Langsung ke konten utama

Pengalaman Menulis Buku Pengantar

Nurani Soyomukti*
http://www.jawapos.co.id/

ENTAH kebetulan atau tidak, esai Ridwan Munawwar di rubrik ini (Jawa Pos, 11 Juli 2010) yang berjudul Politik Buku Pengantar hadir saat saya sedang semangat-semangatnya menyelesaikan buku Pengantar Sosiologi. Buku itu saya mulai lebih dari tiga bulan yang lalu. Saya menulis dengan bersemangat karena dipicu tawaran untuk mengajar di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik sebuah kampus swasta. Karena itu, sebagai pengajar, saya harus bisa mengungkapkan pikiran dan gagasan secara lebih sistematis dan mudah dipahami pembaca (terutama mahasiswa).

Sebagai penulis buku-buku bertema pop ”berat”, saya seperti mulai hal baru saat menulis buku pengantar. Saya harus menulis hal-hal yang lebih sistematis. Hal itu bertujuan agar penyampaian materi dapat mendukung ketentuan kurikulum yang diajarkan di lembaga pendidikan. Juga, memudahkan suatu wacana akademik dipahami dalam keterkaitan satu materi dengan materi lain. Saya juga harus membatasi diri untuk berbicara hal-hal yang subjektif agar uraian-uraian yang disampaikan tidak keluar dari bingkai tema, materi, dan teori yang dibahas dalam buku tersebut.

Esai Ridwan benar-benar seperti mengingatkan saya. Karena itu, tulisan tersebut saya gunting dan saya tempel di dinding dekat komputer. Ridwan membahas tentang bagaimana seharusnya sebuah buku pengantar dibuat. Menurut dia, idealnya penulis buku pengantar adalah para petualang wacana yang sudah mumpuni dalam bidang keilmuan yang dipengantarinya.

Penulis buku pengantar ”harus memiliki jam terbang membaca yang lebih unggul daripada yang lain”. Tujuannya, agar banyak literatur yang dikuasai. Semakin banyak literatur penulis buku pengantar akan memberikan pilihan bagi pembaca untuk mengambil teori mana yang paling cocok. Juga, memberikan sudut pandang yang jamak tentang suatu informasi dan gejala kehidupan yang ditulis atau dibahasnya dalam buku.

Saya punya pandangan bagaimana menulis buku pengantar yang baik. Yaitu, kontekstualitas dengan isu kekinian dan yang kita tulis bisa digunakan untuk menganalisis perkembangan sosial yang terjadi. Dalam menulis buku tersebut, saya berusaha keluar dari teks-teks lama yang berbicara tentang isi buku yang judulnya sama atau hampir sama yang pernah ditulis para penulis sebelumnya. Misalnya, buku Pengantar Sosiologi karya Soerjono Soekanto yang banyak digunakan di lapangan akademik ilmu-ilmu sosial. Tetapi, karena buku pengantar harus sesuai dengan kurikulum dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), saya tidak bisa keluar jauh dari itu.

Mungkin, yang bisa maksimal saya lakukan adalah memasukkan tema-tema penting dalam kajian sosiologi dan contoh-contoh yang berbeda dari proses-proses sosial yang digambarkan dalam materi sosiologi yang ada. Saya memasukkan tema-tema yang saya anggap penting dalam upaya untuk memberikan pemahaman terdalam tentang teori-teori dan filsafat sosial. Misalnya, bab yang menggambarkan perdebatan antara marxisme dan post-positivisme (postmodernisme). Isu-isu sosial strategis yang bisa dibahas dalam kajian sosiologi (sosiologi pendidikan, sosiologi seks, dan gender) juga saya masukkan, meski tema itu dapat dikembangkan dalam buku tersendiri. Alasan lain, saya memang sangat menguasai masalah tersebut. Beberapa buku tentang itu telah saya terbitkan.

Jadi, inilah yang mungkin dimaksud bahwa penulisan buku pengantar juga boleh subjektif. Tapi, adakah tulisan yang tidak subjektif? Jika sebuah buku pengantar adalah parade ringkasan teori maupun pendapat para tokoh, memang ada batasan kurikulum mata kuliah. Tapi, kita bisa melontarkan subjektivitas itu dalam rangka menarasikannya dan memberikan contoh-contoh sesuai dengan pengalaman subjektivitas tadi.

Ini adalah salah satu alur psikologi menulis yang berguna untuk menghindari plagiasi. Apalagi, yang kita tulis adalah pengantar untuk ilmu-ilmu sosial (Pengantar Sosiologi), bukan ilmu eksakta. Masalahnya, ketika saya membandingkan dua atau tiga buku teks pengantar dari penulis yang berbeda, pada saat membahas suatu teori yang sama, cara menarasikannya sama dengan contoh-contoh yang sama. Untuk ukuran penulis buku pengantar yang rata-rata bergelar doktor dan memiliki jam terbang mengajar yang tinggi, hal tersebut sungguh memalukan. (*)

*) Koordinator Quantum Litera Center (QLC) dan penulis buku, tinggal di Trenggalek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…