MEIN

Dina Oktaviani
http://www.jawapos.com/

''Aku tak bisa menanggung lagi, Al.'' Vi memulai kesedihannya; bersedih lagi setelah berusaha bertahan untuk beberapa hari dalam keriangan palsu, selalu palsu.

''Kau tahu aku mencintainya seperti anakku sendiri, kau tahu, kan?''

Aku mengerdip, bukan untuk menjawabnya.

Ya, itulah kenapa aku merelakanmu mencintainya. Laki-laki lain, yang punya tanggal lahir yang sama denganku, yang tinggal tak jauh dari rumahmu. Seperti apa rupanya aku hanya tahu dari foto-foto berukuran kecil di telepon genggammu.

Namanya Mein --Vi melafalkannya seperti kata ''mine'' dalam bahasa Inggris. Setelah satu bulan Vi mengenal dan berpacaran dengan anak muda itu, aku kembali dari Amerika dan memintanya hidup bersama denganku, mengingat empat tahun yang pernah kami lalui bersama. Dan mengingat betapa dia satu-satunya orang yang selalu benar-benar kusayangi. Juga betapa aku tahu hanya aku yang selalu dicintainya sebagai kekasih. Baru setelah Mein memutuskannya, Vi menerima tawaranku. Aku tinggal di rumahnya.

Aku masih ingat, Vi menangis malam itu. Dia merasa sungguh tak tahu apa salahnya. Dia menyambut kedatanganku kembali ke dalam hidupnya dengan mengatakan betapa dia mencintai seseorang dan betapa seseorang telah mematahkan hatinya. Satu hal lagi, betapa dia hanya bisa menceritakan semuanya kepadaku. Ke-pa-da-ku.

Aku membawakan Vi bir hitam seperti selalu. Dia meminumnya setengah kaleng lalu menciumiku dengan rakus. Setelah puas menatap wajahku di akhir ciuman-ciumannya, Vi meringkuk di ketiakku dan mulai mengeluh lagi.

''Hanya karena aku tak menceritakan masalahku? Hanya karena aku menangis malam itu?''

Dia pun menangis lagi malam itu.

''Jika kau tahu betapa sakitnya aku menunggu terjadinya hubungan itu dahulu. Menjalani hari-hari, minggu-minggu di mana harapan-harapan yang manis meluncur deras sementara kepastian hanya dalam mimpi-mimpiku. Aku telah menjadi canggung dan kehilangan kepercayaan diri. Aku merasa sangat tidak pantas mendapatkannya. Kapan, coba, kapan terakhir kali aku gagal merebut hati orang yang kuinginkan? Aku bisa mendapatkan tiga orang dalam tiga minggu itu. Tapi tidak kuambil kesempatan-kesempatan itu. Aku hanya menginginkannya. Dan aku tidak yakin apakah aku bisa memenangkan hatinya.

''Dan tahukah, aku tidak merasa amat jatuh cinta padanya. Aku tidak meledak-ledak seperti --kau tahu. Aku menyayanginya dari dalam, pelahan-lahan, seperti membiarkan sebuah tanaman terus tumbuh di dalam hatiku, di dalam diriku, sampai seseorang di luar diriku bersedia merawatnya bersamaku.

''Kini tanaman itu telah menguasai seluruh diriku, mencengkeramku dari dalam tanpa seorang pun dapat menyadarinya. Dan tepat pada saat ini! Tepat pada saat ini, Al, ia menyuruhku merawat tanaman itu sendirian?''

Vi telah mencengkeram salah satu bagian kemejaku seperti pelacur yang marah kepada seorang bajingan. Aku tak mengatakan apa-apa. Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Mungkin aku merasa sedih, sebab mataku agak perih, tapi tidak tahu untuk apa. Untuk mengalihkan perasaan ini aku hanya memandang ke sembarang arah dan mengedip-kedipkan mataku dengan kaku.

''Oh, Al. Adakah tanaman besar ini akan menguatkanku atau menumbangkanku sendirian...''

Aku tetap diam. Vi mulai terpejam.

Aku ingin menciumnya pada saat-saat seperti ini. Tak seperti malam itu, Vi duduk di meja makan. Mengisap rokok kreteknya pelan-pelan untuk menghilangkan kesan bingung. Menundukkan kepala dan mengangkatnya kembali bukan untuk menatap apa pun. Dia menggigit bibirnya sesekali. Saat beradu pandang dengan mataku, matanya penuh rasa bersalah. Dia telah lupa dirinya. Dia suci bagai santa di dunia sekuler saat ini. Aku tidak begitu yakin bagian mana yang ingin kucium, bibirnya atau kakinya yang gemetar?

''Kali ini, Al. Ia tidak mau lagi tidur denganku. Tidak,'' katanya memulai lagi.

Oh, aku telah mendengar berita macam ini berulang kali, dan selalu akhirnya mereka melakukannya lagi. Lagi dan lagi seperti para kekasih muda yang selalu lemah dan ragu-ragu. Pertama kali aku mendengar pengulangan ini, aku mengingatkannya akan saat sebelumnya. Namun Vi mendesak bahwa ada hal khusus dari berita serupa kali itu.

Aku ingat waktu Vi menceritakan bagian ini: ''Aku mendengar ia memadamkan lampu kamar dan mengunci pintu, lalu menyusulku ke tempat tidur. Ia berbaring di sebelahku. Aku tahu ia yakin aku belum tidur. Dengan sikap yang angkuh dan ragu-ragu ia menempelkan telapak kakinya ke kakiku, begitu samar. Hanya karena hatiku begitu peka akibat mencintainya begitu besarlah aku bisa merasakan sentuhan itu.

''Aku diam beberapa saat, kemudian dengan keraguan yang sama, tapi tanpa keangkuhan, aku menyilangkan kakiku yang lain ke pinggangnya. Ia tidak mengelak! Tak lama kemudian ia berpaling ke arahku, menempelkan wajahnya sangat dekat ke wajahku sehingga kami bahkan tak bisa bertatapan. Kami berciuman. Dan seakan begitu merindukanku, ia mendekap dan menciumiku dengan tenaga yang besar. Kami melakukannya! Lagi! Begitu indah!''

Setelah bagian ini Vi tiba-tiba terdiam, menarik, dan menghembuskan napas dengan berat, lalu melanjutkan: ''Setelah semuanya selesai, Al, ia menggeser tubuhnya dengan cepat, menjauhi tubuhku. Aku menatapnya dalam gelap. Ia tampak tidak senang, sangat berubah! Menjawab tatapanku, ia berkata, 'Sudah, ya. Kamu bukan pacarku lagi. Sebaiknya kita berteman saja. Aku merasa tidak enak dengan ini semua. Kamu tidak apa-apa 'kan?' Lalu ia tersenyum padaku. Berusaha tersenyum, tepatnya.

''Pada kali ini hatiku telah terlatih untuk tidak secara langsung mengirimkan energi sedih ke wajahku. Aku juga tidak bilang 'terakhir untuk hari ini' dengan gaya penuh humor untuk menutupi kekecewaanku atau kesedihanku. Aku tersenyum kepadanya dan bilang 'oke'.

''Tapi sekarang aku merasa itu adalah jawaban yang buruk. Paling buruk! Sebab beberapa jam kemudian ia tampak inferior, seperti sedang merasa tak berharga karena aku tak menunjukkan perhatianku yang besar seperti biasa, perhatianku yang tulus dan dungu. Aku amat merasa bersalah. Dan seperti biasa, aku merasa menanggung seluruh kesalahan yang pernah kulakukan, khususnya padanya, sekaligus dalam satu waktu.

''Apa yang seharusnya kulakukan, Al? Tanggal lahir kalian sama, apa yang laki-laki seperti kalian ingin kulakukan? Aku sungguh putus asa.''

Aku tidak mengatakan apa-apa waktu itu. Tapi tiba-tiba pada saat itu aku mempercayai astrologi. Aku berpikir, barangkali laki-laki seperti kami memang ditakdirkan tidak pandai mengungkapkan perasaan. Kami menyayangi seseorang selalu dengan cara yang tidak diharapkan. Kami pasif. Dan lebih sering lagi angkuh. Aku tak pernah bilang aku mencintainya, kupikir anak muda itu juga tidak pernah. Tapi selama empat tahun Vi tentu telah sangat menyadari betapa aku mencintainya.

Karena kepasifan dan keangkuhanku, aku pun tak pernah mengatakan betapa aku merasakan suatu gangguan yang menyakitkan entah di mana setiap kali dia menceritakan betapa dia mencintai orang lain, tak peduli apakah orang itu melukainya atau tidak. Betapapun Vi mengatakan dia mencintai mantan pacarnya seperti seorang anak, aku tetap merasakan gangguan itu. Bagaimanapun, aku mengetahui bahwa hubungan seks pertamanya terjadi dengan abangnya sendiri meski justru pada kasus itu Vi sama sekali tidak menyayangi saudaranya yang barbar itu. Maksudku, incess bukanlah hal yang mustahil di sini.

Sekarang aku hanya bisa menunggu ada hal khusus apa lagi mengenai berita yang mematahkan hati itu.

''Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tidak bilang 'ini yang terakhir ya' atau 'sebaiknya kita benar-benar berteman saja' atau 'aku merasa tidak enak terus-terusan melakukan ini'. Sekarang, jika aku tidur di tempat tidurnya, ia akan menahan kantuk sampai pagi, sampai siang. Jika aku tetap bertahan di tempat tidurnya, ia akan akhirnya tidur di ruang tengah.

''Apa yang telah kulakukan? Dan apa yang telah kulakukan kali ini? Bukan tidur itu soalnya. Bukan itu. Aku hanya ingin menyentuhnya. Aku hanya ingin mencium bau dari tubuhnya. Aku hanya ingin berada di dekatnya, dan merasakan dalam-dalam betapa ia pernah begitu mencintaiku --atau betapa aku pernah merasa ia begitu mencintaiku, dan betapa aku telah kehilangan dirinya, dan cintanya. Dan sementara meresapi pikiran-pikiran itu, aku bisa menahan tangisanku dengan menyadari bahwa ia berada di dekatku saat itu, menemaniku melewatkan kesedihan dan akan membiarkanku mengurusnya lagi seperti sebelum-sebelumnya, seperti anakku sendiri. Dan itu membuatku merasa penuh.

''Dan kini tidak akan ada saat-saat seperti itu lagi, Al. Sama sekali.''

Vi mengisap rokoknya dan mengembuskan asapnya samar-samar. Aku masih saja diam, bermain-main dengan pikiranku sendiri. Seandainya Mein itu lenyap sepenuhnya, akankah Vi berhenti membicarakannya, berhenti bersedih dan berhenti menangis? Seandainya Mein itu tak ada, akankah Vi menjadi milikku sepenuhnya? Seandainya Mein itu mati, akankah Vi mencintaiku sesadar-sadarnya?

Sebelum rokok di tangannya habis, tiba-tiba Vi menubrukku dengan ciuman-ciumannya. Dan sepanjang malam itu kami seolah baik-baik saja. (*)

Komentar