Langsung ke konten utama

Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar

Santy Novaria
http://sosbud.kompasiana.com/

Saat itu, saya masih tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Batam yang di komandoi mbak Nurul F. Huda. Siapa yang tidak kenal sosok Ibu yang ramah ini..??? Kalau anda ‘predator’ buku, pasti tau, setidaknya pernah mendengar namanya. Kami (FLP) kedatangan tamu Agung waktu itu. Ya, saya katakan Tamu Agung karena, mbak Nurul saja sampai terkaget – kaget melihatnya, menurut curhatannya sendiri.

Dia datang hanya memakai celana jeans belel yang sedikit usang, jika dibandingkan dengan kualitas Jeans yang saya pakai. Bajunya hanya kaos Oblong berkerah, kalau tidak salah berwarna biru, bertopi pet, dan bersendal jepit. Ya, hanya sendal jepit. Saya yang berpakaian sangat bagus, langsung menciut seketika. Bisa – bisanya saya lebih necis dari Beliau. Kemana harga diri saya…???

Sebenarnya, ini bisa jadi pertemuan kedua saya saat itu. Ditahun 1998, saat itu saya masih SD kalau tidak salah, dia dan beberapa Sastrawan lainnya juga pernah menyambangi Kota saya dalam memperkenalkan budaya Sastra dengan tajuk ” Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab ” Cuma, karena tidak ada perwakilan dari sekolah Dasar, maka tidak jadilah saya bertemu.

Saya masih ingat sekali saat dia bertanya langsung pada Audiens, kebetulan saya yang pertama sekali diajak bicara. Kuping saya langsung memanas karena merasa tersanjung, serasa saya terbang. bagaimana tidak, saya diajak bicara dan berseloroh oleh seorang Sastrawan Dunia. Masih saya simpan buku yang ditanda tangani langsung oleh Beliau, langsung. .!!! Tanda tangannya simpel saja, namun mencerminkan ilmu yang dalam di kepalanya. Di bawah tanda tangannya dia menyertakan juga alamat e-mailnya, nomor telepon pribadinya, dan sedikit motivasi, yang akhirnya menjadi Jimat buat saya. Kalimat itu, “ Coba Kalahkan Saya “. Kalimat tantangan keras dari beliau, langsung buat saya.

Dialah Sastrawan muda Indonesia yang mengantongi banyak sekali prestasi. Mampu menulis lebih dari 1000 cerpen dalam kurun waktu setahun diawal penitian karirnya sebagai penulis. Hebat..!! Bagaimana tidak, dia mulai menetapkan pilihan sebagai penulis justru disaat usianya 35 tahun. Beliau, yang dulunya hanya seorang Tukang Becak dan hidup dipinggirang Kali Code, dengan semangat menulisnya membuat saya tersindir sekali. Dia, disela – sela menarik becak dan sudah berumur bisa sesemangat itu dalam menulis, dengan mesin tik zaman baheula pinjaman dari teman pula. Saya, apa kekurangan saya..??? Umur jauh relatif muda dibanding Beliau, sehari – hari hanya disibukkan dengan sekolah, fasilitas sudah Oke. Tapi, semangat saya yang kerdilnya minta Ampun..

Beliau, saat masih Tukang Becak saja, mampu mementahkan Umar Kayam doktor Fakultas Sastra UGM ternama, Seno Gumira yang kampiun cerpen, Agus Noor, pakar metaphor dari Yogya dan yang selevel. Ia mengalahkan mereka dalam seleksi kumpulan cerpen terbaik Kompas tahun 90-an. Cerpennya menjadi juara 1 dan otomatis menjadi judul buku antologi tersebut.

Beliau yang sering ‘Pelesiran’ ke Luar Negeri (terutama Eropa) dan pernah tour ke 12 negara Eropa, Amerika dan Asia dengan sponsor luar negeri, selama lima tahun menjelajah Nusantara untuk memperkenalkan Sastra. Bagaimana mungkin bisa disebut biasa..???

Beliaulah sosok ‘orang besar’ yang hanya ingin disebut ‘biasa’. Beliaulah, dengan penampilannya yang sederhana. Gaya bicaranya, demikian juga cara komunikasinya. Hilang segala jarak, sungkan, perasaan lebih kecil dan apa pun yang membuat kita mesti mendongak ke atas padanya. Tidak ada. Dia tahu, hanya dengan itulah orang ‘kecil’ seperti kami akan lebih terbuka dan lebih antusias menimba ilmu padanya. Terbukti, saat mengisi acara FLP, semua antusias dan tanpa sungkan menyerbu dia. Padahal, Kami semua baru saja berjumpa.

Seorang Kaisar yang tidak ingin disebut sebagai Orang Besar.
Seorang Super Star. Namun, bersikap layaknya orang yang belum tersohor.
Berilmu tinggi layaknya Profesor, Doktor. Tetapi jauh sekali dari Kepala Besar.
Orang besar yang sesungguhnya, tidak membuat orang lain berjarak. Dekat. Tanpa sekat.

Dialah, Joni Ariadinata.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com