Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

MENYOAL PRAKTEK BEDAH PLASTIK KARYA (DAN) SASTRA

Lina Kelana

Ada pertanyaan yang sampai sekarang —bagi saya— belum menemukan jawaban yang benar-benar obyektif. Dan ternyata, memang keobyektifan tak selamanya obyektif; tanpa teori, prasangka, opini, dan sebagainya.

Menurut yang saya perhatikan, juga beberapa kutipan (share) ketika ngopi dengan beberapa senior di warung, kafe, dan semacamnya. Perbincangan tetap menemu jalan buntu -masih seperti itu sampai sekarang. Dan tak pernah ada yang membuktikan bahwa jawaban-jawaban yang dihasilkan benar-benar dari penelitian/kajian yang spesifik. Hal yang masih memenuhi benak adalah petanyaan tentang, pertama, apakah sebuah karya sastra bisa dibedah oleh selain genre tulisan (cerpen, novel, puisi, karya ilmiah, agama, dan lainnya) yang dibedah? Kedua, bagaimana jika penilai berasal dari selaian genre tulisan yang hendak dibedah —namun masih terkait-dipertemukan dalam satu meja, kemudian membahas karya tersebut dari segi (cara pandang) disiplin ilmu dan kajian dari masing-masing genre tersebut. Sa…

Masygul di Bulan Baik

Yusi Avianto Pareanom
Sumber: ruang baca koran tempo

Hari-hari ini saya banyak masygul. Sebetulnya ini bukan cara yang baik untuk menjalani bulan baik. Tapi mau bagaimana lagi, saya bukan orang yang terlalu baik saat berhadapan dengan hal-hal yang kurang baik. Apalagi kalau hal-hal kurang baik itu berkaitan dengan dunia saya mencari nafkah (hal baik), yaitu penulisan dan buku.

Sebelumnya, izinkan saya berputar sedikit. Di kawasan Depok ada sebuah toko buah yang sering saya singgahi. Sebelumnya, saya nyaman saja berbelanja di sana. Buahnya bagus, harganya masuk akal. Suatu hari, mata saya tertumbuk pada tulisan di atas tumpukan mangga yang ranum. Bunyinya menggelitik, buah yang satu ini bagus untuk golongan darah A. Di sebelahnya untuk golongan darah B. Semula saya berniat membeli, tapi lantas kecut, golongan darah saya O. Saya lantas memanggil penjaga toko.

“Kenapa hanya bagus untuk golongan darah A dan B?” tanya saya.

“Sudah dari sananya kok, Mas,” kata si penjaga. Ketika saya kejar, jawa…

Gemerincing Malam

Han Gagas
Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2011

Pada peristiwa itu, mulanya aku sungguh tak percaya. Malam turun bersama rintik hujan yang membawa angin basah. Hawa dingin tak biasanya merajam tulang. Rasanya, sebenarnya, telingaku tak cukup mendengar, suara gemerincing pasukan berderap menembus malam. Tapi, akhirnya kepalaku disudutkan untuk menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Karenanya, dengan akal sehat aku berani menyiarkan peristiwa itu sekarang ini.

Rasa ingin tahu menyeret tubuhku mendekat. Dengan kedua tangan melindungi kepala dari paku-paku air langit, aku berlari kecil keluar rumah, menuju jalan lebar yang lengang, dan mendekati sebuah kanal yang kering-kerontang karena kemarau panjang. Suara deru bergemerincing datang dari ujung kanal di utara, tampaknya dari sebuah bendungan, aku menoleh, memicingkan mata.

Mataku menatap lurus sepanjang kanal yang memanjang ke utara. Di atasnya, tampak kerlip dua lampu berpendar halus, dengan bayang-bayang hitam berkerjaran di belakangnya. Tampak …

Kata Pengantar Buku Kumcer Gusnoy Duadji “Seekor Anjing Menelan Bom” (2010)

Gus Noy
Kata Pengantar

Selama ini buku-buku yang diterbitkan oleh DF Publisher adalah karya-karya BMI, dan seringkali BMI Hong Kong. Memang DF Publisher sangat concern pada karya-karya BMI Hong Kong, dan beritikad mengangkat karya-karya mereka, atau sering digelari “sastra buruh migran Indonesia”, dalam format buku agar lebih terdokumentasi, dan abadi di kalangan pembaca.

Paradigma “buku dan penulis hanya untuk kaum terpelajar berpendidikan tinggi hingga bergelar sarjana bahkan professor, atau seorang pejabat tinggi” sudah usang. Dan paradigma “sastra hanya untuk sastrawan atau berpendidikan tinggi di bidang sastra” sudah tidak relevan. Siapa pun bisa menulis karya sastra, asalkan benar-benar tekun belajar, bertanya, berlatih, dan berproduksi. Sastra buruh migran, sepakat atau tidak, juga adalah bagian dari kekayaan sastra Indonesia kontemporer.

Selama ini pula salah seorang penikmat karya-karya BMI Hong Kong adalah Gus Noy alias Agustinus Wahyono. Beberapa kali Gus Noy ikut memberi pembe…

Mempertimbangkan Sastra Buruh Migran

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Insya Allah kalau tak ada rintangan, awal Februari mendatang, Tarini Sorrita - penulis yang bekerja sebagai buruh di Hong Kong - akan meluncurkan antologi cerpennya, Penari Naga Kecil, di Surabaya. Peristiwa budaya dengan pelaku khusus buruh migran ini bukan yang pertama kali, karena pada minggu terakhir Desember 2005 pernah dilakukan launching yang serupa - lihat, "Sastra Buruh Migran: Ad-vokasi tentang Kondisi TKI", Suplemen Jatim, Kompas, 22/12. 2005, hlm. H.

Meski respon dari para sastrawan Surabaya yang non-buruh-migran terasa menyakitkan. Kenapa? Karena, dengan arogan mereka bilang, kalau pada dasarnya, ha-kekat dari genre sastra buruh migran itu hanya teks yang ditulis oleh buruh migran, dan melulu berkutetan dalam derita menjadi buruh migran. Maksudnya mungkin terlalu subyektif, maksudnya mungkin tidak mempertimbangkan kekayaan esteti-ka, pola kreativitas dn model ekspresi sastra yang ada, dan mungkin juga imajinasi yang misk…

Problematik Sastra Buruh

S Yoga
http://www.suarakarya-online.com/

Pada tanggal 30 April dan 1 Mei lalu -- dalam rangka memperingati Hari Buruh -- telah diadakan Festival Sastra Buruh di Blitar. Berkait dengan itu penggiat sastra dan budaya Bagus Putu Parto sangat sibuk. Sebagai pembicara, ditampilkan Beni Setia, Bonari Nabonenar dan Kuswinarto. Beberapa pengarang buruh (migran) yang hadir di antaranya Saiful Bakri (Mojokerto), Arsusi, Endang Pratiwi dan Etik Juwita (Blitar), Lik Kismawati (Sidoarjo), Denok Rokhmatika dan Rini Widyawati (Malang), Eni Kusuma (Banyuwangi), Jumari Hs dan Yudhi MS (Kudus), Maria Bo Niok (Wonosobo) dan Safitri Budiarti (Cilacap). Rata-rata dari mereka pernah bekerja di Hong Kong, sebagai buruh, tentu saja.

Sedangkan beberapa buku yang sempat dihasilkan oleh para buruh (migran) di antaranya, Catatan Harian Seorang Pramuwisma (Rini Widyawati), Penari Naga Kecil (Tarini Sorrita), Majikanku Empu Sendok (Denok K Rokhmatika), Nyanyian Imigran (Lik Kismawati,dkk), Perempuan Negeri Beton (Win…

5 Kelopak Mata Buhinia dari 5 Buruh Migran di Hong Kong

22 Januari 2009
http://www.surya.co.id/

Sebanyak lima buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hong Kong menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul 5 Kelopak Mata Buhinia. “Buku berisi sekitar 50 puisi itu sudah diterbitkan akhir 2008 lalu dan diluncurkan di Hong Kong,” kata penggerak sastra buruh migran, Bonari Nabonenar di Surabaya, Kamis (22/1/2009).

Kelima buruh migran yang selama ini aktif menulis karya sastra itu adalah Mega Vristian asal Malang, Tarini Sorita (Cirebon), Kristina Dian Safitri (Malang), Tanti (Ponorogo) dan Ade Punk (Malang). “Puisi-puisi mereka bercerita tentang Hong Kong dan tema-tema umum, seperti kerinduan akan kampung halaman, cinta dan lainnya. Judul buku itu diambil dari bunga khas Hong Kong bernama Buhinia,” kata Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) itu.

Pria asal Trenggalek itu mengemukakan, penerbitan kumpulan puisi ini merupakan kelanjutan dari proses kreatif para BMI di Hong Kong yang telah menghasilkan puluhan buku kumpulan cerpen, pu…

Sehari di Victoria Park, ”Kampung Jawa”nya TKW di Hong Kong

Yulianna
http://www.voa-islam.com/

Di Taman Victoria Park, tiap hari Minggu, beragam aktivitas dilakukan oleh warga Indonesia di Hong Kong, tentunya dengan beragam dandanan. Taman luas yang dilengkapi dengan gedung olahraga, lapangan sepakbola, lapangan basket, lapangan tenis itu selalu padat oleh warga Indonesia. Tak heran jika taman di Causeway Bay ini dijuluki “kampung Jawanya orang-orang Indonesia di Hong Kong.”

Hari Ahad di awal bulan lalu, voa-islam dotcom mendatangi lapangan rumput. Begitu memasuki pojok lapangan, seorang berkewarganegaraan Filipina memberikan sebuah booklet.

“ This is for you, free,” kata wanita Filipina tersebut.
“ What kind up of book?” tanya voa-islam.

“Nothing, please take it,” jawab wanita tersebut lalu pergi tanpa memberikan kesempatan pada saya untuk mengucapkan terimakasih.

Setelah saya buka, ternyata buku kecil tersebut berisi kamus berbahasa Kantonis-Indonesia yang dilengkapi dengan nomor-nomor penting di Hong Kong, plus ada alamat-alamat gereja. Saya berca…

LERENG UNGARAN, Bedah Antologi Puisi TKI Hong Kong

http://suaramerdeka.com/

Komunitas Lerengmedini Boja akan membedah buku antologi puisi “Karat Luka” karya Ally Dalijo, Minggu (14/11). Acara di Taman Warnet 127 line.net Gentan Kidul, Boja ini akan menghadirkan pembicara seperti Kelana (penyair dan pegiat seni Kendal), Yuswinardi (penyair Blora), dan Nurdin Paradiksa (komunitas Lerengmedini). “Acara dimulai pukul 14.00, dan kami buka untuk umum,” kata Koordinator Komunitas Lerengmedini Heri CS.

Ditambahkan, Ally Dalijo, penulis buku, merupakan seorang aktivis Buruh Migran Indonesia di Hong Kong dan juga TKI aktif di dunia seni dan sastra. Melalui komunitas Teater Angin Hong Kong, Ally Dalijo mulai giat menulis puisi serta aktif sebagai artis teater sejak beberapa tahun lalu. Rencananya, Ally Dalijo dari Wonosobo, juga akan dihadirkan dalam diskusi interaktif. “Acara akan diikuti secara online via webcam oleh komunitas sastra TKW Hong Kong “Teater Angin” di Victoria Park Hong Kong. Selain itu bisa berinteraksi dengan penikmat sastra Zug…

Kabar Dari Sebrang: BMI Bekerja, BMI Berkarya!

Uly Giznawati
http://www.kompasiana.com/www.ulygiznawati-ar.com

Elly Susanti, Bikin Album Perdana Duet Dengan Marwoto

Semangatnya yang terus membara mengejar cita-cita, walau akhirnya perjalanan hidupnya kemudian menuntunnya bekerja sebagai buruh migrant Indonesia (BMI) di Hong Kong yang mana sebelumnya pernah bekerja di Taiwan selama 3 tahun. Ibu dari dua orang anak, asal Ponorogo, Jawa Timur ini. Disela kesibukannya karena bekerja ikut orang dan setumpuk pekerjaan selama sepekan, namun hal ini tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadikan seseorang yang diinginkannya. Impiannya sejak kecil ingin menjadi penyanyi.

Elly menjadikan Hongkong sebagai tempat untuk menimba segala macam ilmu yang bisa ia pelajari, ‘’saya belajar apa saja selama di Hongkong, menjadi seorang BMI adalah suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan. Tapi perlahan aku mulai bersyukur dengan apa yang aku jalani sekarang, dimana aku bisa mengambil hikmahnnya, aku juga bersyukur mempunyai teman dan sahabat-sahabat yang …

Buruh Migran Sumbawa Hongkong Raih Beragam Penghargaan

http://www.sumbawanews.com/

Keberadaan tau samawa di negara lain ternyata tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkreasi dan mengharumkan nama Sumbawa di negara mereka berada. Tengok saja keberadaan Buruh Migran Indonesia (BMI) asal Sumbawa yang menghimpunkan dirinya dalam Labalong Sumbawa Organization Hongkong (LBSO-HK) berhasil meraih berbagai penghargaan meskipun kesibukan tak bisa dipungkiri.

“Dalam 3 bulan terakhir LBSO HK telah berhasil mengumpulkan piala miss Migran 2009, Piala tradisional Dance yang tarinya berjudul “La dade pagasung”,” jelas kordinator LBSO-HK Emi kepada Sumbawanews via telpon seluler.

Disamping telah menyabet berbagai penghargaan, rencananya pada tanggal 31 Januari 2010 nanto sebanyak 11 orang anggota LBSO HK akan mengikuti “Fashion Jarit.” Dalam bidang busana LBSO HK juga pernah menyabet penghargaan Fashion show full color

Menurut Emi saat ini LBSO HK telah mendata sebanyak 578 anggota, dan yang aktif sebanyak 285 orang mengikuti pertemuan mingguan disaat ha…

Nasionalisme TKW Hong Kong dalam Cerpen

Kuswinarto*
http://www.lampungpost.com/

Membicarakan nasionalisme di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) kita di luar negeri sangat menarik. Sebab, bagi TKW (dalam asumsi saya), Indonesia yang menjadi Tanah Air mereka, tempat mereka lahir dan besar, bukanlah sebuah negeri yang bersahabat. Bagi mereka (masih dalam asumsi saya), Indonesia tak berpihak kepada rakyat kecil seperti mereka.

Betapa tidak? Indonesia memaksa sebagian besar dari mereka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena Indonesia hanya mampu memberikan sebuah kemiskinan yang mengenaskan bagi keluarga mereka sehingga tak mampu menyekolahkan mereka. Itu masih ditambah kenyataan bahwa biaya pendidikan mahal dan itu terjadi di tengah maraknya kasus korupsi terhadap uang negara (baca: uang rakyat).

Karena orang tua miskin, para TKW terpaksa mengubur cita-citanya. Padahal bukan tidak mungkin jika terus menempuh pendidikan formal, sebagian dari mereka akan menjadi para pembaharu yang akan me…

BURUH MIGRAN INDONESIA DAN SASTRA MENYIMPAN BANYAK PERTANYAAN

Mega Vristian
http://komunitassastra.wordpress.com/

Sastra BMI?

Jujur saya memang tidak bisa berhenti menulis, karena adanya semangat yang tidak pernah pudar. Terlebih lagi adanya faktor keberuntungan. Beruntung karena selama bekerja di Hong Kong menjadi BMI alias babu walau berganti-ganti majikan, menggunakan komputer tidak pernah dilarang. Tentu saja harus tahu aturannya.

Nah hari ini setelah pekerjaan siang beres, saya segera membuka komputer dan mulai menulis untuk milis dengan tema “Sastra Buruh” yang telah lama menjadi PR saya. Menurut yang saya tangkap, dalam tulisan ini saya harus berbagi cerita mengenai kegitan tulis menulis di kalangan teman-teman saya sesama BMI di Hong Kong.

Tetapi sebelumnya, saya dan hampir seluruh teman BMI yang gemar menulis tidaklah begitu sreg dengan istilah “Sastra Buruh”, “Sastra BMI” ataulah “Sastra Babu”. Sebab mengapa? Ini adalah upaya pengkotakan atau istilah pemberangusan profesi yang seakan-akan seorang BMI hanya akan dibicarakan bila bisa menulis…

Sajak-Sajak Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tanggal

Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ? Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.

16 Februari 2011



Bara Hati

Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu

butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu

24 Februari 2011



?

Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati bertedu…

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Membakar Kemenyan

Aku bakar kemenyan dan ranting kenanga di pinggan tanah liat
Aku panjatkan mantra-mantra kepada leluhur
Aku bersila di atas tikar pandan menghadap matahari
Aku ratapi kemarau dan angin yang berdebu

Langit terbelah diarak angin
mukaku ditampar silau senja
lalu gerimis terperas dari awan yang memekat
menjadi murka
guntur saling membentur
menggelegar mencakar-cakar tanah yang tandus
mendengus beringas
senja berubah menjadi kilat
apakah ini laknat yang menimpa
atau mantra yang diterima?

Mantra-mantra yang berubah menjadi lembaran proposal
berubah menjadi angka-angka
Kemenyan berubah menjadi gubuk-gubuk yang terbakar
Ranting kenanga berubah menjadi tulang-tulang
dan pinggan berubah menjadi tas cover

Batang-batang kayu berubah menjadi batang-batang emas
berubah menjadi menara
Gunung-gunung berubah menjadi burung-burung kecil
berubah menjadi bulu yang terbang
melayang-layang di atas sawah, ladang dan kebun tebu
dan berubah menjadi gedung-gedung
menjulang menancapkan kakin…

Sajak-Sajak Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
SUARA HATI TKW

Raga kami telah kalian
penjara
tapi jiwa kami masih
merdeka

mimpi-mimpi kami
telah kalian gadaikan
tapi semangat kami
masih menyala

suara-suara kami
telah kalian redam
tapi nurani kami akan
terus lantang bicara

bertahun-tahun kalian
pasung kami dalam
rantai nestapa
batin kami menangis lirih
tak berdaya

peluh kami telah luruh
membasahi nurani
berusaha menggapai
mimpi-mimpi yang tak terbeli

kami memang tak seberani
MARSINAH yang rela
menukar nyawanya
demi tegaknya keadilan

bukan pula R.A. KARTINI
yang terkenal dengan
“habis gelap terbitlah terang”

kami hanya kaum BMI
di sini tuk sekedar
menyuarakan isi hati

(SA & AW)
Kennedy Town 02-09-2010
BMI (Buruh Migran Indonesia)



MUTIARA JALANAN

Mata yang telaga itu
kini telah di buramkan
debu-debu zaman

kaki yang tak beralas pun
melepuh oleh panasnya aspal jalanan
terseok menuju tiap perempatan lampu merah

diayunkan benda
di tangannya yang mengeluarkan irama
kenestapaan
ada tatapan jijik
dari balik kaca sepion keangkuhan

bibirmu tak lelah
menyanyi…

Sajak-Sajak Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.infoanda.com/Republika
DI LERENG MERAPI

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan

guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

2006



SELALU ADA JEJAK

bahkan aku tak pernah mencatat
bekas air atas batu-batu dan ganggang
apalagi belaian angin pada dedaunan
hingga gemerisik dalam kemesraan

padahal selalu ada jejak
tak sekadar tanda
yang akan menjadi saksi
saat berjumpa

bahkan aku hanya bisa diam
saat kesunyian kian larut pada malam
menumpahkan segala gerak pesona
tanpa suara, tanpa kata-kata

2006



MEMILIH KEMBALI

kemacetan demi kemacetan telah merangsek

dalam hari-hariku, lihatlah, betapa luka
telah tumpah di seruang dada
bau anyirnya mengaliri jasad yang gelora
meninggalkan polusi dunia

di manakah rayuan yang dulu kau nyanyikan
nyatanya mengembarai waktu
hanyalah kota yang kian berdesakan
wajah kepalsuan

dalam geremang malam yang kegera…

Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan

Damhuri Muhammad*
Kompas, 9 Desember 2008

BISAKAH sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.

Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang majnun (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).

Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, tradi…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan