Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Setahun Pelangi Sastra Malang

Denny Mizhar
__Pelangi Sastra Malang

Pada mulanya adalah pertemuan yang sering terjadi antara saya dan Ragil Supriyanto yang biasa dipanggil Ragil Sukriwul. Saya diajak gabung di Komunitas Mozaik Malang dengan gerak yang merambah dunia seni dan sastra. Tetapi saya belum intens, hanya ketika Mozaik dengan penerbitannya menggarap antologi cerpen yang diberi judul “Pledoi: Pelangi Sastra Malang dalam cerpen” saya dimintanya untuk memegang tanggung jawab di bagian produksi: membantu mencari dana penerbitan hingga buku tersebut terbit pada tahun 2009.

Bayang Negeri Tropis

Yusri Fajar *)
http://nasional.kompas.com/

Akhirnya aku tiba di negeri kelahiran Shakespeare, sastrawan ternama Inggris yang dikagumi banyak orang. Pilot mengumumkan beberapa saat lagi pesawat akan mendarat. Hari masih pagi namun bandara Internasional Heathrow London sudah ramai oleh penumpang yang datang dan pergi. Aku datang ke sini untuk menghadiri pentas puisi sekaligus menemui Carina di kota Leeds. Dari London aku akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Leeds. Carina pasti sudah menunggu kedatanganku.

Manusia diberkahi untuk bebas? Keliru!

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XI kupasan keempat dari paragraf keduanya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Mengenai Sartre bisa dilihat tulisan saya diterjemahkan Agus B. Harianto di http://pustakapujangga.com/2010/11/why-does-jean-paul-sartre-stay-exist/ Kini mengudar pahamnya “Man is condemned to be free” (Manusia dikutuk untuk bebas) yang saya benturkan “Man is blessed to be free” (Manusia diberkahi untuk bebas)?

Tentang Syair dan Penyair

Hary B. Kori’un *
http://www.riaupos.co/

SUATU hari, sebuah surat masuk ke alamat e-mail redaktur. Seorang penyair muda –dia mengatakan dirinya baru belajar menulis sajak— mengirim beberapa sajak ke tubuh e-mail, tidak melalui file lampiran. Ada 4 sajak dan temanya seragam, tentang cinta yang kandas. Yang membedakan hanya kata dan bahasanya. Terjadi diskusi antara penyair kawan kita ini dengan redaktur.

Melampaui Teologi Multikultural

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kajian tentang teologi multikultur selama ini tak memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan kehidupan umat beragama. Basis berteologi dengan acuan pada nilai-nilai kultural lokal tidak relevan dan hanya berpotensi mengaburkan analisis relasi kuasa yang ada. Kehendak untuk membangun struktur-struktur lokal dalam bingkai pluralitas dalam masyarakat multikultural secara tidak langsung melanjutkan bentuk-bentuk kajian yang kurang membumi.

Mengenal Paruntuk Kana dalam Sastra Makassar

M Farid W Makkulau
http://www.kompasiana.com/mfaridwm

SUATU hari saya duduk – duduk di teras rumah dan menyaksikan orang yang lewat depan rumah. Saat itu ada seorang perempuan yang singgah menanyakan rumah seseorang yang merupakan teman kuliahnya. Menyaksikan paras wanita yang ternyata mahasiswi itu, kontan saya berujar, ”Kuntui bulang sampulo angngappak”. (Artinya Seperti bulan empat belas). Tetangga baru yang mendengar saya berujar demikian bertanya, ”Maksudnya apa tadi pak ?” Saya jelaskan bahwa itu ungkapan terhadap seseorang gadis yang sangat cantik. Ternyata Basa Kabuyu – buyu (sastra tutur Makassar) sudah banyak dilupakan, terlupakan, bahkan sama sekali tidak diketahui oleh masyarakatnya sendiri.

Mencari Jejak Sastra di Tanah Papua

Zulfikar Akbar
http://www.kompasiana.com/soefi

“Papua adalah masyarakat pejuang. Dan pejuang takkan biarkan diri tertinggal dan kelebihan mereka hilang.”

Pembalut kelamin pria yang disebut koteka tergenggam di tangan seorang kenalan yang baru kembali dari tanah Papua. Menyusul cerita-cerita tentang masyarakat di daerah dimaksud, yang lebih menyiratkan kesan bahwa Papua benar-benar masih sangat tertinggal. Kening saya mengernyit, benarkah tepat menyebut mereka masih tertinggal jauh dari masyarakat lain di nusantara ini?

Pendidikan Sex Lewat Sastra Jawa

Widodo DS
http://www.kompasiana.com/eyangwid

SERAT Centhini adalah salah satu naskah sastra Jawa yang bermutu tinggi dan lengkap. Buku kuno ini setebal 4.200 halaman terbagi dalam 12 jilid. Dia sekaligus merupakan asset budaya Jawa yang tak ternilai harganya. Ditulis tahun 1814 – 1823 M. Tim penulis dipimpin oleh Kangjeng Adipati Anom Amangkunegara III, yang kemudian menjadi raja Surakarta, dengan gelar Sinuhun Pakubuwana V (1820 – 1823 M). Para penulisnya adalah para pujangga keraton. Mereka adalah R. Ng. Ranggasutrasna, R.Ng. Yasadipura II, dan R.Ng. Sastradipura atau Kiyai Haji Muhammad Ilhar.

Sastra Lisan dalam Tradisi Amungme

Tjahjono EP
__LPMAK

KADANG kata-kata sebagai lambang-lambang bunyi—tidak cukup mampu menggambarkan (me­ng­eks­presikan) secara utuh pengalaman batin manusia tentang rasa sedih, senang, marah, cinta dan takjub.

Arnold Mampioper dalam bukunya “Amung­me, Ma­nusia Utama dari Nemangkawi Pegu­nung­an Car­tenz” menuliskan, orang Amungme akan menge­luar­kan bunyi-bunyian yang khas (siul), ketika ber­diri dari atas sebuah bukit dan me­natap gunung Ne­mangkawi yang dilatarbela­kangi langit bersih dan sedikit awan Cirrus, dan dilerengnya terlihat asap mengepul dari ru­­mah-rumah penduduk.

Desember yang Beku

Cikie Wahab *
http://www.riaupos.co/

Saat mendarat di Trudeau International Airport, Ink buru-buru menemui Bonita di ruang kedatangan. Perjalanan selama empat puluh dua jam itu membuatnya begitu lelah. Bonita menyambutnya dengan riang. “Welcome!”

“Oh, Boni,” kata Ink ketika mendapati Bonita ada di depannya dan langsung memeluknya.

Burung Cenderawasih

Burung Cenderawasih (Bahasa Sentani: Hiyare)

Diceritakan kembali oleh: Ramses Ohee
http://sastralisanpapua.blogspot.com/

Burung cenderawasih sangat indah dilihat, namun sangat sulit untuk didapatkan. Bulu burung cenderawasih yang halus memiliki daya tarik tersendiri untuk dimiliki. Bulunya yang berwarna putih dan kuning cerah sangat serasi dengan kombinasi warna coklat di bagian ekor.

Awan Hitam Menghadang di Depan

Rilda A.Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

Esok adalah boxing-day dan Ray sudah menyiapkan rencana. Pagi-pagi benar, ketika gelap masih melingkupi putih salju, ia akan membawa kantung tidurnya ke pusat kota. Ia akan menyiapkan setermos teh panas dan menyelipkannya di kantung sisi ranselnya. Ia akan bersepeda dari rumah sewanya dan menempati tempat pertama di depan antrian pintu swalayan Fenwick.

Cerita Rakyat Yapen

diceritakan kembali oleh: Yan Maniani
http://sastralisanpapua.blogspot.com/

Di daerah Yapen Timur, tempatnya di daerah Wawuti Revui terdapat sebuah gunung bernama Kemboi Rama. Masyarakat berkumpul dan berpesta di gunung itu. Di gunung itu juga tinggal seorang raja tanah atau Dewa bernama Iriwo Nowai. Dewa itu memiliki sebuah tipa atau Gendang yang diberi nama Sokirei.

Kangmas dan Diajeng

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.seputar-indonesia.com/

ENTAH karena habis melahap lempuk durian seberat dua ons menjelang petang, atau karena sudah satu pekan meninggalkan istri, malam itu Kangmas memberanikan diri mengetuk pintu kamar tempat Diajeng menginap.

Terjadinya Danau Sentani

Diceritakan kembali oleh: H.H. Tokoro
http://sastralisanpapua.blogspot.com/

Pada zaman dahulu kala tinggallah dua orang bersaudara, yang tua bernama Hokhoitembu dan yang muda bernama Hokhoiela. Hanya mereka berdua yang tinggal di sebelah selatan Danau Sentani. Untuk makan sehari-hari mereka mengembara di hutan-hutan mencari binatang buruan. Binatang buruan inilah yang menjadi hidangan mereka setiap hari.

Tebing

Yetti A. KA
http://lampungpost.com/

BELAKANGAN, aku sering merasa tiba-tiba berada di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

CABO DAN BATU AJAIB *

Cerita Rakyat dari Kampung Kayubatu
Dikembangkan oleh: Eni Suryanti, S.Pd.
http://sastralisanpapua.blogspot.com/

Ratusan tahun yang telah silam di Papua terdapat beberapa kampung pembuat panci ataupun pembuat perkakas dapur dari tanah. Salah satu dari kampung-kampung itu adalah kampung Kayubatu yang letaknya di Teluk Imbi, Jayapura. Penduduk Kayubatu pada saat itu terdiri dari 16 kepala keluarga yang masing-masing keluarga terdiri dari 60 hingga 80 orang.

Sastra Islami Indonesia

Alimuddin
http://blog.harian-aceh.com/

Pembicaraan mengenai sastra Islam di Indonesia, hampir selalu mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal yang itu-itu juga, pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai “pengkotak-kotakan sastra“, serta masalah definisi dan kriteria sastra Islam. Bahkan, hingga kini, eksistensi Sastra Islami di Indonesia masih ‘mengambang’. Beberapa pihak ada yang menolak apa yang disebut Sastra Islami. Uniknya, kebanyakan dari mereka adalah dari pihak muslim sendiri.

DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Pada tanggal 02 Oktober 2011 yang lalu, tepatnya pukul 20:08 WIB, di Grup Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), terjadi satu interaksi sangat menarik dengan tema pembahasan “licentia poetica” dalam sebuah diskusi yang diawali oleh posting Dimas Arika Mihardja (DAM) melalui tulisan:

CAHAYA DI UFUK KEJUANGAN

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci.

ZAITUN, CAHAYA DI ATAS CAHAYA*

Nurel Javissyarqi**
http://sastra-indonesia.com/

Prolog (QS.24:35):
“Ia pemberi cahaya lelangit dan bumi.
Perumpamaan Cahaya-Nya ibarat kurungan pelita
(miskat), yang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu
berada di dalam kaca; kaca tersebut bagaikan bintang
cemerlang serupa mutiara, yang dinyalakan dari pohon
yang banyak berkahnya; yaitu pohon zaitun,
yang berasal bukan dari barat, dan bukan dari timur.
Yang minyaknya saja, hampir-hampir menerangi, meski
tak dinyalakan dengan api. Cahaya di atas segala cahaya!”

KIBAR BENDERA SI SARTO DI HALAMAN RUMAH

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Para Tokoh;

Sartib, lelaki kampung yang berusia 40-an. Hari-harinya dirundung sedih karena belum genap seratus harinya ditinngal istri tercintanya.

Sarto, Bocah laki-laki berusia belasan tahun. Ia bisu dan kurang normal pikiranya, tapi ia punya semangat hidup yang tinggi.

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid.

Ayu dan Fenomena Bilangan Fu

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Syahdan, di sebuah kota tua bernama Merv, hidup seorang lelaki yang berdagang kain celup. Sebuah kerajinan yang terkenal di sekitarnya sebagai pemalsu. Suatu hari ia menghilang. Terdengar kabar ia muncul di Khurasan dan kelak memangku jabatan sebagai hakim di lingkungan orang-orang muslim. Entah kebetulan atau suratan nasib, namanya sendiri adalah Hakim. Orang menyebutnya Nabi Tabir. Pada masa kekhlaifahan Mohammad al-Mahdi (khalifah yang dikenal cukup longgar terhadap orang-orang yang menikmati hubungan mesra dengan Tuhan), ia memiliki para pengikut begitu banyak, yang terkadang ngawur dan gawat hingga sang khaifah tak lagi kuasa menyembunyikan kemarahan.

Agus Sunyoto: Pesantren Jaga Identitas Bangsa

http://www.nu.or.id/

Budayawan dan sejarawan Agus Sunyoto berharap komunitas yang berbasis pada pesantren perlu dijaga eksistensinya agar tidak tergerus oleh kejamnya zaman. Hal ini lantaran “pesantren sejak lama telah menjaga identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Ia berharap agar kontinuitas berkarya dan sosialisasi oleh berbagai komunitas ini ke pesantren-pesantren di pelosok negeri ini terus dikembangkan dalam rangka menjaga eksistensi lembaga pendidikan dan kebudayaan tertua di nusantara ini.

SEGI TIGA SASTRA DI WILAYAH BORNEO

Korrie Layun Rampan *
Kaltim Post, 5 Sep 2007, Jurnal Toddopuli, 9 Des 2008.

Segi tiga sastra di sini dimaksudkan adalah tumbuh dan berkembangnya eksistensi sastra di wilayah Borneo dan Kalimantan. Istilah Borneo meliputi negara Brunei Darussalam dan Malaysia Timur (yang mencakup: Labuan, Sarawak, Sabah) dan wilayah Kalimantan mencakup empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (sebentar lagi akan lahir Provinsi Kalimantan Utara). Sejak 20 tahun lalu dimulai “Dialog Borneo-Kalimantan” yang dilaksanakan di Miri, Sarawak, 27-29 November 1987.

Sastra Pesantren dalam Pergulatan

K. Ng. H. Agus Sunyoto
http://pesantrenbudaya.com/?id=28

KH Abdurrahman Wahid (1973) memberikan abstraksi tentang sastera pesantren dalam dua definisi, pertama, karya-karya sastera yang mengeksplorasi kebiasaan-kebiasaan di pesantren,. Kedua, adanya corak psikologi pesantren dengan struktur agama (warna religius) yang kuat. Sementara Ahmad Tohari (2003) menegaskan bahwa sastera pesantren adalah sastera yang membawa semangat budaya dan tradisi pesantren, yaitu sastera yang membawa spirit religius ala pesantren dan ditulis oleh komunitas pesantren sendiri.

Sastra Numera, Nusantara Melayu Raya

Lily Siti Multatuliana *
http://www.kompasiana.com/multa2001

Pengertian konsep Nusantara bagi kebanyakan orang Indonesia adalah sama dengan Negara Indonesia, akan tetapi bagi dunia International yang disebut Nusantara adalah mencakup Negara-negara Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei serta Pilipina Selatan dan Thailand Selatan dimana bangsa Melayu menetap.

Pada awal Desember tahun lalu saya diundang oleh SN Datuk Ahmad Kamal Abdullah yang sering dipanggil Datuk Kemala, untuk menghadiri Dialog Sastra Numera.

Sastra-Indonesia.com