Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Membaca Katarsis karya “HADI NAPSTER”

Epilog “KATARSIS” Karya Hadi Napster
Imron Tohari
http://sastra-indonesia.com/

Ketidaksempurnaan dan kerusakan, yang terlihat di mana pun,
semuanya adalah cerminan keindahan.
Pengatur tulang, di manakah dia dapat mencoba ketrampilannya
kalau bukan pada persendian yang patah? Penjahit di mana?
Tentunya bukan pada busana siap yang indah potongannya.
Bila tiada tembaga kasar ditempat peleburan,
bagaimana ahli kimia dapat mempertunjukan keahliannya? (Jalaluddin Rumi)

Penciptaan karya sastra puisi,sajak,syair, merupakan hasil dari suatu proses pengamatan dan atau bahkan pengalaman pribadi penulisnya yang selanjutnya memantik simpul-simpul kejiwaan/ pyscologis dan atau menyentuh sisi kerohanian pengkarya cipta (Baca:Penyair) yang disampaikan dalam bentuk lisan dan atau tulis, dengan suatu tujuan memberi kebaharuan piker pada dirinya pribadi selaku pemilik fisik karya, serta pada penghayat/penikmat baca selaku pemilik hak atas makna yang ditangkap dari symbol-symbol bahasa yang tersirat pun tersurat p…

Temu Sastra Indonesia 2011 Digelar di Ternate

http://www.umm.ac.id/

Temu Sastrawan Indonesia IV Tahun 2011 akan digelar di Ternate, tanggal 25 – 29 Oktober 2011. Tidak kurang dari 200 sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia akan bertemu untuk bermusyawarah, mengikuti seminar nasional, pesta sastra dan peluncuruan beberapa karya sastrawan.

TSI akan diiukti oleh para sastrawan beken Indonesia serta beberapa sastrawan yang lolos seleksi atas karya yang sudah dikirim ke Dewan Kurator Sastra Indonesia. Sidang Dewan Kurator Temu Sastra IV yang digelar selama dua hari di Jakarta (10-11/9) telah selesai menentukan, memilih dan memastikan karya-karya yang masuk ke dalam bunga rampai esei, cerpen dan puisi yang terpilih dalam event Temu Sastra Indonesia IV yang akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011 mendatang.

"Panitia akan melayangkan undangan resmi kepada semua peserta, baik peserta yang terpilih maupun karya yang lolos seleksi dewan kurator mulai Senin (12/9)," kata Ketua Pelaksana Temu Sas…

124 Sastrawan Siap Mengikuti TSI 4 Ternate

Herdoni Syafriansyah
Sriwijaya Post,6 Oktober 2011

SEBANYAK 124 sastrawan siap mengikuti Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 4 di Ternate, 25-29 Oktober 2011. Untuk cerpenis yang lolos sejumlah 11 orang, sementara penyair 81 orang.

“Ke 92 sastrawan tersebut, lolos seleksi karya oleh Dewan Kurator yang bersidang di Jakarta, 10-11 September 2011,” jelas Dino Umahuk, sekretaris panitia TSI 4 mewakili Ketua Pelaksana, Sofyan Daud.

Ditambahkan Dino, TSI 4 akan diikuti 124 sastrawan (cerpenis-penyair), sebab 32 sastrawan yang khusus telah dipilih oleh Dewan Kurator untuk difasilitasi transportasi dari tempat asal ke Ternate pergi-pulang.

“Jumlah sastrawan itu diluar narasumber, moderator, fasilitator workshop, dan penampil pada malam pembukaan dan penutupan,” kata Dino.

Keputusan tersebut, hasil sidang Dewan Kurator Temu Sastra Indonesia (TSI) IV yang digelar selama dua hari di Jakarta, Minggu (10-11/9). Karya-karya sastra yang terpilih itu akan dibukukan dalam antologi sastra TSI 4.

Salah satu dewan…

Negara Tanpa Bangsa

Fadly Rahman[1]
http://www.kompasiana.com/detikhidup

Bangsa. Kata ini bagi negara sebesar dan semajemuk Indonesia sungguh merupa beban berat jika mengingat kembali pada masa awal kebangsaan itu dicita dan diciptakan.

Dibilang berat, sebab jika kembali merefleksi ikhtiar para penggagas kebangsaan –sebagaimana tiap tahun diperingati sebagai Kebangkitan Nasional, kini sering dipertanyakan: sudah terawatkah benar keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa?

Indonesia sendiri pada mulanya dibangun oleh pemikiran-pemikiran yang berandil memupus kolonialisme. Namun, tidak demikian dengan feodalisme dan fanatisme (kesukuan, agama, dan kelompok) sebagai mental kolektif yang mendarah daging dan kapan saja bisa mengancam integrasi kebangsaan.

Sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20 tatkala kolonialisme berintim dengan budaya politik feodal, menggejalalah penindasan terhadap rakyat. Baron van Hoevell (1847) dan Douwes Dekker (1856) mewartakan betapa penindasan kolonialisme yang berkawin dengan feodalisme…

Cinta Untuk Clodia

Karya penyair Romawi abad 54 SM, Catullus (teks miring)
Penerjemah, pengantar, dan penutup, oleh Fajar Alayubi
***

Pada akhirnya aku harus menjadi seekor burung pipit daripada hanya meniru seekor kolibri.
Pagi ini aku menuju ke tengah ladang keramaian dimana gemeresik bulir padi menguning adalah lagu bagi sang gembala yang menawan ternaknya. Aku sisir angin pagi ini dengan sayap kecilku dari ranting ke ranting lemah yang menghaturkan salam dimana nafas-seruling gembala jadi satu. Aku juga bertengger di bahu orang-orangan sawah untuk membisikan dan bertanya bagaimana ia bisa menyatu dengan ladang yang subur dan menggeretak para penjarah dengan cara diam. O lihat! betapa sahaja dan lugunya sekuntum lily jingga merambat di kakinya dan bernaung dalam bayangnya hingga pencar terang bulan! membuatku terjebak dan tenggelam ke dalam Nirwana sampai diriku begitu sulit untuk bernapas —seperti syal jerami yang tergantung pada tangkainya.
Aku menemukan sebuah cerita yang terkubur, seperti nisan yang t…

Bahasa, Penyair, dan Kreativitas

Rida K Liamsi
Riau Pos, 26 Des 2010

BAHASA adalah rumah, tanah air para penyair. Di sinilah dia lahir dan dibesarkan. Di sinilah dia tumbuh dan berkembang. Dari sinilah kemudian dia mengembara untuk memberi makna kehidupannya, sebelum pada akhirnya pulang kembali ke rumah keabadiannya. Bahasa adalah jati diri penyair. Karenanya, penyair yang kehilangan bahasanya, akan kehilangan segalanya. Kehilangan jati diri. “Yang tak berumah takkan menegakkan tiang,” begitu kata salah satu bait puisi penyair Rainer Maria Rielke “Di Batu Penghabisan ke Huesca” yang diterjemahkan Goenawan Mohammad, salah satu penyair besar Indonesia.

Karena itu pula, salah satu tugas penting seorang penyair adalah memelihara, memperkaya, dan mempertahankan bahasanya. Karena itu adalah perjuangan menegakkan jati dirinya. Apalagi, sekarang ini pada kenyataannya, bahasa adalah salah satu benteng terakhir nasionalisme yang masih bisa bertahan di tengah gempuran globalisasi dan kemajuan tekhnologi informasi. Fungsi, peran, …

Dominasi Estetika

Beni Setia
Pikiran Rakyat, 12 Des 2010

SECARA sederhana, apa yang diributkan sebagai politik sastra itu (barangkali) cuma merujuk ke semacam manipulasi kuasa nonsastra untuk menegakkan otonomi sastra. Baik dengan memanfaatkan modal, dominasi, maupun pemaksaan kriteria sastrawi dengan ditunjang referensi yang luas untuk sekadar melakukan pengangkangan selera keredaksian media massa. Yang menyebabkan hadir sebuah model ekspresi, corak estetika, dan kriteria kebermutuan karya sastra dominan, yang diperkenalkan c.q. teks kritik dan paparan esai sehingga terbentuk preferensi redaksional seni budaya di media massa yang intoleran pada karya yang tak sesuai standar eksklusif tersebut.

Dengan dramatisasi, hal itu menyebabkan terbentuk isu telah terlahir satu model karya ideal, model ideal yang nyaris tidak mengizinkan hadirnya model ekspresi, corak estetika, serta kriteria kebermutuan karya yang berbeda. Yang diandaikan selalu operasional ketika terjadi praktik seleksi naskah di media massa yang …

Emiria Soenassa Membayangkan Nusa

Heidi Arbuckle
Kompas, 12 Des 2010

SEBAGAI peneliti asing, sering kali orang Indonesia berkomentar kepada saya: ”Oh, kamu orang yang meneliti Frida Kahlo-nya Indonesia, ya?” Saya tidak lagi heran mendengarnya, tetapi selalu tergelitik dengan kenyataan bahwa orang Indonesia lebih kenal pelukis perempuan asal Meksiko daripada Emiria Soenassa, pelukis perempuan termasyhur pada zamannya di negeri mereka sendiri. Apalagi, menurut saya, lukisan dan riwayat hidup Emiria tidak kalah menarik dari Frida.

Emiria mengawali kariernya sebagai pelukis pada usia 46 tahun, tetapi semasa hidupnya ia juga dikenal sebagai revolusioner, niagawati, filantropis, dan (mengklaim diri) sebagai seorang bangsawan, yaitu ”Ratu” dari kesultanan Tidore. Dalam majalah Perintis yang diterbitkan tahun 1951, Usmar Ismail menyebut Emiria sebagai seorang ”perintis”, mendudukkan Emiria di samping nama-nama besar, seperti Chairil Anwar dan Kartini. Ismail mengatakan: ”Dan bukan saja berhubung dengan seni lukis. Juru rawat ban…

Mengenang Gus Dur Lewat Sastra

Afandi Sido
http://www.kompasiana.com/afsee

Almarhum Gus Dur dikenal selain sebagai negarawan dan ulama, juga sebagai penulis beberapa karya sastra kontemporer yang menghasilkan banyak buku, termasuk biografinya sendiri yang fenomenal dan beberapa buku kritik zaman. Beberapa karya sastra mantan presiden bernama asli Abdurrahman Wahid ini seperti puisi, catatan-catatan reformasi, humor, dan ulasannya mengenai beberapa keadaan negara saat ini menjadi koleksi berharga bagi beberapa komunitas pecinta sastra. Begitu pula dengan Paguyuban Sastrawan Mataram yang pada Minggu (4/9/2011) malam menyelenggarakan acara kumpul sastra di kawasan Kilometer Nol, Yogyakarta.

Acara bertema “Mengenang Gus Dur” tersebut diisi dengan dialog interaktif tentang beberapa karya sastra Alm. Gus Dur, yang kebanyakan didokumentasikan dalam bentuk buku dan jurnal-jurnal. Dalam sambutannya, panitia menjelaskan bahwa sejatinya Gus Dur selalu hidup melalui karya-karyanya yang dicintai. Selama masih ada masyarakat yang m…

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Dari sudut politik, kita dapat amati setiap menjelang berlangsungnya pemilu. Partai politik, bahkan calon kandidat presiden sekali pun, memprioritaskan agenda utama dalam rangka menggaet suara dari Jawa Timur. Dengan jumlah penduduk yang padat dalam wilayah yang tanggung dibanding Kalimantan, Sulawesi, Sumatera serta Irian, diasumsikan kalau menang pemilu di Jawa Timur, kemungkinan besar menang pemilu di Indonesia.

Secara antropologi, keko…

Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Membicarakan barang rongsokan, yaitu manuskrip atau orang pedesaan menyebutnya sebagai buku kuno pastinya setiap orang mempunyai statemen, setidaknya argumen tekstual tersendiri dalam memperlakukannya. Pihak lain ada substansi otoritas koheren dengan menjadikan manuskrip layaknya benda keramat, seolah-olah terselip teks mantra—yang bahkan bisa juga menjadikan orang impulsifitas; mempraktekkan dan memenuhi sebuah struktur ideal. Discourse masyarakat mengais ide sebagai perpanjangan pertahanan keimanan yang baru dalam kepentingan-kepentingan transendental dan keuniversalan Tuhan, mungkin juga (tentatif).

Masyarakat ada kehendak lain atau inpresif lain pihak bahwa, manuskrip/artefak itu terdapat makhluk Tuhan yang menghuninya, ada ritual (jalinan komunikasi) eksperimentasi dalam membongkar simbolisme terselubung. Ini saya beranggapan sebagai kegelisahan ruang kedap tersendiri untuk membongkar program tindakan yang berada atas eksploitasi sistem-siste…

Laut Kepustakaan Pada, Pada Sebuah Kapal Buku

Muhidin M Dahlan*
Kompas, 7 April 2007

Laut adalah penanda puncak peradaban Nusantara, sekaligus menabalkan negeri ini beroleh gelar unik dan satu-satunya di dunia, sebagaimana dirumuskan M Jamin dalam sefrase judul sajaknya: “Tanah Air”. Dari laut lalu muncul tradisi, pengetahuan, dan juga wibawa.

Hanya di laut meritokrasi bekerja secara alamiah dan apa adanya. Sebab, di laut, resultan antara navigasi (pengetahuan), keberanian (psike), dan keterampilan (pengalaman) berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi.

Oleh karena itu, seseorang, misalnya, tak bisa seenaknya mengaku-aku ’kapitan’ kapal andal, karena laut akan langsung segera mengujinya dengan perubahan cuaca yang cepat dan tak terduga begitu sauh dinaikkan dari bandar. Laut membuat seseorang bisa berdiri tegak dengan pengetahuan otonom yang dimilikinya. Seperti Kertanegara yang bangga dan penuh percaya diri menyerahkan perlindungan kekuasaannya pada serdadu Dipantara yang berjaga di dua ketiak samudra Nusantara.

Namun, di laut jua…

Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

Ignas Kleden *
http://www2.kompas.com/

Istilah “sejarah teks” adalah terjemahan bebas oleh penulis untuk konsep hermeneutik yang lebih dikenal dalam versi bahasa Jerman sebagai Redaktionsgeschichte atau sejarah redaksi. Konsep ini menegaskan bahwa setiap teks yang diproduksi dalam kebudayaan selalu mempunyai semacam riwayat hidup berupa sejarah penyusunan, kodifikasi, perubahan, atau revisi redaksi dan mungkin juga otorisasi teks yang terjadi dari waktu ke waktu.

Mengetahui sejarah redaksi ini merupakan sebuah prasyarat penting untuk menyimak makna teks itu dalam hubungan dengan konteks penciptaan atau penyusunannya karena sering terjadi pergantian atau pertukaran semantik, penambahan anotasi, penyisipan bagian-bagian baru dalam editing, perbaikan sintaksis atau modulasi stilistik, yang mengakibatkan pergeseran makna atau perubahan tekanan pada berbagai bagian teks itu.

Sudah jelas Pancasila adalah sebuah teks utama untuk Indonesia. Dalam sejarah redaksinya, tanggal 1 Juni 1945 menjadi se…

Masih Ada Jalan untuk Bangsa yang Gagal

Hasnan Bachtiar*
http://sastra-indonesia.com/

Bagaikan dalam cerita lama bencana di bumi ini/ Sekeping taman surga taman dalam pelukan, menjadi neraka dunia/ Banyak anak bangsa menjadi durhaka, menjarah segalanya/ Bumipun menghilang barokahnya.

Demikianlah petikan dari syair Bimbo tatkala menangisi pilunya negeri ini: Indonesia. Sedemikian getir penderitaan bangsa sehingga tiada daya dan upaya untuk sekedar membersihkan kembali toreh dosa-dosa yang mengotori sejarah.

Silang sengkarut politik kebangsaan, merubah hakikat sejatinya menjadi politik kebangsatan. Melacurkan diri, kehormatan, intelektualitas, kesadaran, dan bahkan kemanusiaan demi meraih hal yang fana, seperti kekuasaan, pengakuan, harta dan moralitas palsu. Korupsi, kolusi, nepotisme, penguasaan, dominasi, hegemoni dan eksploitasi menjadi pola-pola yang lumrah sebagai tindak laku birahi anak bangsa yang tiada tertahan.

Apa yang terjadi dengan Indonesia kerana ulah orang bangsa sendiri? Agama telah mati, tuhan dan ilahi tak dihir…

Buruh Bicara, Buruh Bersastra

Sony Wibisono
http://www.suaramerdeka.com/

KEMARIN, 1 Mei, adalah Hari Buruh Internasional. Jika para buruh di berbagai belahan dunia berdemonstrasi, sekelompok buruh merayakan hari itu dengan cara lain. Ya, para buruh migran itu mengadakan Festival Sastra Buruh di Gogodesa, Kecamatan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, pada 30 April-1 Mei.

Sejak awal mereka memang bersepakat untuk memperkenalkan karya seni, membaca puisi, dan berteater. Ajang itu juga menjadi bagi pengalaman lewat sastra mengenai kehidupan kaum buruh.

Ya, nasib buruh migran ternyata tak jauh beda dari buruh lokal. Namun memang masalah buruh migran lebih kompleks. AA Syifai, salah seorang penggagas festival itu, menuturkan kebijakan pemerintah sejak penyaluran tenaga kerja sampai soal perlindungan amat longgar.

"Lebih dari 50% biaya pengurusan kerja di luar negeri habis di tangan penyalur. Ya, dari pialang sampai menteri ambil jatah," ujarnya.

Rumah tangga juga sering bermasalah karena kepergian mereka ke luar negeri. &…

Bahasa Serantau

Abdul Gaffar Ruskhan*
Media Indonesia, 17 Maret 2007

ADA yang mengatakan bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu juga. Soalnya bukankah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu? Pertanyaan itu ada benar dan ada salahnya.

Jika kita kembali ke sejarah bahasa, memang bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Tidak ada yang membantah bahasa Indonesia yang diikrarkan pada Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan bersumber dari bahasa Melayu.

Pada masa itu dan jauh sebelumnya, bahasa Melayu sudah digunakan sebagai bahasa perdagangan/perhubungan di Nusantara ini. Karena itu, bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan di Indonesia.

Kalau begitu, mengapa bahasa Indonesia tidak disebut saja dengan bahasa Melayu Indonesia? Penamaan itu sudah berlaku di Malaysia dan Brunei Darussalam, yakni bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Melayu Brunei Darussalam. Persoalannya bukanlah sekadar historisnya. Segi politisnya sangat berperan dalam penamaan bahasa Indonesia.

Ada perbedaan bahasa Indonesia dengan …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com