Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

MENGENALI WUJUD CERITA PENDEK INDONESIA KONTEMPORER

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Dalam wacana sastra, ketika seseorang mendengar kata “cerita pendek” atau yang lebih populer disebut “cerpen”, asosiasi pemikiran tentu akan langsung memuara pada jenis cerita (fiksi) yang sifatnya pendek. Sesuai dengan namanya, “cerpen” memang merupakan bentuk fiksi yang berdurasi singkat, padat, intensif, dan sugestif. Proses kreatif pelahirannya pun mempersyaratkan unsur-unsur tertentu atau terbatas, yang dipilah dan dipilih secara selektif serta efektif.

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

Suara-suara yang Ditiupkan ke Dalam Dada (1)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Cerpen ini pernah dimuat di Jurnal Cerpen Indonesia edisi X tahun 2009.

NASIB? Sama sepertiku, kau juga tak percaya kalau nasib seseorang sudah lama diguratkan. Anggapan itu kau simpulkan pada suatu siang saat kau duduk di atas kloset. Nasib, menurutmu: jalinan sebab demi sebab, kejadian demi kejadian, dan buah-buah akibat dari pohonan keputusan.

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (2)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Dan aku tak habis pikir, ketika ada beberapa perempuan yang dengan terang-terangan mengaku mencintaimu, kau menanggapi mereka dengan tertawa. Kau menolak perempuan-perempuan itu dengan cara yang halus dan terkesan berlebih-lebihan. “Hak setiap manusia untuk mencintai manusia lainnya, tetapi menurutku pacaran hanya akan menyulut api permusuhan dan membuang-buang waktu.”

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (3)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

“Seperti kebanyakan orang di dunia, aku mengutuk kekejaman Amerika, tetapi seperti kebanyakan orang pula aku tak menyukai jalan perang.” Kau menunduk, lalu membuka-buka koran yang tadi disodorkan Gazali.

“Bukankah Allah telah menyuruh kita memerangi orang-orang yang memusuhi Islam. Jelas sekali itu tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 190,” kata Gazali lancar seakan sudah mengatakannya berkali-kali.

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (4)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Di kamar Gazali kau menemukan banyak buku, majalah, kliping koran, seperangkat komputer dan lukisan kaligrafi di dinding. Ia mengijinkanmu mengetik puisi-puisimu di komputernya kapan saja. Ia juga memberimu alamat-alamat majalah dan koran, dan menyuruh mengirimkan karya-karyamu. Gazali sering pula mengajakmu mengunjungi beberapa penulis yang tinggal di Jogja, yang karya-karyanya pernah kau baca dan kau terkagumi. Disarankannya pula kau membaca buku ini dan itu, mengecek koran hari Minggu, dan dinasehati untuk tetap bersabar jika tulisanmu tidak dimuat.

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (5)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Peristiwa itu membuatmu jengkel dan tak pernah lagi memasuki kamar Gazali. Selama itu kau banyak menghabiskan waktu di sanggar teater yang kebetulan tengah berencana mementaskan sebuah naskah drama yang mengisahkan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Tahu rencana itu kau tergoda untuk mengikutinya.

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (7-Selesai)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Begitulah, sejak itu kau memanggilnya Nitse. Sebelum kau mengunjungi kamarnya, kau pernah menyangka jika ia seorang yang malas, sebab kau jarang melihatnya di ruang kuliah dan jika pun ia ada, kau sering melihatnya tertidur di dalam kelas. Tetapi kau buru-buru menyadari kekeliruan atas sangkaanmu setelah masuk kamarnya siang itu. Kau menebak Nitse rajin membaca, jarang tidur malam dan mencuci pakaian. Tetapi Nitse tak setuju kalau dibilang rajin membaca, sedang untuk begadang dan malas mencuci pakaian ia tak membantah. Kau juga mengatakan, kalau Nitse senang minum minuman keras, tetapi tak senang perempuan. Nitse hanya tertawa mendengarnya.

Khazanah HAM Cak Nur

Judul Buku : Islam dan Hak Asasi Manusia dalam Pandangan Nurcholish Madjid
Penulis : Mohammad Monib dan Islah Bahrawi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : 2011
Tebal : cover + xxvii + 354 hlm.
Peresensi : Hasnan Bachtiar*
http://sastra-indonesia.com/

Naturalisme

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

DI DUNIA sastra (novel) dan sastra dunia, gerakan literature, pendiri dan penganut gerakan naturalis adalah Imile Frangois Zola (Pengucapan Perancis: [emil zo’la], yang mengemukakan fahamnya bahwa ‘’alam terlihat melalui temperamen’’ yang dikenal dengan istilah Zola Naturalisme. Ia lahir di Paris, Perancis, dan dikenal dalam dunia sastra dan sastra dunia sebagai novelis dan kritikus Perancis, selain kontributor penting untuk pengembangan naturalisme teater.

Puisi-Puisi Amien Kamil

http://oase.kompas.com/
Percakapan Dengan Elliot

“Ia telah menjadi mummi!”

Entah apa yang ada dipikiran Isa hingga menjadikan dirinya layak dikenang bagai Fir'aun. Kabarnya sebelum singgah hadir ke dunia dan diberi nama “Elliot”, ia migrasi lewat kiriman paket patung bouroq seorang teman dari pulau dewata. Wujudnya berupa beberapa butir telur cecak yang tersembunyi pada sambungan bagian sayap, lantas menetas saat bulu-bulu angsa luruh beterbangan dari angkasa saat musim dingin menyelimuti kota Berlin.

SELAMAT DATANG DI MOUSELAND!

Antologi puisi 10 KELOK DI MOUSELAND
Janoary M Wibowo
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/

Jalanan di sini gelap dan penuh kelokan. Seperti hidup, bukan? Jika terpeleset di tikungan, pahamilah setiap luka adalah tanda kau pernah berkunjung ke Mouseland.

“You know, Michael. The worst thing in this world is to know too much. You’d better try to stay naïve. It’s much better.” kata Eli Wurman—diperankan oleh Al Pacino—dalam film People I Know. “Dunia ini relatif. Yang salah di tempat ini bisa jadi sahih di tempat lain.” perkataan Tristan kepada Bodhi dalam Supernova karya Dewi Lestari.

RENDEZVOUS– Sebuah buku Antologi puisi

Abdul Wachid B.S. *
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/

Antologi puisi berjudul Randezvous, yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah 2011, cukup menarik perhatian saya. Dikatakan oleh Wijang J. Riyanto bahwa: “wilayah Banyumas, Semarang, Pati dan sekitarnya, merupakan contoh sebagian wilayah yang memiliki potensi literasi puitik yang patut diperhitungkan dan dicatat.” Ini memang benar sekali, mengingat puisi menampilkan representasi, baik realitas, praktik sosial, maupun makna sosial. Referensial yang dibangun oleh bahasa setiap penyair pada aspek hakikinya adalah ruang yang memiliki entitas.

Berbincang Licentia Poetica dalam Tempurung Tengkurap

Desi Sommalia Gustina
Riau Pos, 5 Feb 2012

KITA tahu, setiap penyair memiliki lecentia poetica dalam penulisan puisi yaitu kebebasan memilih cara dan daya ungkap puisi. Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat dan dapat menghasilkan totalitas pengungkapan. Licentia poetica oleh Shaw (1972:291) dikatakan sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki. Dengan kata lain, licentia poetica merupakan kebebasan memanipulasi kata oleh penyair demi menimbulkan efek tertentu dalam karyanya dan terkadang menabrak kaidah dasar berbahasa.

MEMAKNAI PUISI, SEBERAPA SUSAHKAH?

Wardjito Soeharso
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/

(1)

Saya termasuk orang yang memaknai puisi dengan sederhana. Bagi saya, puisi adalah rangkaian kata-kata yang indah. Keindahan itu dapat diperoleh dengan berbagai cara: mengatur rima, irama; pemilihan kata (diksi); sampai gaya penulisan (tipografi). Prinsipnya, di mana kata-kata disusun sedemikian rupa, lalu dari susunan itu diperoleh suatu keindahan (estetika), maka susunan kata-kata itu layaklah disebut sebagai puisi.

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan