Senin, 09 Februari 2009

Terompah Bakiak di Bukit Kapur Putih

Satmoko Budi Santoso
http://www.lampungpost.com/

RATUSAN terompah bakiak di kaki bukit kapur putih itu menapak, tentu, tak memunculkan suara menderap. Tanah injakan yang berkapur, bukan padas melainkan gembur, menenggelamkan suara derapan. Ratusan orang mirip gipsi itu berjalan, berderet satu-satu ke belakang, berpakaian rumbai-rumbai, khusus lelaki-lelaki muda, beranting-anting pecahan gigi taring babi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pantas sebagai aksesori.

"Kita mesti selalu bersama, tak boleh berpencar. Anak-anak kita yang ingusan, teruslah diamati, jangan alpa mendekap. Jika terasa membahayakan atau rewel, gantianlah menggendong. Jika di dalam hutan, gendonglah anak-anak kita di punggung," tutur seseorang yang diakui sebagai tetua rombongan, pada mula keberangkatan perjalanan mereka.
***

"Ya. Kita tak boleh berpencar. Bayi itu harus kita temukan," kata seorang perempuan dengan suara cempreng, sesuara angsa terinjak.

Sungguh, alangkah sayang, salah seorang bayi dalam rombongan perjalanan itu sampai bisa tertinggal di hutan. Naudzubillah, ibu bayi tersebut dipastikan meninggal karena keracunan. Tentu saja, ia digigit ular. Memang, tak cuma satu atau dua orang dalam karnaval perjalanan itu yang sempat digigit ular. Jika dihitung-hitung, hampir sepertiga orang dari jumlah rombongan itu mengaku digigit ular. Pengakuan yang terucapkan dengan serta-merta, sekeluar dari hutan. Namun, masing-masing dari mereka mampu mengatasi setiap aral, setiap bencana, apalagi hanya karena gigitan ular di kaki. Isapan mulut untuk menyedot bisa ular dan tempelan kunyahan rumput rakakas pada bekas luka cukup sebagai penyembuh.

Begitulah. Biasanya, tak perlu ribut-ribut, tuntas cuma dengan berhenti sebentar, menyelesaikan aral, pejalan yang lain boleh-boleh saja jika tak hirau.

Namun, ibu bayi itu ternyata tak membawa bekal rumput rakakas. Hal ini diketahui justru karena suaminya berjalan mendahului, jauh di depan, di deretan para tetua. Ternyata, rumput rakakas yang mestinya wajib dibawa setiap orang dalam serangkaian perjalanan itu malah terbawa suaminya. Padahal, bagi yang lain, setiap orang tak sampai kelupaan untuk mengantongi dalam saku baju atau celana.

Demikianlah. Dalam perjalanan yang agar khidmat maka dibayar dengan sepenuh diam, satu, dua, tiga, empat atau entah berapa kali pasti menyisihkan aral. Harap tahu, niat mereka berjalan hanyalah ingin pindah kampung halaman yang mereka anggap tak lagi nyaman. Bayangkan saja, orang yang sedang khusyuk berdoa, jelas di tempat ibadah, tiba-tiba saja bisa mati tertembak. Bayangkan pula, kehidupan yang tenteram hanya dengan bertani dan berladang, sontak terasa rawan justru karena tanah yang mereka tempati ditimbuni ranjau. Tentu, ujung cangkul yang terayunkan di sawah, yang nyangkut pada ranjau bakalan berisiko meledak; ratusan orang sudah meninggal karena ledakan ranjau.

Kini, dengan tetap merasa bingung apakah sebetulnya kesalahan mereka terhadap orang-orang yang gatal jika tak menembak, jumlah mereka hanya tinggal seratusan kepala, bukan lagi ribuan. Jika saat petang mereka berjalan semirip barisan yang memanjang, benarlah, tampak bagai goresan siluet alam yang indah, apalagi ketika melewati pematang sawah yang lengang.

Tetapi, bukankah mereka harus tetap kembali memasuki hutan yang telah terlampaui? Padahal, jika dipikir-pikir, perjalanan mereka kira-kira hanya tinggal lima kilometeran untuk mencapai keluasan tanah lapang berkapur putih di selingkar puncak bukit. Itulah kampung halaman yang mereka anggap bakalan lebih nyaman, setidaknya dalam kurun waktu bertahun-tahun ke depan. Pastilah dengan risiko lumayan berat; mereka harus membangun tempat tinggal lebih dulu.

Memang, bukan suatu hal yang sulit bagi mereka untuk keperluan membangun tempat tinggal ala kadarnya. Bambu-bambu, pokok kayu, genting yang terbuat dari kelaras atau kebutuhan apa pun yang mereka inginkan untuk membangun sekadar gubuk, mudah didapat di sepanjang jalan menuju perbukitan itu. Keinginan lebih khusyuk mempertahankan hidup, apalagi dalam berdoa, telah menggerakkan nyali dan semangat mereka.

Tentu saja, hanya mereka yang tak beranting-anting pecahan gigi taring babi yang boleh dikatakan rajin berdoa karena yang beranting-anting pecahan gigi taring babi adalah orang-orang yang di mata para tetua masih suka mengumbar keliaran masa muda, belum begitu sadar dengan kebiasaan berdoa. Meskipun satu per satu dari mereka kini justru mulai tergerak sembahyang, terbukti ketika mendengar suara azan, ternyata masih rikuh, menahan jengah tak berkesudahan. Bolehlah ditertawakan, ekspresi kenakalan mereka dengan mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi yang cuma bisa didapat dengan berburu di hutan bernilai amat nanggung, diam-diam malah memalukan. Bukan simbol kejantanan lelaki.
***

Sebagian dari mereka menggerutu, perjalanan kembali memasuki hutan adalah kesia-siaan. Namun, bagaimana dengan janji kebersamaan mereka? Terlihat di antara mereka berunding, berusaha menghindar dari saling menyalahkan karena untuk apalah pertengkaran dijadikan picu penyelesaian.

Pada akhirnya disepakati, hanya laki-laki muda yang beranting-anting pecahan gigi taring babi itulah yang diutus kembali berjalan menyusuri rerimbun hutan yang maha lebat bersama ayah sang bayi. Sekalianlah menjemput mayat ibu bayi, jangan berharap apa pun kecuali mulutnya akan kelihatan nyinyir biru lebam, bertubuh kaku tersebab sengatan racun yang menjalar karena bisa ular. Ehmmm, jika ditemukan, mulut ibu sang bayi itu pastilah menganga, dikerumuni ratusan semut.

Sebab itu, berjalanlah para lelaki muda beranting pecahan gigi taring babi di kanan-kiri ujung daun telinga itu menuju hutan. Tentu saja, setelah makan sisa perbekalan jatah hari itu. Karena mulai petang, perjalanan menggunakan obor begitu menantang nyali, meskipun hal semacam itu sangatlah lazim. Keluar-masuk hutan pada waktu kapan pun bukan merupakan halangan, apalagi hanya karena malam hari. Jangan kaget, jika ada harimau yang tahu perjalanan mereka tentu lebih memilih diam, seperti maklum dengan bau keringat mereka.

Celaka, sebentar lagi hujan mengguyur. Geledek menyambar-nyambar seperti sengaja menggoda perjalanan para lelaki muda. Kalau rombongan kaum serupa gipsi yang berada di luar hutan bisa berteduh dengan mendirikan tenda, tak cemas dengan binatang buas yang jika mau setiap saat siap memangsa, bagaimana dengan serombongan orang yang kini menempuh sepertiga perjalanan di dalam hutan? Bukankah jika hujan jadi mengguyur obor mereka akan mati?

Tidak meleset dari tebakan, hujan memanglah turun, tapi hanya pantas disebut gerimis. Meskipun geledek menggedebur, mereka tak lagi cemas bahwa obor yang mereka bawa akan mati. Jika hanya rinai gerimis yang turun, tidaklah muskil berarti apa-apa kalau di dalam hutan? Rerimbun dedaunan yang lebat sanggup menahan deraian gerimis.

Sampai di tengah hutan yang pekat, untuk mempercepat pencarian mau tak mau mereka berpencar, berjalan dua-dua. Mereka tak begitu mengakrabi perjalanan yang sepagi dan sesiang tadi terlalui karena risiko malam hari. Tak mungkinlah usaha pencarian hanya mengandalkan feeling atau intuisi. Sementara, tangis bayi yang diharapkan mampu sebagai penunjuk jalan sama sekali tak terdengar. Apakah nasib si jabang bayi sungguh tak lagi bernapas?

Setelah kurang lebih empat jam mereka di dalam hutan, syukurlah, bayi itu mereka temukan di sudut bagian tenggara, ditandai adanya pohon jati yang diperkirakan paling besar di hutan itu. Masya Allah, entah tadi entah kapan, bayi itu tampaknya diseret-seret anjing yang suka berkeliaran keluar-masuk hutan. Untunglah, yang diseret-seret anjing bukan tubuh si jabang bayi, melainkan jarit yang membebat tubuhnya. Untunglah pula, jarit yang membebat tubuh bayi itu hanya koyak-moyak, tak sampai robek. Meskipun tubuh bayi itu terluka, memar-memar, mungkin kebentur-bentur gundukan tanah atau akar pepohonan yang menyembul di atas tanah, harapan hidup masihlah ada.

Tibalah saatnya bayi itu digendong, ayah bayi itu segera berjalan keluar hutan, dikawal tiga orang. Sementara, yang lain masih melanjutkan pencarian mayat sang ibu. Logikanya, pasti tak jauh dari keberadaan bayi itu pas ditemukan. Sebab itu, di sekeliling ditemukannya bayi itulah sisa lelaki-lelaki berusia belasan meneruskan pencarian.

Nihil. Rupa-rupanya perkiraan mereka meleset. Jauh sekitar lima puluhan meter, menjorok ke tengah hutan barulah ditemukan mayat sang ibu, berposisi menelungkup. Setelah tubuhnya dibalik, terlihat cadarnya terbuka. Wajahnya biru-lebam, bibirnya bengkak, menganga--puji Tuhan tak dikerumuni ratusan semut. Aih, matanya melek. Tepatlah dugaan, beragam jenis ular yang lalu-lalang di dalam hutan, yang gemar melintas lewat sela-sela kaki yang sejenak berhenti, menghendaki mematok kaki sang ibu.

Selewat dini hari, tak sampai menjelang pagi mereka berhasil memanggul mayat sang ibu. Alhamdulillah, nyala obor mereka tak kehabisan minyak. Kalau kehabisan minyak? Wah! Tak ada jalan lain kecuali menunggu fajar merekah sebelum keluar hutan. Bagaimana jika mendadak ada puluhan ular berbisa menghampiri mereka lebih dari maksud sekadar melintas?
***

Di luar hutan, rombongan yang menunggu kedatangan para pencari mayat menyambut suka cita. Para ibu disibukkan merawat bayi yang kedinginan itu.

Bayi itu cuma lemas. Ia masih sehat. Setelah minum sekadarnya, bahkan ada seorang ibu yang mencoba memaksa memberikan air susunya meskipun jelas menolak, barulah ia bereaksi. Menggeliat. Menangis. Tetua yang dihormati sebagai kepala rombongan memutuskan melanjutkan perjalanan, tak usah terlalu larut dalam kesedihan.

Dalam perjalanan kembali ke arah bukit kapur putih, serombongan pengungsi itu bergantian melafalkan zikir. Mereka yang berumur belasan tahun dan bukan bagian dari yang mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi memanggul mayat dengan tandu, bikinan mendadak, dari bambu.

Ada prosesi mendesak yang menyusul terselesaikan: sebelum membangun permukiman baru adalah bagaimana selayaknya mengubur mayat perempuan itu, memandikannya secara wajar lewat kucuran air yang mengalir dari lereng bukit. Siapa pun yang tahu pasti heran, air yang mengalir dari selingkar bukit itu sungguh kelewat bersih. Apakah air yang bening memang menjadi cermin betapa sucinya hati seorang ibu yang akan mereka mandikan? Kecerahan langit seolah-olah juga mengabarkan sejumput nyawa yang melayang dari tubuh perempuan itu telah diterima Tuhan dengan ikhlas, terbukti tak ada gagak-gagak liar yang berkaok-kaok mengiringi pemandian mayat itu.

Baru ketika siang menyengat, selesai memandikan mayat mereka beristirahat. Jika ada yang berkeinginan makan dipersilakan. Sesudahnya, mereka menyalatkan jenazah, berjemaah. Aneh, siang itu aura alam terasa menggidikkan bulu kuduk. Sengaja mereka menyalatkan jenazah di tenda yang besar.

Nah, saat mayat itu dimandikan, yang berkewajiban mengeduk kalang tanah sedalam dua meter adalah anak-anak bengal beranting pecahan gigi taring babi. Mereka sigap bekerja sepenuh hati. Dengan sendirinya, mereka tak ikut rombongan tetua, juga ibu-ibu yang menyalatkan jenazah. Mereka cukup berada di area tanah yang digali.

Hampir pukul tiga sore matahari meredup, kibasan angin terasakan mengusir hawa panas. Ada yang sungguh-sungguh aneh dalam suasana penguburan jenazah yang terasa sunyi itu. Ketika mayat perempuan yang akan dikubur ditidurkan dalam kalang tanah, para lelaki muda yang beranting pecahan gigi taring babi seperti merasa sangat bersalah. Mereka belingsatan. Selama ini, tak ada yang menggampar pilihan kelakuan mereka untuk bengal, lengkap dengan aneka tato bikinan sendiri di sekujur tubuh.

Jelas, dalam suasana semacam itu semua orang sedang terlibat kesedihan yang sama, tapi entahlah, para lelaki muda itu seperti berada dalam puncak kebingungan. Yang mengagetkan, tanpa ada yang menyuruh, mereka berpandangan. Mereka pun melepas satu per satu anting-anting yang dikenakan, melemparkannya bersamaan dengan ditimbuninya mayat itu dengan tanah. Pada saat itulah, senggukan tangis tak sekadar menjadi suara yang tertahan; banyak orang meledakkan tangis sendiri-sendiri.

Sehabis asar, barulah mereka usai dengan prosesi penguburan jenazah. Setelah selesai berdoa bersama yang dipimpin tetua rombongan, dengan sisa kesedihan yang membuat muka sembap sekalipun bercadar, mereka melangkah dengan harapan segera membangun permukiman baru. Para lelaki muda yang tak lagi mengenakan anting-anting pecahan gigi taring babi terlihat membersihkan apa pun yang ada di sekitar tanah-ladang yang bakalan mereka jadikan permukiman.

Diiringi tangis bayi yang melengking karena ibunya baru saja dikubur, para lelaki muda itu terus bekerja. Tak usah ditanya, mulai besok pagi, ayah bayi itu pasti kerepotan, ia mesti berusaha keras mencari pengganti susu. Mungkinkah bayi itu cukup diberi seduhan teh setiap harinya? Benarkah usia bayi yang menginjak angka sembilan bulan lebih mudah disapih?

Malam ini mereka tidur di tenda. Ada empat tenda besar yang muat menampung mereka. Keesokan harinya, setelah area ladang itu purna-dibersihkan sebagai kelayakan tempat tinggal, barulah mereka mencicil membangun permukiman sederhana dengan bambu atau apa pun yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh.

Segerombol para lelaki muda yang tak lagi beranting pecahan gigi taring babi barusan bersih-bersih badan. Rupa-rupanya, setelah mandi di pancuran air lereng bukit mereka tergoda wudu. Matahari yang merapat menjadi sah disebut petang, sekalipun belum terdengar suara azan yang mengalun.

Nun dari rerimbun pepohonan, terdengar kemerosak. Salah seorang di antara lelaki muda yang tadinya beranting gigi taring babi mempercepat langkah ke gelaran tikar di dalam tenda yang disediakan untuk salat berjemaah. Ah, lelaki muda yang berjalan gegas itu pun berazan, membuat para tetua, laki-laki maupun perempuan terhenyak, heran sekaligus haru dengan suara adzan yang syahdu. Ternyata dari mulut yang berazan itu tak selamanya cuma lihai mengucapkan umpatan-umpatan kotor? Bajingan, umpamanya?

Ah, merekalah orang-orang yang telah sengaja menghunjam dan menguburkan kecemasan mendengarkan serentetan tembakan yang membuat salah seorang di antara mereka bakalan menyusul mati tanpa alasan yang pasti, apalagi menjadikannya berarti. ***

Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar