Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Sepotong Senja untuk Pacarku

Seno Gumira Ajidarma
–Cerpen Pilihan Kompas 1993

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tid…

Enigma

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu.

Tapi, tetap saja aku melewati rumahmu setiap hari. Sebab rumahmu adalah salah satu jalan hidupku. Sebab di depan rumahmu ini, aku menemukan banyak hal yang berguna untuk mengisi perutku dan adik-adikku. Sesuatu yang engkau sebut sampah tak berguna, telah menjadi sumber kehidupanku.

Seperti hari ini, aku kembali melewati rumahmu. Kuperhatikan dulu sejenak, barangkali engkau sedang duduk di teras menungguku. Menunggu untuk melempariku lagi dengan ker…

Kipandjikusmin dan Kesusastraan yang Asing

Syu’bah Asa
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pleidoi Sastra
Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin
Editor: Muhidin M. Dahlan, Mujib Hermani
Penerbit: Melibas, Jakarta, 2004
Tebal: 484 hlm.

Seakan-akan ini keasingan jenis kedua.

Dulu, di tahun-tahun 1970-an, terdapat konstatasi mengenai betapa kesusastraan Indonesia hakikatnya barang yang minoritas. Ia hanya diterima oleh sebagian kecil masyarakat kota, yang berjumlah 15 persen dari keseluruhan penduduk. Status minoritas ini sebermula dihubungkan dengan predikat “modern” yang disandangnya, yang dilawankan dengan sifat tradisional sastra lama yang hanya dituturkan secara lisan. Jadi, kesusastraan modern kita mendapat sifat modernnya dari tulisan, dan pemakaian tulisan (Latin, bukan Jawi) itu menandai terjadinya akulturasi dengan budaya Barat, alias asing, seperti bisa dilihat khususnya sejak akhir abad ke-19.

Tetapi ciri-ciri akulturasi tersebut jarang kita bincangkan: keasingan itu tak pernah kita tunjuk. Seperti semua hal su…

Sajak-Sajak Tia Setiadi

http://www.lampungpost.com/
Ode untuk Daun-Daun
: Jingga Gemilang

/1/
daun-daun yang jatuh adalah surat-surat
yang mesti kau baca.

hijau atau jambon warnanya
adalah warna lembaran hatimu sendiri

yang terbaring
menunggu, menunggu
di luar kata-kata dan ranum kulitmu

daun-daun
daun-daun

daun-daun yang jatuh—
perlahan dan tabah—

seperti sehelai sapu tangan jingga yang jatuh
dari pohon awan

sesaat selepas kauseka
kesepianku.

/2/
daun-daun yang jatuh adalah kerinduan
yang mesti kau terjemahkan.

musim demi musim
dalam celupan cahaya dan air

daun-daun itu mematangkan diri

menunggu, menunggu
sentuhanmu.

bacalah gurat-gurat wajahnya
agar kau kenali gurat-gurat wajahmu sendiri

daun-daun
daun-daun

daun-daun yang jatuh adalah lidah-lidah malaikat
yang bernyanyi

dan lidah-lidah sungai
dan burung-burung pingai
yang bernyanyi

daun-daun
daun-daun

pungut dan himpun daun-daun yang jatuh itu
lalu kau hamburkan kembali

ke mangkuk bumiku yang subur rindu:

lembaran-lembaran musim—
bak riak-riak karpet parsi—

yang hijau pupus,
amin.



Bilqis dan Sulaiman

Serenada Malam Kunangkunang

Shourisha Arashi
http://sastra-indonesia.com/

Kutenggelamkan diri dalam kubangan yang pekatnya adalah malam. Sedangkan dingin ini tak lagi dapat bekukan apapun karena segalanya telah hilang. Hanya jejak samar yang nyata mengarah ke entah. Dan kita takkan pernah tahu hingga saatnya tiba.

Langitku hitam. Sedang bintang yang nampak ternyata kunangkunang yang linglung mencari tempat berlindung. Kulihat telaga perak rembulan dan sekejap yang nampak adalah aku yang bersayap koyak. Terbang rendah dari dahan ke dedaunan lalu hinggap di rerumputan liar.

O, betapa sendu serenada malam kunangkunang. Dengan bisik lirih dan getar sayap yang mulai lelah. Dengan terang temaram tanpa pernah mendamba kerlapkerlip seterang bintang-gemintang. Karena gelap selalu menghargai seredup apapun nyala cahaya.

Lalu mendung pun hanya akan menjadi segumpal awan kelabu yang berlalu. Bersama angin yang mengabarkan bahwa hujan kan segera datang. Bukan janji. Hanya kabar. Maka kudengarkan dan kupahami dengan harap tak terl…

Penyair dan Alquran dalam Rekaman Sejarah

Aguk Irawan MN*
http://www.infoanda.com/Republika

Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 224-227)

Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily.

Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana etika dan moral masyarakatnya. Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaqafah…

Mata Dinding Cinta Ibu

Salamet Wahedi *
Radar Surabaya, 17 okt 2010

Kenangan serupa bayang-bayang kita yang muncul dan tenggelam dalam gelap dan terang. Ia selalu menyapa kelengaan atau kealpaan jiwa kita. Ia kadang hadir saat menjelang malam, tengah malam, atau menjelang pagi. Ia kadang-kadang nongol di tengah keramaian. Tapi, yang paling dikenal dan diakrabinya, kenangan selalu muncul dalam kesendirian dan kesedihan. Ia serupa kakek tua yang begitu berempati membawa tisu untuk menghapus air mata kita. Atau ia kadang menjelma nenek tua yang menderaikan tawanya, menampakkan gigi hitamnya, serta menyirami luka kita dengan cuka.

Kenangan serupa bayang-bayang kita. Ia tidak bisa kita enyahkan. Entah manis dan pahit ia selalu hadir dalam diri kita. Di sekitar kita. Apalagi kenangan akan sosok ibu yang begitu telaten, begitu perhatian, begitu sabar mengajari kita memahami dan merangkai kenangan. Ibu selalu paham, dan sungguh-sungguh paham bahwa hanya kenanganlah yang akan membuat anaknya dewasa. Anaknya tetap selal…

Sastra Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan

Udo Z. Karzi*
Media Indonesia, 4 Nov 2007

Dang lupa di lapahan, ingok jama sai tinggal
(Jangan lupa tujuan, ingat dengan yang tertinggal).

PESAN tetua jelma Lampung (orang Lampung) kepada anak muda Lampung yang hendak merantau ini seperti tak berarti banyak ketika melihat kondisi riil di Lampung — spesifiknya Bandar Lampung — saat ini. Anak muda yang beretnis Lampung sedemikian malu dengan kelampungannya. Jika sudah demikian, apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang kehilangan identitas dan tengah mencari identitas baru?

Bahasa menunjukkan bangsa, kata pepatah lama. Bahasalah yang membangun peradaban di dunia ini. Maka, kata kunci untuk melestarikan, mengembangkan, dan memberdayakan bahasa-sastra Lampung adalah mengembalikan bahasa-sastra Lampung ke fungsi aslinya. Masyarakat dan kebudayaan Lampung terbentuk oleh bahasa Lampung. Ya, bahasa Lampung.

Setelah itu, bukan pada tempatnya kita bertanya lagi, masyarakat Lampung yang mana? Kebudayaan Lampung yang mana? Kesenian Lampung yang ma…

Lirisisme dan Tubuh yang “Mata Bahasa”

Afrizal Malna*
http://www.kompas.com/

Apa yang harus digugat dengan imperium puisi liris di Indonesia? Apakah karena kita mulai takut bahwa bahasa Indonesia sedang tenggelam oleh globalisasi bahasa-bahasa internasional, oleh hancurnya perilaku politik nasional, oleh kebingungan memandang masa lalu dan masa depan?

Pak Sarip, di Stren Kali Surabaya, meninggalkan desanya di Mojokerto karena menurutnya desa sudah bangkrut. Di kota, dia hidup miskin. Pak Sarip hampir tidak memiliki kehidupan sosial dan ruang aktualisasi sosial dengan warga kampung.

Saya mencoba memintanya menyanyikan lagu berbahasa Jawa yang masih diingatnya. Tiba-tiba wajah dan tubuhnya seperti baru saja hadir di depan saya menjadi tubuh yang hidup. Dia mulai menyanyi dengan gerak tubuh yang berusaha mengikuti irama yang dinyanyikan. Geraknya seperti alang-alang yang tertiup angin.

Pak Sarip, di kota menghadapi dua hal sekaligus: Pertama, kebangkrutan desa itu berlanjut lewat formalisme kota yang tidak bisa menerima kehadiran …

Air

Djenar Maesa Ayu
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya.

Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda,” kata ayahnya.

Saya akan menjaganya.

Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Terus menyeruak dan mendarat lengket, liat, di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah muda. Ketuban sudah pecah. Rasa takut seketika membuncah. Tapi segera mentah berganti dengan haru memanah. Sembilan bulan sudah. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Rasa waswas setiap kali belum wakt…

1 Perempuan 14 Laki-Laki - Djenar Maesa Ayu

Bellanissa Zoditama
http://www.kompasiana.com/bellanissa

Penulis: Djenar Maesa Ayu dkk
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2011

Sinopsis: Cerita pendek kolaborasi antara Djenar Maesa Ayu dengan 14 orang laki-laki yang berbeda profesi dan latar belakang.

Sebelumnya ini pertama kalinya saya membaca buku karangan Djenar Maesa Ayu dan saat mengetahui judul buku yang beberapa saat peluncurannya ramai di twitter itu, saya pun penasaran sekali untuk membacanya, dan apa ke‘istimewa’an buku tersebut dari buku tersebut.

Alhamdulillah, ada seorang teman yang berbaik hati membelikan buku ini untuk saya, sehingga saya bisa membuat review tentang bukunya.

Nggak banyak basa-basi lagi, ini review yang saya berikan untuk buku “1 Perempuan 14 Laki-laki”

Apa yang kalian pikirkan saat membaca judul ‘1 Perempuan 14 Laki-laki’? pertama-tama saya yang saya pikirkan ini adalah sebuah buku yang ditulis bersama 14 laki-laki lainnya. Memang tidak salah, tapi ternyata buku ini adalah buku yang ditulis …

Sastrawati Menulis Identitas Seksual

(Ditulis kembali dari apresiasi novel Mahadewa Mahadewi)
M Fadjroel Rachman*
Media Indonesia, 02 Sep 2007

APAKAH para sastrawati generasi abad XXI di Indonesia, sebagian seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Nova Riyanti Yusuf (Noriyu), Mariana Amiruddin, dan Fira Basuki, mengungkapkan persoalan seksualitas untuk eksploitasi seksual semata? Samakah karya mereka dengan karya pornografi jalanan, cetak maupun elektronik di kaki lima di seluruh penjuru Tanah Air, dan pantas dicap menganut eksploitasi seksual sebagai standar estetika? Penulis ingin mengenali dan mencatat bagaimana para sastrawati muda Indonesia mengaktualisasi diri. Dengan apresiasi tentu saja, sebagai apresiator.

Marilah dengan kepala dingin kita apresiasi secara singkat sebagian karya Noriyu, Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, dan Fira Basuki. Dimulai dari Mahadewa Mahadewi (MM), karya Noriyu, seorang dokter umum, ahli kejiwaan, penulis skenario film Merah itu Cinta. Bila Anda mengutuki dan meratapi zaman ini, seks …

Negeri Kita Belum Merdeka

Wawan Eko Yulianto*
http://oase.kompas.com/

“NEGERI KITA BELUM MERDEKA!” begitulah kira-kira bunyi headline dua koran lokal menyusul “pemerkosaan” sebuah monumen kemerdekaan hasil sumbangan yang baru diresmikan.

Dua minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan, para veteran yang dulunya tergabung ke dalam tentara pelajar mengundang bapak walikota dan para wartawan ke sebuah sudut jalan di sebuah pemukiman.

Di sana, wakil dari para veteran itu mengatakan kepada bapak walikota, “Kami sumbangkan Monumen Merdeka untuk kota kita . . . .” Sambil berkata, dia menarik kain yang menutupi sebuah bangun yang menjulang agak tinggi. Kain tersibak dan terlihatlah sebuah patung. “Kami harap, monumen ini bisa menjadi peringatan bagi generasi muda agar mereka menghargai kemerdekaan yang telah kami perjuangkan dan agar mereka bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya.”

Bapak walikota menyatakan kegembiraannya dan berjanji akan mengelola monumen ini dengan sebaik-baiknya. Para wartawan mencatat kata-kata sang …

Sastra-Indonesia.com