Langsung ke konten utama

Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan

Erwin Edhi Prasetya
http://www2.kompas.com/

Homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya. Kalimat itu dikenal luas sebagai ajaran pokok Driyarkara (1913-1967), seorang filsuf yang asli Indonesia.

Dalam setiap periode sejarah, manusia memang bisa menemukan dimensi kemanusiaan baru, tetapi sekaligus juga bisa kehilangan aspek-aspek tertentu dari kemanusiaannya. Manusia bisa kehilangan empati terhadap sesama lebih-lebih yang menderita, kehilangan sikap toleran ketika berhadapan dengan perbedaan, kehilangan kepekaan mengenai manusia dan lebih cenderung pada kekerasan. Karena itu, manusia membutuhkan visi baru mengenai manusia, yang diharapkan dapat memberi arah dalam membangun kemanusiaan. Menurut Sastrapratedja SJ, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, itulah yang ditawarkan oleh Driyarkara.

Menurut Romo Sastra, panggilan akrab Sastrapratedja, dengan refleksi filsafatnya, Prof Dr Nicolaus Driyarkara SJ, demikian nama lengkapnya, mencoba mengeksplisitkan dimensi-dimensi fundamental manusia. Pergulatan pemikiran Driyarkara masuk ke berbagai peristiwa hidup kemanusiaan, kemasyarakatan, berbangsa, kebudayaan, hingga pendidikan.

Dalam menyampaikan pemikiran itu, Driyarkara lebih banyak menulis esai-esai filsafat daripada buku-buku filsafat panjang. Hingga karya-karyanya yang berharga itu pun tersebar di mana-mana. Ini mendorong tiga penerbit, Penerbit Buku Kompas, Kanisius, Gramedia Pustaka Utama bersama Universitas Sanata Dharma bekerja sama menerbitkan karya-karya Driyarkara menjadi sebuah buku.

Harapannya, pemikiran emas Driyarkara dapat lebih disebarluaskan agar bisa memberikan pencerahan. Romo Sarwanto SJ, Direktur Utama Kanisius, mengungkapkan, ketiga penerbit bersama USD memang memiliki visi yang sama untuk menyebarkan pemikiran Driyarkara. Untuk mengumpulkan karya-karya Driyarkara menjadi sebuah buku, tim penyunting buku membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun.

Buku berjudul Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikir yang Terlibat dalam Perjuangan Bangsanya, Kamis (14/12), itu diluncurkan perdana di Yogyakarta di kampus USD.

Pemikiran Driyarkara memang sangat luas meski tulisannya tidak mudah dibaca masyarakat yang awam filsafat. Sastra mengungkapkan, Driyarkara berusaha juga untuk merumuskan gambaran manusia Indonesia, meskipun mengenai hal itu masih sangat terbatas. “Driyarkara memulai deskripsinya dari sila kelima Pancasila. Sila keadilan sosial mengandaikan gambaran manusia yang hakikatnya adalah sosial,” ujarnya.

Dari filsafat pendidikan, seperti diungkapkan Ki Supriyoko pada kesempatan yang sama, Driyarkara berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses hominisasi dan humanisasi. Artinya, pendidikan harus mampu mengangkat manusia sebagai manusia.

“Yang penting diperhatikan dalam pandangan Driyarkara mengenai pendidikan, yaitu pendidikan pada dasarnya bukanlah proses individualisasi akan tetapi proses personalisasi. Artinya, pendidikan bukan cara mendidik manusia muda menjadi pribadi yang sikap individualismenya menonjol dengan mengabaikan kepentingan orang lain, namun pendidikan merupakan proses yang memerhatikan karakter personal masing-masing untuk mengembangkan diri,” katanya.

Rektor USD Paulus Wiryono P menuturkan, Driyarkara pendiri dan rektor pertama USD, bukan hanya milik Sanata Dharma lagi. Kehadiran, keikutsertaan, serta sumbangan-sumbangan pemikirannya yang sangat berharga dalam sejarah perjuangan bangsa telah membuatnya menjadi milik bangsa Indonesia. “Intelektual Indonesia perlu memiliki buku ini karena buku ini menawarkan inspirasi serta aura pencerahan yang sangat khusus,” ungkapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…