Mencari tuhan di baitil ka’bah

SASTRA SUFI SEBUAH ANTOLOGI
Penyunting: Abdul Hadi WM Penerbit:
Pustaka Firdaus, Jakarta, 1985, 300 halaman
Peresensi: Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEORANG bangsawan tergopoh gopoh mendatangi Nabi Sulaiman. Ia bercerita bahwa Malaikat Maut mendatanginya, dan dengan mata yang mencereng mengawasinya penuh kebencian dan amarah.

“Lalu, apa yang bisa saya bantu?” tanya Nabi Sulaiman. “Oh, pelindung hidupku,” sahut bangsawan itu, “perintahkan angin supaya menerbangkan aku ke India.”

Nabi Sulaiman yang waskita dan digdaya itu, yang dapat berbicara dan memerintah segala makhluk, lalu memerintahkan angin untuk menerbangkan bangsawan tersebut melintasi lautan dan mendaratkannya dengan empuk di pedalaman India.

Keesokan harinya, ketika sidang pleno, Nabi Sulaiman menanyakan kepada Izrail, Malaikat Maut itu, kalau memang mau mencabut nyawa bangsawan tersebut, kenapa tidak lekas-lekas saja. Tak usah memandang dengan menakutkan segala. Malaikat Maut lalu bertutur kepada Nabi Sulaiman bahwa ia memang harus menakut-nakuti bangsawan itu terlebih dulu, supaya ia ngacir cepat-cepat dan jauh. “Dalam daftar, bangsawan itu memang harus mati di India,” ujar Izrail. Karya Jalaluddin Rumi (1207-1270) itu dikutip dalam antologi ini, di samping karya-karya sufi besar lainnya: Bayazid, Al-Hallaj, Al-Hujwiri, Arabi, Junaid, Attar, Hafiz, Khayyam, Rabiah, Sana’i, Sa’di, Iqbal jumlahnya lebih dari 30 tokoh.

Sastra sufi, baik prosa maupun puisi, selalu dapat menohok secara tepat, lewat perlambang, nasihat, pandangan, juga dongeng. Bahkan karya yang paling sederhana pun mengatasi zamannya. Sebuah karya yang lahir seribu tahun yang lalu dapat mengajak pembaca sekarang untuk hidup di zaman baheula itu. Yang luar biasa dari semuanya itu adalah kemampuan melukiskan Tuhan.

Sebagaimana sikap hidup mereka, para sufi juga berhemat di dalam mengekspresikan dirinya. Dan kesusastraan mereka menduduki tempat yang utama, ditopang oleh kehematan itu, selembar kertas dengan sebatang pensil. Sebatang pensil jika Ia Tuhan, selembar kertas jika ia makhluk, maka lengkaplah keterangan itu: pada mulanya Allah bertolak dari tulis-menulis itu. Tak ada yang begitu lebih murah penyelenggaraan sebuah kesenian kecuali dengan selembar kertas dan sebatang pensil.

Karya-karya sufi Indonesia - Hamzah Fansuri, Bukhari Al-Jauhari, Raja Ali Haji, Yasadipura I, Yasadipura II, dan Amir Hamzah - ikut hadir di sini. Yang unik bahwa warna lokal kalah oleh kekuatan tradisi kesufian. Jika seorang sufi tidak hanya pasrah melainkan dapat pula menonjolkan diri, maka sifat yang terakhir ini dapat pula muncul dalam pribadi sufi kita. Jika Hafiz (1326–1390), sufi Persia, menulis:

Tuhan, Hafiz rindu pada-Mu Lebih dari Nabi Sulaiman Hafiz rindu pada-Mu walau tangannya Tak mendapat apa-apa kecuali angin Hafiz rindu pada-Mu maka sufi Aceh Hamzah Fansuri (pertengahan abad ke-16 sampai perempat awal abad ke-l7), menulis: Hamzah Fansuri di dalam Mekah Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah Dan Barus ke Kudus terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Dewasa ini buku-buku sufisme mengalir seperti hidangan perhelatan. Bahkan ada dua penerbit yang mengedarkan buku yang sama. Sesungguhnya apa yang sedang terjadi? Apakah sufisme sedang bangkit di Tanah Air? Boleh jadi kecenderungan sufistik sedang menyemarak di dalam sastra Indonesia. Namun, sesungguhnya sufisme, dan lebih-lebih sastra sufistik, asing di dalam masyarakat kita.

Untuk penerbitan selanjutnya, antologi ini masih dapat dikembangkan, mengingat masih ada sejumlah tokoh-tokoh sufi yang belum masuk.

Komentar