Langsung ke konten utama

Dongeng Kegelapan

A.S. Laksana
http://www.jawapos.co.id/

Dari dongeng anak-anak, Anda bisa belajar tentang banyak hal yang tidak terjadi di dunia orang dewasa. Berkaitan dengan kekuasaan, misalnya, kita disuguhi cerita mengenai singgasana raja yang di atasnya tergantung sebilah pedang telanjang. Pedang tersebut hanya diikat oleh seutas benang tipis yang akan putus jika sang raja memperlakukan kekuasaannya secara berangasan. ”Paduka harus bertindak adil. Benang itu akan putus dan pedang akan membabat leher Paduka jika Paduka bertindak ugal-ugalan di atas singgasana,” kata penasihat kerajaan.

Di dunia orang dewasa, Anda tidak melihat kekuasaan sebagai singgasana yang semacam itu. Ia sering terlihat bukan sebagai amanat yang mengandung sejumlah prasyarat dan risiko; ia bukan pula sumber keadilan. Kekuasaan, dalam nalar yang sempit, adalah sebuah tambang emas yang harus dikeduk sebanyak-banyaknya dengan tabiat politik secanggih-canggihnya. Tambang emas seperti itu -yang akan membuat Anda makmur sampai ke anak cucu -tentu saja harus direbut dengan segala cara. Karena itu, Anda tidak boleh bengong saja jika tambang emas yang Anda incar tersebut jatuh ke tangan orang lain; rayakan kekalahan Anda dengan membuat keruwetan. Mana menarik kalau pesta pilkada tidak diikuti dengan kericuhan?

Saya yakin, jika seorang pemimpin menganggap kekuasaan adalah tambang emas atau kekayaan alam warisan dari paman moyangnya, Anda tak bisa berharap keadilan dari dirinya. Kekuasaan, dalam cara pandang seperti itu, hanya akan menjadi sumber ketidakadilan. Sedangkan ketidakadilan, kata seseorang, adalah jurang gelap yang tak terukur dalamnya. Karena itu, ia selalu menyampaikan kepada siapa saja untuk berlaku adil. Orang itu, Muhammad, melihat bahwa cinta kasih yang ditanamkan beberapa abad sebelumnya oleh sang pendahulu, Isa al-Masih, sering menjadi makanan empuk bagi ular beludak yang ngendon di dada orang-orang.

Jika Anda -dengan penuh kasih- memberikan pipi kanan karena pipi kiri Anda ditampar, orang yang memelihara ular beludak di dadanya itu mungkin akan merobek perut Anda dan meminta jeroan Anda. ”Karena itu, balaslah jika kau dinista,” serunya. ”Balaslah dengan adil.”

Sedemikian pentingnya keadilan dan sebegitu nistanya ketidakadilan, sampai-sampai kata ”ketidakadilan” dan sejumlah turunannya -menurut teman saya yang khusyuk mendalami agama- perlu diulang-ulang sebanyak 289 kali dalam sejumlah ayat di dalam Alquran. Ketidakadilan merupakan penyakit yang merontokkan pertumbuhan manusia, menjegal segala proses menuju kebaikan, meremukkan aktivitas, dan melumpuhkan kecerdasan manusia yang mendapatkan mandat sebagai khalifah di muka bumi.

Namun, sampai hari ini, ketika anjuran untuk bertindak adil itu sudah berabad-abad usianya, keadilan tetap menjadi sesuatu yang tak mudah dijalankan. Ketidakadilan terus-menerus menyeret orang ke arah kemasabodohan, dan kemasabodohan membenihkan kemelaratan yang luar biasa, penaklukan, dan rusaknya tertib sosial. ”Kau harus menjadi kaya raya agar bisa membunuh tanpa hukuman,” kata Jack Nicholson sebagai Gittes, tokoh utama dalam film Chinatown, garapan sutradara Roman Polanski.

Pernyataan tersebut benar ketika kita hidup di bawah kekuasaan yang diniatkan untuk ugal-ugalan, hukum yang rapuh, dan lembaga peradilan yang begitu mudah disogok. Anda tahu, itu semua adalah selokan yang membawa manusia ke arah situasi gelap gulita yang memalukan. Pidato-pidato politik pasti akan dipenuhi kebohongan, apalagi ketika menyebut tema kemajuan bangsa.

Sepanjang sejarah umat manusia, kemajuan selalu berasosiasi dengan keadilan dan kebangkrutan umat manusia selalu merupakan hasil dari ketidakadilan. Kita tidak bisa mengupayakan kemajuan sambil leyeh-leyeh membiarkan ketidakadilan. Sebab, kemajuan dan ketidakadilan merupakan dua hal yang saling bertentangan. Ketidakadilan seperti gurita raksasa yang menjulurkan belalai-belalai jahatnya untuk membuat kerusakan dan membawa manusia pada kegelapan.

Namun, tak usah terlalu risau tentang kegelapan. Anda bisa belajar bagaimana cara mengusir kegelapan dengan membaca dongeng menarik karya Hans Christian Andersen tentang gadis kecil penjual korek api yang menggigil di tengah salju.

Sampai gelap turun, korek apinya masih utuh; dia lalu menepi di emperan sebuah gedung. Lapar menyiksa perutnya dan dingin menyerangnya semakin ganas.

Untung, dia memiliki sumber cahaya ketika gelap dan dingin makin menyiksa. Dibukanya korek apinya. Dia nyalakan sebatang. Pada cahaya yang memancar dari kepala korek api itu, dia menyaksikan ruang hangat yang hilang lagi pada saat batang korek habis terbakar dan api padam. Dia nyalakan lagi sebatang: matanya menyaksikan sebuah pesta dan meja yang penuh makanan. Api kembali padam ketika dia menjulurkan tangannya untuk meraih hidangan tersebut. Lekas-lekas dinyalakannya lagi korek apinya.

Kini dia berada di antara orang-orang yang menari mengikuti irama musik. Gadis kecil itu terpesona pada segala keindahan yang tergelar di sekelilingnya. Pemandangan itu pun hanya sebentar; dia tercampak lagi di emperan ketika api padam. Akhirnya, dia menyalakan koreknya bersambung-sambung dan tak membiarkan api padam; dia ingin menjaga agar segala keindahan itu tak lari lagi dari matanya.

Pada batang yang penghabisan, dia melihat neneknya secantik bidadari turun dari langit dan menyentuh bahunya. ”Ketika kecil kau kutimang,” kata neneknya. ”Sekarang biarkan aku menimangmu sekali lagi.” Dalam gendongan neneknya, si gadis terbang memasuki gerbang langit. Dongeng pun berakhir: pagi-pagi orang-orang menemukan tubuh mungilnya dingin dan membeku di emperan.

Menurut saya, gadis itu mujur sekali. Sebelum kematian merenggutnya, dia menemukan cahaya -sesuatu yang mungkin tidak didapat oleh anak-anak sekolah yang nekat mengalungkan tali gantungan ke leher mereka. Di tengah kegelapan yang menistakannya, gadis kecil itu masih bisa menyaksikan sebuah dunia lain yang hangat dan ramah, dunia yang sangat dirindukannya.

Gadis kecil itu mempunyai korek api, sumber cahaya yang diperlukannya untuk mengalahkan malam yang gelap dan dingin. Dengan cahayanya, dia mendatangkan bidadari dari langit, serupa nenek yang mengasihinya; dan bidadari itu membopongnya ke sebuah tempat terang yang tak akan lagi membiarkannya dingin dan lapar.

Cerita itu mengilhamkan sesuatu kepada saya bahwa rupa-rupanya kegelapan adalah sesuatu yang lemah dan bebal. Sepekat apa pun kegelapan, ia tak bisa menyembunyikan nyala korek api. Cahaya selalu lebih kuat ketimbang kegelapan itu. Seorang bijak yang lain, Siddharta Gautama, sudah lama mengingatkan kita tentang hal itu: Jadilah lampu bagi dirimu sendiri. (*)

*) Cerpenis, aslaksana@yahoo.com

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com