Langsung ke konten utama

FTI Award untuk Wisran Hadi, Penghargaan untuk Keberanian

http://www.harianhaluan.com/
28 Desember 2010

Dalam dua hari belakangan ada ‘kemeriahan dalam kesunyian’ di Sumatera Barat. Kita sebut kemeriahan karena ini menyangkut pemberian penghargaan tingkat nasional kepada seorang pekerja teater terkemuka Sumatera Barat yang tentu saja membanggakan khususnya bagi kalangan seniman teater. Kita katakan dalam kesunyian, karena dunia teater belakangan ini di Sumatera Barat layaknya dunia yang sunyi, tersuruk dan tenggelam dari hingar-bingar seni dan budaya instan yang makin mendominasi masyarakat kita. Kemeriahan kita maksud adalah pemberian Federasi Teater Indonesia (FTI) Award untuk daramawan atau teaterawan Wisran Hadi, seorang terkemuka di bidangnya yang memang sangat diperhitungkan di tingkat nasional. Dalam hal ini, Wisran Hadi adalah tokoh teater kelima yang menerima penghargaan tersebut.

Peraih Penghargaan FTI sebelumnya adalah W.S. Rendra, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, dan Slamet Raharjo. Siapa tak kenal nama-nama tersebut?

Rangkaian acara pemberian Penghargaan FTI 2010 (resminya panitia menyebutnya FTI Award –menggunakan bahasa Inggris mungkin agar lebih beken), berlangsung selama dua-hari-dua-malam di Komplek Taman Budaya Sumatera Barat di Padang. Acara dimulai hari Minggu 26 Desember dengan pameran dokumentasi karya-karya Wisran Hadi dan Teater Bumi Padang, dilanjutkan beberapa pementasan. Puncaknya adalah hari Senin malam (27/12) dengan penyerahan FTI Award 2010 kepada penerimanya, dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat dan sejumlah tokoh yang punya perhatian kepada dunia kesenian dan kebudayaan di samping kalangan seniman dan budayawan sendiri.

Lalu apa pentingnya suratkabar kita mengangkat peristiwa tersebut dalam kolom ini?

Dunia teater sesungguhnya dunia yang serius, yang memerlukan kesungguh-sungguhan. Menulis drama dan memainkannya di atas panggung hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang cerdas, orang yang bisa dan terlatih berpikir dan menggunakan imajinasi, serta memiliki kemerdekaan untuk berkreatifitas. Karya teater atau drama yang paling menghibur, atau katakanlah komedi, sekalipun memerlukan kecerdasan untuk melahirkannya. Kata lain, drama atau teater adalah bentuk karya intelektual.

Wisran Hadi, sang dramawan yang menerima Penghargaan FTI itu, adalah seniman dan manusia yang telah melakoni dengan sungguh-sungguh pekerjaan tersebut selama lebih 40 tahun. Ia dikenal sebagai dramawan paling produktif di Indonesia, sudah menulis puluhan naskah drama dan memenangkan belasan penghargaan tingkat nasional. Dunia yang dipilihnya itu telah membawa dirinya berkeliling dunia, termasuk sebagai fellowship Writing Programme di Iowa University, Illiois, Amerika Serikat, lebih 30 tahun silam.

Sosok Wisran Hadi dan Penghargaan FTI 2010 yang diterimanya sengaja kita angkat, karena di sini banyak tersurat dan tersirat nilai-nilai berharga. Salah satunya adalah keberanian. Penghargaan FTI –berbeda dengan beberapa jenis award lainnya yang kadang bisa dibeli—adalah bukan saja penghargaan atas prestasi, karya dan kesungguh-sungguhan. Tetapi lebih dari itu semua, ini adalah penghargaan untuk keberanian. Keberanian seorang manusia untuk memilih bidang atau profesi yang digeluti dan ditekuninya dengan kesetiaan yang sepenuh hati.

Sesungguhnya hidup ini memang memerlukan keberanian. Keberanian untuk memilih lapangan penghidupan dan pekerjaan. Nilai-nilai keberanian itulah yang sekarang ini sudah langka kita temukan di kalangan generasi muda intelektual kita. Tidak ada keberanian untuk memilih suatu lapangan kehidupan, karena tidak siap untuk menjalani pilihan secara tekun dan setia. Setelah lebih 65 tahun bangsa kita merdeka, justru generasi mudanya lebih memilih untuk hidup tidak merdeka dengan menjadi pekerja, pegawai negeri, anak buah dari pemilik modal, dan sejenisnya. Sangat kurang keberanian untuk hidup merdeka dengan kemampuan sendiri.

Wisran Hadi adalah contoh manusia merdeka dengan keberanian untuk memilih bidang kehidupannya. Makanya ia pantas menerima Penghargaan FTI 2010 ini, dan belasan pernghargaan yang pernah diterimanya sebelum ini. Itulah pesan yang ingin kita sampaikan lewat kolom ini. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…