Langsung ke konten utama

Belajar dari kecerdasan anakku, Azzam

Faizah Sirajuddin *
http://sastra-indonesia.com

Memang berat merawat anak saat masih kecil, terkadang harus merubah jam kegiatan harian; malam jadi siang, siang jadi malam. Saat anak sakit dan rewel, segalanya berubah. Jika bukan karena cinta, banyak ibu yang enggan melahirkan dan merawat anak. Memang belum ada yang mengalahkan cinta dalam mencipta daya gerak untuk berbuat. Rasa capek seakan sirna begitu anak mulai tumbuh besar, timbul sifat-sifat lucunya, menggemaskan, merindukan, membanggakan, bahkan menginspirasi.

Pagi itu terasa aneh, adzan Subuh dikumandangkan lewat corong Masjid Jami’ yang keras dan beberapa mushola kecil di sekitar rumah, tidak mampu bangunkan aku dari tidur pulas. Mungkin karena tadi malam terlambat tidur. Sibuk mengerjakan tugas kesekretariatan Hadhanah Darussalam, yang sudah dua tahun ini diamanatkan padaku.

Mataku baru terbuka saat terdengar suara lembut anakku Azzam, “Mi, ummi, bangun, itu suara Allah memanggil.” “Umi masih ngantuk nih” jawabku, sambil malas-malasan. “Nanti kalo tidak bangun, Allah marah lho, lalu dijadikan tidur selamanya, dan tidak bangun-bangun lagi bagaimana?” Kata-kata terakhir Azzam membuatku tersentak bagai disengat aliran listrik ribuan watt. Serta merta aku terbangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk wudhu, dan menjalankan shalat subuh.

Setelah shalat aku segera sujud syukur. Kini, aku punya teman baru dalam melaksanakan kebaikan. Anakku Azzam, ia anugerah Allah untuk keluargaku. Ibarat angin segar menerpa rumah kami, sehingga membuat kehangatan dalam keluarga.

Suatu saat abi juga mendapatkan teguran serupa. Kala abi santai melihat TV, Azzam tiba-tiba datang berkata, “Bi, tidak pergi ke masjid?” “Iya sebentar” jawab abinya. “Kata ustadz, bagi laki-laki shalat jama’ah itu sangat dianjurkan, karena Nabi Muhammad tak pernah meninggalkan shalat jamaah dalam kondisi apapun, sampai dalam keadaan perang. Benar nggak?” “Ya benar” Jawab abinya. “Kalo perempuan sebaiknya di rumah ya, bi?” “Ya benar” jawab abinya singkat. “Teman Azzam ada yang bilang, kalo laki-laki tak pergi ke masjid, lebih baik pakai jilbab saja! Bagaimana menurut abi? Benar nggak bi?” Mendengar itu, abinya hanya tersenyum cerah, karena walau pertanyaan Azzam tergolong nakal, namun benar dan menyentak.

Di tengah makan malam, keheningan kami pernah dipecahkan Azzam dengan pertanyaannya menggelitik, “menurut abi, siapa yang punya peran penting dalam membangun peradaban Islam dulu?” Kami terbengong dengan pertanyaan ini. Sejak kapan Azzam paham kosa kata “peran” apalagi kata “peradaban.” Abinya bertanya, “Azzam tahu kalimat peradaban dari siapa?” “Dari Mas Santri” jawabnya. “Lha, terus kamu tahu artinya?” tanya abi menyelidik.“Sedikit-sedikit, bi” jawabnya.

“Semua masyarakat Islam memiliki peran dalam membangun peradaban Islam, tapi menurut abi yang paling penting dan strategis para ulama’ dan ilmuwan. Ulama’ itu yang mendalami ilmu agama, dan ilmuwan itu yang mendalami ilmu umum.” “Apa bisa lho Bi, menjadi ulama’ dan ilmuwan sekaligus?” “Kenapa tidak?” jawab abi dan aku bareng, seperti koor. “Kalo gitu Azzam mau jadi ulama’ dan ilmuwan sekaligus ah, abi…ummi… tolong do’akan Azzam ya, bisa menjadi ulama’ dan ilmuwan. Abi… ummi… bisakan abi dan ummi bantu mewujudkan cita-cita Azzam? Mau ya?” mintanya memelas. “Ya jelas dong, masak abi dan ummi tak mendukung kesuksesan buah hatinya yang cerdas ini” jawabku.

Bagaimana hati ini tak terbang melayang terharu hingga meneteskan air mata, mendengar perkataan anak kami yang mengagetkan. Saat orang merasa khawatir dan takut masa depan anaknya digilas peradaban modern. Seperti diceritakan di media, baru SMP sudah terkena narkoba atau terpengaruh lingkungan buruk, anakku justru punya cita-cita yang spektakuler ini.

Di hari libur panjang beberapa waktu lalu, kami sekeluarga sempat jalan-jalan ke taman pintar di Jogja, pun ke toko buku Gramedia. Azzam tertarik melihat-melihat buku sejarah Islam, mungkin karena ditulis berupa komik bergambar. Tiba-tiba ia mendekatiku lalu berkata, “Hebat ya ibunya Mu’awiyah bin Abi Sofyan itu?” “Apanya yang hebat?” tanyaku. “Ini mi, dalam buku ini disebutkan: Saat beliau bepergian bersama anaknya Mu’awiyah, ada yang nyeletuk, Melihat ciri-cirinya, anak ibu kelihatannya akan menjadi orang besar. Ibunda Mu’awiyah bin Abi Sofyan berkata: Itu memang menjadi obsesi saya, jika tidak menjadi orang besar, saya merugi telah mengandungnya”.

Sekali lagi buku yang ditunjukkan Azzam menyentakku, ternyata dibalik orang-orang besar, adalah ibunya yang memiliki cita-cita besar. Ini menyadarkanku, bahwa mendidik anak tak boleh asal-asalan. Seorang ibu harus punya harapan besar, lalu dijabarkan dalam rencana matang, serta diwujudkan dengan kerja keras sepenuh kasih sayang. Betapa jauhnya aku selama ini, dari ibu Mu’awiyah bin Abi Sofyan.

Aku bersyukur, justru kesadaran baru serta ide-ide cemerlang muncul melalui anakku. Maka benarlah, anak dalam banyak kesempatan; di tengah keluguan dan kelucuannya, kebandelan serta kenakalannya, seringkali mengilhami, bukan hanya perihal kecil, terkadang juga yang besar.

*) Faizah Sirojuddin, S.Psi. Lahir di Ponorogo, 5 September 1979, adalah Wali dari Ananda Abdullah M. Azzam (siswa kelas 2-Ali). Alamat sekarang di Pondok Modern Darussalam Gontor Mlarak Ponorogo. Penulis adalah istri dari Muhammad Kholid.
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2013/06/belajar-dari-kecerdasan-anakku-azzam/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…