Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Duka Nestapa Sastra dan Budaya

Fuska Sani Evani
Suara Pembaruan, 29 Nov 2007

SPANDUK bertuliskan “Duka Nestapa Sastra Pustaka” terpasang begitu saja di salah satu sisi pagar Museum Radya Pustaka Solo yang saat ini tertutup untuk umum dan dikelilingi “police line” berwarna kuning. Polisi yang berjaga pun tidak tahu siapa yang memasangnya, yang jelas spanduk itu sudah ada sejak Sabtu (24/11).

Pemasangnya barangkali geram, sekaligus sedih akan hilangnya lima arca yakni arca Agastya (Siwa Maha Guru), Siwa Mahadewa, Mahakala dan dua arca Durga Mahesasuramardhini peninggalan sekitar abad IV-X masehi. Sedangkan, arca Dhyani Budha, arca Sarasvati, dan arca Bodhisatva Avalokitesvara sudah hilang di tahun 2000. Selain arca, museum itu juga kehilangan nampan besar dari keramik, genta atau lampu gantung dari perunggu, dan tatakan buah terbuat dari kristal hadiah Napoleon Bonaparte untuk Paku Buwono IV.

Museum Radya Pustaka didirikan Patih Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada tanggal 28 Oktober 1890, sema…

Mendedah ‘Warah’ Sejarah

Judul buku: Syekh Bajirum dan Rajah Anjing
Penulis : Fahrudin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : 1, Februari 2011
Tebal : 142 halaman
Peresensi : S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

MEMBACA kumpulan cerpen tak ubah melakukan tamasya kisah. Kadang kita mendapatkan pengalaman batin pun pengetahuan lahir yang membuat sejenak melancong ke alam cerita yang diwarahkan penulisnya. Begitu pun kisah yang diwedarkan Fahrudin Nasrullah dalam Syekh Bajirum dan Rajah Anjing. Pembaca disuguhi bermacam kisah dengan latar sejarah pada 11 cerpen yang diagitnya. Cerpen satu dan lainnya menyuguhkan tema dan cita yang berbeda, tapi tetap dengan latar sejarah.

Ada dua tema besar yang tertuang dalam beragam judul, yaitu sejarah dengan warna sejarah kolonial dan sufistik Islam yang kental dengan kejawaan. Apa pun tema besarnya, Fahrudin mampu menggiring pembaca lesap dalam cerita yang dibangunnya dalam silang sengkarut permasalahan sang tokoh.

Seperti pada pembuka yang bertitel Surabawuk Megatruh. …

Gelas-gelas Tak Bertuan

Fanny Chotimah *
http://pawonsastra.blogspot.com/

Gelas-gelas itu berdiri pasrah di atas meja
dengan endapan teh manis, ampas kopi, air putih dan genangan semut.
Gelas-gelas itu menunggu sebuah genggaman.

Gelas-gelas itu selalu terjaga meski ditinggalkan.
Ia mungkin tak ingat berapa banyak bibir yang pernah mengecupnya.
Namun ia tak pernah lupa akan kecupan pertama dari perempuan
tanpa perona bibir. Meninggalkan jejak lekat di ingatan,
air sabun tak bisa menghapusnya.
Jejak itu selalu ada di sana, menunggu pemiliknya kembali.

Gelas-gelas itu setia menemani percakapan.
Kunjungan tak terduga seorang tamu
yang diharapkan maupun tidak.
Gelas-gelas itu merayakan kedatangan.
Gelas-gelas itu teman kesepian.

2010

*) Perempuan yang hobi cuci piring, tinggal di Solo.

Puisi-Puisi Mardi Luhung

http://sastra-indonesia.com/

ULANGAN BAHTERA

Seperti firman, dia membuat bahtera di puncak bukit. Dan
memasukkan bekal serta memilih setiap yang berpasangan dengan
tenang. Sambil diajar menghitung. Dan cara menghadapi laut.
Laut yang akan menenggelamkan bukit tanpa ampun.

“Tapi, apa benar laut bisa menenggelamkan bukit?”

Dia cuma ketawa. Dia tahu, jika pengetahuannya tak bisa
diungkap semua. Harus ada yang tetap rahasia. Dan tetap
dibiarkan seperti teka-teki sapi betina yang kuning. Yang
membuat kaum pendebat terus menerus berputaran. Berpusaran.

“Tuan bisa ketawa. Sebab, Tuhan-tuan mungkin juga ketawa,”

Dia kembali ketawa. Dan segulung kulit kambing dibentang.
Dia pun menunjuki dua atau tiga noktah. Tapi tetap saja
tak memberi keterangan. Dibiarkannya yang ada terbekap.
Dan dibiarkannya yang ada bersungut-sungut: wah, wah..

Dan sepekan ke depan, sebelum laut tiba dan menengelamkan,
dia turun ke seputar bukit. “Akh, betapa indahnya bukit ini,”
Dan dia pun memungut sejumput pasir. Lewat pasir itu, dia
be…

Lukisan-lukisan Garam

Fatimah Wahyu Sundari
http://pawonsastra.blogspot.com/

Berjalan sunyi di tepi laut
Menuju gubug tua
Kita akan bercerita
Dalam kaca bermuram cahaya
Kudengar dengkurmu di kamar sebelah
Ingin segera kuserahkan
Segala tunduk, cium, rinduku padamu
Mata kita menemukan lukisan-lukisan garam
Tak memerihkan namun memerahkan

Kau hisap darahku rakus
Hingga ombak yang menjerit
Terkalahkan gelombang tawamu
Lalu kita menapaki serakan pasir putih
Ku sapa angin bersama nyawa yang terlelap
Menuju jembatan dingin

Aku tak sanggup mengungkap senyum
Meski jejak langkahmu selalu kuikuti

*) Penyair muda asli Karanganyar. Siswi XII IPS SMA Al Muayyad Surakarta. Bergiat di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.

Puisi-Puisi S Yoga

Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010
GENDERUWO

obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010



BARONGSAI

barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang berc…

Merah Marah Darah

Anna Subekti
http://pawonsastra.blogspot.com/

Bayang api berpendar di jendela kaca rumahmu
lelaki lajang dan wanita jalang
bercengkerama tanpa kata di ambang pintu
marah merah
peri malam bersandar batu pualam
menangkap tatap kosong
nanar
aku meminta jeda,
dalam setiap baris yang kau sebut kata.

Puisi-Puisi Faizal Syahreza

http://www.balipost.co.id/

Rebung

bertahanlah rebung-rebung di rumpun aur itu,
hidup kalian memang akan sampai di situ.

akan sampai kalian ke dalam mangkuk-mangkuk
yang wajar, juga dilahap kami orang-orang sabar.

jangan lagi hiraukan masa depan,
merasuki langit, terlibat seteru angin yang sengit,
kalian akan direbus sekian menit dalam kuali
sampai hilang rasa pahit, sampai hilang kenangan sepi.

ruap kalian yang membubung
memanggil selera kami bangkit
menuju kuah yang legit
jangan menjerit, jangan pula merasa sakit!

kami lebih tahu apa itu namanya perih
nyeri, juga sedih.

karena dalam menghadapi kalian yang telah sempurna
di gigir nasi sebakul, di sindir ikan asin.

inilah waktunya menyantap kalian, kami saling berkeliling
lapar saling merangkul, nafsu saling ingin.

kalian bergiliran tersuap ke mulut kami yang dzikir,
yang karib. setelah kehabisan usianya menebak
apa itu takdir, apa itu nasib dan apa itu
kebahagian.



Tungku Gunung Wayang

di depan tungku, kuhangat-hangatkan tubuhku
kuasuh-asuh jiwaku, agar membara…

Kesaksian Kelopak Mawar Hutan

Siska Afriani
http://pawonsastra.blogspot.com/

Dan ketika subuh itu berada dalam kedamaian tak bertuan,
Kau selalu terbangun dari mimpi-mimpi tak beralasan,
Lalu bersicepat dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang mungkin
akan meremukkan tubuh ringkihmu,
Mendaki punggung bukit yang tak lagi sepantaran dengan usiamu.

Kau tau…..?
Semua orang masih terlelap menjemput mimpinya dalam angan tak nyata,
Nyonya-nyonya besar itu masih berpeluk erat dengan suami mereka,
Dan para pelacur itu baru saja menikmati hidup yang baru mereka rengkuh,
Sementara kau…..
Harus bergelut dengan dinginnya pagi,
Memunguti kelopak-kelopak mawar hutan
Untuk memuaskan cacing-cacing yang selalu berkerontangan dalam perutmu.
Lalu adilkah hidup ini bagimu…?

***

Alunan lagu sunyi disubuh itu
selalu membangunkanku dari mimpi-mimpi yang berkesan,
Lalu berpacu dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang menyejukkan tubuh ringkihku,
Bercengkrama dengan punggung bukit yang mematangkanku bersama dengan waktu.

Ketika aku melangkah dala…

‘Sastra Kiri’, Sastra Berpihak

DONGENG DARI SAYAP KIRI (Kumpulan Cerita Pendek)
Maxim Gorki, Gabriel Garcia Marquez, John Steinback, Jean-Paul Sartre, Lu Hsun
Penerjemah dan pengantar : Eka Kurniawan
Penyunting : Subandi
Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia, 2000
Peresensi: Gendut Riyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Sastra kiri”, atau sastra Marxis, selalu mengingatkan kembali pada sebuah gerakan di awal abad ke-20, yakni realisme sosialis. Itulah sebuah periode ketika Maxim Gorki berdiri sebagai pelopornya. Selain di Rusia, gerakan ini berpengaruh luas, di antaranya di daratan Cina dan Indonesia, yang berawal dari penolakan terhadap sastra (dan seni pada umumnya) “borjuis”, sebagaimana Karl Marx menolak sistem kapitalisme. Sastra realisme sosialis lebih menekankan pada “visi” ketimbang “bentuk”. Sastra harus merupakan representasi kondisi obyektif masyarakat yang diasingkan oleh sistem kapitalisme yang menindas. Sastra realisme sosialis atau sastra kiri berempati pada derita rakyat melarat, pada mereka yang disam…

Cermin yang Membuat Kita Meringis

Dewi Anggraeni
http://majalah.tempointeraktif.com/
The Politics of Indonesia, second edition
Penulis/penyunting: Damien Kingsbury
Penerbit : Oxford University Press, 2002
Tebal : Paperback, 330 halaman

Betapapun carut-marutnya wajah Indonesia belakangan ini, toh kita berupaya agar tampak menyenangkan. Kita butuh cermin, dan itulah yang kita dapat ketika membaca The Politics of Indonesia, tulisan Damien Kingsbury, seorang akademisi senior dari Universitas Deakin di Melbourne yang telah meneliti situasi politik di Indonesia lebih dari sepuluh tahun.

Memang, sudah ada sejumlah buku tentang Indonesia yang ditulis pakar luar negeri. A History of Modern Indonesia since c. 1200, oleh sejarawan kawakan Merle Ricklefs, misalnya, walau jujur dan penuh data, tidak membuat kita merasa sama sekali ditelanjangi. Mungkin karena Ricklefs mulai penuturan sejarahnya dari era jauh sebelum terbentuknya negara kesatuan Indonesia, sehingga carut-marut di wajah Indonesia tidak begitu menonjol di samping wajah sera…

Lamunan Sepintas yang Mengusik Hati

Judul buku: Cerita-Cerita dari Rumah No.9
Penulis : Alexander G.B.
Penerbit : Dewan Kesenian Lampung, Bandar Lampung
Cetakan : I, Desember 2010
Tebal : 82 halaman
Peresensi : Didi Arsandi *
http://www.lampungpost.com/

MEMBACA kumpulan cerpen Cerita-Cerita dari Rumah No.9 sama seperti menjumpai kembali lamunan sepintas yang mengusik hati, menggoyang kemapanan cita-cita saya yang ingin punya uang banyak, dikelilingi wanita cantik, dan tampil elegan dengan jabatan penting yang dielu-elukan kerabat dan para sahabat. Sebaliknya, Alexander G.B. justru menyajikan sejumput cerita dengan menu blak-blakan tentang birokrasi yang bobrok, pengusaha yang culas, dan rakyat miskin yang jadi bulan-bulanan keduanya. Golongan masyarakat eksklusif yang serbaglamor, yang warna kehidupan mereka saya damba-dambakan, malah digambarkan sebagai karakter yang rusak, killer, dan kehilangan naluri kemanusiaannya.

Melalui delapan cerita pendek yang tersaji, saya dipaksa untuk meninjau ulang rencana dan tujuan hidup. Sudah…

Kesederhanaan Saut Poltak Tambunan Yang Menyimpan Luka Bahagia

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur
Cetakan : I, Maret 2011
Harga : Rp. 44.000, 00
ISBN : 978-602-97300-1-2
Peresensi : Lina Kelana
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca…

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Sastra-Indonesia.com