Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Setangkai Anggur

Akhmad Muhaimin Azzet *
http://www.kompasiana.com/akhmad_muhaimin_azzet

Setiap lepas Maghrib, lelaki setengah abad yang entah datang dari mana itu, terlihat khusyuk memutar-mutar biji tasbih di pojok kanan shaf awal mushala. Dia baru berhenti tatkala kentongan pangkal bambu yang tergantung di dekat tempat wudhu, dipukul bertalu-talu. Kemudian dia dengan khusyuk pula, mendengar lantunan adzan Isya’ dari mulut anak-anak yang kerap masih belum fasih benar. Meski untuk hal yang satu ini, dia kadang mengelus dada. Prihatin. Sebab, remaja tanggung, orang dewasa, dan bahkan yang tua-tua, baru berdatangan menjelang iqamah. Itu pun paling banyak tiga shaf, belum pernah penuh.

Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik

Ragdi F. Daye *
http://www.harianhaluan.com/

Rinai Kabut Singgalang (RKS) karya Muhammad Subhan terbit pada Januari 2011 me­nye­marakkan dunia sastra Indonesia. Novel ini seperti gabungan antara novel semi­biografis dan novel islami, hanya saja menggunakan gaya bahasa klasik, seperti karya sastra Indonesia paruh pertama abad 20. Novel ini membawa ingatan saya pada gaya tutur roman Siti Nurbaya atau pun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; gaya bahasa yang men­dayu-dayu seperti puisi dan cenderung menggunakan kali­mat inversi—predikat menda­hului subjek.

Andai Seniman (Jadi) Pahlawan

Ari Kristianawati *
http://www.lampungpost.com/

Minimnya tokoh seniman dalam daftar pahlawan nasional dan juga dari daftar usulan kandidat pahlawan nasional yang tercatat di Kementerian Sosial merupakan bentuk kegalatan intelektual bangsa. Bangsa ini tidak mampu menghasilkan koridor pemikiran yang cerdas, kritis, jernih, dan objektif tentang definisi dan peran fundamental kepahlawanan nasional.

Agenda Besar Kebudayaan

Yudhistira ANM Massardi
Kompas, 29 Agu 2009

BANGSA besar adalah yang juga berjiwa besar dan berpikir besar. Bukan yang selalu reaktif, tetapi yang kreatif dan proaktif.

Untuk menegakkan martabat dan mempertahankan kualitas kebudayaan bangsa yang besar, pemerintah bersama seluruh pewaris, pemilik, dan pelaku kebudayaan harus berani membuat rencana dan kerja besar, sekarang juga. Seluruh energi nasional diperlukan untuk menyalakan apinya agar kerja bisa terus terjaga dan cahayanya semarak di langit luas.

Membaca Kepeloporan Taufiq Ismail

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 25 Mei 2008

SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.

Maka, Rabu (14/5) di Auditorium Mahkamah Konstitusi, Jakarta, tiga buku tebal pun diluncurkan untuk memaknai 55 tahun pergulatan Pelopor Angkatan 66 itu dalam sastra Indonesia. “Taufiq Ismail tidak bermaksud memeringati usianya, tapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” kata Ketua Panitia Pelaksana Acara ‘Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia’, Fadli Zon.

Perbuatan utama Taufiq sebagai pengarang, sebagai sastrawan, adalah menulis. Dan, itulah yang dilakukan Taufiq selama 55 tahun (1953-2008). Tidak kurang dari 517 puisi, 346 prosa, dan 96 lirik lagu, telah ditulisnya. Hasilnya adalah buku kumpulan puisi setebal 1.076 halaman, dua buku kumpulan prosa setebal 880 halaman dan 801 halaman, serta bu…

Makna Satu Abad Budi Utomo

Iwan Gardono Sujatmiko*
Kompas, 16 Mei 2008

BUDI Utomo didirikan oleh Soetomo, Goenawan Mangoenkosesoemo, Soewarno, Goembreng, Mohammad Saleh, Soelaeman, Soeradji dengan dukungan dr Wahidin pada 20 Mei 1908 di sekolah dokter STOVIA, Jakarta. Namun, pada tahun 1935, Budi Utomo telah meleburkan diri dengan Partai Bangsa Indonesia menjadi Partai Indonesia Raya atau Parindra.

Budi Utomo dapat dilihat sebagai suatu organisasi yang mendorong terjadinya gerakan sosial yang bertujuan melakukan perubahan sosial berupa kesejahteraan dan kemanusiaan di Hindia Belanda. Hatta dalam tulisannya, ”Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia” (1930), mengutip pernyataan tokoh politik etis, Conrad Theodore van Deventer, tentang berdirinya Budi Utomo, ”Suatu yang ajaib terjadi, Insulinde [Kepulauan Hindia] molek yang lagi tidur sudah bangun.”

Saat itu perlawanan sering kali berbentuk perang oleh kerajaan/ daerah atau kritik oleh perorangan, seperti sastrawan, wartawan, atau bangsawan. Perang gag…

Hegemoni dan Inferioritas Bahasa

Lugiena Dé*
Pikiran Rakyat, 17 Mei 2008

KEBIJAKAN membakukan bahasa Sunda dialek Bandung sebagai bahasa Sunda standar di wilayah keresidenan Jawa Barat mulai diterapkan pemerintah Kolonial sejak 1872 (lihat Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19 karya Mikihiro Moriyama).

Dengan menggunakan kata “standar”, jelas pemerintah memang bermaksud mempermudah pemakaian bahasa Sunda. Namun, karena makna “standar” juga erat kaitannya dengan pembentukan dogma/kanon, pembakuan tersebut menjadi awal babak baru hegemoni bahasa. Dan yang patut dicatat, motif dari kebijakan penetapan itu juga tak luput dari nuansa kepentingan penjajahan.

Moriyama menyebutkan, alasan pemerintah Kolonial memilih dialek Bandung sebagai bahasa Sunda standar lantaran dianggap masih murni. Namun tak jelas, apa yang dimaksud murni oleh pemerintah Kolonial. Pasalnya, bahasa Sunda dialek Bandung waktu itu sebetulnya sudah banyak terpengaruh oleh bahasa Jawa. Salah satu contoh pengaruh yang p…

Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner

Asarpin *
http://asarpin.blogspot.com/

Setiap yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya… Sebab saya tak mau terombang-ambing dalam wilayah yang cenderung tak bertuan.
–AFRIZAL MALNA, dalam esai ”Proses Kreatif”, dimuat dalam bagian akhir buku himpunan puisi Kalung dari Teman.

Dan waktu adalah air
–AFRIZAL MALNA, fragmen puisi ”Fanta Merah untuk Dewa-dewa”

Untuk membuat sebuah lukisan, tak perlu harus menggunakan kuas dengan cat aneka warna. Penyair bisa melukis lewat sajak ke dalam benak pembacanya melalui perkakas bernama kata-kata. Ia bisa memvisualkan kata-kata sambil menyuguhkan gambar dalam pikiran pembaca.

Afrizal Malna, penyair yang muncul pada awal 1980-an ini, termasuk salah satu penyair yang dengan intens membuat puisi bagaikan melukis dengan kata-kata. Ia berusaha menyuguhkan puisi kepada pembaca dengan memvisualkan dan menggambarkan kata-kata dengan merdeka, atau kata-kata sengaja dihadirkan sebagai gambar-gambar.

Sejak buku himpunan puisi Arsitektur Hujan, sudah tampak…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan