Langsung ke konten utama

Novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko Telah Terbit

Ahmad Asyhar
infomistik.com 4 April, 2013

Novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko Telah Terbit. Zaman sekarang ini novel merupakan karya sastra yang paling banyak beredar dan dibaca oleh masyarakat. Selain isinya yang menarik, novel kadang dapat menginspirasi para pembacanya. Salah satu novel yang baru saja terbit adalah Novel Aurora Di Langit Alengka. Novel ini adalah buah karya dari Novelis asal Solo, Agus Handoko, Novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko diterbitkan oleh Diva Press Jogja. Novel ini akan segera bisa anda dapatkan di toko-toko buku di Indonesia.

Novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko ini menceritakan 4 anak muda Jakarta menemukan lorong rahasia, memasukinya dan tiba di ujung lain….Ayodya, persis saat Rama memboyong Sinta dari Mantili. Penasaran berada di dunia wayang yang penuh misteri, mereka pun bertualang di sana hingga ketemu Rama, Sinta dan Laksmana saat menjalani pembuangan di hutan Dandhaka. Malang bagi Laras, salah satu anak muda Jakarta itu, yang menjadi salah culik Rahwana yang sebetulnya mengincar Sinta karena penampilan Laras mirip Sinta. Laras pun ditawan di Alengka,

Berikut adalah cuplikan naskah novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko tersebut.

“Lihatlah pakaian mereka” kata Bara.

Mambang, Laras dan Radit mengamati lebih teliti dan baru menyadari orang-orang itu menggunakan pakaian yang sama sekali berbeda dengan yang mereka kenakan. Ketiga anak muda Jakarta ini menatap temannya dengan tatapan bingung.

“Masuk ke dalam kotak wayang, berjalan menyusuri lorong gelap dan sampai ke tempat seperti ini, tidakkah ini sangat aneh?”

“Sejak semula kita memang menemui banyak keanehan,”sambung Laras,”sekarang apa tindakan kita?”

Namun, Malang bagi Laras, salah satu anak muda Jakarta itu, yang menjadi salah culik Rahwana yang sebetulnya mengincar Sinta karena penampilan Laras mirip Sinta. Laras pun ditawan di Alengka, bisakah ketiga temannya membebaskan Laras, berhasilkah mereka kembali ke Jakarta…

Simak dan nikmati ceritanya dalam Novel Aurora Di Langit Alengka. Novel Aurora Di Langit Alengka Karya Agus Handoko Telah Terbit.

Dijumput dari: http://infomistik.com/novel-aurora-langit-alengka-karya-agus-handoko-telah-terbit-270.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…