Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Komedi Sindiran ’’Hantu-hantu’’ Hang Kafrawi

Musa Ismail
Riau Pos, 7 Okt 2012

SECARA leskikal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘’hantu’’ diartikan sebagai roh jahat yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu (2005:387). Ketika disebutkan kata ‘’hantu’’, tentu saja mencuat suasana mistis, menakutkan, atau mengerikan. Karena merupakan roh jahat, hantu bersifat mengganggu atau ‘menggoda’ manusia untuk berbuat sesuatu yang jahat.

Novel Tak Bertuan

(Expresi diantar­­­­­­­a nilai-nilai moral dan agama)
Awalludin GD Mualif

Novel sebagai bagian dari karya sastra, mempunyai bentuk dan proses penceritaanya sendiri yang terikat dalam hukum-hukumnya. Proses dan bentuk yang menghasilkan kecemasan, ketakutan serta harapan, sebab akibat, penyampaian gagasan, nilai pesan-pesan dalam frame dan dunia yang diciptakan penulisnya. Seperti Tuhan yang menciptakan semesta, sebagai latar bagi insan, demikian juga manusia (penulis) mencipta karya sastra, dimana unsur sastra menjadi latar bagi para tokoh yang digambarkan oleh penulis.

Sastra Mutakhir: Sastra Eksklusif

Alunk Estohank
http://riaupos.co

ADA kerisauan ketika harus memikirkan nasib sastra Indonesia, sastra yang semakin hari semakin tidak jelas juntrungnya. Ada apa sebenarnya dengan sastra Indonesia dewasa ini, bukankah seringkali kita temui buku-buku sastra terbit tiap tahunnya, dan bahkan ada yang satu tahun dapat menerbitkan dua buku sastra bahkan ada yang lebih. Kenapa mesti dirisaukan, bukankah itu semua menjadi nilai plus dari sastra itu sendiri.

Selamat Jalan Perintis Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang (Kupang), 25 Feb 2017

Selamat jalan Bapak Gerson Poyk, perintis sastra NTT. Provinsi NTT dan Indonesia kehilangan tokoh besar bidang sastra dan budaya yang dengan cemerlang mengangkat lokalitas daerah/masyarakat NTT dalam karya-karya sastranya. Di samping sebagai sastrawan besar Indonesia, yang oleh H. B. Jassin dimasukkan sebagai Angkatan 66, Gerson Poyk juga adalah orang NTT pertama yang berkiprah di panggung sastra. Beliau dijuluki sebagai perintis sastra NTT. Setelah Gerson merintisnya, muncul kemudian nama-nama lain, seperti Dami N. Toda, Julius Sijaranamual, Umbu Landu Paranggi, dan John Dami Mukese.

Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu

Ajip Rosidi
Pikiran Rakyat, 23 Okt 2010

Tampaknya terhadap Perda No. 5 Tahun 2003 yang mengakui bahwa ada tiga bahasa daerah di Jawa Barat, yakni bahasa Sunda, bahasa Cirebon, dan bahasa Betawi, ada yang merasa tidak puas. Orang Indramayu ingin “bahasa Indramayu” dianggap sebagai bahasa daerah yang harus diajarkan juga di sekolah-sekolah formal di wilayahnya.

Celoteh

Indra Tranggono *
Kompas, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi-facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Revolusi Bahasa dalam Politik Gender

Mariana Amiruddin *
Majalah Tempo, 12 Jan 2015

Sejumlah pemikir perempuan menemukan bahwa hampir semua bahasa dunia ternyata tidak netral gender. Bahasa kemudian perlu menjadi ruang politik gender. Apa yang disemayamkan dalam bahasa ternyata kental dengan bias patriarki. Deborah Cameron, seorang ahli linguistik, mengatakan bahwa “kata” tidak memiliki makna, tapi masyarakat yang memaknainya (words don’t mean, people mean).

Kota Kata

Sitok Srengenge *
Majalah Tempo, 15 Mar 2010

PADA mulanya kata, lalu jadilah kota. Begitulah, dalam khazanah cerita rakyat kerap kita temui adegan pemberian nama suatu tempat. Lazimnya sang tokoh bersabda, “Kunamakan tempat ini bla-bla-bla.” Ingat Raden Wijaya, tatkala beristirahat dalam pelarian, ia memetik buah maja dan memakannya. Rasanya pahit. Ia lantas menamai tempat kejadian itu Majapahit dan membangun hunian di sana hingga merekah jadi kota kerajaan.

Bersaya Beraku

Sunaryono Basuki Ks
Kompas, 1 Feb 2013

Gue-aku-sayaSaya merasa sangat terganggu mendengar ucapan seorang selebritas muda menjawab pertanyaan pembawa acara mengenai rencananya dengan lagu-lagu barunya. Dengan nyaman dia mengatakan ”lagu aku”, ”album aku”, bukan ”laguku”, ”lagu baruku”, ”albumku, ”album baruku”, sebagaimana diwajibkan bahasa Indonesia ketika dia bermaksud menyatakan milik. Kita mengatakan ”mobilku”, bukan ”mobil aku”. Namun, tampaknya pemakaian kata aku di dalam bahasa lisan sudah meluas, terutama di kalangan generasi muda. Apakah ini salah satu bentuk pemberontakan anak muda? Harus diteliti lebih lanjut.

Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 25 Mei 2015

Bermula dari percakapan, terpilihlah nama untuk perkumpulan modern di Hindia Belanda. Soetomo menanggapi penjelasan Wahidin Soedirohoesodo: “Punika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Petikan kalimat berbahasa Jawa ini dimuat di buku berjudul Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com