Sosiologi Pengarang Sutan Takdir Alisjahbana

Riyon Fidwar *
harianhaluan.com 29 Juli 2012

Sebuah karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinik­mati, dipahami dan diman­faatkan oleh masyarakat. Satrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, ia tergo­long oleh status sosial terten­tu. Sastra itu sendiri adalah sebuah karya sastra yang dihasilkan oleh manusia (sastrawan) yang bernilai estetikan, dan memiliki me­dium, yaitu bahasa. Menurut Rene Wellek ada tiga pengu­lasan tentang sastra (sosiologi sastra), yaitu: sosiologi penga­rang, sosiologi karya, sosiologi pembaca.


Seperti yang telah dijelas­kan di atas bagaimana sebuah karya itu dihasilkan oleh sastrawan (pengarang), dan sastrawan itu sendiri adalah anggota dari masyarakat yang memiliki status sosial terten­tu. Sosiologi sastra juga merupakan pendekatan terha­dap karya sastra yang mem­pertimbangkan segi-segi kema­syarakatan.

Sebagaimana kita ketahui pada zaman Sultan Takdir Alsjahbana merupakan sebu­ah zaman yang kehidupan negara tidak menentu atau zaman penjajahan Belanda. STA sendiri merupakan sastrawan yang berasal dari Sumatera dan hidup pada masa Balai Pustaka. Karya-karya (STA) sangat berpengaruh pada pemuda-pemuda yang hidup di zamannya, yaitu terpe­ngaruh pada sastra Barat.

Berbagai pemikiran dan gagasan dari kaum intelek­tual digali agar mendapatkan yang sesuai bagi perjalanan masa depan bangsa. Salah satu yang bisa dijadikan suri tauladan adalah Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Perlu kiranya kita mengenal lebih mendalam sosok STA yang sepanjang hidupnya memi­kirkan dan berusaha meme­cahkan masalah-masalah bahasa, sosial-budaya, filsa­fat, agama dan kesenian yang melandaskan kehidupan berne­gara kita.

Sebutan lain yang disan­dang STA adalah peletak dasar peradaban modern Indonesia. Pemikiran Takdir mengenai kebudayaan dan identitas nasional kemudian dikembangkan lebih lanjut melingkupi kebudayaan ASE­AN dan kebudayaan dunia yang sedang dibentuk akibat globalisasi. Dalam karya terakhirnya ia mengajak kita semua membentuk suatu kebudayaan dunia yang ink­lusif di mana semua orang mendapat tempat. Selain memodernisasi bahasa Indo­nesia, tindakan Takdir yang sama pentingnya adalah men­ce­tuskan Polemik Kebudayaan. Indonesia didirikan berda­sarkan dialog yang memuncak dengan adanya Sumpah Pemu­da. Namun setelah Sumpah Pemuda diucapkan, khususnya di tahun 1930an, pemerintah Hindia Belanda mulai resah dengan berkembangnya gera­kan nasionalis yang megingin­kan kemerdekaan dan peme­rin­tah kolonial berusaha menghentikan dialog tersebut dengan melarang segala tuli­san berbau nasionalis yang menganut Indonesia merdeka di media cetak.

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara,11 Februari 1908, dan mendapat pendididikan Barat semenjak sekolah sampai ia menyelesaikan studi terkhir­nya dengan pendidikan Barat. Perlu kiranya kita mengenal lebih mendalam sosok STA yang sepanjang hidupnya memikirkan dan berusaha memecahkan masalah-masa­lah bahasa, sosial-budaya, filsafat, agama dan kesenian yang melandaskan kehidupan bernegara kita. Menurut seo­rang Editor di Jurnal Ilmu dan Budaya, Liliek Sofyan Ahmad, STA juga memikirkan cara mengadaptasi bidang-bidang tersebut terhadap globalisasi, sebab pada dasarnya Takdir sebagai puncak peradaban manusia yang sempurna.

Dalam hal ini, STA seba­gai seorang pemuda yang secara jernih merumuskan pandangan-pandangannya betapa pun sempitnya pan­dangan itu. Ia melontarkan gagasan yang sering malah mentah, namun dapat mem­bangunkan orang-orang tua yang terkantuk-kantuk. Se­bagian besar polemik yang terjadi dan sikap seperti itu besar peengaruhnya kepada kaum cendikiawan muda. Akibatnya adalah sikap me­mu­suhi, sikap anti, sikap tidak peduli, terhadap keka­yaan budaya lama (kebu­dayaan daerah) yang sangat beeragam di seluruh Indonesia.

Takdir kemudian mence­tuskan Polemik Kebudayaan dan menerbitkan semua pandangan dalam Polemik Kebudayaan di majalah Pudjangga Baru. Dengan demi­kian ia memberi corong kepada kaum nasionalis di mana mereka dapat mengex­presikan dan mengembangkan pemikiran mereka melalui tulisan-tulisan mengenai budaya Indonesia baru yang akan dibentuk. Pudjangga Baru merupakan satu-satunya corong yang terbuka bagi kaum nasionalis pada waktu itu untuk mene­ruskan dialog pembentukan Indonesia.

Takdir sendiri yang telah terpengaruh oleh kebudayaan Barat seperti dalam tulisan-tulisannya. Ia menulis antara lain: “ Didalam dukungan adat, jiwa seseorang tidak mungkin berkembang dengan bebas. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, abad kea bad orang hidup persis menurutkan saluran-saluran adat yang berlaku turun menurun. Piki­ran tidak mungkin kritis, perasaan tidak mungkin berkembang menurut kodrat pribadinya”.

S. Takdir Alisjahbana adalah orang yang lantang suaranya dalam mengan­jurkan agar bangsa Indonesia kaalau hendak maju meniru kebudayaan Barat, bahkan mereguk roh dan semangat Barat sebanyak-banyaknya. Dalam rangkaian karangannya tentang puisi Indonesia yang dimuat dalam Pujangga Baru tahun 1930-an Takdir sangat keras mengejek bentuk pantun dan syair sebagai “ucapan nenek-nenek tua yang terbuai antara kuap dan kantuk”. Takdir menolak bentuk-bentuk puisi (Melayu) lama sebagai wadah puisi Indonesia baru, dan menganjurkan agar puisi baru lebih mencerminkan ekspresi penyairnya secara individual. Pengarang-pengarang yang berasal dari Sumatera seperti M. Yamin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, S. Takdir Alisjah­bana dan lain-lain memper­lihatkan hubungannya yang erat dengan sastra Melayu (klasik) dengan baik, selain itu kita pun menyaksikan munculnya para pengarang yang menulis dalam bahasa Indonesia pada awal abad ini (bahkan sejak awal abad yang lalu).

Karena pengaruh pendi­dikan formal melalui sekolah-sekolah yang dilaksanakan pada waktu itu, ditambah pula kenyataan hidup dalam masyarakat penjajahan, maka dikalangan bangsa Indonesia tumbuh anggapan bahwa kebudayaan Barat-lah yang patut ditiru. Segala sesuatu yang dating dari Barat dianggap baik dan maju.

Sikap angkuh seperti itu besar pengaruhnya kepada pemuda yang lain, terutama kepada pemuda atau generasi yang lebih kemudian. Hal itu pada akhirnya menumbuhkan semacam anggapan bahwa segala sesuatu yang bersifat tradisional atau daerah adalah tidak baik. Tidak sejaln dengan semangat Indonesia baru. Bahkan kemudian timbul anggapan yang lebih parah; segala sesuatu yang berssifat tradisional (daerah) bertentangan atau berlawanan, sekurang-kurangnya tidak sejalan. Bahkan berbahaya terhadap masa depan Indonesia.

Anggapan seperti itu bahkan mendapat anggapan yang lebih parah lagi: perkembangan kebudayaan daerah dianggap akan menghambat perkembangan kebudayaan (nasional) Indonesia. Seakan-akan dalam kehidupan Indonesia baru, walau pun sudah mempunyai semboyan bhinneka tunggal ika , hanya ada satu pilihan saja atau kebudayaan daerah atau kebudayaan nasional. Dengan kata lain adalah membina kebudayaan nasional dengan mengorbankan kebudayaan daerah.

Sutan Takdir Alisjahbana pun mengemukakan bahwa ternyata yang bangkit menjadi pemimpin bangsa, adalah para pemuda yang berpendidikan Barat, dan bukan hasil pendi­dikan nusantara. Argumentasi yang dikemukakannya itu kelihatannya logis, tetapi saying tidak mengenai sasa­ran. Hal itu sesungguhnya merupakan suatu kerugian dipandang dari kepentingan kita sebagi bangsa. Sering pikiran STA yang hanya meng­andalkan pendidikan Barat­nya yang kurang luas. Nampak misalnya pada tulisannya yang berjudul “Menuju Masya­rakat dan Kebudayaan Baru” (h. 27 dan seterusnya). Dalam semangat hendak membangun kebudayaan Indonesia baru yang terlepas dari zaman prae-Indonesia, ia mengatakan:

“Pekerjaan Indonesia muda bukanlah restaurereren Brobu­dur dann Prambanan, bukanlah untuk mendirikan bangunan yang lain serupa dengan itu. Pekerjaan yang pertama dapat kita serahkan pada Oudheidkundige di­enst,yang akan mencari batu yang telah diserak-serak oleh zaman, yang akan membalik-balik buku-buku tua untuk mengetahui, bagaimana rupa bangunan-bangunan itu dahulu” (h. 16).

Kalimat itu memberi petunjuk bahwa pengertian “kebudayaan” yang dipakai STA paling tidak, tidak memasuki kepurbakalaan ke dalamnya. Dalam tulisannya yang dimuat dalam kumpulan puisi “Lagu Pemacu Ombak” yang diterbitkan oleh Pujangga Baru pada tahun 1933, yang judul “Di Candi Prambanan”, ia menyatakan “…dan aku akan melahirkan seni baru, tidak serupa bentuk ini, abadi selaras dengan gelora sukma dan zamanku”. Dari pernyataan ini STA mencoba merubah ‘kebudayaan’ Indonesia dengan mengubah cara berpikir secara tradisional dan semua yang dilakukan harus bergaya Barat.

Dari penjelasan di atas, bagaimana seorang sastrawan yang besar keinginan untuk merubah ‘kebudayaaan’ Indonesia dengan cara berkiblat ke Barat. Karena pengaruh pendidikan formal melalui sekolah-sekolah yang dilaksanakan pada masa itu, ditambah pula dengan kenyataan hidup dalam masyarakat jajahan, maka kalangan Indonesia tumbuh anggapan bahwa kebudayaan Barat adalah yang maju dan patut ditiru. Segala sesuatu yang dating dari Barat dianggap baik dan maju.

Takdir sendiri yang telah terpengaruh oleh kebudayaan Barat seperti dalam tulisan-tulisannya. Ia menulis antara lain: “ Didalam dukungan adat, jiwa seseorang tidak mungkin berkembang dengan bebas. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, abad ke abad orang hidup persis menurutkan saluran-saluran adat yang berlaku turun menurun. Pikiran tidak mungkin kritis, perasaan tidak mungkin berkembang menurut kodrat pribadinya”.

Anggapan seperti itu bahkan mendapat anggapan yang lebih parah lagi: perkembangan kebudayaan daerah dianggap akan menghambat perkembangan kebudayaan (nasional) Indonesia. Seakan-akan dalam kehidupan Indonesia baru, walau pun sudah mempunyai semboyan bhinneka tunggal ika , hanya ada satu pilihan saja atau kebudayaan daerah atau kebudayaan nasional. Dengan kata lain adalah membina kebudayaan nasional dengan mengorbankan kebudayaan daerah.

*) Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unand

Komentar