Kupu-kupu

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Tetanggaku yang cantik,
Dalam deras hujan begini tak mungkin aku dapat menangkap kupu-kupu untukmu (yang pernah kau ceritakan padaku, hinggap sebentar dalam kamarmu). Karena itulah, dengan keinginan sama, yang bisa kulakukan untukmu adalah menangkap kupu-kupu lewat sebuah sajak. Tapi sebelum kulakukan itu, ijinkan aku mengurai secara ringkas tentang kehidupan kupu-kupu.

Menjadi Kupu-kupu bukan sekedar impian dan harapan seekor ulat. Menjadi kupu-kupu adalah sebuah tindakan atau laku. Kupu-kupu sebelum ia bernama kupu-kupu menetas dari lonjongnya kepompong. Sebelumnya, ia ulat. Sebelumnya lagi, ia telur. Ulat itu lantas berpuasa dan bertapa. Dan akhirnya, tubuh ulat yang aku kira kau pun enggan untuk memegangnya, menjelma menjadi indah, bersayap warna-warni dan tentu ia lalu terbang, dan kau terkesima.

Sebab itulah mungkin, kupu-kupu menjadi simbol keindahan, juga sebentuk pesan: Bahwa keindahan membutuhkan perjuangan, kesabaran dan pengorbanan. Tidak mengherankan memang, bila kemudian kupu-kupu dalam sajak yang akan kukutip untukmu, juga menyampaikan pesan serupa.

Sekarang, kupersembahkan padamu tangkapan kupu-kupu lewat sajak yang berjudul “Pertemuan” ini.

Bila sepasang kupu-kupu saling
berkejaran di antara bunga-bunga
bertanya lagikah kita
apa itu cinta

Pada mulanya adalah pertemuan. Itu juga yang terjadi pada kita bukan? Lewat pertemuan kita saling menyapa, berkenalan, lalu bercakap dan aku jatuh cinta. Mudahnya, bila sepasang kupu-kupu saling berkejaran di antara bunga-bunga. Dimana kupu-kupu adalah dua sosok yang indah, dan sepasang mewakili identitas lelaki dan perempuan, sedang bunga-bunga dalam sajak itu mewakili suasana yang ceria pula. Lantas perlukah kita bertanya lagi soal cinta? Ketika kebahagian telah nyata menjelma di antara semerbak senyuman dan degup jantung kita.

Tetanggaku yang cantik,
Bukankah dari sekian banyak percakapan: Kita telah menjelma sebagai kupu-kupu. Berkejaran di antara rimba kata, tertawa sendiri dalam sunyi kamar. Dan senyum adalah bunga-bunga yang semerbak di hati lalu mekar di bibir kita. Ini bukan kumaksudkan sebagai pembenaran dalam sebuah proses yang acapkali dikenal sebagai pendekatan.

Ini hanya cara lain untuk menangkap kupu-kupu yang akn kupersembahkan untukmu. Kupu-kupu yang kutemukan terselip di antara sekumpulan puisi, yang aku usahakan dapat terbang dan berumah di hatimu. Aku kira, hanya kupu-kupu dalam bentuk katalah yang menyimpan potensi untuk selalu dapat menetap dalam rumah hatimu. Hanya kupu-kupu dalam katalah yang aku kira ajaib, yang dapat kau warna-warni sendiri sayapnya dengan warna kesukaanmu, yang dapat kau beri suara lewat lagu-lagu yang kau anggap merdu.

Tetanggaku yang cantik,
Begitulah sebentuk kupu-kupu yang kuberi sore ini padamu, kupu-kupu itu akan terus hinggap, memainkan sayapnya di antara senyum, gundah yang bersarang di sukmamu. Dan sebagai akhiran, semoga potret kupu-kupu dapat mengabadikan momen tentang kupu-kupu yang pernah hinggap dalam kamarmu. Corak sayapnya yang putih berwarna merah, aku kesankan menyiratkan sebentuk laku suci yang penuh pengorbanan yang setidaknya dapat kita pelajari untuk kehidupan sehari-hari.

Salam sayang selalu

Sumber puisi: Abdul Wachid B.S., 2003.Tunjammu Kekasih. Bentang Budaya. Yogyakarta.

Komentar