursif. Maka dari itu, ia mesti bersifat ilmiah. Setidaknya, ia harus melewati beberapa tahap, mulai dari pembacaan (apresiasi), pemerian (definisi), pemilahan (klasifikasi), pengupasan (analisis), penilaian (evaluasi), dan penghakiman (justifikasi). Dalam satu simposium sastra akhir 60-an tentang kritik dan esai, Gayus Siagian menyebutkan bahwa membuat kritik sastra "lebih sulit" daripada membuat esai. Pasalnya, dalam kritik sastra aspek ilimiah lebih condong ketimbang kreativitas. Maka, tak perlu heran jika nasibnya selalu memusingkan dan menyedihkan.
Selain tahapan-tahapan tersebut, ada satu langkah penting lagi dalam upaya membuat kritik sastra, yaitu soal pengolahan teori atau pendekatan. Bakdi C. Soemanto pernah mengatakan bahwa pendekatan "pinjaman" yang berasal dari kebudayaan yang sudah mantap, tidak bisa diterapkan begitu saja pada karya yang kebudayaannya masih belum mantap. Misalnya, semiotika Pierce tidak bisa begitu saja digunakan, untuk mengkritisi sajak-sajak Linus Suryadi A.G. atau Darmanto Jatman. Barangkali, karena itu pula, ketika ditanya tentang pendekatan apa yang digunakan untuk menganalisis aspek-aspek mistik dalam cerita-cerita klasik Sunda Si Kabayan, Jakob Sumardjo menyebutkan "semiotika lokal"; ia tidak berani menyebut semiotika Pierce atau Lotman.
Bagaimana pula jika teori-teori "pinjaman" itu diterapkan pada karya-karya populer? Tentu butuh upaya yang lebih berdarah-darah lagi, untuk mengolah teori tersebut. Penerapan langsung teori terhadap karya-karya yang dinilai dari segi apa pun, masih jauh dari mantap itu hanya akan melahirkan kritik yang mentah, tidak mengena, jauh panggang dari api.
Estetika Resepsi a la Jaus akan terlampau mengawang jika diterapkan pada Ketika Mas Gagah Pergi. Kritik Sastra Feminis a la Spivak akan terlampau mengangkasa jika diterapkan pada Aisyah Putri. Kritik Sastra Marxis a la Adorno terlampau melangit jika diterapkan pada Ayat-Ayat Cinta. Oleh karenanya, jangankan terjadi penerapan, sekadar bersentuhan pun tidak.
Antikritik?
Dalam tulisan saya yang berjudul "FLP, Sastra Islam, dan Seni Rendah" ("Khazanah", 15/12/07) yang ditujukan untuk menanggapi tulisan Kurniasih, "Wajah Sastra Islam" ("Khazanah", 3/11/07), saya menulis "alangkah lebih baiknya jika Anda mengkritisinya dengan penuh tanggung jawab dan apresiatif, yang tentu akan lebih berguna bagi si pengarangnya, sehingga di hari kemudian ia akan menghasilkan karya yang lebih baik lagi". Saya kira, Kurniasih dapat menangkap maksud saya dengan jelas, yaitu karya-karya FLP membutuhkan satu kritik yang berdasarkan metode, yang apresiatif, konstruktif. Maka saya sungguh heran, dalam tulisan yang ditujukan untuk menanggap-balik tulisan saya, "FLP dan Pendidikan Sastra" ("Khazanah", 26/01/08), Kurniasih malah menuduh saya dan FLP sebagai antikritik.
Lebih jauh, Kurniasih menuding kami sebagai bagian dari masyarakat kapitalistik yang materialis. Jika diakumulasikan dengan tuduhannya dalam "Wajah Sastra Islam", ia juga menyebut kami sebagai pihak yang telah mereduksi nilai-nilai Islam dan membodohi kaum muda Islam. Saya tidak tahu, sudah sejauh mana Kurniasih melakukan studi terhadap FLP, baik historis-ekspresif maupun objektif. Saya tidak tahu, sudah seberapa banyak informasi tentang keberadaan dan dinamika FLP yang didapatnya dan sudah sebanyak apa karya-karya FLP yang dibacanya. Sudahkah ia melakukan studi tentang pengaruh karya-karya tersebut terhadap masyarakat pembacanya (pragmatik)? Jika tidak, apakah tidak wajar kalau saya menyebut tudingan-tudingan yang disebutnya sebagai "kritik" itu sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab?
Kembali menyoal "Wajah Sastra Islam", Kurniasih ’mengkritik’ Ayat-Ayat Cinta sebagai gerakan industrialisasi. Bukan soal terima atau tidak terima untuk dikritik yang saya masalahkan, melainkan metode kritik itu sendiri. Saya melihat Kurniasih banyak mencomot "Maklumat Sastra Profetik" Kuntowijoyo. Kemudian, dia mengutip secuil pemikiran Adorno. Terakhir, dia menggunakan istilah milik Hawe Setiawan untuk menghakimi.
Saya tidak melihat satu pun argumentasi atau alasan Kurniasih dalam tulisan tersebut, karena semuanya adalah "pinjaman". Saya pun tidak melihat adanya apresiasi ataupun pengolahan teori. Saya tidak melihat tulisan Kurniasih sebagai kritik sastra. Saya tidak melihatnya seperti Sapardi menulis tentang sajak-sajak Rendra, tidak seperti B. Rahmanto membahas novel-novel Y.B. Mangunwijaya, Yudiono K.S. mengupas Ahmad Tohari, Samuel Taylor Coleridge mengkritisi puisi-puisi William Wordsworth, atau Lytton Strachey menganalisis drama-drama Shakespeare dan Homer (mungkin juga tidak seperti Chinua Achebe menjabarkan Heart of Darkness Joseph Conrad).
Namun, dalam kondisi tulisannya yang seperti itu, Kurniasih masih begitu percaya diri menyebutnya sebagai "kritik" dan "pemikiran yang mendalam". Padahal, saya tidak melihat adanya upaya yang berdarah-darah di dalamnya. Jangankan berdarah-darah, sekadar berkeringat pun tidak. Daripada menimbulkan pemerkosaan terhadap teori dan penilaian yang timpang, kritik yang mentah sebaiknya tidak dulu dipublikasikan!
Tidak ada yang meremehkan chiklit dan teenlit. Tidak ada! Saya jelas-jelas menyebutkan bahwa "chiklit dan teenlit itu perlu `dilawan` karena…". Artinya, saya dan kawan-kawan di FLP sama sekali tidak menganggap remeh, justru sebaliknya (kalau remeh, untuk apa dilawan?). Toh kehadiran karya-karya FLP tidak akan sampai menggeser, apalagi mengeliminasi, karya-karya Icha Rachmanti, Raditya Dika, Agnes Jessica, Fira Basuki, Alberthiene Endah, atau Clara Ng. Jadi, tak perlu sungkan untuk mengonsumsinya tanpa perlu merasa terganggu oleh "cangkokannya".
Siapa pula yang terganggu oleh hierarki? Tuhan mengabarkan dalam Alquran dan telah terverifikasi secara eksak bahwa langit dan bumi itu terdiri atas tujuh lapisan. Tak hanya yang eksak, perkara gaib pun demikian: surga dan neraka terdiri atas tujuh tingkatan. Saya juga bekerja di salah satu perusahaan yang sistemik dan terdiri atas hierarki-hierarki. Sebagai makhluk Tuhan yang teramat rendah dan sebagai karyawan biasa, tentu saya sadar hierarki itu ada dan tidak perlu merasa terganggu olehnya. Saya merasa terganggu jika ada pihak yang satu mengkritisi pihak lain secara tidak berimbang, di mana pun itu (saya tak lagi menggunakan istilah "elite" karena sangat mudah dimanipulasi).
Gerakan literasi
Seperti halnya Kurniasih mengibaratkan sastra Islam, sebagai satu wajah, saya pun dapat mengumpamakan FLP demikian. FLP adalah satu wajah di antara wajah-wajah komunitas literer lainnya. Dalam konsep wajah menurut Konfusianisme, wajah (mianzi) memiliki empat sifat dasar, yakni relasional, komunal/sosial, hierarkis, dan moral. Dalam konteks komunal, wajah adalah perisai yang dapat melindungi seseorang dari berbagai kemungkinan "serangan" dan cercaan warga masyarakat lainnya terhadap perilaku pemiliknya. Bagaimana pun kondisinya, orang tidak boleh kehilangan wajahnya. Jadi, bersikap defensif adalah sesuatu yang teramat wajar dan tidak lantas dicap antikritik.
Benar apa yang dikatakan Kurniasih bahwa dunia literasi kita tengah terpuruk. Maka, sebagai sesama pecinta dunia literasi Indonesia, mari kita bersinergi membenahinya sedikit demi sedikit. Mari kita berjalan beriringan walau tidak di jalan yang sama tanpa saling menggelisahkan satu sama lain. Mari kita saling mengkritisi dalam kerangka studi, tidak sekadar pada kecaman.
Terlepas dari standar estetik yang masih rendah dan kapitalisasi yang masih membayanginya, Forum Lingkar Pena telah berhasil menjadi gerakan literasi dari kota-kota besar hingga ke pelosok-pelosok Nusantara, yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat praliterasi. Untuk memperluas dan memperkaya gerakan tersebut, mampukah forum yang lain melakukan --meminjam istilah Amien Wangsitalaja-- "gerakan serupa, namun dengan modus operandi yang berbeda" sehingga kemajuan dunia literasi Indonesia tidak sekadar angan-angan yang diperpanjang tanpa langkah-langkah strategis? Kita tunggu saja.***
*) Pegiat FLP Bandung, editor di Penerbit Sygma Examedia Arkanleema.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar