Langsung ke konten utama

Pohon Keramat

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Malam purnama di tahun baru Jawa. Semua penduduk desa Antabrantah timur berbondong-bondong menuju pohon besar yang terletak di dekat sungai. Tepatnya pohon tersebut terletak di perbatasan desa Antrabrantah timur dan Antrabantrah barat. Meskipun sama nama desa tersebut, para penduduknya memiliki pandangan hidup yang berbeda. Desa Antrabarantah timur masih cenderung percaya, desanya ada yang mbaurekso, tinggalnya di pohon besar yang sekarang akan dipuja juga diberi sesajen. Mereka menganggap pohon tersebut harus dirawat, jika tidak maka malapetaka akan menimpah desanya. Sedang desa Antrabrantah Barat tidak mengenal sama sekali hal-hal yang berbau tahayul, penduduknya modern berfikirnya rasional, pekerjaannya banyak dikantoran. Sedang Desa Antrabarantah timur kebanyakan penduduknya adalah bertani. Perbedaan yang jauh. Antara desa Antabrantah Timur dan Antabrantah Barat. Terkadang mereka bersitegang tentang pemahaman dan cara pandang hidup mereka. Desa Antrabrantah timur, diwakili Parman sebagai kepala desa yang sering menghadiri rapat di kecamatan. Sedang Desa Antrabaratah Barat diwakili oleh Stiven.

Malam yang sakral bagi desa Antraberantah timur, seluruh penduduknya berpesta selamatan di dekat pohon besar: melakukan ritual, pertunjukan kesenian tradisional, bau kemayan bertebaran, bunga tujuh rupa tak ketinggalan. Sedangkan Desa Antaberantah barat biasa saja, kebanyakan penduduknya masih sibuk kerja, memanjakan diri pergi mengunjungi klub-klub malam dan beberapa tidur pulas.

Sebenarnya di desa Antrabrantah barat juga tertanam pohon bersar mirip dengan pohon yang ada di desa Antaberantah timur. Tapi sejak setahun lalu sudah tumbang. Kerena kepala desa mereka menjualnya pada investor yang sedang mencari lokasi mendirikan perumahan. Stive, sebagai kepala desa Antaberantah barat, sebelum menjual pada investor telah diingatkan oleh Parman Kepala desa Antaberantah timur. Perdebatan sengit terjadi dikantor kecamatan.

“Stive, jangan sekali-kali menjual tahan di perbatasan desamu dan desaku. Leluhur kita pasti akan marah, bila itu kau lakukan. Desamu dan desaku memiliki leluhur yang sama. Pohon trembesi besar yang ada di desamu adalah leluhur kita laki-laki. sedang Pohon trembesi besar di desaku adalah leluhur kita perempuan”. Stive tak mau diam. Dia juga angkat bicara. “Sekarang mana buktinya bila pohon trembesi itu ada leluhur kita. Mereka sudah mati dan tidak akan hidup lagi. Otakmu yang harus dibenahi. Jika kami dari kampung Antaberantah Barat menjual tanah dan di sana ada pohon besar, tentu desa kami akan mendapat keuntungan besar. Masyarakat kami pun bisa menikmati hasilnya dengan mendirikan bangunan tempat wisata. Mereka juga bisa memiliki dan mebeli hunian rumah nyaman yang didirikan oleh investor. Isi kepalamu itulah yang membuat wargamu masih tradisional”.

Pak Kartono sebagai kepala kecamatan tidak bisa melerai. Malahan menyerahkan urusan tersebut untuk diselesaikan sendiri. Kecenderunagn Pak Kartono membela Stive, sebab di luar forum sebelum rapat dimulai Pak Kartono sudah dihubungi oleh Stive, jika tanahnya desanya laku, pak Kartono juga mendapat bagian. Tidak dapat dicegah lagi, penjualan atas tanah milik desa Antaberantah Barat yang berbatasan dengann desa Antaberantah Timur.

Seluruh penduduk Antaberantah Timur was-was karena pasangan dari pohon yang dikeramatkan dan dipercayai sebagai rumah leluhur meraka harus ditebang. Sebenarnya Parman tahu, bahwa apa yang dipercaya oleh masyarakatnya adalah tak masuk akal. Bukan soal itu, parman ingin mepertahankan pohon-pohon besar yang ada di desa Antaberantah. Parman adalah segelintir orang desa Antaberantah timur yang berpendidikan tinggi. Sebab kenekatannya pergi ke kota untuk kuliah ia menyandang sarjana pertanian. Kepedulian Parman pada desanya yang membuatnya kembali lagi di desa Antaberantah Timur. Padahal Ia mendapat penawaran dari salah satu pengusaha di kota untuk bekerja di perusahaannya yang bergerak di bidang pertanian. Tapi Parman tidak mau, Ia masih ingin mengembangkan tanah kelahirannya. Ia masih ingin bertani tradisional, meneruskan orang tuanya. Hingga pada suatu hari ada pemilihan lurah, Parman mencalonkan dirinya. Sebagai lurah, banyak yang simpati pada Parman karena kepeduliaannya pada pertanian dan membimbing penduduknya untuk bertani dengan baik, rama lingkungan dan menghasilkan tanaman yang bekualitas. Secara ekonomi sebenarnya masyarakat desa Antaberatah timur tidak kesusahan setelah datangnya Parman kembali ke desa. Ia juga mencari saluran-salauran pemasaran hasil pertanian desanya ke kota. Tidak seperti sebelumnya, harus melewati tengkulak yang membeli hasil panen dengan murah dan menjual dengan mahal di kota.

Berbeda dengan Stive, ia anak keturunan Belanda yang masih tinggal di desa Antaberantah Barat. Sebab itu ia suka membangun kampungnya agar masyarakatnya modern. Karena bekerja sebagai petani baginya adalah pekerjaan tradisional dan hanya orang-orang malas saja yang suka bertani. menanam benih, menunggu hingga panen. diselanya Sambil menunggu panen mereka berleha-leha di rumah. ada yang berjudi ada yang adu ayam. itulah pikiran yang dimiliki Stive.

Penduduk Antaberantah Timur menabur kembang di pohon yang dikeramatkan. Suara gending-gendingan mengalur rampak. Di bawah pohon pisang Parman merenung tentang apa yang terjadi suatu hari nanti di desa Antaberantah Barat, jika pohon-pohon ditebang semua dan didrikan bangunan. Apalagi pemanasan global sedang merong-rong bumi. Keasrian desa akan hilang, Ketahan air akan berkurang. Sebenarnya kalau ia berprinsip dengan ilmu-ilmu yang dipelajari waktu dibangku kuliah dulu tentu ia akan berfikir seperti Stive. Ia hanya ingin melestarikan pohon keramat itu dengan cara pandang masyarakat. sebenarnya Ia juga tak percaya akan penunggu pohon tersebut. Yang Ia percaya adalah pohon-pohon akan menyelamatkan desanya dari banjir dan udara yang sejuk juga asri itu saja. Melalui alam fikir masyarakat itulah hal tersebut dilakukan.

Menjelang pagi, pesta perayaan tahun baru Jawa usai. Semua penduduk desa Antaberantah Timur kembali pulang, bertepatan dengan gerimis yang datang. Parman tak segera pulang, ia berteduh di pos dekat pohon trembesi besar yang dikeramatkan oleh penduduk desanya. Ia menyuruh istrinya pulang.

“Pulanglah dek, aku akan di sini dulu”

“Ayo pulang juga mas, mendungnya tebal. sepertinya hujan lebat akan datang”

“Gampang dek, nanti mas juga pulang. jika sudah ingin pulang”

“Jangan terlalu berfikir keras mas, tentang desa Antaberantah Barat. Toh mereka sudah punya kepala desa yang memikirkan mereka”

“Tidak dek, aku hanya kasihan pada penduduk Antaberantah Barat yang dididik oleh Kepala desanya untuk hidup dengan mengutamakan materi belaka”

“Sudahlah mas…., baiklah adinda pulang dulu. Jaga diri ya mas. Hujannya sepertinya akan deras”

Sambil berlari kecil, Istri Parman meninggalkannya. Hujan deras sudah menyapa. Parman melihat lampu-lampu yang menyala berkerlipan di desa Antaberantah Barat. Parman merebahkan tubuhnya di pos yang tersedia tikar. Parman tertidur. Di tidurnya Parman bermimpi. Ada air bah turun dari pegunungan yang di desa agak jauh dari desa Antaberantah. Desa yang penduduknya semua berkebun kopi, tanah yang dibuatnya menanam kopi dahulunya adalah hutan lebat. Tapi atas perintah dari salah satu aparatur Pemerintah yang memiliki HPH, mereka membabat pohon-pohon di sana. Airnya semakin besar. Hingga sampai di sungai perbatasan Desa Antaberantah timur dan Antaberantah Barat. Air bah yang membawa batu-batu mengerus tanah hingga sungai menjadi lebar. Rumah-rumah yang didirikan oleh investor atas penjulanan tanah dan penebangan Pohon keramat di desa Antaberantah Barat pun iku hanyut. Air tak sampai menyentuh rumah penduduk Antaberantah Timur, sebab pohon-pohon besar yang mereka keramatkan menopang pergerakan air bah tersebut. orang berlarian dari desa Antaberantah Barat menuju Desa Antaberantah timur. Kentongan pun berbunyi. Semua penduduk Antaberantah timur berkumpul di pos dekat Pohon dekat pohon keramat. Parman melihat Stive terbawa air bah dan tak ada yang menolongnya bersama orang-orang-orang yang tinggal diperumahan dekat sungai perbatasan desa Antaberantah timur dan barat.

“Mas…Mas… Bangun, ada banjir…. Mas…”

Parman pun bangun di samping kiri dan kanannya banyak orang-orang berkumpul beberapa Ia kenal dan ada juga yang tidak dikenalnya.

“Astagfirullahaladzim… aku tidak bermimpi”

Malang, Desember 2010

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com