Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Keindahan Laut dan Dinamika Masa Puber

Judul Buku: The Highest Tide (Pasang Laut)
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 halaman
Cetakan pertama, tahun 2007
Peresensi: Sidik Nugroho *
http://tuanmalam.blogspot.com/

Miles O'Malley seorang remaja berusia 13 tahun yang menderita insomnia berat. Ia sering menjelajah teluk di Puget Sound dengan kayaknya untuk mengisi malam-malamnya. Di malam hari ia menyaksikan keindahan laut dengan segala makhluk hidup yang hidup dan tumbuh di dalamnya. Ada remis, siput, bintang laut, dan berbagai makhluk laut lain yang menarik minatnya. Ia juga tergila-gila pada Rachel Carson, penulis buku Under the Sea, seorang ilmuwati yang memutuskan hidup melajang karena jatuh cinta kepada laut.

Minatnya yang besar pada laut juga mendatangkan keuntungan bagi Miles. Beberapa tangkapannya laku dijual. Sampai suatu malam Miles mendapati seekor cumi-cumi raksasa terdampar di Puget Sound. Cumi-cumi raksasa itu telah mati, dan ia memang bukan hidup di perai…

Niat Jahat di Kepala Cheng Ho

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

BAGAIMANA mesti aku rawikan riwayat Sam Po Thai Kam yang serupa dongeng ini? Oh, kisah-kisah liar yang tak mungkin kautemukan dalam catatan sejarah. Tapi begitulah, cerita-cerita tak jelas asal muasal ini telah kudengar di masa kanak-kanak dan lama mengendap dalam ingatan yang mirip belukar semak…

(1) TENTU kau tahu banyak cerita tentang pelaut besar itu. Bagaimana pelayarannya yang luar biasa, –ah, 114 tahun sebelum Magellan merintis penjelajahan samudera mengelilingi bumi– mengubah peta navigasi dunia sampai abad kelima belas.

Atau, bagaimana selama 28 tahun, tak urung lebih dari 30 negeri di Asia, Timur Tengah, dan Afrika telah disinggahi dalam tujuh kali ekspedisi yang kesohor itu demi memperluas pengaruh Kaisar Ming sebagai Putra Langit dan menjalin hubungan perniagaan dengan banyak negeri.

Kendati armadanya membentang hampir seribu meter di garis cakrawala, memanjang 1,5 kilometer di lautan, toh berbeda dari penjelajah Eropa yang r…

Luka Pak Pram

Wawan Eko Yulianto
http://www.suarapembaruan.com/

Kami memanggilnya, Pak Pram. Orang tua yang punya banyak koleksi luka. Dia tak pernah ragu menceritakan asal-usul dan detail luka-lukanya. Ukuran, bentuk, dan warna luka-luka itu sangat beragam. Ada yang selebar telur, ada yang memanjang sepanjang rokok, ada yang tipis seperti sapu lidi.

Ia pandai bercerita. Cerita apa saja yang entah mengapa selalu ditingkahi Pak Pram dengan menunjukkan lukanya. Meskipun ceritanya tentang Malin Kundang, ia bisa membumbuinya dengan menunjukkan lukanya. Kalau sudah begitu, temanku Misdi adalah orang yang paling takjub.

"Kalian tahu bagaimana Sinbad ditawan dan dipaksa memberitahu di mana ia simpan harta karun temuannya?" kata Pak Pram mengawali cerita.

"Dia dipaksa mengaku dengan disundut rokok di dadanya. Seperti inilah jadinya. Ya, persis seperti inilah hasilnya setelah Sinbad disiksa. Waktu itu Sinbad berlayar bersama...." Begitulah Pak Pram bercerita.

Pada banyak cerita lain dia j…

Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran

JJ. Kusni
http://groups.yahoo.com/

Komunitas Perantau Nusantara [KPN] Hong Kong, yang kalau tidak salah, anggota-anggotanya terutama terdiri dari Tenaga Kerja Wanita [TKW] dalam surat siarannya di milis buruh-migran@yahoogroups.com [05 Maret 2005] dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April mendatang bermaksud menyelenggarakan lomba menulis puisi di kalangan buruh migran Indonesia. Surat siaran KPN itu menunjukkan bahwa “Tujuan utama yang hendak dicapai melalui lomba ini adalah :1) mengupayakan lahirnya penulis puisi dari kalangan pekerja migran Indonesia.2) memacu semangat para Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong dalam kecintaan mereka terhadap sastra”. Lebih lanjut disebutkan bahwa “Lomba ini dimaksudkan sebagai wahana untuk menjaring para Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong yang mempunyai interest pada puisi dan dunia sastra pada umumnya. Peserta lomba boleh menulis puisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris”. Kemudian “Dari seluruh peserta lomba akan dipilih 20 puisi…

Memantik Sastra, Membangkitkan Bangsa

Judul Buku : Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan
Penulis : Yudi Latif
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Isi : xxiv + 184 Halaman
ISBN : 978-979-709-452-2
Peresensi : Yasser Arafat
http://waspadamedan.com/

Sastra itu bukan racauan cenayang. Sastra adalah tabiat melek kebenaran, adab celik kebudayaan. Ia bertunas dari kesudian untuk mencari kebenaran dalam tindak membaca, menulis, dan mencipta. Sebagai gerakan, sastra mewujud dalam tindakan kolektif untuk berbahasa satu; bahasa kebenaran. Bukan bahasa politik kekuasaan. Bukan bahasa ekonomi keuntungan. Ingin bangkit? Bersastralah!

Itulah sari buku kompilasi tujuh esai karya Yudi Latif ini. Esai Kebangkitan dan Sastra (hal. 1-26) membahas sastra dan sosio-historisitas bangsa Indonesia. Esai-esai lainnya; Mendekatkan Teknologi Pada Puisi (hal. 27-62), Politik dan Sastra: Dekat Tanpa Melekat (hal. 63-76), Pendidikan Karakter & Sastra (hal. 77-96), Religio-Sosialitas &a…

Maiyah, Cak Nun dan Perjalanannya

Suharsono *
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Maiyah adalah sebuah pergumulan orang-orang yang datang dari berbagai elemen dan organisasi yang berbeda-beda namun mempunyai tujuan sama, yaitu mencari ridho Alloh. Dalam Jama’ah Maiyah tidak ada pemimpin dan anggota. Siapa pun diperbolehkan memandu acara, bertadarrus, memimpin wirid, sholawat dll tidak harus orang yang bersuara bagus (merdu) seperti Zainul ataupun mBak Nia, melainkan yang ihlas berma’iyah. Dalam jamaah ini juga tidak ada skat khusus antara pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat. Yang diutamakan disini ialah saling percaya, saling menjaga kehormatan diri dihadapan Tuhan dan manusia. Itulah indahnya bermaiyah. Semua permasalahan hidup dibahas disini. Semua jamaah yang hadir dapat memberikan testimoni atau pendapat dalam rangka merespon tafsir yang dijelaskan Cak Fuad maupun tafsir yang dijelaskan Cak Nun. Inilah beda acara Maiyah dengan acara lain. Kita bisa mengerti kandungan Alquran baik secara teks dan…

Syair Arab di Pesantren: Bukan Sekedar untuk Dihafal! *

Fathurrahman Karyadi
http://sastra-pesantren.blogspot.com/

Di pesantren kitab-kitab literatur ilmu 'arudl—sebuah cabang ilmu yang mempelajari syair Arab—masih banyak pelajari. Seperti di antaranya Mukhtashar al-Syâfî karya Muhammad al-Damanhuri, Jawâhir al-Addab karya Ahmad al-Hasyimi dan sebagainya. Biasanya para santri yang mempejari fan ini adalah mereka yang sudah lulus dari kelas Nahwu tingkat al-Imrîthy. Bagi yang belum mencapai tingkatan tersebut maka tidak diperkenankan mengkaji 'arudl sebab pembahasan yang disuguhkan agak rumit.

Dalam 'arudl diterangkan bahwa bahr atau not lagu Arab berjumlah 16 lirik. Di antaranya yang sering digunakan yaitu bahr al-rajaz. Hampir seluruh kitab yang berbentuk nadzam (puisi, antonim dari natsar atau prosa) yang menjadi acuan di pesantren memakai bahr al-rajaz tersebut. Seperti al-Fiyyah Ibni Mâlik, al-Imrîthy, Jawâhir al-Maknûn, `Uqûd al-Jumân dan masih banyak lagi. Cara melagukan bahr ini cukup sederhana, yaitu dengan mengulang-ula…

Sosiologis Sastrawan terhadap Karya Sastra

Ria Ristiana Dewi
http://www.analisadaily.com/

Buah yang jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini pas, bila melihat maraknya karya sastra di kota Medan dan memang tak jauh dari pribadi sastrawan itu sendiri. Bila ingin mengenal sastra, terlebih dahulu kita mengenal sastrawan yang merupakan sosok di balik terciptanya karya sastra. Di balik hubungan erat antara sastrawan dengan karya sastra, ada yang berbanding lurus pula berbanding terbalik.

Karya sastra yang berbanding lurus adalah karya sastra yang karakteristiknya merupakan cerminan pribadi kehidupan si pengarang. Berbanding terbalik, karya sastra yang karakteristiknya bertolak belakang dengan pengarang atau sastrawan. Dalam teori sastra, terdapat enam faktor yang melatarbelakangi sosiologis sastrawan: asal sosial, kelas sosial, jenis kelamin, umur, pendidikan dan pekerjaan (Siswanto, 2008: 3).

Penulis ambil satu contoh sastrawan yang telah menasional terlebih dahulu, Budi Darma. Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 …

Sedikit Gambaran Sastra Indonesia di Sumatera Barat

Tanggapan Terhadap Tulisan Darman Moenir dan Devy Kurnia Alamsyah
Sudarmoko
http://www.harianhaluan.com/

Sepanjang sejarahnya, Sumatera Barat menjadi bagian yang penting dari sedikit daerah di Indonesia yang dalam segi jumlah memberikan pengaruh penting dalam kesusastraan.

Hingga tahun 1977, kehi­dupan sastra Indonesia modern di Sumatera Barat dicatat dengan baik oleh Nigel Phillips dalam artikelnya di Indonesia and the Malay World (Vol. 5(12): 26-32),”Notes on Mo­dern Literature in West Suma­tera”. Dalam catatan yang dibuat di sela-sela penelitiannya tentang sastra lisan, terutama Si Jobang yang sudah diterbit­kan, ia mencatat sejumlah pencapaian dan sastrawan Sumatera Barat.

Mereka yang sudah aktif dalam dunia sastra di Sumatera Barat ketika itu adalah AA Navis, Rusli Marzuki Saria, Abrar Yusra, Chairul Harun, Leon Agusta, Hamid Jabbar, Zaidin Bakry, Wisran Hadi, Darman Moenir, Joesfik Helmy, Makmur Hendrik, Upita Agustin. Selain itu juga terdapat nama-nama seperti A. Damhoeri, Nurdin…

Lawatan Budaya Menggugah Kekuatan Desa

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Perubahan Anda sudah disimpan

Berawal dari grenang-greneng antar seniman yang mengandaikan bagaimana caranya bisa mengekspresikan diri dalam satu forum dan tidak berbelit dengan urusan dana, lembaga dan atau instansi terkait, dari sanalah ide Lawatan Budaya muncul. Kemudian para seniman tersebut menyiasati daya untuk mewujutkan terlaksananya titik sentral ide tersebut. Sertamerta bagi yang ingin terlibat, pletikan kekuatan pun mulai terumus, bahwa tidak ada kata kunci yang jitu, kecuali membakar lemak jiwa dengan sistem‘rewang, soyo, gotongroyong, semua yang terlibat mengikhlaskan energi untuk urun mengisi agenda.

Berangkat dari gejolak kebebasan dan terlaksananya kemampuan berkesenian dimaksud, menandai awal ‘Komunitas Suket Indonesia’ terpanggil untuk terlibat. Namun keterlibatan ‘Suket’ dalam pelaksanaan ini hanyalah sebagai fasilitator yang mewadahi geliat para seniman. Jauh hari sebelumnya, seperti yang diungkapkan salah satu pentolan…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan