Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Dongeng Upacara Rumah Kardus

Judul: Dongeng Upacara Rumah Kardus
(Interpretasi puisi Malkan Junaidi yang bertitel
"Dongeng Upacara Rumah Kardus" dalam "Lidah bulan")
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013
Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Kerlip Rindu di Matamu

Judul: Kerlip Rindu di Matamu
(Interpretasi puisi Ary Nurdiana yang bertitel "Kerlip Rindu di Matamu")
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013
Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper 

Jaran Dawuk

Judul: Jaran Dawuk
(Interpretasi puisi Tosa Poetra yang bertitel "Jaran Dawuk")
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013
Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Bukan Cinta Biasa: Sarongge Mengembara ke Negeri Suram

Hang Kafrawi *
Riau Pos, 20 Jan 2013

PERISTIWA dalam karya sastra merupakan peristiwa yang diunggah dari peristiwa yang terjadi di kehidupan manusia (realita). Walaupun demikian, peristiwa dalam karya sastra dirangkai dengan imajinasi pengarang; menambah, mengurang, sehingga karya sastra tersebut memunculkan keterkejutan; keasikan untuk terus menelusuri peristiwa-peristiwa yang dibentangkan di dalam karya sastra tersebut.

Mengapresiasi Sastra dan Sastrawan

Fakhrunnas M.A. Jabbar
Lampung Post, 6 Jan 2013

SASTRAWAN Hamid Jabbar?sebagaimana juga sastrawan-sastrawan lain?semasa hidupnya sering diundang baca puisi atau menjadi juri. Pihak pengundang bisa beragam. Mulai instansi pemerintah, paguyuban, sanggar seni, kampus atau sekolahan. Hamid biasanya pasti menanyakan: berapa honor yang mau diberi? Soalnya, sering honor yang diterima hanya pas untuk bayar ongkos taksi pergi-pulang ke tempat acara.

Gadis Itu Bernama Yang Liu

Nasrulloh Habibi *
Riau Pos, 6 Jan 2013

AKHIR dan awal tahun Desember esok menjadi pergantian masa dimana momen itu akan digunakan masyarakat Indonesia untuk merayakan datangnya tahun baru. Seperti biasa, serangkaian acara akan digelar mulai dari pesta kembang api, nonton film, berkeliling kota, mendaki gunung atau bahkan sekadar kumpul bersama teman di rumah dengan menikmati masakan yang diracik sendiri untuk menghabisi malam di akhir tahun.

Seni dan Hubungan Harmoni

Isbedy Stiawan Z.S. *
Lampung Post, 23 Des 2012

UNTUK melihat suatu daerah dapat dikatakan harmoni, lihat kehidupan kesenian di sana tidak mati, kata Taufik Rahzen.

Kesenian, setelah agama dan filsafat, sudah barang tentu memiliki peran bagi keseimbangan (harmoni) kehidupan manusia. Kesenian dipandang mampu menyelaraskan hubungan antarmanusia. Kalau seni sebagai bentuk ekspresi seorang seniman dalam melihat fenomena dan hubungan manusia yang ada, tentu masyarakat penikmat akan merasakan getarnya.

Ibu Adalah Puisi

Alex R. Nainggolan *
Lampung Post, 30 Des 2012

IBU adalah puisi. Puisi bagi kehidupan. Puisi yang panjang terbentang. Di setiap denyut nadinya, langkahnya, ataupun helaan napasnya. Maka, berbahagialah kaum hawa—yang notabene kelak menjadi Ibu bagi anak-anak mereka. Dengan segala kegetiran dan kesenangan terhadap kehidupan, pula setelah mengandung anak mereka selama kurang lebih sembilan bulan. Mereka (kaum Ibu) paham bila mereka tengah menjalani kodrat. Menyimpan apa yang ada di pikirannya saat menjalani masa kehamilan. Menangguhkan segenap derita—yang mungkin akan dialaminya bagi anaknya.

Gadis Berkerudung Biru

Ahmad Rofiq *
Seputar Indonesia, 27 Sep 2009

Pada akhirnya, aku dapatkan juga kesempatan emas itu. Setelah kemarin kontak dengannya lewat sepucuk surat, gadis itu setuju, bahkan dengan senang hati menerima ajakanku jalan-jalan. Aku katakan padanya juga, kami berencana menyusuri jalan pantura saat senja mengambang. Akan kami reguk pesona alam saat rona jingga mengkuasi permukaan langit barat. Dan kami akan mengukur ketebalan aspal jalan hasil karya tuan Daendels yanga asli Belanda tersebut.

AMA ni MOLLING

Saut Poltak Tambunan
Suara Karya, 29 Des 2012

“HOIII, Ama ni Molling, duduklah sebentar, buru-buru mau ke mana?” sapa seseorang yang tampaknya mulai mabuk di kedai tuak Lapo Sipitudai.

“He he he,” Ama ni Molling hanya tertawa menyeringai sambil mengemas bungkusan makanan yang dibelinya. Giginya coklat semua kebanyakan merokok.
“Sesekali ngobrollah sini,” sambung yang lain.

Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?

Dari Ceramah Temu Sastrawan se-Bali 2003
Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Bali saat ini sepertinya masih enggan atau kurang berminat untuk dihimpun dalam sebuah komunitas, perkumpulan, atau organisasi sastrawan. Selain karena rata-rata sastrawan (seniman) tersebut tidak mau dan juga “sulit diatur”, juga masih ada “trauma” melihat pengalaman atau sejarah masa lalu. Dulu, pernah bermunculan organisasi atau perhimpunan seniman di Indonesia yang akhirnya justru menjebak seniman pada kegiatan-kegiatan di luar dunia kreativitas kesenian — seperti politik praktis dan faham-golongan — yang terbukti kemudian “membunuh” masa depan kesenian dan seniman, bahkan memicu perpecahan.

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan