Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Mazhab Riau: Representasi Kritis

Al Azhar Riau
azhariau.blogspot.com

Istilah “mazhab/aliran Riau” atau Riau School pertama kali dikemukakan oleh R.O. Winstedt, dalam bukunya A History of Classical Malay Literature (1977, cetak ulang). Ia sendiri tidak pernah menjelaskan panjang lebar anggapannya itu. Kemudian, pengkaji Melayu asal Rusia, Vladimir I. Braginsky, menerbitkan hasil observasinya tentang evolusi struktur syair (lihat: “Evolution of the verse-structure of the Malay syair,” Archipel 42: 133-54, 1991). Braginsky menemukan beberapa perbedaan struktur sejumlah syair yang diketahui ditulis di Penyengat; dan ia menyokong pendapat Winstedt.

Mezra Pellondou: Semakin Mesra Menggauli Imajinasi

Usman D.Ganggang *
sosok.kompasiana.com

Nama Mezra, sapaan singkat dari nama panjang Mezra E.Pelandou, semakin dekat di hati para penikmat sastra. Iya, nama Mezra memang bukan asing lagi, bukan saja untuk ukuran NTT tetapi juga untuk tingkat nasional. Pasalnya, karya-karya imajinatifnya selalu mengunjungi penikmat sastra. Selain itu, dari tangan mungiilnya, hadir berbagai penghargaan. Untuk tidak sekedar omong, penulis catat di sini, karya sastranya “Sebagai Pemenang Pertama Peraih Penghargaan Sastra untuk Pendidik di tahun 2012 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional RI.

Pertunjukan Teater Negri Sungsang dan Silaturrahmi Budaya

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com

Sore tampak cerah, orang-orang sedang menata barang dagangannya, berharap mengais rejeki di sebuah pagelaran teater. Desa Wisata Jono Kecatan Temayang Kabupaten Bojonegoro akan ada pergelaran Teater dari Komunitas Suket Indonesia dari Jombang. Kali ini mereka akan menampilkan Negri Sungsang. Desa Wisata Jono adalah tempat perdana yakni pertunjukan teater Komunitas Suket Indonesia dengan kalaborasi dengan Komunitas Jaran Kepang Wahyu Budaya Mojowarno pada Minggu, 22 Januarai 2012.

Pundi-pundi Tebal Sastrawan Indonesia

Maulana Syamsuri
http://analisadaily.com, 8 Juni 2014

Sastrawan dan budayawan Indonesia bangga. Sastrawan dari Yogyakarta, SH Mintardja menerima anugerah Borobudur Writers and Cultural Festival berupa Sang Hyang Kamahayanikan.
Anugerah Sang Hyang, penghargaan tertinggi untuk tokoh yang berjasa dalam kajian sejarah dan budaya Nusantara. SH Mintardja dinilai layak mendapat anugerah itu karena merupakan generasi pertama penulis cerita silat yang mengangkat latar belakang sejarah nusantara. SH Mintarja, penulis buku sangat kreatif selama lebih dari 50 tahun dan berkarya berupa buku sekitar 400 judul. Api Bukit Menoreh terdiri dari 396 seri, karyanya yang paling terkenal. Mintardja juga menulis karya serial lain, seperti Nagasasra Sabuk Item, Mata Air di Bayangan Bukit, Tanah Warisan dan Matahari Esok Pagi.

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA
sastra-indonesia.com

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar. Cerpenya yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri “(1995), “Resolusi Perdamaian” (1996), “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997), dan “Jalan Asmara Dana” (2005), meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas.

Sastra-Indonesia.com