Langsung ke konten utama

Ada Apa Dengan Sastra Nusantara?

Tri Harun Syafii
analisadaily.com 12 Nov 2012

Ada apa dengan sastra Nusantara? Pertanyaan ini sudah terlintas lama di benak para pecinta sastra Nusantara. Belakangan ini, heboh bahwa bahasa daerah mulai hilang popularitasnya di zaman yang modern ini. Bahkan, peranannya dalam membudayakan tradisi pun semakin tidak dipandang sebagai sesuatu yang ‘Wah’. Sungguh sangat disayangkan. Sejalur dengan hal ini, M. Syahrizal pernah membahas bahwa Bahasa Indonesia menyebabkan punahnya bahasa-bahasa daerah. Benarkah? Dalam tulisannya dipaparkan, perkembangan bahasa daerah saat ini mulai memprihatinkan. Pasalnya, dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa daerah saja yang penuturnya di atas satu juta orang. Selebihnya, terdapat 729 bahasa daerah yang penuturnya kurang dari satu juta orang, sementara 169 bahasa daerah lainnya terancam punah. Sungguh amat disayangkan melihat keadaan ini.

Bagaimana dengan kondisi sastra Nusantara di Indonesia saat ini? Pertanyaan inilah yang harus kita ulas lebih dalam. Sejatinya, sastra terlahir karena budaya. Begitu juga sebaliknya, sastra punah karena budaya itu punah. Perkembangan sastra Nusantara mulai terpinggirkan oleh sastra-sastra modern yang memakai bahasa yang serbaguna dan populer, seperti bahasa “alay” atau bahasa “gaul”. Tentunya, kita merujuk pada pembelajaran sastra Nusantara yang meliputi sastra Melayu, sastra Minangkabau, sastra Batak, sastra Jawa, sastra Sunda, sastra Bali, sastra Aceh, sastra Karo, dan sastra daerah lainnya.

Lahirnya sastra modern saat ini tidak terlepas dari perjuangan sastra Nusantara. Puisi, pantun, maupun cerita pendek yang berkembang pesat di zaman canggih ini, semua itu karena ada sumbangsih sastra Nusantara. Semenjak puisi dan cerpen menjadi perbincangan dewasa ini, sastra Nusantara telah melahirkan itu semua, baik dalam puisi, pantun, maupun cerita rakyat. Puisi yang berkembang saat ini justru telah jauh berbeda dengan puisi zaman dulu. Puisi sekarang tampaknya tidak begitu mengikat dengan segala aturan dan kaidah perpuisian sastra Nusantara. Bahkan, semenjak lahirnya puisi kontemporer yang dibawa Sutardji Calzoum Bachri menyebabkan kaidah puisi lama seperti yang ada pada zaman sastra Nusantara, jauh bergeser. Memang hal yang luar biasa kalau dunia sastra semakin berkembang mengikuti zaman, namun alangkah baiknya jika kita tidak membuang kaidah-kaidah itu terlalu berlebihan. Hal ini justru menyebabkan puisi lama semakin merosot karena tak mampu mengikuti peradaban modern.

Sastra Nusantara tidak hanya dapat disuguhkan dengan pembacaan puisi yang sering diperlombakan seperti biasa, tanpa iringan musik. Dengan membawa sastra Nusantara ke dunia perpuisian, kita juga dapat menikmati pertunjukan puisi itu dengan musik tradisional seperti yang pernah dilakukan masyarakat Karo, Melayu, dan Minangkabau yang menjadikannya sebagai penghibur atau pengisi dalam upacara adat di zaman dulu.

Sudah saatnya kita, sebagai bangsa Indonesia, lebih menjunjung tinggi sastra Nusantara karena bagaimanapun, sastra Nusantara tidak boleh terlepas dari tradisi kebudayaan suku masing-masing. Apabila budaya dan sejarah sebagai identitas bangsa ini hilang, maka akan hilang jugalah sastra Nusantara. Ingatlah bahwa negara lain telah mengincar budaya kita. Itu terlihat jelas dengan banyaknya pendatang asing yang mau belajar di Indonesia, baik itu belajar berbahasa Indonesia maupun belajar budaya dan kesenian Indonesia. Memang suatu kebanggaan untuk kita jika Bahasa Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai bahasa yang paling diminati dunia. Tetapi, semua itu jangan membuat kita merasa tinggi hati dan lupa diri karena secara perlahan identitas negara ini dapat dikuasai oleh negara lain.

Untuk dapat mengembalikan popularitas sastra Nusantara dalam dunia modern, perlu ditekankan kepada penulis-penulis muda untuk lebih mengembangkan budaya lewat tulisan. Mengembangkan budaya lewat sastra merupakan sumbangan yang paling baik agar dapat meningkatkan sastra-sastra Nusantara yang kini mematung bisu di tengah peradaban dan hanya dijadikan potret senja masa lalu.

Alangkah lebih baik jika penulis-penulis muda mengangkat nilai-nilai budaya lewat sastra seperti halnya Sartika Sari, Ria Ristiana Dewi, Wahyu Wiji Astuti, Rudiansyah Siregar, dan penulis muda lainnya. Mereka adalah sebagian kecil penulis yang cukup peduli dengan perkembangan sastra lewat budaya.

Jadi intinya, mulailah melestarikan budaya daerah lewat sastra! Karena, dunia sastra akan terus mencari jati dirinya. Mulailah memuliakan hidup lewat tulisan disertai dengan budaya, sebab negeri kita memunyai potensi yang cukup untuk dibawa berimajinasi. Kreativitas seorang pemikir sastra tidak akan pernah mati dan selalu mencari jati diri untuk menemukan jalannya sendiri. Hidup dunia sastra dan budaya!

Dijumput dari: http://pelitaku.sabda.org/ada_apa_dengan_sastra_nusantara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…