Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tanggal

Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ? Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.

16 Februari 2011



Bara Hati

Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu

butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu

24 Februari 2011



?

Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati berteduh di dahan jati,berdiskusi tentang bulunya yang tak juga kering
nampak mulai bosan berdebat dengan kenyataan
; Entah kapan dapat kembali terbang
Mungkin nanti jika rintik hujan telah menjadi puisi dan alam menepati janji
Namun hujan akan cuma jadi sebaris puisi tak jadi dan janji alam tak selalu pasti
kadang hujan,kadang terang (tanpa dapat terprediksi)
Sementara jarum jam terus berotasi
(semua masih dalam sebuah tanda tanya)

08 Maret 2011



Tentang Luka (catatan sederhana negeri Sakura)

Mengalun lembut sebaris lagu oh Sakura berirama lara tak lagi berirama disco maupun salsa yang kemaren gempita membahana pada segenap ruas kota
; gejolak alam adalah bait puisi maha karya penyair kita
adakah dia yang jadikan rima tengah tampakkan kuasa
adakah dia yang lahirkan diksi tak terima atas anarki
adalah dia . . .
Oh yang Esa
yang ada pada hati insan tanpa berjeda
yang telah jadi irama hidup dan diksi
; adakah terasa luka pada celah mimpi
( di balik tirai Sakura )

16 Maret 2011



Senandung Mekanik
(catatan harian pekerja bengkel)

:kepada Goes Shoe

Menulis puisi adalah membunuh sepi
pada desir angin yang bercakap
pada malam yang perlahan membungkus hati dalam lipatan mimpi.
teringat di bawah matahari
berjemur dan mandi pada telaga oli
bersetubuh dengan besi
berhari-hari
meski tak pernah ejakulasi

Mur dan baut adalah pasangan serasi
meski tak dapat bersatu bila tak padu
namun mur,baut,besi dan oli adalah kawan sejati
yang setia mengantar bersekulah
memberi berpiring nasi
baju buat anak istri
menulis puisi dan mengantar kemana pergi.

Pada celah oli yang menembus metal dan pori besi
terselip cita dan mimpi
(membina peradaban negri ).

16 Maret 2011



Lomba puisi (sayembara Tuhan)

Tahun lalu saya bikin puisi, mau saya kirim pada Tuhan
Katanya Tuhan adakan sayembara
jika ada yang dapat bikin puisi melehihi Qur’an, Dia akan pensiun jadi Tuhan.
Saya batalkan kirim puisi, sebab saya takut melebihi Qur’an.
Jika Tuhan pensiun, siapa yang gantikan?
Kamu?
Aku?
Saya tak mau jadi Tuhan, kalau jadi Tuhan semenit saja pasti bosan, Mendengar rintih dan pintamu yang tak karuan
Melihat kau turuti ajakan setan.
Saya tak lagi membikin puisi
(saya tak mau jadi Tuhan)

3/21/2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…