Langsung ke konten utama

LAKNAT PEREMPUAN KEPADA BUNGA-BUNGA

Siti Sa’adah
http://www.sastra-indonesia.com/

Aku faham benar kapan aku mulai membenci bunga, bukan sekedar muak, tapi setiap bersinggungan, tersentuh, melihat terlalu dekat kepalaku terasa berat dan ingin aku muntah sebagai ungkapan penolkan. Bunga apapun itu, yang bisa memancing keindahan, karena keindahan tak bertaut berkali-kali bersamaku melalui bunga. Untuk menceritakan ini aku harus menahan mual yang ingin meledak. Tapi ku tahan kuat-kuat, sebelum kau mengerti kehancuranku bersama bunga.

Benci itu lahir dari kecintaanku yang sangat, amat sangat bahkan. Barulah aku menyadari begitu sakitnya sabda nabi tentang cinta dan benci yang sekedarnya saja itu. Jika aku ingin melimpahkan kesalahan, bungalah yang membuat hatiku berkali-kali retak, rentan gertakan dan akhirnya mengeping-keping. Dari bungalah ku susun harapan dan ku tilap kepenatan. Kesanalah aku mendapat ketenteraman. Tapi itu lalu. Sebelum ibu meninggal lantaran bungaku! Ya, bunga memiliki daya sambung maut, mengalir serentak dan begitu deras oleh gairahku mencintai bunga. Tapi kecintaanku telah ku tukar dengan nyawa ibu!.
***

Aku tumbuh sebagai Marni kecil yang berbinar setiap hari ditaman depan rumah, saat itu aku begitu bangga dengan taman di rumahku yang surga. Ayah dan ibu tidak pernah mengajariku menggelar rumput hias menjelma permadani di depan rumah. Mereka tidak perlu menunjukkan bagaiman agar mawar banyak berbunga dan bagaimana bisa adenium berbunga tiga warna. Kecintaan menuntun merawat bunga untuk tumbuh bersamaku.

Cinta yang tidak terkontrol sanggup melenakan bukan?! Pagi itu terlalu cerah untuk mendapati kenyataan yang suram. Aku riang di taman memotongi putik-putik mawar yang mengering, memotong beberapa ruas tangkai di bawahnya dan memotong rumput yang merambat sembarangan. Aku tidak ingat lagi ibu yang sakit, pingsan di dapur, roboh menimpa panci dengan air mendidik di atas tungku. Ibu tengkurap terpanggang bara kayu dan lidah api menjilat dan melilit-lilit tubuhnya. Tubuh itu matang oleh api dan air mendidih yang menimpa tubuhnya. Tangannya amblas ke dalam bara, sedang aku bernyanyi riang di depan rumah.

“Seharusnya bunga-bungaku yang terbakar, bukan tubuhmu Ibu!” Sampai seratus hari meninggalnya ibu, terus terbayang aroma tubuhnya yang melepuh di atas tungku, dan aku baru tahu saat hari mulai merangkak naik.

Selanjutnya tak ada bunga yang ku sentuh, kubiarkan taman menjadi rimbun, ayah tak sempat lagi merawat, peran dan kesibukannya berlipat menjadi ayah dan ibu bagiku.

“Tak patut mengunci dir dalam keterpurukan. Rawatlah bunga-bungamu itu. Biar keceriaanmu bersemi pula. Jangan biarkan ia mati Marni”. Begitulah nasehat ayah berkali-kali yang tak kufahami sepenuhnya. Aku hanya membalas ucapannya dengan pandangan buram. Mataku tergenang, hidungku seperti tersumpat, pipiku basah. Aku menggeleng pelan.

“ Mengapa aku dan bunga yang menjadi lantaran ibu pergi mengenaskan?! Seharusnya aku yang merebus air yang akan ibu gunakan untuk mandi!”. Ayah merengkuhku. Dibenamkannya tubuh kecilku dalam dekapannya.

“Jangan terus mengutuki dirimu nduk, masa depanmu masih panjang, belajar saja yang rajin. Oke?!”. Ayah tersenyum menenangkan dan penuh harap. Dia terus memompa semangat dan keceriaanku.
***

Pucuk-pucuk bersemi, menggeliat menantang hari. Aku mulai menyadari ketersia-siaanku merutuki kesalahanku dan membiarkan taman di depan rumah semakin rimbun seperti hutan. Semangatku menggeliat. Aku kembali mau mencium bunga. Tanganku bermain di taman, bunga mawarku tumbuhnya sudah tidak beraturan, ku pangkas dahannya yang menjulang mengungguli tubuhku. Saat itu aku telah bisa membuahkan biji-biji adenium yang seperti tanduk itu. Aku girang sekali. Sesekali kudapati ayah tersenyum melihatku.

Tapi kebersamaan dan ceria itu tak bisa abadi, hatiku memburam seperti disumpahi dewi keberuntungan. Tapi tak sekalipun aku menyalahkan ayah setelah dia membuatku terlonjak di sore yang hangat.

“rawatlah dengan baik Mirna”. Wajah ayah cerah saat menghadiahiku bunga adenium besar dengan pot raksasa yang menggesernya saja aku tak kuat! Entah berapa banyak ayah mengeluarkan uang untuk itu. Ayah begitu bangga setelah tahu aku mendapat nilai terbaik saat lulus SMP. Dia ingin aku terus tersenyum dan menyanyi riang di taman, menghidupkan rumah ini. Jika aku diam rumah ini seperti panggung monolog ayah yang kubiarkan bicara sendiri, bertanya dan menjawab sendiri.

“Ayo liburan ke kota Marni!” Bujuknya saat aku termenung diam mengenang ibu. Begitu ramai rumah ini dulu, bicaranya yang lantang memanggil-manggilku untuk makan atau mencuci baju sendiri saat aku sedang asyik di taman.

“Kita ke tirta wisata!” sambungnya setelah mengambil piring untuk makan nasi pecel yang dibelinya di pasar.

“Ayah lihat setiap pulang kerja di sana ramai sekali menjadi tempat singgah orang-orang dari Surabaya yang melewati Jombang”. Ayah membuka bungkusan nasi.

“Kita sarapan pecel rengkek di sana saja!’. Katanya penuh semangat seperti telah menemukan ide cemerlang untuk membujukku.

“Di rumah saja Yah”. Sahutku. “Sepi ya tanpa ibu”. Gumamku sambil membuka bungkusan nasiku.

“Dan tambah sepi jika kau terus seperti ini”. Maafkan aku ayah, seharusnya aku mengerti kau sudah capai bekerja seharian, tiba di rumah ku sambut dengan murungku.
***

Bunga raksasa itu adalah kusaha ayah untuk membahagiakanku, meski sebenarnya tinggal menyirami dan membersihkan daun-daunnya yang menguning dan rontok, batangnya sudah membentuk, bonggolnya besar dengan batang menyerupai beringin, cabang-cabangnya pendek dengan daun yang lebat. Tapi kuntuk apa semua ini jika khanya mengungkit perih ku karena bunga seperti dulu? Kali ini menyayat lebih dalam. Ayah di ciduk polisi, sungguh ayah tidak menyangka bunga yang di beli dari temannya itu adalah curian dari taman rumah kepala desa! Dan barang bukti berada di rumah ku!.

Jika saja polisi tidak segera mengusung bunga raksasa itu pasti sudah aku tebang, potong dan bonggolnya ku cincang. Sebelum naik ke bak mobil polisi ayah berkat dengan tenang dan tegas, “Ini semua tidak benar Marni”. Ayah tampak begitu tegar di depanku, dia yakin tidak bersalah, tapi setelah itu desas-desus para tetangga sungguh mengusik. “Demi anak pemurung, rela mencelakai diri sendiri. Huh! Kalau tak punya uang gak usah minta yang macem-macemlah Marni!’.

Ayah bebas dalam beberapa minggu, untuklah polisi mampu mengunkap semuanya, ganti teman ayah yang masuk bui. Setelah ayah di gelandang polisi, dia tertangkap basah mencuri bunga gelombang cinta. Ah mungkin kecantikan bunga itu tidak kalah dengan adenium yang dijualnya kepada ayah. Nama gelombang cinta memendam cinta yang bergelora. Tapi aku tidak minat untuk memilikinya, tak ada lagi tempat untuk bunga, aku menghabiskan waktuku untuk sekolah dan merawat ayah yang sering sakit. Sebenarnya dia belum terlalu tua, tapi penyakit tak memilih usia untuk singgah bukan?!.
***

Aku sudah mengenal lelaki. Lelaki yang membuat debar jantungku tak beraturan setiap bertemu dengannya. Lelaki yang datang kepada ayah sebelum pergi ke luar Jawa. Saat itu aku sudah kuliah semester empat, meski debar tak karuan itu hanya saat mendengar suaranya, dialah Pram, yang masih bertugas di seberang pulau sana.

“Saat dinasku disini selesai, kuliahmu juga selesai kan?! Aku akan pulang untukmu”. Mantap ucapannya meredam debar perasaan khawatirku saat dia bercerita tentang janda muda beranak satu yang sering memberinya makanan. Seharusnya dia tidak menceritakan itu jika dia tidak tergoda, hanya membuatku berpikir yang tidak-tidak saja.

“Perempuan itu asal Madura. Bercerai dua tahun lalu. Anaknya masih balita, dia begitu sabar merawat anaknya yang sering rewel itu sambil mengolah toko bunganya.

Megapa ada perempuan itu? bunga?

Aku beralih dari tidak peduli yang bunga menjadi muak dan benci setelah beberapa kali Pram bercerita tentang janda yang semakin agresif dan memelas dengan anak yatim yang diasuhnya. Dan bunga, Pram yang mencintai bunga itu berkali-kali dikirimi bunga. Gelombang cinta yang berjuta-juta itu meluruhkan hati lelakiku.

“Maafkan aku dik…”.

Berubah seperti itu lelakiku, gagahnya sebagai prajurit negara yang dibanggakan ayah dan ketegasannya dulu yang meneguhkan kini tergerus khianatnya.

“Ku kira kau sudah mendapat penggantiku, jarang memberi kabar dan mengangkat teleponku”. Ungkapnya beralasan. Kalimatnya khas buaya.

“Aku sibuk skripsi kak..” Urung aku menjawab seperti itu, semestinya dia tahu, toh tidak akan membuatnya kembali kepadaku, tiga tahun aku menunggu, menunggu untuk hidup bersamanya, bukan untuk pernikahannya dengan wanita lain, apalagi janda. Dan bunga-bunganya itu…

Mungkin karena jarang lagi aku berkomunikasi dengannya karena belakangan aku sibuk bekerja paruh waktu dan merawat ayah yang rinkih.

Kekhawatiranku terjawab Kak”. Pungkasku. “Semoga berbahagia bersama gelombang cinta”.

“Dik, tunggu dulu, Dik aku mau ngomong sesuat yang belum kau mengerti!”

“Apa kak, apa? Alasan apalagi yang bisa membenarkan khianatmu?!” Bentakku di telepon.

“Kau tahu kehidupan sekitarku, teman-temanku yang jauh dari istri, dan tawaran-tawaran teman-teman yang belum menikan untuk mencicipi wanita! Godaan itu tiap hari mendera. Begitu kuat dan besar. Aku khawatir jika harus menunggu pulang…”

“Bodoh! Bikinlah segala cara untuk berkilah dari janjimu itu!”

Tak kudengarkan lagi kalimatnya yang terdengar samar-samar di handphoneku. Ku ambil parang dan cangku di dapur. Ayah yang keheranan melihatku menangis dan membawa benda tajam dengan sikap aneh.

Tubuhnya yang ringkih berusaha bangkit untuk menghentikan langkahku.

“Mau ke mana Marni?!” Aku tidak menyahuti. Ku ayunkan parang ke phon kedondong mini yang lebat berbung, tanaman hias itu tumbang. Mawar-mawar di sudut-sudut taman yang tumbuh tak beraturan tergeletak di tanah dengan beberapa tebasan. Adenium-adenium yang ku tanam sejak kecil hancur ku cincang.

“Marni! Kenapa kau ini nduk?!” Ayah berteriak di ambang pintu.

Ephorbia bermacam-macam warna dan ukuran bunganya yang di tanam ayah berserak di atas pot-pot. Aku benci bunga. Benci sekali. Tubuhku terpaku menatap taman yang sering di rawat ayah berantakan. Aku tak mau menyentuh bunga lagi. Hidup dengannya. Tidak boleh ada bunga jika aku menikah, di pelaminan, di kamar pengantin. Bahkan saat mati nanti.

“sabar Mar, sabar. Jangan seperti orang gila, kamu ini sudah besar, kuliah, berpikirlah yang benar, jangan hanya mengandalkan perasaan”. Ayah berusaha menenangkanku yang kalap. “Ada apa sebenarnya?!” Ayah sudah di sampingku.

“Mana gelombang cinta itu Yah?! Mana?”.

Aku menghambur dipelukannya. Tangisku pecah. Ayah hanya diam, tidak faham kata-kataku. Mungkin dia berusaha membaca hatiku yang sakit karena bunga, tapi jauh di bening hatiku aku menyadari aku sakit karena pikiran, perasaan dan tingginya anganku.Ah!
***

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com