Langsung ke konten utama

Konser Gamelan Bali di Tanah Leo Tolstoy

Kadek Suartaya
http://www.balipost.com/

MUSIK asli Indonesia, gamelan, kini telah mendunia. Gamelan Bali belakangan telah dimainkan dengan asyik oleh bangsa Amerika. Beberapa bentuk gamelan Bali seperti Gong Kebyar, Gender Wayang hingga Jegog juga telah diakrabi oleh penekun musik dari Jepang. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan, sejak komponis Prancis Claude Debussy (1862-1918) menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis. Masyarakat benua belahan Eropa semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika kemudian pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Prancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah Belanda.

Kini, di benua Eropa, umumnya geliat gamelan Bali dapat dijumpai di belahan barat seperti Inggris, Jerman, dan Swiss, sedangkan di daratan Eropa Timur gamelan Bali hampir tak terdengar dentingnya. Namun sejak pecahnya Uni Soviet pada tahun 1995, gamelan mulai melantun seperti di Hungaria dan Cekoslowakia. Karena itu, kehadiran sekelompok pengerawit dari Pulau Dewata yang menggelar sebuah konser gamelan Bali di Rusia, 25 Agustus-2 Septerber lalu, menjadi peristiwa kebudayaan penting sebagai tonggak baru pengenalan gamelan Bali di kawasan itu.

Adalah peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia yang mengantar hadirnya konser gamelan Bali di Republik Federasi Rusia itu. Atas kerja sama KBRI Moscow dan Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional, 22 orang insan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar diutus menampilkan kesenian Nusantara di tiga kota Rusia itu. Di tengah sajian puspa warna tari Nusantara itulah, tim kesenian ISI menampilkan konser gamelan yang di tengah masyarakat Bali lazim disebut pentas tabuh. Dua tabuh, Gambang Suling dan Kebyar Ding, menggetarkan dan memukau masyarakat penonton yang menyimaknya dengan sumeringah.

Tim kesenian ISI yang berkonser di Rusia ini selain didukung oleh para mahasiswa yang andal juga dikawal oleh para dosen yang dikenal sebagai penabuh dan komposer tangguh Bali. I Wayan Suweca, S.S.Kar., M.Mus., I Ketut Partha, S.S.Kar., M.Si., Ida Bagus Nyoman Mas, S.S.Kar., Ni Ketut Suryatini, S.S.Kar., M.Sn., dan I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn. adalah komposer gamelan Bali yang telah melanglang buana. Mereka memiliki reputasi sebagai pengajar gamelan Bali di mancanegara. Sementara di tengah masyarakat Bali, dalam PKB misalnya, para pengerawit ini adalah kreator yang telah banyak menelorkan karya tabuh yang gemilang.

Masyarakat Bali yang intim dengan seni tabuh pategak tentu cukup mengenal tabuh Gambang Suling dan Kebyar Ding. Gambang Suling adalah tabuh kreasi karya empu karawitan Bali I Wayan Beratha. Tabuh berdurasi sekitar 10 menit ini berungkap melodius, menstranformasikan gending Jawa, “Suara Suling”, yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963 ini, sedangkan Kebyar Ding adalah kreasi lawas zaman pra kemerdekaan, sekitar tahun 1930-an, karya I Made Regog, memiliki komposisi rumit, sarat dinamika, kaya ornamentasi dan dimainkan dalam tempo cepat.

Gambang Suling yang lembut dan Kebyar Ding yang lugas disimak seksama ketika disajikan di Rachmaninov Hall, Moscow Tchaikovsky Conservatory, merupakan sekolah musik klasik yang paling prestisius di Rusia. Tidak kurang dari 200 pengunjung memenuhi ruang konser yang terkenal ekslusif dan hanya berkapasitas 250 tempat duduk tersebut. Margaritha Karatygina, Kepala Departemen Hubungan Internasional Moscow Tchaikovsky Conservatory menyambut gembira konser gamelan Bali yang disajikan ISI Denpasar itu serta optimis bahwa pementasan tersebut akan mendorong minat mahasiswa musik Rusia untuk mendalami lebih jauh seni musik Timur, khusunya gamelan dari Indonesia.

Musik Timur, gamelan dari Indonesia, termasuk amat asing di Rusia. Senandung gamelan, Jawa dan Bali, hanya dapat dipergoki secara insidental di KBRI Moskow. Berbeda dengan keberadaan gamelan di negara maju lainnya seperti Eropa Barat, Amerika, dan Jepang, yang perkembangannya pesat, baik dipelajari dan dikaji secara formal di universitas-universitas maupun disuntuki sebagai kancah eksploratif estetik-musikal. Kini, Amerika adalah benua yang terbanyak memiliki gamelan. Di negeri itu, saat ini ada lebih dari 100 perangkat gamelan, baik gamelan Jawa, Bali, Sunda, maupun “gamelan baru” yang mereka ciptakan sendiri.

Sebelum menguak Perancis pada tahun 1931, sebenarnya gamelan Bali telah membuat penasaran seorang komposer kelahiran Kanada, Colin McPhee, yang pada tahun 1920 mendengarkan rekaman musik Bali untuk pertama kalinya yang dengan segara menambat hatinya. McPhee kemudian sangat tertarik mempelajari musik itu. Lewat penelitian bertahun-tahun, McPhee kemudian berhasil menerbitkan buku Music in Bali pada tahun 1966. Tersebutlah Mantle Hood yang kemudian dapat disebut sebagai orang yang sangat berjasa menyebarkan gamelan di Amerika. Pada tahun 1956, sepulang dari sebuah penelitian gamelan di Jawa, etnomusikolog ini membawa satu set lengkap gamelan Kebyar dari Bali. Di UCLA, dia melembagakan suatu yang kemudian disebut “kelompok studi pertunjukan” yaitu kelas dalam musik non-Barat yang merupakan campuran antara mempelajari cara bermain, diskusi dan pertunjukan musik.

Rusia sebagai negara federasi pecahan Uni Soviet(musuh utama Amerika saat era perang dingin),kini baru mulai berkenalan dengan gamelan. Kendati sedikit terlambat, sebagai rumpun bangsa-bangsa penyayang keindahan yang banyak melahirkan seniman kaliber dunia, masyarakatnya begitu peka dengan muatan keindahan budaya bangsa lain seperti tampak saat menyaksikan suguhan konser gamelan Bali di kota Tula, 200 km dari Moskow, pada tanggal 26 Agustus malam.

Sebanyak 750 penonton, di tempat kelahiran sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy itu, seakan histeris dan secara kompak memekikkan malejet…malejet (jempolan), ocen ichorosho (bagus sekali) berkali-kali seusai menyimak konser para seniman Bali. Rangkaian bunga diusung penonton ke atas panggung sebagai ungkapan suka cita mereka. Gamelan Bali mereka terima bak duta yang datang menembangkan kedamaian dan uluran persahabatan, memuliakan kemanusiaan dan mengagungkan peradaban, yang semangatnya sejajar dengan pemikiran dan moral perjuangan tanpa kekerasan Tolstoy.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com