Minggu, 22 Februari 2009

CINTA TENGGELAM DI SENJA KELAM

Yudhi Ms
http://oase.kompas.com/

Rasa penat yang mendera mendadak sirna manakala kakinya mulai menjejak di halaman rumah sederhana dan agak terpencil. Terbersit di wajah lelaki itu sebuah kelegaan bahwa penempuhan panjang dari kota yang jauh hingga mencapai daerah pegunungan itu akhirnya berujung pada satu tempat yang memang ia tuju. Hari yang berangkat senja dan kerindangan pohon-pohon mangga, nangka, dan pisang di halaman rumah itu membuat suasana semakin teduh. Udara bersih pun memekarkan harapan di hati lelaki itu.

Oleh keraguan yang pelahan menyusup dada, ia termangu memandang rumah kayu dengan genting yang kehitaman dimakan usia. Hatinya yang digenggam kebimbangan justru melengkapkan kelengangan. Padahal seharusnya ia beranjak beberapa tindak lantas mengucapkan salam atau mengetuk pintu yang daunnya setengah terbuka.

Ah, di sini tersimpan kenangan yang tak pernah lekang dari ingatan. Di sini ia dulu pernah berjanji dalam hati untuk merenovasi rumah ini, menata letak kamarnya, melengkapinya dengan ruangan musala dan studio tempat ia mengetik tulisan-tulisannya. Di sini ia pernah bermimpi untuk tinggal bersama keluarga, hidup dalam kesederhanaan di alam pedesaan dengan mengulum kebahagiaan.

Tiba-tiba hati lelaki itu berguncang ketika dari samping rumah seorang perempuan muda berkain kebaya, dengan rambut tergerai setengah basah, bergegas ke halaman. Tanpa menyadari kehadiran lelaki itu, perempuan itu meraih satu persatu pakaian yang tergantung pada tali jemuran. Sebelum semua kain jemuran itu berada dalam dekapannya, perempuan itu tersadar kalau ia sedang diawasi seseorang. Hampir saja ia berteriak karena terkejut. Barangkali bila itu benar ia lakukan suaranya akan menggemuruh ke lembah-lembah.

Perempuan itu tak pangling akan lelaki di hadapannya walaupun sekarang berambut gondrong dan berewokan dengan menyandang ransel di punggungnya. Ketika lelaki itu mendekat hingga berjarak sekian langkah, tak satu di antara mereka mampu berbuat selain saling menatap. Ketika lelaki itu mengembangkan tangan, yang menyongsongnya hanyalah kehampaan. Perempuan di hadapannya itu bahkan semakin erat mendekap kain jemurannya dan melemparkan pandang ke tanah. Senja jadi bertambah parah.

Dan betapa parahnya pula keinginan lelaki itu mendekap si perempuan agar segala kerinduan yang dipendamnya dapat tertumpahkan, tertuntaskan. Dipandangnya wajah di hadapannya yang tetap ayu meski hanya mengenakan pakaian orang desa. Sangat jauh berbeda dengan sewaktu hidup di kota dan bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Ketika itu tak ada yang mengira bila perempuan itu sebenarnya adalah gadis desa.
“Ina, ini aku,” sapa lelaki itu memberanikan diri.
“Namaku bukan Ina,” yang keluar adalah suara yang menjurus ketus.

Hati lelaki itu meronta. Tapi kau Ina-ku, rintihnya dalam hati. Ina yang hingga kini masih menempati sudut hati. Seandainya kau mengerti.
“Aku datang, Ina.”
“Untuk apa?,” betapa tetap dingin suara perempuan itu.
“Untuk apa? Ah, aku letih dan haus, Ina.”
“Di sini bukan telaga tempat istirah dan melepas dahaga bagi lelaki petualang.”
“Lama aku merindukanmu, Ina.”
“Bahkan burung-burung pun menyanyikan kerinduan.”

Jawaban itu seakan pisau yang tanpa ampun menikam ulu hati lelaki yang berdiri bagai pohon pisang yang layu itu. Banyak peristiwa terjadi, sarat pengalaman yang harus ia lakoni, dan semuanya memuara pada penderitaan yang menekannya.

Lelaki itu pun terbayang saat dua orang berbadan tegap dan berambut cepak tiba-tiba mengapitnya begitu ia keluar dari sebuah toko buku. Mereka setengah menyeretnya masuk ke sebuah mobil kijang. Kemudian mereka membawanya pergi setelah terlebih dulu menutup matanya dengan kain yang telah mereka persiapkan. Lalu terbayang juga kemudian terali besi memagari kebebasannya, kehidupannya, dan juga memisahkan dengan “Ina”nya, cintanya, hingga hampir lima tahun lamanya. Lalu terasakan lagi kenyerian pada wajah dan tubuhnya yang dihujani tamparan, pukulan, tendangan dari sepatu lars disertai makian, “Mampus kau anjing demokrasi!”
“Dengarlah ceritaku, Ina.”
“Untuk menambah lukaku yang menganga?”
“Agar menjadi jelas permasalahannya dan engkau bisa mengerti, Ina.”
“Apakah engkau juga mengerti akan beratnya beban aib yang kautinggalkan dan harus kusandang? Apakah kau juga merasakan pedihnya hati ketika masyarakat sekitar kemudian melontarkan cibiran, dan setiap berpapasan dengan mereka, mereka memandangku lalu membuang muka seperti melihat najis yang menjijikkan?”
“Lihatlah diriku, Ina. Akulah yang kotor dan berdebu. Sesungguhnya engkau bersih dan harum.”
“Sayang. Sekarang aku sudah pandai membedakan antara ketulusan dan rayuan.”

Setiap kata yang meluncur dari perempuan yang disebutnya Ina seketika itu pula menjelma pedang yang menghunjam-hunjam. Dan manakala lelaki itu menghela nafas, terasa panjang.
“Ibuuu... Ibuuu.....!” tiba-tiba suara seorang bocah memanggil dari dalam rumah menyibak kebekuan.
“Yaaa... ibu di sini, di luar....!”
“Anakmu?” tanya lelaki itu ingin tahu.
“Ya, anakku.”
Sesuatu yang aneh menyelinap di hati lelaki itu.
“Apakah ia juga anakku, Ina?” lagi bisiknya setengah memberanikan diri.
“Ia anakku meski berasal dari benihmu.”
“Ina.....” Lelaki itu mendadak gemetar seakan dirajam oleh langit yang runtuh.
Jiwanya bergolak membawa ingatannya kembali ke peristiwa lima tahun lalu ketika pada suatu ketika dirinya sempat berduaan memadu kasih dengan perempuan itu.
“Ibuuu... Ibuuu.....!”
“Yaaa... sebentaaar...!”
“Ibu!” seorang anak laki-laki, empat tahun, keburu menghambur keluar.

Di halaman itu mereka bertiga saling bersitatap. Perasaan tak menentu berbauran di hati mereka yang pengap. Mata lelaki itu memandang wajah polos si bocah lekat-lekat.
“Kasih salam sama Oom!,” pinta perempuan itu pada anaknya.
Oom? Lelaki itu mengeluh tanpa suara.

Anak kecil itu mendekat, mengulurkan tangannya seraya mengangguk hormat.
“Assalamu ‘alaikum!,” anak itu mencium tangan lelaki yang belum pernah dikenalnya itu.
“Alaikum salam!,” sambut lelaki itu seakan tak mau melepaskan tangan si bocah. Kalau ada sesuatu yang remuk tentulah hati lelaki itu. “Kamu tak takut padaku, Sayang?”
Anak itu menggeleng.
“Siapa namamu ‘cah bagus?”
“Oom siapa?”
“Sudah, sudah!,” perempuan itu menyela. “sana masuk! Bilangnya tadi mau belajar mengaji. Bukankah besok sekolah ngajinya mulai masuk kembali?”
Tiba-tiba anak kecil itu merenggutkan tangannya dari genggaman lelaki itu.
“Tapi di dalam rumah gelap, Bu.”
“Siapkan dulu kitab-kitabmu. Sebentar lagi Bapak pulang. Nanti Bapak yang akan menyalakan lampu petromaknya.”

Betapa patuh kepada ibunya, anak itu lantas bergegas masuk kembali seakan tak memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk bercakap lebih lanjut. Sedang lelaki itu hanya bisa mematung. Betapa ingin ia mendekap dan mencium bocah yang masih polos itu. Sebelum kesampaian, tiba-tiba waktu dengan bengis telah menghakiminya.

Selembar daun nangka melayang dan jatuh di dekat kaki lelaki itu. Ada sesuatu yang lepas dari sukmanya.
Matahari makin merangkak. Keheningan kian merebak.
“Jadi..., ia sudah punya Bapak?” tanya lelaki itu seolah pada diri sendiri. Padahal, sebenarnya lebih ditujukan kepada perempuan yang telah memupus rasa kasih tak terhingga yang tiba-tiba mekar kepada anak yang ternyata darah dagingnya sendiri itu.
“Apakah aku harus menjawab ‘tidak’?”
Nah, perempuan itu masih bisa menjawabnya tegar, tapi kembali membuat hati lelaki itu menggelepar.
“Kalau begitu, maafkanlah aku kalau ini mengganggu rumah tanggamu, Ina.”
“Apa perlu untuk dimaafkan?”

Batin lelaki itu merasakan kenyerian yang melebihi sundutan-sundutan rokok atau setruman-setruman dari kabel listrik pada sekujur tubuhnya seperti yang pernah ia alami.
Ah, tak tersisa lagi gugus harapan. Memupus sudah bayangan masa depan. Jadi, apa gunanya penempuhan, apa manfaatnya perjumpaan? Dan sebelum membalikkan badan, lelaki itu untuk terakhir kalinya menyempatkan diri merenangi telaga di mata perempuan itu. Pada kedalamnnya lelaki itu masih menemukan cinta yang bernyala.

Dan kemudian perempuan itu pun termangu memandangi punggung lelaki itu yang melangkah dengan ragu. Namun, betapa pun jarak telah terciptakan, semakin memanjang dan kian menjauh. Cinta, rindu, dan dendam berbauran. Cinta mengajaknya memanggil lelaki itu untuk kembali. Rindu membujuknya untuk menjelaskan bahwa yang disebut “Bapak” oleh anaknya adalah orang yang seharusnya dipanggil “Kakek” yang tak lain adalah ayah perempuan itu sendiri. Tapi dendam di hatinya memaksanya agar membiarkan lelaki yang paling dicintainya, yang paling dirindukannya, sekaligus paling dibencinya, itu segera berlalu. Biarlah lelaki yang telah mengkhianatinya dengan meninggalkannya tanpa pamit dan kabar berita itu gantian menikmati parahnya hati yang berdarah-darah.

Dan ketika bayangan lelaki itu menghilang dari pandangan, perempuan itu tak kuasa menahan hatinya yang remuk berderai. Di pipinya air mata menganak sungai.

Sementara hati lelaki itu tak kalah remuknya meski ia masih mampu menyimpan tangisnya dalam dada. Dengan rasa hampa dan dengan terseok ia melangkahkan kakinya menembus kelam senja. Berjuta perasaan yang berkecamuk sempat membuatnya kehilangan keseimbangan. Ke mana kaki harus dilangkahkan? Tiada jawaban dan tiada lagi harapan.Tapi, ketika tiba-tiba semayup azan magrib sampai ke telinganya, ia mantapkan hatinya menuju ke arah dari mana asal suara mendayu itu bergema.

Kudus, 1998/2009.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar