Langsung ke konten utama

Cinta Untuk Clodia

Karya penyair Romawi abad 54 SM, Catullus (teks miring)
Penerjemah, pengantar, dan penutup, oleh Fajar Alayubi
***

Pada akhirnya aku harus menjadi seekor burung pipit daripada hanya meniru seekor kolibri.
Pagi ini aku menuju ke tengah ladang keramaian dimana gemeresik bulir padi menguning adalah lagu bagi sang gembala yang menawan ternaknya. Aku sisir angin pagi ini dengan sayap kecilku dari ranting ke ranting lemah yang menghaturkan salam dimana nafas-seruling gembala jadi satu. Aku juga bertengger di bahu orang-orangan sawah untuk membisikan dan bertanya bagaimana ia bisa menyatu dengan ladang yang subur dan menggeretak para penjarah dengan cara diam. O lihat! betapa sahaja dan lugunya sekuntum lily jingga merambat di kakinya dan bernaung dalam bayangnya hingga pencar terang bulan! membuatku terjebak dan tenggelam ke dalam Nirwana sampai diriku begitu sulit untuk bernapas —seperti syal jerami yang tergantung pada tangkainya.
Aku menemukan sebuah cerita yang terkubur, seperti nisan yang tak banyak orang tahu:

Cinta Untuk Clodia
Karya: Catullus

Pipit, burung peliharaan wanitaku,
yang sering ia mengajaknya bermain sementara ia memegangmu di pangkuannya,
atau memberikan ujung jarinya untuk mematuk dan
kapan pun dia, wanita yang bersinar terang cintaku,
memiliki pikiran untuk bermain-main dengan manisnya,
dengan harapan—seperti kurasa
—bahwa ketika cinta mereda, kecerdasannya menjadi lebih tajam,
ia mungkin saja menemukan beberapa bantuan kecil dari rasa sakitnya -
ah, mungkin saya sedang bermain denganmu sebagai dia,
dan meringankan kesuraman hatiku!
Ini merupakan penyambutan bagiku —seperti yang mereka katakan
kepada gadis tangkas yang menggenggam apel emas,
yang ikat korsetnya terlalu lama terlepas.

Berkabung; kau dan rahmat cinta,
dan bagimu yang dirahmati cinta.
wanitaku adalah pipit yang sudah mati,
ia adalah burung peliharaanku,
yang cintainya lebih dari matanya;
yang madu-manisnya, yang tahu gundiknya
seperti seorang gadis tahu ibunya sendiri.
dia akan mencampur dari pangkuannya,
tapi sekarang harapan ada di sini,
masih ada kicauan untuk majikan yang sendirian.
Sekarang dia pergi sepanjang jalan gelap,
mereka katakan yang ke sana tidak ada yang kembali.
Tapi kutukan kepadamu, mengutuk nuansa
dari Orcus, yang memakan segala sesuatu yang cantik!
Pipit cantikku, kau telah pergi mengambil dia.
Ah, kejam! Ah, burung kecil yang malang!
Semua karena matamu, Sayang
—wanitaku yang menangis tersedu.

Marilah kita hidup, duhai Lesbia-ku dan cinta,
dan nilai yang ada pada sekeping uang
tentang semua pembicaraan orang tua yang pemarah.
Mentari dapat tenggelam dan bangkit kembali.
Bagi kita, ketika cahaya singkat telah ditetapkan,
yang harus tertidur—tidurnya satu malam utuh.
Berilah aku seribu ciuman, kemudian beratus-ratus,
Lalu seribu lagi, lalu ratusan lagi,
yang sebelum seribu, sebelum seratus.
Kemudian, ketika kita telah membuat banyak ribuan,
kita akan bingung perhitungan kita, atau kita mungkin tidak tahu perhitungan,
tidak juga orang jahat membusukannya dengan matanya yang jahat,
ketika ia tahu bahwa ciuman kita banyak sekali.

Kapal pesiar yang kau lihat, temanku,
katakan dia pernah mencoba melarikan diri dari kapal,
dan bahwa tidak pernah ada kayu mengapung dengan cepatnya
dia tidak bisa berhasil, apakah dirinya akan terbang
dengan dayung-pisau atau dengan kanvas.
Dan ini (katanya) pantai yang menggertak Laut Adriatik
tidak menyangkal, tidak juga pulau-pulau Santorini
dan Rhodes yang terkenal dan Thracian yang liar
Propontis, bukan juga jurang yang suram dari Pontus,
dimana dia, yang dulunya kapal pesiar
hutan berdaun: untuk ketinggian Cytorus
dia sering berbicara dengan daun berdesir.

Pontic Amastris dan Cytorus green dengan kotaknya,
gali-ku berkata bahwa semua ini dan yang terkenal atasmu;
dia mengatakan bahwa dari awal lahir waktu itu
dia berdiri di puncak-Mu,
di perairan-Mu yang pertama dicelupkan pisaunya,
dan sesudah itu lebih dari lautan penuh kekerasan yang begitu banyak orang
dibawa majikannya, tak peduli angin dari kiri atau kanan
yang terundang, atau Musytari turun menuju bagian belakang
pada kedua lembar sekaligus;
dan bahwa tidak ada sumpah kepada dewa-dewa pantai
yang dibuat olehnya sepanjang waktu dia berlayar dari laut terjauh
bahkan untuk danau yang jernih ini.
Tetapi hal ini telah berlalu dan hilang, sekarang ia beristirahat
di usia tua dan kelak undurkan diri, dan mendedikasikan dirinya atasmu,
Castor kembar, dan kepadamu, Castor saudara kembar.

Kau bertanya berapa banyak ciumanmu,
Lesbia, segalanya bagiku dan lebih dari cukup.
Sebanyak pepasir Libya
yang merebah di atas bantalan silphium Kirene,
antara peramal sensual Musytari
dan makam suci Battus tua;
atau sebanyak bintang-bintang, ketika malam tidak bicara,
yang melihat cinta curian seorang pria,
untuk menciummu dengan begitu banyak ciuman
yang cukup dan lebih dari cukup bagi Catullus-mu;
ciuman, yang bukan dari mata penasaran sanggup untuk menghitung
juga bukan dari lidah jahat penyihir.

“Buluh-buluh kerinduanku, kali ini kuterbangkanmu ke angin, biar yang menambat hatiku mengenal utuh sayapku —telah terbang jauh ke segala penjuru waktu: sepi dan ramai.”

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150285773839558

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…