Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Memahami Gaya dan Keindahan Bahasa

Judul Buku : Stilistika;
Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya
Penulis : Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : xi + 480 halaman
Harga : Rp 51.000,-
Peresensi : Supriyadi*)
http://oase.kompas.com/

Bahasa merupakan media, alat, atau sarana untuk komunikasi manusia yang satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa, umat manusia bisa saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, tersampaikanlah pesan dari orang ke satu kepada orang yang lain, bahkan orang yang lain pun bisa membalas pesan tersebut kepada orang ke satu (pengirim pesan). Hal itu karena bahasa yang digunakan mampu diiterpretasi dan dipahami oleh kedua belah pihak, yakni pengirim pesan dan penerima pesan.

Pada dasarnya, semua makhluk hidup (manusia, binatang, dan tumbuhuan) itu berbahasa. Akan tetapi, hanya manusia yang dihukumi mempunyai bahasa karena hanya manusia yang memiliki akal pikiran untuk belajar dan mempelajari sesuatu, termasuk bahasa. …

Sejarah yang Dibebaskan

Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX
Penyusun:E. Ulrich Kratz
Penyunting:Pax Benedanto
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2000
Peresensi :Radhar Panca Dahana
http://majalah.tempointeraktif.com/

Hal yang paling menarik dari buku ini tentu bukan tebalnya yang lebih dari 1.000 halaman, atau ketekunan penyusunnya yang telah lebih dari tiga dekade menggumuli sastra Indonesia dan sastra Melayu pada umumnya, tetapi pada keberanian sang penyusun menampilkan 97 artikel pilihan (tepatnya 98, jika ditambah artikel pengantar dari penyusunnya sendiri) dari tahun 1928 hingga 1997, atas nama “Sejarah Sastra Indonesia”. Keberanian ini setidaknya terlihat pada absennya penjelasan dari penyusunnya tentang arti “sejarah”. Inilah sebuah istilah yang ternyata begitu menimbulkan polemik dan penuh risiko jebakan menyesatkan, bahkan untuk mereka yang kita sebut sejarawan.

Dalam sastra, kata “sejarah” banyak dibincangkan dengan tekanan (yang terus direproduksi hingga hari ini) pada soal asal…

Teks Klasik Dan Pembentukan Budaya Daerah

Agus Sulton
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

/1/
Penyebutan istilah ”klasik” pada teks-teks sastra atau teks sumber sejarah hakikatnya lebih berkenaan dengan masalah waktu. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya, dapat dikatakan bahwa kebanyakan isinya mengacu kepada sifat religius, histories, didaktis, dan belletri. Ini berarti bahwa penetapan periodisasi bagi periode sastra klasik tidak dapat dipastikan secara pasti, seperti apa yang terjadi dalam sastra Indonesia, mungkin karena penciptaan manuskrip tidak dapat diketahui secara pasti. Dalam hal ini, sastra klasik konsep awalnya lebih mengarah untuk mempengarui suatu kelompok masyarakat agar mengikuti pada kelompok tertentu, atas dasar menyampaikan ajaran-ajaran yang akhirnya dapat mendogmatisasi kemudian menjalankannya secara taqlid, sehingga bagi literator atau pencipta dari kalangan bukan abdi dalem keraton jarang mencantumkan nama pengarang atau tahun penciptaan teks itu sendiri.

Teks klasik yang tulis tangan ini dipandan…

Mari Menulis Fiksi Islami

Aliansyah
http://www.banjarmasinpost.co.id/

DALAM setiap periodisasi perkembangan kesusastraan Indonesia selalu diwarnai dengan kehadiran fiksi islami. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fansuri, Buya Hamka, Danarto, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Mustafa W Hasyim, Abidah El Khaliqi, dan seterusnya. Pilihan mereka untuk mengusung nilai-nilai islami tentu didasari niat menjadikan karya fiksi sebagai sarana dakwah.

Sayangnya, jumlah penulis di jalur ini kalah banyak dibanding mereka yang berhaluan agak ‘kiri’. Akibatnya, dunia perfiksian di Tanah Air justru didominasi oleh cerita-cerita mistik, tahayul, kekerasan, serta kisah percintaan yang kadang menyerempet pada seks bebas. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat mencuat istilah ‘sastrawangi’ atau ‘sastra lendir’ yang gencar mengeksploitasi seputar masalah syahwat. Ironisnya, gerakan yang dipelopori Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu tersebut berhasil menjadi tren dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Maraknya ka…

Pertemuan Dua Presiden Penyair

Salyaputra
http://cetak.kompas.com/

PERTEMUAN Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi boleh jadi hal yang lumrah saja. Namun, mengingat peran dan mitos mereka selama ini sebagai tokoh perpuisian Indonesia, tak pelak perjumpaan dua sahabat lama ini mengandung sekian kemungkinan arti dan juga tafsir tersendiri: sebuah kilas balik sekaligus refleksi akan kehidupan susastra Indonesia di masa depan.

Dalam tahapan sejarah sastra Indonesia, keduanya terbilang angkatan 1970-an, yang tumbuh senyampang kemelut dan tragedi sosial politik tahun 1965. Apabila Chairil Anwar dan rekan-rekan seniman segenerasinya, melalui ”Surat Gelanggang”, memaklumatkan sebagai ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia serta menegaskan diri sebagai ”binatang jalang” yang meradang dan menerjang (individualis), Sutardji-Umbu bersama sejawatnya malahan menggaungkan kehendak untuk ”kembali ke akar”. Ini sesungguhnya tidak semata pertarungan keyakinan antargenerasi, tetapi mencerminkan pula apa yang disebut oleh pa…

Pledoi Puisi, Memori Sunyi

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

bukan, bukan ciuman
yang tersisa di tubuhmu
tapi puisi paling sunyi

Demikian bunyi lirik dari puisi Teguh Trianton yang berjudul “Pledoi Puisi”, terkumpul dalam Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 6 bertajuk Pledoi Puisi (diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah. 2009).

Saya mengasumsikan, kutipan lirik di atas adalah inti dari beberapa tema puisi yang terhimpun di Pledoi Puisi, khususnya puisi yang ditulis oleh beberapa penyair dari wilayah eks Karesidenan Banyumas yang disebut-sebut oleh Haryono Soekiran (kurator untuk antologi ini) sebagai penyair terkini Banyumas.

Pada mulanya adalah sunyi

Menikmati Pledoi Puisi, saya seakan diajak untuk menghikmati sunyi. Sunyi yang dihadirkan oleh penyair memang nyaris tak seragam, terkadang menjadi pangkal terkadang pula ujung dari sebuah kejadian: Entah itu berupa perpisahan, pertemuan atau ketidakpastian. Masing-masing sunyi memiliki asal usul tersendiri: Dari alam, hati, maupun puisi.

Seperti pui…

Lidi Segala Kata, Sajak Herry Lamongan

Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/

Mungkin adalah benar bila sebuah pendapat menyatakan bahwa ketika kita menyakiti seseorang itu ibarat menancapkan sebuah paku pada sebuah kayu. Bila berkali-kali kita menyakiti seseorang berarti hal itu seperti berkali-kali pula kita menancapkan paku-paku itu pada sebuah kayu.

Sedangkan ketika permohona maaf kita lontarkan atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, mungkin hal itu ibarat kita mencabut paku-paku yang telah kita tancapkan tersebut dari sebuah kayu.

Memang benar dengan permohonan maaf seolah-olah kita telah mencabut paku-paku tersebut dari kayu, kita telah mencoba menghilangkan rasa sakit akibat perbuatan kita pada seseorang.

Namun demikian bila kita perhatikan, benarkan kita telah menghilangkan rasa sakit secara keseluruhan dengan mencabut paku-paku itu, melalui permintaan maaf tersebut.. Bila kita perhatikan lebih teliti ternyata bekas paku-paku yang telah kita tancapkan pada diri seseorang itu menyisakan lubang-lubang. Lubang-lubang …

Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)

(Kumpulan Esay & Puisi H.U. Mardiluhung, terbitan PUstaka puJAngga, Cetakan ke II, 2006)
Nurel Javissyarqi *
http://sastra-indonesia.com/

Ketika realitas masuk dalam angan ke depan (harapan), lalu terjadilah pergumulan, lantas kabut mitos menyempurnakan gagasan awal, saat bergerak maju terlahirlah puisi. Puisi, salah satu cabang ilmu pengetahuan, sebab ia memiliki logika, meski tersendiri. Ia lebih sempurna daripada ilmu lain, lantaran di kedalamannya bersimpan logika rasa, itulah sebagian jalan terciptanya puisi, meski juga bisa berbalik arah.

Penciptaan puisi dalam masa-masa lembut yang terlahir kadang seolah spontan, tetapi semua berangkat dari angan lalu, panalaran lampau yang kemarin belum menemui juntrung. Ketika pena terangkat, aliran asosiasi pencarian dulu mendapati muara kejelasan, walau awalnya kadang belum menjelaskan keseluruhan. Tapi sedikit-banyak telah mewakili kehadiran gelisah tempo lama. Waktu-waktu lembut termaksudkan ialah masa-masa pelan jalannya menjelajahi pepa…

Sastra Melayu Tionghoa Mencari Pengakuan

KESUSASTRAAN Melayu-Tionghoa adalah tonggak sejarah yang terlupakan di Nusantara.

Satriani
http://www.ujungpandangekspres.com/

Selama nyaris seabad (1870-1960) dihasilkan tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern. Karya sastra Melayu-Tionghoa merupakan refleksi kritis terhadap dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Neerlandica (masa keemasan penjajahan Belanda-Red) dan beberapa dekade awal kemerdekaan Indonesia. Pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa sebagai warna “Indo” dari Indonesia tergambar dalam karya-karya tersebut.

Keberadaan Tionghoa yang tidak seragam, ada yang berorientasi ke negeri leluhur, berpihak pada Indonesia, atau memuja kolonialisme Belanda, terekam dalam rangkaian karya tersebut. Otomatis ini menggambarkan pluralitas dalam komunitas Tionghoa yang di mata masyarakat banyak sering disamaratakan dengan stereotype tertentu.

Ibnu Wahyudi seoran…

Perempuan Menulis Puisi

David Krisna Alka
http://www.sinarharapan.co.id/

Perempuan penyair Indonesia dilihat dari segi kuantitas dan kualitas sangat sedikit dibandingkan dengan laki-laki penyair. Beberapa perempuan penyair seperti Toety Heraty, St. Nuraini, S. Rukiah dan Isma Sawitri, karya-karya mereka kini sudak tak pernah terlihat lagi. Apa masalahnya? Padahal kekuatan rasa perempuan lebih tinggi dan mendalam dari laki-laki, jika mulanya kekuatan puisi adalah rasa sebelum kata.

Kompleksitas rasa pada perempuan memiliki daya menggugah yang cukup kuat untuk menulis puisi. Perasaan pada perempuan begitu dalam. Oleh karena itu potensi perempuan menulis puisi kemungkinan dapat melebihi laki-laki. Perempuan mengubah kekuatan perasaannya membentuk aksara di atas kertas, membuat kata menjadi bermakna, menjadikan imajinasi penuh rasa, dan menangkap realitas dengan perasaan yang dalam menjadi puisi yang terurai dan berkembang.

Biasanya, perempuan menulis keluh-kesahnya dalam sebuah diary. Keluh kesah pribadi, sosial, d…

Demokratisasi Sastra Pasca-Kongres KSI

Dad Murniah *
http://www.infoanda.com/Republika

Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) 2008 di Kudus Jawa Tengah selama tiga hari (19-21 Januari 2008) baru saja usai. Penyair dan redaktur sastra Republika, Ahmadun Yosi Herfanda, terpilih sebagai Ketua KSI yang baru. Para peserta, dari berbagai penjuru Tanah Air, telah kembali ke kota masing-masing, kembali ke ‘ruang sunyi’ dunia penciptaan mereka sendiri yang penuh tantangan kreativitas.

Tentu, banyak hal bisa didapatkan dari kongres itu. Kongres telah menjadi ajang silaturahmi, saling tukar informasi, menambah jaringan dan teman di kalangan sastrawan seluruh Indonesia. Tetapi, selain hal-hal itu, rekomendasi Kongres KSI yang dibacakan ‘ibu penyair’ Diah Hadaning cukup menarik untuk dicermati.

Butir pertama dari rekomendasi itu, misalnya. Dalam butir ini diingatkan mengenai pentingnya nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme, misalnya kemandiriaan dan kenusantaraan dalam karya, sangat penting untuk kembali dibumikan di Tanah Air. Dalam …

RUANG TUNGGU

Abdullah Khusairi
http://kendaripos.co.id/

Selangkah lagi cita-citaku untuk melanjutkan kuliah S-2 tercapai. Beasiswa dari Laiden itu jawaban pasti dari gelora di dada selama ini. Semua seperti sudah di depan mata. Tak lagi aku perlu berangan-angan dari waktu ke waktu seperti Pungguk yang terus merindukan bulan.

’’Mak, aku dapat beasiswa kuliah S-2 dan mungkin juga S-3 di Belanda.’’ Aku kirim pesan pendek ke handphone adikku, Rai, di Sawahlunto. Aku yakin akan disampaikannya kepada emak.

’’Selamat. Semoga sukses selalu,’’ begitu balasan pesan pendek itu datang. Ya, aku bahagia mendengar jawabannya. Walau sebenarnya aku ingin jawaban yang lebih; boleh atau tidak aku pergi kuliah di negeri kincir angin itu. Ah, biasanya Rai sedang tak di rumah.
***

Jika saja ayah masih hidup, pastilah ia amat bangga mendengar berita kesuksesan ini. Dan, tentu akan mengizinkan dengan senang hati. Karena ayah sadar betul tentang pentingnya pendidikan untuk anak-anaknya. Ia pernah menyatakan, biarlah ayah dan ib…

Sebastio

Sudirman HN
http://www.sinarharapan.co.id/

Namanya Sebastio. Sebastio Gomez. Kulitnya legam, matanya sering kali kelam. Ia datang dari sebuah negeri kecil dan gersang di selatan. Suaranya kerap bergetar ketika bercerita tentang masa lalunya. Jemarinya kurus, wajahnya tirus.

Ia sekali lagi meraih kretek yang aku letakkan di atas meja di sebuah kafe yang lengang pada sebuah senja yang murung. Kusodorkan korek api yang menyala dan ia menyedotnya kuat-kuat. Asapnya berkesiur ditiup angin samudera Pasifik di kota yang asing ini. Kami cukup lama saling berdiam diri. Meresapi suara angin, cericit burung yang beranjak ke sarang dan percakapan tergesa orang-orang yang usai bekerja seharian, yang seperti kami singgah di sini sekedar membunuh waktu dan kebosanan sebelum pulang ke rumah.

Juni 2002, Brisbane mulai disergap musim dingin. Desau angin agak kencang menyisakan gigil bagi kami, dua orang anak muda yang terbiasa dengan matahari tropika. Langit mendung. Kami berhadap-hadapan, masing-masing de…

Ara

Wa Ode Wulan Ratna
http://kendaripos.co.id/

Hampir selama tiga tahun, semua perempuan cantik yang ia lihat di televisi adalah Ara. Sebelumnya, masa-masa sebelum bertemu gadis itu adalah saat-saat tersulitnya. Ia pulang ke Kendari tanpa pernah menyelesaikan akhir kuliahnya saat orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil dan menyisakan dokumen-dokumen warisan kepada pengacaranya. Harta peninggalan keluarganya pun jatuh ke tangannya. Sebuah rumah besar di Kemaraya dan perkebunan cokelat di Puwatu.

Itu adalah masa-masa sepinya sebagai anak tunggal yang jauh dari keramaian, pergaulan yang diinginkannya, juga perempuan-perempuan kota. Waktunya habis di perkebunan. Ia pulang pergi ke kebun itu untuk mengawasi setiap pekerja. Mengomando mereka untuk memetik cokelat yang telah matang, membantu menjemur biji-biji cokelat, menimbang dan menghitung karung-karung cokelat yang telah jadi, mengecek buku pemasukan, dan membayar upah para buruh.

Awalnya, meski kegiatan itu terasa menjemukan dan memang buka…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan