Satmoko Budi Santoso
http://www.lampungpost.com/
RATUSAN terompah bakiak di kaki bukit kapur putih itu menapak, tentu, tak memunculkan suara menderap. Tanah injakan yang berkapur, bukan padas melainkan gembur, menenggelamkan suara derapan. Ratusan orang mirip gipsi itu berjalan, berderet satu-satu ke belakang, berpakaian rumbai-rumbai, khusus lelaki-lelaki muda, beranting-anting pecahan gigi taring babi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pantas sebagai aksesori.
"Kita mesti selalu bersama, tak boleh berpencar. Anak-anak kita yang ingusan, teruslah diamati, jangan alpa mendekap. Jika terasa membahayakan atau rewel, gantianlah menggendong. Jika di dalam hutan, gendonglah anak-anak kita di punggung," tutur seseorang yang diakui sebagai tetua rombongan, pada mula keberangkatan perjalanan mereka.
***
"Ya. Kita tak boleh berpencar. Bayi itu harus kita temukan," kata seorang perempuan dengan suara cempreng, sesuara angsa terinjak.
Sungguh, alangkah sayang, salah seorang bayi dalam rombongan perjalanan itu sampai bisa tertinggal di hutan. Naudzubillah, ibu bayi tersebut dipastikan meninggal karena keracunan. Tentu saja, ia digigit ular. Memang, tak cuma satu atau dua orang dalam karnaval perjalanan itu yang sempat digigit ular. Jika dihitung-hitung, hampir sepertiga orang dari jumlah rombongan itu mengaku digigit ular. Pengakuan yang terucapkan dengan serta-merta, sekeluar dari hutan. Namun, masing-masing dari mereka mampu mengatasi setiap aral, setiap bencana, apalagi hanya karena gigitan ular di kaki. Isapan mulut untuk menyedot bisa ular dan tempelan kunyahan rumput rakakas pada bekas luka cukup sebagai penyembuh.
Begitulah. Biasanya, tak perlu ribut-ribut, tuntas cuma dengan berhenti sebentar, menyelesaikan aral, pejalan yang lain boleh-boleh saja jika tak hirau.
Namun, ibu bayi itu ternyata tak membawa bekal rumput rakakas. Hal ini diketahui justru karena suaminya berjalan mendahului, jauh di depan, di deretan para tetua. Ternyata, rumput rakakas yang mestinya wajib dibawa setiap orang dalam serangkaian perjalanan itu malah terbawa suaminya. Padahal, bagi yang lain, setiap orang tak sampai kelupaan untuk mengantongi dalam saku baju atau celana.
Demikianlah. Dalam perjalanan yang agar khidmat maka dibayar dengan sepenuh diam, satu, dua, tiga, empat atau entah berapa kali pasti menyisihkan aral. Harap tahu, niat mereka berjalan hanyalah ingin pindah kampung halaman yang mereka anggap tak lagi nyaman. Bayangkan saja, orang yang sedang khusyuk berdoa, jelas di tempat ibadah, tiba-tiba saja bisa mati tertembak. Bayangkan pula, kehidupan yang tenteram hanya dengan bertani dan berladang, sontak terasa rawan justru karena tanah yang mereka tempati ditimbuni ranjau. Tentu, ujung cangkul yang terayunkan di sawah, yang nyangkut pada ranjau bakalan berisiko meledak; ratusan orang sudah meninggal karena ledakan ranjau.
Kini, dengan tetap merasa bingung apakah sebetulnya kesalahan mereka terhadap orang-orang yang gatal jika tak menembak, jumlah mereka hanya tinggal seratusan kepala, bukan lagi ribuan. Jika saat petang mereka berjalan semirip barisan yang memanjang, benarlah, tampak bagai goresan siluet alam yang indah, apalagi ketika melewati pematang sawah yang lengang.
Tetapi, bukankah mereka harus tetap kembali memasuki hutan yang telah terlampaui? Padahal, jika dipikir-pikir, perjalanan mereka kira-kira hanya tinggal lima kilometeran untuk mencapai keluasan tanah lapang berkapur putih di selingkar puncak bukit. Itulah kampung halaman yang mereka anggap bakalan lebih nyaman, setidaknya dalam kurun waktu bertahun-tahun ke depan. Pastilah dengan risiko lumayan berat; mereka harus membangun tempat tinggal lebih dulu.
Memang, bukan suatu hal yang sulit bagi mereka untuk keperluan membangun tempat tinggal ala kadarnya. Bambu-bambu, pokok kayu, genting yang terbuat dari kelaras atau kebutuhan apa pun yang mereka inginkan untuk membangun sekadar gubuk, mudah didapat di sepanjang jalan menuju perbukitan itu. Keinginan lebih khusyuk mempertahankan hidup, apalagi dalam berdoa, telah menggerakkan nyali dan semangat mereka.
Tentu saja, hanya mereka yang tak beranting-anting pecahan gigi taring babi yang boleh dikatakan rajin berdoa karena yang beranting-anting pecahan gigi taring babi adalah orang-orang yang di mata para tetua masih suka mengumbar keliaran masa muda, belum begitu sadar dengan kebiasaan berdoa. Meskipun satu per satu dari mereka kini justru mulai tergerak sembahyang, terbukti ketika mendengar suara azan, ternyata masih rikuh, menahan jengah tak berkesudahan. Bolehlah ditertawakan, ekspresi kenakalan mereka dengan mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi yang cuma bisa didapat dengan berburu di hutan bernilai amat nanggung, diam-diam malah memalukan. Bukan simbol kejantanan lelaki.
***
Sebagian dari mereka menggerutu, perjalanan kembali memasuki hutan adalah kesia-siaan. Namun, bagaimana dengan janji kebersamaan mereka? Terlihat di antara mereka berunding, berusaha menghindar dari saling menyalahkan karena untuk apalah pertengkaran dijadikan picu penyelesaian.
Pada akhirnya disepakati, hanya laki-laki muda yang beranting-anting pecahan gigi taring babi itulah yang diutus kembali berjalan menyusuri rerimbun hutan yang maha lebat bersama ayah sang bayi. Sekalianlah menjemput mayat ibu bayi, jangan berharap apa pun kecuali mulutnya akan kelihatan nyinyir biru lebam, bertubuh kaku tersebab sengatan racun yang menjalar karena bisa ular. Ehmmm, jika ditemukan, mulut ibu sang bayi itu pastilah menganga, dikerumuni ratusan semut.
Sebab itu, berjalanlah para lelaki muda beranting pecahan gigi taring babi di kanan-kiri ujung daun telinga itu menuju hutan. Tentu saja, setelah makan sisa perbekalan jatah hari itu. Karena mulai petang, perjalanan menggunakan obor begitu menantang nyali, meskipun hal semacam itu sangatlah lazim. Keluar-masuk hutan pada waktu kapan pun bukan merupakan halangan, apalagi hanya karena malam hari. Jangan kaget, jika ada harimau yang tahu perjalanan mereka tentu lebih memilih diam, seperti maklum dengan bau keringat mereka.
Celaka, sebentar lagi hujan mengguyur. Geledek menyambar-nyambar seperti sengaja menggoda perjalanan para lelaki muda. Kalau rombongan kaum serupa gipsi yang berada di luar hutan bisa berteduh dengan mendirikan tenda, tak cemas dengan binatang buas yang jika mau setiap saat siap memangsa, bagaimana dengan serombongan orang yang kini menempuh sepertiga perjalanan di dalam hutan? Bukankah jika hujan jadi mengguyur obor mereka akan mati?
Tidak meleset dari tebakan, hujan memanglah turun, tapi hanya pantas disebut gerimis. Meskipun geledek menggedebur, mereka tak lagi cemas bahwa obor yang mereka bawa akan mati. Jika hanya rinai gerimis yang turun, tidaklah muskil berarti apa-apa kalau di dalam hutan? Rerimbun dedaunan yang lebat sanggup menahan deraian gerimis.
Sampai di tengah hutan yang pekat, untuk mempercepat pencarian mau tak mau mereka berpencar, berjalan dua-dua. Mereka tak begitu mengakrabi perjalanan yang sepagi dan sesiang tadi terlalui karena risiko malam hari. Tak mungkinlah usaha pencarian hanya mengandalkan feeling atau intuisi. Sementara, tangis bayi yang diharapkan mampu sebagai penunjuk jalan sama sekali tak terdengar. Apakah nasib si jabang bayi sungguh tak lagi bernapas?
Setelah kurang lebih empat jam mereka di dalam hutan, syukurlah, bayi itu mereka temukan di sudut bagian tenggara, ditandai adanya pohon jati yang diperkirakan paling besar di hutan itu. Masya Allah, entah tadi entah kapan, bayi itu tampaknya diseret-seret anjing yang suka berkeliaran keluar-masuk hutan. Untunglah, yang diseret-seret anjing bukan tubuh si jabang bayi, melainkan jarit yang membebat tubuhnya. Untunglah pula, jarit yang membebat tubuh bayi itu hanya koyak-moyak, tak sampai robek. Meskipun tubuh bayi itu terluka, memar-memar, mungkin kebentur-bentur gundukan tanah atau akar pepohonan yang menyembul di atas tanah, harapan hidup masihlah ada.
Tibalah saatnya bayi itu digendong, ayah bayi itu segera berjalan keluar hutan, dikawal tiga orang. Sementara, yang lain masih melanjutkan pencarian mayat sang ibu. Logikanya, pasti tak jauh dari keberadaan bayi itu pas ditemukan. Sebab itu, di sekeliling ditemukannya bayi itulah sisa lelaki-lelaki berusia belasan meneruskan pencarian.
Nihil. Rupa-rupanya perkiraan mereka meleset. Jauh sekitar lima puluhan meter, menjorok ke tengah hutan barulah ditemukan mayat sang ibu, berposisi menelungkup. Setelah tubuhnya dibalik, terlihat cadarnya terbuka. Wajahnya biru-lebam, bibirnya bengkak, menganga--puji Tuhan tak dikerumuni ratusan semut. Aih, matanya melek. Tepatlah dugaan, beragam jenis ular yang lalu-lalang di dalam hutan, yang gemar melintas lewat sela-sela kaki yang sejenak berhenti, menghendaki mematok kaki sang ibu.
Selewat dini hari, tak sampai menjelang pagi mereka berhasil memanggul mayat sang ibu. Alhamdulillah, nyala obor mereka tak kehabisan minyak. Kalau kehabisan minyak? Wah! Tak ada jalan lain kecuali menunggu fajar merekah sebelum keluar hutan. Bagaimana jika mendadak ada puluhan ular berbisa menghampiri mereka lebih dari maksud sekadar melintas?
***
Di luar hutan, rombongan yang menunggu kedatangan para pencari mayat menyambut suka cita. Para ibu disibukkan merawat bayi yang kedinginan itu.
Bayi itu cuma lemas. Ia masih sehat. Setelah minum sekadarnya, bahkan ada seorang ibu yang mencoba memaksa memberikan air susunya meskipun jelas menolak, barulah ia bereaksi. Menggeliat. Menangis. Tetua yang dihormati sebagai kepala rombongan memutuskan melanjutkan perjalanan, tak usah terlalu larut dalam kesedihan.
Dalam perjalanan kembali ke arah bukit kapur putih, serombongan pengungsi itu bergantian melafalkan zikir. Mereka yang berumur belasan tahun dan bukan bagian dari yang mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi memanggul mayat dengan tandu, bikinan mendadak, dari bambu.
Ada prosesi mendesak yang menyusul terselesaikan: sebelum membangun permukiman baru adalah bagaimana selayaknya mengubur mayat perempuan itu, memandikannya secara wajar lewat kucuran air yang mengalir dari lereng bukit. Siapa pun yang tahu pasti heran, air yang mengalir dari selingkar bukit itu sungguh kelewat bersih. Apakah air yang bening memang menjadi cermin betapa sucinya hati seorang ibu yang akan mereka mandikan? Kecerahan langit seolah-olah juga mengabarkan sejumput nyawa yang melayang dari tubuh perempuan itu telah diterima Tuhan dengan ikhlas, terbukti tak ada gagak-gagak liar yang berkaok-kaok mengiringi pemandian mayat itu.
Baru ketika siang menyengat, selesai memandikan mayat mereka beristirahat. Jika ada yang berkeinginan makan dipersilakan. Sesudahnya, mereka menyalatkan jenazah, berjemaah. Aneh, siang itu aura alam terasa menggidikkan bulu kuduk. Sengaja mereka menyalatkan jenazah di tenda yang besar.
Nah, saat mayat itu dimandikan, yang berkewajiban mengeduk kalang tanah sedalam dua meter adalah anak-anak bengal beranting pecahan gigi taring babi. Mereka sigap bekerja sepenuh hati. Dengan sendirinya, mereka tak ikut rombongan tetua, juga ibu-ibu yang menyalatkan jenazah. Mereka cukup berada di area tanah yang digali.
Hampir pukul tiga sore matahari meredup, kibasan angin terasakan mengusir hawa panas. Ada yang sungguh-sungguh aneh dalam suasana penguburan jenazah yang terasa sunyi itu. Ketika mayat perempuan yang akan dikubur ditidurkan dalam kalang tanah, para lelaki muda yang beranting pecahan gigi taring babi seperti merasa sangat bersalah. Mereka belingsatan. Selama ini, tak ada yang menggampar pilihan kelakuan mereka untuk bengal, lengkap dengan aneka tato bikinan sendiri di sekujur tubuh.
Jelas, dalam suasana semacam itu semua orang sedang terlibat kesedihan yang sama, tapi entahlah, para lelaki muda itu seperti berada dalam puncak kebingungan. Yang mengagetkan, tanpa ada yang menyuruh, mereka berpandangan. Mereka pun melepas satu per satu anting-anting yang dikenakan, melemparkannya bersamaan dengan ditimbuninya mayat itu dengan tanah. Pada saat itulah, senggukan tangis tak sekadar menjadi suara yang tertahan; banyak orang meledakkan tangis sendiri-sendiri.
Sehabis asar, barulah mereka usai dengan prosesi penguburan jenazah. Setelah selesai berdoa bersama yang dipimpin tetua rombongan, dengan sisa kesedihan yang membuat muka sembap sekalipun bercadar, mereka melangkah dengan harapan segera membangun permukiman baru. Para lelaki muda yang tak lagi mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi terlihat membersihkan apa pun yang ada di sekitar tanah-ladang yang bakalan mereka jadikan permukiman.
Diiringi tangis bayi yang melengking karena ibunya baru saja dikubur, para lelaki muda itu terus bekerja. Tak usah ditanya, mulai besok pagi, ayah bayi itu pasti kerepotan, ia mesti berusaha keras mencari pengganti susu. Mungkinkah bayi itu cukup diberi seduhan teh setiap harinya? Benarkah usia bayi yang menginjak angka sembilan bulan lebih mudah disapih?
Malam ini mereka tidur di tenda. Ada empat tenda besar yang muat menampung mereka. Keesokan harinya, setelah area ladang itu purna-dibersihkan sebagai kelayakan tempat tinggal, barulah mereka mencicil membangun permukiman sederhana dengan bambu atau apa pun yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh.
Segerombol para lelaki muda yang tak lagi beranting pecahan gigi taring babi barusan bersih-bersih badan. Rupa-rupanya, setelah mandi di pancuran air lereng bukit mereka tergoda wudu. Matahari yang merapat menjadi sah disebut petang, sekalipun belum terdengar suara azan yang mengalun.
Nun dari rerimbun pepohonan, terdengar kemerosak. Salah seorang di antara lelaki muda yang tadinya beranting gigi taring babi mempercepat langkah ke gelaran tikar di dalam tenda yang disediakan untuk salat berjemaah. Ah, lelaki muda yang berjalan gegas itu pun berazan, membuat para tetua, laki-laki maupun perempuan terhenyak, heran sekaligus haru dengan suara adzan yang syahdu. Ternyata dari mulut yang berazan itu tak selamanya cuma lihai mengucapkan umpatan-umpatan kotor? Bajingan, umpamanya?
Ah, merekalah orang-orang yang telah sengaja menghunjam dan menguburkan kecemasan mendengarkan serentetan tembakan yang membuat salah seorang di antara mereka bakalan menyusul mati tanpa alasan yang pasti, apalagi menjadikannya berarti. ***
Yogyakarta.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar