Langsung ke konten utama

PUISI, ANTARA SIMFONI DAN CAHAYA

Atas Abdul Hadi W.M., Wislawa Szymborska dan Suryanto Sastroatmodjo
Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=651


Awalnya ini tidak disengajakan memprosesi kreativitas penulisan puisi, tapi setelah terjadi, kehendak itu hadir. Di saat-saat saya seolah penyair, padahal baru dua kumpulan puisi yang terbit; Antologi Puisi Persembahan “Sarang Ruh (1999),” dan “Balada-Balada Takdir Terlalu Dini (2001).” Maka dapat dikategorikan sebagai bentuk proses kreatif awal. Dan tulisan ini pernah mengantari diskusi di kampus Unisda Lamongan, akhir tahun 2001.

Marilah mencoba, mengukur kedalaman lautan atau ketinggiannya; bentangan samudra perasaan dengan kerisauan yang berpegangan, antara bimbang serta ketakutan berkarya.

Sebenarnya saya nol putul tentang jenis lautan, ombak, karang, pegunungan atau pun langitan. Yang terasakan itu, jiwa menjangkau harapan dengan tidak pernah bertemu di kaki-tubuh lahiriah. Jiwa hanya membangun definisi dari kesakitan mendalam, ketersiksaan seluas jagad melepaskan sayap-sayap senyap kematian.

Telah banyak para guru memberi saran bagi tubuh ini, tetapi tetaplah menjadi penduduk, di perkampungan bingung dalam dunianya orang linglung. Mungkin tak sadar memasuki kehidupan mereka yang tergila-gila kesendirian, menelusuri alam keterasingan tersayatnya bathin-raga. Di samping meneguk madunya penciptaan, dari hasil lebah harapan, mimpi-mimpi kemanusiaan.

Selembut apa dunia puisi, prosa, kepenyairan, kapujanggan? Di antara itu, seolah ada untaian sutra yang menjerat, memberi padanan halus, serumit ketika mewedarkan benang kusut. Sejenis carut-marut nalar-perasaan yang terbebani muatan. Yang nyatanya tidak dimengerti, beban itu sangat menyakitkan, yang sanggup menulikan jiwa perasaan.

Saat mendenyutkan nafas-nafasnya, terjadi distorsi dalam rengkuhan sastra. Di mana pantulannya menjelma rumah berupa puisi terbaik. Lalu situasilah yang mengujinya; apakah manusia, alam atau nasibnya sendiri(?).

Kerisauan mencipta puisi terbaik ialah menggila, was-was yang membuyarkan segala ingatan, sampai kadang sulit dimengerti artian kematangan lagi. Apakah murni hanya kegilaan semata(?).

Reruang-waktu menjadi pigura puitika. Adakalanya berada dalam kesakitan, walau menambah lebih penderitaan, memperdalam borok yang tidak terlihat mata.

Rasa memberat itu terletak dalam hati, yang sangat mengharapkan esensi puitika kesejatian. Sebaiknya menggunakan timbangan kesadaran, pun kontinuitas transparan (istikomah), membimbing kepada penciptaan puisi murni.

Agar kebingungan yang tercipta menjelma bangunan pencerahan, lantas menjadikan ujaran. Walau pegangan tersebut, timbul dari jiwa pembuka kemungkinan secara luas.

Puisi merupakan kabar kegembiraan yang tercetus dari kesakitan bathin, tertuang atas ruang-waktu aneh, atau kebingungan ganjil yang agung.

Saya tidak mensejajarkan sentuhan suntuk ini, dengan yang dialami para utusan, saat ketiban (mendapati) pulung wahyu. Namun pembaca dapat membanding, antara wahyu, ilham, pencerahan, pun kesurupan.

Puisi, sajak atau syair, ialah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan, bila ingin mendapati dimensi kesucian (keagungan). Namun bagaimana orang lain faham kemuliaan atau bukan, kalau tidak dilukiskan lewat kata-kata.

Ada pertaruhan tegas mencoret impresifnya, sehingga anak manusia berpijak pada elegi, simfoni, disamping ke-yatimpiatu-an atau kerisauan penyair dalam format teramat dangkal.

Maukah penyair mengagungkan kata setiap harinya menjadi bahasa puisi? Di sini pun konsep kesederhanaan membuyar, tatkala dipandang dari segi individualitas pencipta. Tapi saya percaya, pembaca memiliki lautan yang seimbang airnya, meski terpengaruh gaya grafitasi semangat, serta gairah rahasia individual.

Sedari itu, ia yakin hukuman alam. Bahwa setiap kali menanam, mendapati yang diharapkan, meski kadang wujudnya tidak sesuai impian semula. Namun di atas kepercayaan, ada keyakinan lebih tinggi. Yakni ornamen kesejatian yang datangnya dari Sang Khaliq.

Belum cukup kita punggah beban itu menjadi racikan cair plastisita. Tapi untunglah kita memiliki patokannya, pada jarak badan terlihat di kali (sungai). Bagi menyusuri sungai-sungai angan atau obsesi, walau sendirian termangu di pinggir prigi. Bagaimana membuat sarang, dan menerbangkan setiap sentuhan nada-nada nurani kepada luasnya kesemestaan.

Marilah mengupas kulitan cahayarasa “Ardhanareswari puisi,” mendevinisikan sebagai kabar kegembiraan, dari kematangan prosesi “Arok bertahta,” bukannya terperoleh karbitan namun pemberontakan.

Ialah puisi itu kata-kata yang terangkum dalam judul, mengandung suasana yang tertangkap atas nafas-nafas agung sang pujangga(?).

Menurut saya, puisi tergolong tiga dimensi kehidupan;
Pertama, puisi yang merekam masa lampau serta melukiskan hikmah mendalam, dan bertahan dalam ruang-waktu mendatang.

Kedua, puisi yang merekam kejadian sedang berlangsung di lingkungan penyairnya. Puisi ini pun kudu tahan uji perkembangan, tidak termakan usia berhala matahari jaman.

Ketiga, puisi yang merekam waktu-waktu mendatang. Ini merupakan keahlian penyair (pujangga) dalam m(p)enajaman rasa, yang tentu terperoleh atas pertolongan tuhan Allah, Sang Yang Maha Faham akan ruh. Sehingga dapat menggambarkan situasi mendatang, dengan penciptaan yang spektakuler, serta mempunyai umur gerak rentang keabadian.

Pada pengalaman saya, puisi merupakan kristalisasi prosa. Atau puisi ialah lempengan prosa yang telah matang kata-kata. Yang terekam dalam penjiwaan, lalu terejawantah lebih memadat, semacam kode bagi intelejen.

Jadi puisi itu, lukisan jiwa yang tergambar berupa kata-kata membunting, atau bahasa lebih dari sekadar sesimbul; dalam perut pralambangnya ada makhluk menawan atau bengis menakutkan, sekuat kedalaman penciptaan. Walau separuh di atas dapat terjadi, atau penciptaan puisi tanpa melewati tahap karya prosa.

Puisi ialah alunan lagu diam yang terbacakan dalam antologi, dan merupakan tarian yang ditampilkan, saat dibacakan di atas panggung.

Setengah puisi terbaik ialah hasil penggalian jiwa secara matang, tertuang sangat cermat dari pemikiran jitu, atau dari intelegensi perasaan seorang telik sandi.

Acapkali vibrasi dan atmosfir dunia lain, berbicara di sana. Apalagi bila dimaksudkan menghadirnya puisi transenden. Yang mempunyai aroma spesifik, semisal karya Tagore, Hallaj maupun Rumi. Yang persepsi holistisnya menjiwai untaian sajak, menyeruak menuju kebakaan.

Terlepas ujaran di atas, menulis ialah suatu kebebasan sebagaimana seorang autodidak. Maka ketika dimaksudkan puisi, kata-katanya bersuasana puitika.

Setiap penulis mendalami bathin raga puisi, menemukan madunya kegiatan, terminumlah kesunyian wangi. Yang menumbuhkan bebulu sayap kecantikan demi terbangkan, setarikan dayadinayanya sendiri. Dan khalayak menilai jika dipropagandakan, berpenampakan sedari penjara ruang-waktunya.

Setiap orang menulis dan menulis sebagai teman bermainnya. Maka kebaikan alam mengasihinya, sepanjang tidak pengecut meninggalkan bakat tersebut. Sketsa ini mungkin dapat dikatakan, sebagai salah satu alternatif konsep kepenyairan.

Sulit memang dijelaskan, bahkan mustahil memvonis sebuah karya dalam klasifikasi jelek atau bagus. Lantaran setiap karyacipta, menyimpan kandungan misteri masing-masing. Dan kurang bijak bila mengoreksi secara telanjang ugal-ugalan, karna yang patut menilai, yang mengeliminasi ialah Sang Waktu. Sementara mereka memberikan motivasi, atas ladang pacuan kreativitas.

Hanya setiap karya dapat terbaca; apakah telah matang atau masih asam, tengah mampu mengatur emosinya atau membuta, iseng atau menggurat keseriusan &lsb.

Memang setiap karya, perlu adanya penilaian pihak lain. Namun apakah mereka tahu persis saat terjadinya penciptaan? Yang di dalamnya ada misteri terpendam. Bahkan kita perlu bertarung untuk mendisposisikan; apakah ini produk kekenesan ataukah sebuah makna kental(?).

Sekelumit ini seraya berharap dijadikan batu pijakan dalam rumah kebijakan sendiri, serta bagi yang mau ulang membaca-cipta. Sehingga bebuahnya yang bergelantungan enak dimakan, dan tidak sekadar bahan renungan.

*) Pengelana asal Lamongan. Ditulis antara Yogya, Cirebon, Jakarta dalam keretaapi, Agustus 1999.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com