Langsung ke konten utama

Soal Nama Pengarang; Imamuddin SA, Pringadi AS, M.D. Atmaja

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dulu, semasa merasakan atmosfir dunia kepenulisan di Jogja, sebuah nama kepengarangan seseorang kerap membentuk diskusi tersendiri di sela-sela proses kreatif. Kadang menjadi ajang olok-olokan sampai tataran realitas nasib hingga ke alam klenik di balik sebutan tersebut. Seminimal kami lakukan bersama pengarang Iman Budhi Santosa, K.R.T. Suryanto Sastroatmodjo, Hamdy Salad, Mathori A Elwa, Joni Ariadinata, Abdul Wachid B.S., Amien Wangsitalaja, Teguh Winarsho AS, Binhad Nurrohmat, Satmoko Budi Santoso, Sri Wintala Achmad, Marhalim Zaini, Raudal Tanjung Banua, Y. Wibowo, Akhmad Muhaimin Azzet, Abdul Azis Sukarno, Sriyono Daningrono, di waktu berbeda-beda saat menanti baca puisi, acara bedah buku pun sekadar begadang di sanggar.

Sebagian darinya ada nama-nama dibikinkan temannya. Setidaknya didiskusikan pada kawan-kawannya, sebelum dipublikasikan beserta karya di lembar surat kabar, selain disematkan seniornya, semisal Raudal Tanjung Banua oleh Umbu Landu Paranggi, pun ada yang yakin atas pilihan sendiri. Paling tidak aku pernah menggunakan identitas pemberian cerpenis Joni Ariadinata, berinisial Nurla Gautama, dalam hatiku masa itu merasai harus ada penghianatan dikemudian hari, tentu dengan energi lebih besar dibanding proses kreatif sebelumnya.

Nama ibarat doa, plakat, stempel, judul tercetak tebal, baju kebesaran &sb. Di kedalamannya ada ruh menaungi auranya, meruapi air memberkah pesona melanggengkan pemakainya. Seperti pujangga R. Ng. Ronggowarsito di bawah karya-karyanya tertera tanda tangannya serupa ular naga. Jika diselidik ke dalam bahasa Sansekerta, ular naga bermakna pujangga. Demikian nama-nama di samping tanda tangan pemiliknya mempunyai kandungan ruhani yang tak bisa dianggap sepeleh. Darinya cahaya takdir dapat dikenali lekuk lelikunya, sekelokan sampur penari jiwa-raga, dan luk (kelukan) keris bersetia menempa nasib empunya dalam melakoni hayat atas penghayatan diembannya.

Sastrawan William Shakespeare mengatakan dalam dialog Romeo-Juliet: “Apalah arti sebuah nama? Meski pun kita menyebut bunga mawar dengan nama lain, wanginya tetap harum.” Cukup tinggi tingkat resiko melencengnya makna yang diharap, dan dirinya tidak hanya mengguratkan beberapa karya, tidakkah karya-karyanya melimpah? Puisi-puisi panjangnya luar biasa, serta naskah-naskah dramanya, untuk melunasi kata-kata tersebut atau mengukuhkan jalan hidupnya, agar perselisihan yang hadir menemukan harmoni sahaja. Suatu alur panjang mematenkan sebutan pengarangnya.

Nama itu cermin diri sebatu-batu berbentuk mutiara yang dipahat, sudut-susut tempaanya memantulkan cahaya, sejumlah ketentuan sudah ditakar sebelumnya, dihitung sesuai kodrat-iradatnya, ikhtiar ialah olah raga bathin, peleburan pribadi ke dalam karya. Atau kaca benggala bersimpan perbendaharaan tersembunyi, sekandungan pengetahuan bagi menelusuri dan mendenyutkan nafas kasih sayang-Nya. Nama sebagai panggilan, Kahlil Gibran berujar: “Kata paling indah di bibir umat manusia ialah Ibu, dan panggilan terindah Ibuku”. Demikian nama serta kata menyeruak wewujud lelapisan tak terkira, memberi informasi kediaman cangkang telur berisi nilai-nilai manfaat yang ada di dalamnya.

Perubahan nama paling revolusioner menurutku serupa sastrawan filsuf Perancis, François-Marie Arouet menjelma Voltaire, penyair Guillaume Apollinaire, nama aslinya Wilhelm Albert Vladimir Apollinaris Kostrowitzky, dan awal gelar Caesar sebab nasib kelahirannya melalui bedah caesar atau sebaliknya. Yang tak puas mengikuti nama nabi, diangkutnya ketiga nama disatukan sekaligus seperti penulis Muhammad Isa Dawud. Nama-nama memiliki keunikan sendiri, punya wibawa masing-masing, menggembol kharisma berbeda-beda, pula jatuh kepada bayang-bayang yang lekat kepadanya.

Di Indonesia menggejala penyingkatan nama, malah ada beserta titel hajinya, misalkan pengarang filsuf Haji Abdul Malik Karim Amrullah, terkenal sebutan Hamka, Abdurrahman Wahid dapat dipanggil Gus Dur, Hans Bague Jassin menjadi H.B. Jassin, sastrawan Willibrordus Surendra Broto Rendra menjelma W.S. Rendra, budayawan Halim H.D., Maman Soetarman Mahayana, dikenal Maman S. Mahayana, Suminto A. Sayuti, pula kritikus Faruk H.T., penulis Teguh Winarsho AS, Muammar Emka, belakangnya dari singkatan nama orang tuanya, atau menjumput sebutan marganya; Bahrum Rangkuti, Hamsad Rangkuti, Sitor Situmorang, Saut Situmorang, Bokor Hutasuhut, Budi Hutasuhut, Iwan Simatupang, Sihar Ramses Simatupang &ll.

Nama-nama yang identik dengan penelitiannya; Koentjaraningrat, Kuntowidjojo, Suwardi Suryaningrat yang sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, Suryanto Sastroatmodjo, tetapi Budi Darma kukira kurang pas atas hasil-hasil karyanya jikalau ditengok sedari nama, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Hudan Hidayat, sama pada beberapa karyanya, Wiji Thukul kurasa sesuai atas perjuangan kaum proletarnya. Mochtar Lubis tampak sepadan, Fahrudin Nasrulloh seimbang, Chairil Anwar ngepop, nama Ahmad Tohari, Taufiq Ismail cocoknya penceramah. Nama-nama keren seperti Diponegoro, Muhammad Yamin, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Nicolaus Driyarkara, Sam Ratulangi, Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Katrin Bandel, Bre Redana, Gerson Poyk, Tan Lio Ie, Lan Fang, Oka Rusmini, dan Putri Sarinande, sedangkan Soekarno terdengar ndeso, kecuali bersebutan Bung Karno.

Nama membentuk watak-perilaku orang-orangnya; Pramoedya Ananta Toer, Remy Sylado, Abdul Hadi W.M., Zainal Arifin Thoha, Acep Zamzam Noor, Putu Wijaya, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, Abidah El Khalieqy, Hadjid Hamzah dengan nama samaran Hendrasmara. Nama yang aneh seperti AS Laksana, Nu’man ‘Zeus’ Anggara, Ribut Wijoto, S. Jai, S. Yoga, Sutardji Calzoum Bachri, Udo Z. Karzi, Afrizal Malna, Herry Lamongan, Bambang Kempling, Wa Ode Wulan Ratna &st. Nama-nama pada judul catatan ini, bisa dibilang aku yang menawarkan kepada pemiliknya. Imamuddin SA aslinya Imam Saiful Aziz, saat awal kepengarangan ia menyepakati perubahan tersebut. Selanjutnya melalui telepon, Pringadi AS mulanya Pringadi Abdi Surya, kala mendekati cetak antologi puisinya “Alusi” dan menyetujui. Malah M.D. Atmaja sudah menerbitkan novelnya “Pembunuh di Istana Negara” bernama Dhian Hari M.D. Atmaja, tidak keberatan kuubah diawal posting karya-karyanya di webset sastra-indonesia.com yang terus dipakainya.

Nama yang kemunculannya memboyong dinaya tertentu serta berhasil menggulirkan perkaranya; Tao Te Ching membentuk Taoisme, Karl Marx menjelma Marxisme, Niccolò Machiavelli mewujud Machiavellisme, Samin menjadi Saminisme &ll, dengan rentang umur nafas cadangannya di atas kelenturan jemari tangan para pengikutnya. Sampai di sini, sebuah nama ternyata sanggup menghantui, rupa-rupa terus bergentayangan menjamah jaman-jaman setelahnya, kelayapan mengunjungi abad-abad sesudahnya, sanggup mencipta pilar-pilar peradaban. Antara kisaran itu banyak pula yang tumbang tak bernafas sumringah, tak memekarkan sekuntum bunga harum memesona, ludes ditinggal masa, tertimbun abu sejarah, terkubur kekayaan keduniawiannya, yang nanggung laksana kelebaran tidak jelas, pun ada senantiasa memancar sebintang terang dan sebagainya.

Nama sangat lekat dengan peristiwa-peristiwa yang menancapkan ruh daripada simbol keberadaannya, makin besar konflik yang ada di dalamnya, kian kuat terekam sejarah. Dan para pemiliknya orang-orang bersungguh menempa kebodohan diri, merangkaki perbukitan terjal cibiran, fitnah, warna kemayu tipu daya, dengan perluasan makna menyeluruh para kaumnya. Atau mereka hidup tak sekadar bagi kepentingan pribadi, keluarganya, tetapi demi kemakmuran bangsanya, minimal golongannya, partainya. Tentu terketahui, sekokoh apapun benteng pertahanan, jikalau tidak diniatkan untuk seluruh umat, mudah tercium derajat capaiannya, dan para penemu bisa dikelompokkan yang bersih dalam penyelidikannya.

Dalam tradisi Jawa ada unen-unen, kabotan jengen atau keberatan nama. Istilah itu muncul kala pembuatannya diikuti tidak sehatnya anak manusia sewaktu disematkan namanya, maka dirubah dengan anggapan setelah diganti tidak sakit-sakitan. Pun penggantian nama di tanah suci, demi sekembali haji, tingkah-lakunya baik dikemudian hari. Seakan nama membentuk takdir sendiri, mencetak tekstur sesuai dinamai, ini pulalah menempel pada nama negara atau kecondongan watak bangsa menjelma pengistilahan. Nama bersama empunya terikat atau jua sebutan jaman menandai corak tertentu, yang menonjol diketengahkan untuk suatu penamaan.

Lebih jauh di tanah Jawa ada upacara ngeruwat semacam ritual selamatan yang penetapannya mencari bulan, minggu, hari sampai masa terbaik di dalam setahun berdasarkan hitungan hari pasaran, di dalamnya tak lebih menancapkan aura nama pemiliknya agar tidak lepas segenap takdirnya, dengan permohonan dianugerahkan kemudahan menapaki tangga kehidupan atau tanda syukur kehadirat Sang Asih. Di balik huruf suatu nama ada kandungan makna, punya alur filosofi, bagi terbiasa menyelidiki perihalnya, seperti hukum Tuhan bisa ditilik sifat-sifatnya, kecondongannya membentuk aturan yang dapat dikaji, digali mendalam demi perolehan dikedepankan ke jenjang pengetahuan dicapainya. Sebab itu, nama punya ruang sendiri segurat-tangan menandati pribadi pengguratnya.

Tapi semua itu tak lebih berfaedah sekadar hiasan jikalau empunya nama tak bersungguh menempuh jalan takdir dipangkunya, hanya menyerupai baju yang mencipta pembodohan misal paribasan Jawa: “Ajine rogo songko busono atau bernilainya badan sebab pakaiannya.” Ini kerap dipolitisir orang-orang berpangkat yang hendak menduduki jabatan pun melanggengkan kekuasaan di pemerintahan pula dunia perdagangan. Pergantiannya dihasratkan memengaruhi orang lain, aman dari tangan tak dikehendaki, golongan berseberangan, manakala konflik etnis sejenis membahayakan pemilik nama.

Nama menandai prestasi tertentu moyangnya, ini yang mencantelkan marga kesukuannya, pun dari orang tuanya tokoh disegani dalam lingkungannya, namun lagi-lagi hanya pengabdian terhitung di hadapan masyarakat, ketulusan berjuang demi umatnya menjelma rantai gaib menyambungkan tali silaturrahmi, wujudnya macam-macam sesuai yang diwariskannya. Dan nama sebutan itu, kalau terucap akan liar menjelajah sejauh pengembaran padanya, sekuat rekaman terkandung kepadanya, setangguh karakter telah dilakoni. Lantas bagaimana bergerak? Berkehendak? Berbicara serta dipanggil? Kalau tidak memiliki nama… Akhirnya nama-nama kembali pada sang empunya.

6 Januari 2011
*) Pengelana asal desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com