Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Memaknai Keunikan Budaya dalam Sastra

Raudal Tanjung Banua
Riau Pos, 17 Maret 2013

SASTRA adalah dunia yang unik. ‘’Dunia jungkir balik,’’ kata Budi Darma. Justru keunikan itulah yang menjadi pertaruhan seorang sastrawan, tak mesti dalam bentuk, tapi lebih-lebih pada persfektif. Cara pandang pengarang yang unik akan sangat menentukan dunia yang dibangunnya, meskipun secara bentuk (struktur) biasa saja. Cerpen dan novel Kuntowijoyo bisa sebagai pintu masuk apa yang saya maksud. Secara bentuk karya Kuntowijoyo boleh dikatakan konvensional, namun prilaku dan pandangan tokoh-tokohnya berhasil mengusung sisi budaya (Jawa) yang inkonvensional. Yaitu, sisi budaya yang tidak gampang dimaknai, sebab meskipun terlihat sederhana, ia sesungguhnya sangat kompleks.

Kesusastraan tanpa Kehadiran (Apresiasi) Sastra

M. Taufan Musonip
Lampung Post, 17 Maret 2013

SECARA ekstrem apakah dapat dikatakan sebuah krisis kebudayaan dapat disebabkan manusia kurang memperhatikan sastra sebagai produk kebudayaan di antara produk lain yang berkembang dalam masyarakat? Sastra Tanpa Kehadiran Sastra sebagaimana ditulis oleh Wiratmo Soekito (Sastra dan Kekuasaan: 1984) dalam kacamata hari ini bisa jadi merupakan gambaran kondisi masyarakat yang dilingkupi karya sastra, pada situasi tanpa keterjalinan komunikasi sehingga gagasan-gagasan yang dibangun dalam sebuah karya sastra mengenai kebaikan, melalui hantaran daya estetik belum menjadi tempat rujukan lain dalam usaha membangun pencerahan.

Ada Apa Dengan Sastra Nusantara?

Tri Harun Syafii
analisadaily.com 12 Nov 2012

Ada apa dengan sastra Nusantara? Pertanyaan ini sudah terlintas lama di benak para pecinta sastra Nusantara. Belakangan ini, heboh bahwa bahasa daerah mulai hilang popularitasnya di zaman yang modern ini. Bahkan, peranannya dalam membudayakan tradisi pun semakin tidak dipandang sebagai sesuatu yang ‘Wah’. Sungguh sangat disayangkan.

Padang, Tuan Rumah Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya

Dasman Djamaluddin *
http://kuflet.com 12/02/2012

Pertengahan Maret ini, InsyaAllah, para sastrawan dari berbagai negara tetangga, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan lain-lain, termasuk Indonesia sendiri akan bertemu di Kota Padang, Sumatera Barat. Di sana akan diselenggarakan Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) yang pertamakali dari tanggal 16-18 Maret 2012.

Pengantar dari Korrie Layun Rampan

Korrie Layun Rampan
http://gampiran.wordpress.com/

Pertama kali saya membaca embriyo Gampiran (Rampan, 2011: 121-5) saat menyusun antologi cerita pendek Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia. Buku itu diterbitkan sebagai dasar senimar sastra yang diadakan pada tanggal 7 Desember 2011 tentang pendidikan dan kreativitas sastra di Kalimantan Timur.

Rupanya Gampiran dilanjutkan dalam bentuk novel, meskipun ada beberapa perubahan pada tokoh dan latar, namun perubahan itu tidak membawa dampak pada alur dan tema. Pusat temanya pada lingkungan hidup tetap utuh dan tajam. Pengakhir novel menjadi happy ending sedang pada cerpen dilakukan pengakhiran sedih secara terbuka.

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan