Langsung ke konten utama

Bapak Kami Wisran Hadi

Alfian Zainal
http://www.kompasiana.com/alfian_zainal

Pukul 09.11 WIB telepon genggam saya berdering ketika saya masih tidur. Saya kaget, kawan saya, Yusril, dengan memelas menyampaikan kabar duka bahwa Wisran Hadi meninggal sekitar pukul 08.30 WIB. Beliau meninggal akibat serangan jantung.

Saya langsung duduk. Lama sekali terpaku. Bagi saya, kabar itu sangatlah sulit dipercaya kendati memang begitulah kenyataannya. Bahwa saya kehilangan seorang ayah. Hubungan saya dengan Pak Wis sudah seperti ayah dan anak. Tidak hanya saya, tetapi juga teman-teman di Bumi Teater.

Bagi kami, Bumi bukan sekadar grup yang bisa dengan mudahnya masuk, berkarya, kemudian pergi. Bumi adalah sebuah keluarga. Keluarga bagi “anak-anak” Bumi yang kini entah berada di mana, yang usianya terpaut jauh di atas saya dan tidak pernah saya kenal. Juga bagi generasi setelah saya, yang juga tak saya kenal.

Di Bumi, apapun kesalahan seorang anak, tetap dihukum, tetapi tak pernah bisa meninggalkan keluarga itu. Mereka bisa pulang kapan pun, datang ke Belanti, duduk, membaca atau tidur- tiduran di atas karpet atau trap-trap yang biasa digunakan untuk properti panggung.

Saya masih ingat, Yusril pernah sangat membenci Pak Wis karena ambisinya menjadi seorang sutradara. Kebencian itu hanyalah karena ia tidak mau berada di bawah bayang-bayang nama besar Wisran Hadi, sutradara yang terkenal dengan konsep melukis di atas panggung itu.

Yusril memang berhasil menjadi seorang sutradara muda di Indonesia. Tetapi, ia tak pernah bisa meninggalkan Bumi sebagai keluarga. Itu terbukti, ketika Federasi Teater Indonesia (FTI) memberikan FTI Award untuk Pak Wis, 26 Desember 2010 lalu, ia adalah orang yang ngotot untuk membuat acara yang meriah. Ia menghubungi seluruh anggota Bumi untuk mendukung sehingga acara penyerahan Award itu menjadi dua malam. Malam pertama pementasan dari anak- anak Bumi dan malam kedua acara penyerahan Award.

Saya sendiri berniat pulang untuk acara itu, namun mendadak batal meskipun tiket sudah saya beli. Saya kemudian hanya mendapat cerita dari kawan-kawan betapa suksesnya acara itu. “Anak- anak Bumi hebat,” kata Pak Wis kepada saya lewat telepon, memuji acara itu.

Tentu saja bagi kami penghargaan itu pantas diperoleh Pak Wis sebagai orang kelima yang menerima FTI Award setelah WS Rendra, Putu Wijaya, Nano Riantiarno dan Slamet Rahardjo. Di negeri ini, orang seperti Pak Wis sangat langka. Meskipun banyak sutradara teater yang lahir di bumi ini, tapi tak banyak orang yang produktif menulis naskah drama seperti Wisran Hadi. Bahkan, Wisran boleh dikatakan orang yang paling banyak membuat naskah drama di negeri ini sehingga ia mendapat julukan pabrik naskah dari Padang.

Itu dilakukannya karena selama ini teater modern Indonesia hanya besar oleh naskah terjemahan dan saduran. Sehingga, agak miris mengatakan teater modern lahir sebagai perubahan dari teater tradisional.

Yang membuat saya semakin kecut atas kematian Pak Wis adalah karena kami –anak-anak Bumi yang tak semuanya saling kenal– berniat pulang bersama pada Ulang Tahun ke-35 Bumi Teater pada 10 November 2011 nanti. Meskipun kami bukan orang yang percaya mitos –mungkin karena Wisran Hadi adalah seorang yang dianggap suka menjungkir-balikkan mitos, bahkan sejarah– tetapi memperingati HUT Bumi 11-11-11, sepertinya bagus juga.

Dari berita yang saya baca di Kompas.com, Wisran mendapat serangan jantung saat di depan komputer, sedang menulis naskah. Komputer! Benda canggih itu masih saya ingat karena dari rumah di Wisma Indah II, Belanti, itu juga saya mengenal komputer. Pak Wislah orang yang pertama kali menyuruh saya menulis pakai komputer yang ketika itu masih menggunakan program Wordstar (WS). Dia juga yang memberikan informasi baru dan mengajarkan kami perkembangan WS dari WS4 hingga WS7. Sedangkan kami, saat itu masih buta dengan komputer.

Tetapi bukan itu yang membuat Pak Wis hebat. Pemikirannya, kecintaannya terhadap budaya Minang dan agama serta keterbukaannya terhadap segala bentuk pemikiran. Kami belajar soal sikap, karakter tetapi juga tentang demokrasi yang sesungguhnya dan egalitarian. Kami biasa berdebat bahkan berkelahi, tetapi kami tetap menjadi sebuah keluarga yang saling hormat- menghormati.

Kami belajar tentang kata, kalimat hingga makna dari naskah-naskahnya yang kuat. Kami juga belajar tentang kesempurnaan dan kedisiplinan. Saya ingat, bagaimana kami harus menyiapkan seluruh properti panggung dari Padang ketika melakukan pementasan di Jakarta, termasuk batu, petasan, bahkan kantong plastik.

Saya juga ingat, bagaimana Pak Wis memecat seorang aktor menjelang pementasan karena melanggar disiplin atau kesepakatan bersama. Sebab, bagi Wisran, bukan pementasan yang paling penting, tetapi manusianya.

Itulah bahagian kecil dari Wisran Hadi yang hingga ia meninggal tak pernah lupa pada anak- anaknya. Baginya tak penting, apakah anak-anaknya masih berkesenian atau tidak. Yang penting, ia tetaplah bapak bagi kami dan kami tetaplah anak-anaknya.
Selamat jalan Pak Wis. Selamat jalan ayahanda.

*) Redaktur Harian Tribun Batam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…