Langsung ke konten utama

Lebih Dekat Dengan Asma Nadia; Cerpenis Yang Peduli BMI

Arul Arista
http://www.kabarindo.com/

Anda sudah mengenal Asma Nadia ?
Yah, ia adalah oase anak negeri muda usia yang inspiring dan peduli terhadap Pahlawan Devisa atau Buruh Migran Indonesia (BMI). Ia sudah menulis 44 buku, 2 diantaranya telah difilmkan (Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela) belakangan banyak mengangkat tema-tema perempuan, tahun 2002 menulis sebuah novel berjudul Derai Sunyi yang diterbitkan Mizan 2002, terinspirasi dari sebuah kejadian nyata penyiksaan pembantu rumah tangga di Surabaya yang berakhir tragis.

Saat redaksi menemuinya saat koordinasi dengan tim BISA Goes To Hong Kong beberapa waktu lalu. Asma mengaku sejak 2004 telah memberikan pelatihan-pelatihan kepenulisan antara lain kepada buruh migran perempuan di luar negeri, seperti yang pernah dilakukan bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Hongkong, FLP Malaysia, dll. FLP sendiri merupakan organisasi pengkaderan penulis muda yang bertekad menulis untuk mencerahkan dan sebagai media juang ini didirikannya bersama Helvy Tiana Rosa tahun 1997.

Seiring dengan kampanye Perempuan Indonesia Menulis yang digagasnya untuk membangkitkan potensi terpendam dari perempuan-perempuan di tanah air termasuk para ibu rumah tangga dan buruh migran, secara personal Asma ikut menyemangati dan memberikan perhatian juga asistensi bagi karya-karya mereka. Puluhan buku antologi bersama perempuan-perempuan Indonesia juga telah terbit, antara lain yang memuat karya-karya BMI adalah Gals Please Don’t Cry (Dewi Lestari aka Fia Rosa, Swastika Mahartika, Wina Karnie), Jilbab Traveler (Wina Karnie), Karenamu Aku Cemburu (Syifa Aulia aka Ifah), The Real Dezperate Housewives (Syifa Aulia), dll.

Workshop menulis yang dilakukan di Hongkong beberapa kali juga melahirkan sebuah buku karya FLP Hongkong berjudul: Hongkong Namaku Peri Cinta yang ditulis oleh: Wina Karnie, Syifa Aulia S, Aisyah. Z, Andina Respati, Ikriima Ghaniy, Fia Rosa, dan Rof (Lingkar Pena Publishing House, 2005).

Buku tersebut mendapatkan sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk menuai pujian dari penyair dan sastrawan kondang aufiq Ismail yang berseloroh bahwa Buku Hongkong, Namaku Peri Cinta ini mendobrak sejarah penulisan cerpen Indonesia. Tujuh pengarang muda perempuan kita, seluruhnya pekerja imigran di luar negeri (dalam hal ini Hongkong) merekam duka derita mereka, direndahkan, diremehkan, didiskriminasi. Ketabahan mereka luar biasa. Cita-cita mereka sederhana meningkatkan derajat kemanusiaan, menghilangkan energy negative, mengobati stress psikologi dan mendekatkan diri pada Allah. Ketujuh pengarang baru ini mewakili beribu-ribu nasib rekannya senasib di seluruh dunia. Salut saya sangat tinggi untuk Forum Lingkar Pena!

Bagi Asma pribadi, perjuangan untuk memberikan support, edukasi dan wawasan bagi teman-teman BMI (agar mereka tidak selamanya menjadi BMI tetapi memiliki keahlian lain) adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan siapa saja, bahkan jika hanya berupa perwujudan simpati, solidaritas dan pembelaan. Salah satu mimpinya adalah menemukan lebih banyak keramahan dan kesabaran dari berbagai pihak antara lain maskapai penerbangan, serta perlindungan dari staf di bandara tanah air, hingga kerugian moril maupun materiil yang menyapa BMI kita di menit mereka tiba di tanah air, setelah bertahun-tahun membanting tulang di negeri orang, tidak terjadi.

Terakhir, Asma Nadia merupakan satu-satunya tokoh perempuan yang mendapatkan anugerah sebagai Tokoh Perubahan Republika 2011, bersama sederet tokoh lain seperti Jusuf Kalla, dll.

2 Juni 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…