Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

INTRIK PENYAIR DAN KARYANYA

(Ini hasil perasaan saja, andai saya seorang penyair. Dan jika benar istilah perasaan itu, awal daripada ilmu pengetahuan).

Kitab Para Malaikat sejatinya bukan “puisi.”

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=648

Apa yang kalian impikan pada tinggi kepenyairan? (Goethe).
Puisi ialah masa-masa mati. Terhenti atas kekakuan dirinya yang telah terselubung kelenturan. Ia tidak bisa bergerak terlampau jauh, ketika “kata-kata” sudah mewakili kehadirannya. Maka penciptaan puisi, sejenis latihan bunuh diri berkali-kali.

Siapa yang mati di sana? Penciptanya, dipermalukan kejujurannya. Meski berselimutkan kerahasiaan, tetaplah ada keinginan untuk diketahui, difahami. Mungkin ini sisi lain kebinalan puisi sebelum mati, sedurung di kubur dalam keranda kata-kata.

Saya tidak hendak menghakimi. Ini realitas keindahan terbatas di muka bumi, sebuah musim bunga terhilangkan lewat gugurnya dedaunan atas musim berubah. Matahari yang kita nikmati, menciptakan hayalan, yang keinginannya terus bertambah da…

Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar

Santy Novaria
http://sosbud.kompasiana.com/

Saat itu, saya masih tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Batam yang di komandoi mbak Nurul F. Huda. Siapa yang tidak kenal sosok Ibu yang ramah ini..??? Kalau anda ‘predator’ buku, pasti tau, setidaknya pernah mendengar namanya. Kami (FLP) kedatangan tamu Agung waktu itu. Ya, saya katakan Tamu Agung karena, mbak Nurul saja sampai terkaget – kaget melihatnya, menurut curhatannya sendiri.

Dia datang hanya memakai celana jeans belel yang sedikit usang, jika dibandingkan dengan kualitas Jeans yang saya pakai. Bajunya hanya kaos Oblong berkerah, kalau tidak salah berwarna biru, bertopi pet, dan bersendal jepit. Ya, hanya sendal jepit. Saya yang berpakaian sangat bagus, langsung menciut seketika. Bisa – bisanya saya lebih necis dari Beliau. Kemana harga diri saya…???

Sebenarnya, ini bisa jadi pertemuan kedua saya saat itu. Ditahun 1998, saat itu saya masih SD kalau tidak salah, dia dan beberapa Sastrawan lainnya juga pernah menyambangi Kota saya …

Mengemas Cerita Rakyat Jadi Buku

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika

Seorang menteri bersama kelompok kecil menghadap raja. `’Ampun beribu ampun, Baginda. Kami datang tanpa diundang,” sang menteri bersimpuh.
`’Katakan, apa maksud kedatangan kalian,” tanya raja.
`’Kedatangan kami kemari memohon Baginda untuk memilih satu di antara dua pilihan.”
`’Pilihan apa?” raja makin tak sabar.
`’Mana yang disukai Baginda, telur yang sebutir atau telur banyak. Jika Baginda menyukai telur yang sebutir, hamba bersama segenap rakyat akan mengungsi untuk menghindarkan diri dari kejangkitan penyakit kulit yang diderita Sang Putri.”

Baginda dengan tegas menjawab, lebih memilih telur yang banyak. Sang Putri pun akhirnya diasingkan. Bersama rombongan kecil, mereka menuju ke daerah lain, hingga akhirnya terdampar di sebuah tempat tak berpenghuni di tepi sungai. Di tempat itulah mereka bermukim. Berkat jilatan kerbau liar, penyakit kulit yang diderita Sang Putri sembuh. Putri pun tampak cantik, kulitnya halus.

Dari kerajaan yang lai…

Pertanyaan Untuk Maman S Mahayana Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto
http://mahayana-mahadewa.com/

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 itu juga tercatat sebagai Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Depdiknas sejak 2000-sekarang, Konsultan Penerbit Balai Pustaka, Pembaca Ahli Jurnal Mahawangsa, Universiti Putra Malaysia, Pembaca Ahli Jurnal Asia Tenggara Hankuk University Korea, dan konsultan Jurnal Asia, jurnal dwibahasa Inggris-Korea, memuat khazanah sastra dari negara-negara Asia. Lantas, bagaimana Maman menilai perkembangan sastra dan peran sastrawan dalam pembentukan kebudayaan Indonesia? Berikut petikan wawancaranya.

{ margin-bott…

Para Perempuan Penulis Bersaing di Pasar

Ada yang Tawarkan Novel Karya Sendiri Door to Door
Endah Imawati
http://www.surya.co.id/

Setelah beberapa novelnya menjadi perbincangan komunitas sastra, Ayu Utami melempar novel terbaru, Manjali dan Cakrabirawa. Tak perlu berpeluh-peluh, kepopuleran nama Ayu Utami menjadi tiket untuk kelarisan novel-novelnya.

Novel Manjali dan Cakrabirawa bercerita tentang Marja, yang dititipkan berlibur oleh kekasihnya pada sahabat mereka, Parang Jati. Mereka menjelajahi pedesaan Jawa dan candi-candi. Perlahan, Marja jatuh cinta. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa.

Manjali dan Cakrabirawa terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini yang pertama dari Roman Misteri – Seri Bilangan Fu, serial yang berhubungan dengan Novel Bilangan Fu. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri ini merupakan petualangan memecahkan teka-teki yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Nusantara.

Ayu memiliki…

HOLOCAUST RISING: DI TENGAH KRISIS TEATER DAN KANIBALISME

Sri Wintala Achmad
http://sanggargununggampingindonesia.blogspot.com/

Tidak terpungkiri bahwa Yogyakarta telah diasumsikan banyak orang sebagai salah satu kantong seni-budaya di Indonesia. Sehingga tidak musykil kalau EMHA Ainun Nadjib pernah menggagas bahwa Yogyakarta berpotensi menjadi ibukota kebudayan. Gagasan Cak Nun tersebut sangat beralasan. Karena berbagai genre kesenian yang merupakan produk budaya telah mengalami pertumbuh-kembangan secara dinamis di kota ini. Tidak hanya seni rupa, sastra, tari, dan seni teater yang bernuansa modern, melainkan yang bernuansa etnik lokal dan nusantara dapat tumbuh subur di Yogyakarta.

Terutama dalam kehidupan seni teater. Sejauh yang saya catat, kesenian teater (mother of arts) yang kini mengalami masa lesu tersebut pernah mengalami masa kegairahannya pada dekade 70-90an. Pada masa itu, banyak kelompok teater baik yang sanggar maupun akademis (sekolah dan kampus) mengalami pertumbuh-kembangan dinamis di kota Yogyakarta.

Dinamika pertumbuh-kemban…

RAJA ALI HAJI: BAPAK KESUSASTRAAN MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Kalau bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Klasik, maka kesusastraan Indonesia lahir karena dukungan sastra klasik yang tersebar di kepulauan Nusantara, seperti Bali, Jawa, Sunda, atau Melayu. Khusus dalam pembicaraan yang menyangkut kesusastraan Melayu Klasik, tentu saja Abdullah bin Abdulkadir Munsyi tidak dapat dilewatkan. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Syair Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura ke Kelantan, Hikayat Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, dan Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah.

Para pengarang lain yang terkenal adalah Nurrudin ar-Raniri dan Hamzah Fansuri dengan syair-syair tasawufnya, Tun Sri Lanang dengan Sejarah Melayu-nya, dan Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas-nya. Yang terakhir inilah yang membawa nama Raja Ali Haji lebih dikenal sebagai sastrawan, meskipun ada sebagian buah tangannya bukan karya sastra. Bahkan, karyanya yang menyangkut masalah tata bahasa Melayu am…

Fenomena Sastra Indonesia Mutakhir: Komunitas dan Media

karya Nanang Suryadi
diposting oleh Meli Indie pada:
http://media.kompasiana.com/

Komunitas Sastra

Meneropong sastra Indonesia mutakhir, tidak cukup hanya berbicara perkembangan satu dua tahun terakhir. Walaupun mungkin selama setahun dua tahun terakhir ada suatu perkembangan hebat yang terjadi. Fenomena komunitas sastra, misalnya, sebenarnya bukan merupakan hal yang baru di jagad sastra Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun lalu Komunitas Sastra Indonesia sudah mengidentifikasi berbagai komunitas sastra (seni dan budaya) yang ada di tanah air. Komunitas Sastra Indonesia memberikan definisi komunitas sastra sebagai:

“kelompok-kelompok yang secara sukarela didirikan oleh penggiat dan pengayom sastra atas inisiatif sendiri, yang ditujukan bukan terutama untuk mencari untung (nirlaba), melainkan untuk tujuan-tujuan lain yang sesuai dengan minat dan perhatian kelompok atau untuk kepentingan umum.” (Iwan Gunadi, 2006)

Dengan melihat definisi tersebut, jika kita tengok dari perjalanan sastra Indone…

Konser Gamelan Bali di Tanah Leo Tolstoy

Kadek Suartaya
http://www.balipost.com/

MUSIK asli Indonesia, gamelan, kini telah mendunia. Gamelan Bali belakangan telah dimainkan dengan asyik oleh bangsa Amerika. Beberapa bentuk gamelan Bali seperti Gong Kebyar, Gender Wayang hingga Jegog juga telah diakrabi oleh penekun musik dari Jepang. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan, sejak komponis Prancis Claude Debussy (1862-1918) menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis. Masyarakat benua belahan Eropa semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika kemudian pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Prancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah Belanda.

Kini, di benua Eropa, umumnya geliat gamelan Bali dapat dijumpai di belahan barat seperti Inggris, Jerman, dan Swiss, sedangkan di daratan Eropa Timur gamelan Bali hampir tak terdengar dentingnya. Namun sejak …

Memaknai ''Multikultural'' Potensi Lokal

I Wayan Artika
http://www.balipost.co.id/

DI Indonesia, sampai saat ini, pluralitas (sebagai sebuah ancaman integrasi dan potensi) hanya dipahami berdasarkan terminologi politik. Hal itu menyebabkan terabaikannya pemahaman-pemahaman terhadap prurarlitas itu. Kesenian etnik sebagai salah satu item dalam pluralitas itu juga tidak diberi apresiasi yang baik. Apresiasi itu bersifat eksklusif, terbatas pada wilayah-wilayah budaya etnik pemiliknya.

Pada konteks ini pun apresiasinya cenderung mengalami kemunduran, ketika kesenian tersebut, dilihat dari kemasan teknologinya, mundur sekali. Hal itu kemudian dipertentangkan (secara reseptif) terhadap kesenian asing-lain. Pertentangan itu memojokkan sastra etnik ke masa silam, kuno, sehingga hal itu dijadikan alasan untuk meninggalkannya begitu saja. Terlepas dari pertentangan dan resepsi tersebut, kesenian etnik perlu diapresiasi silang. Sehingga melalui kesenian, generasi muda Indonesia memperoleh cara-cara yang mudah memasuki wilayah-wilayah ”as…

Membaca Prosa Tanpa Setitik Fiksi

Furqon Abdi
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Membaca 17 laporan jurnalistik Linda Christanty dalam bukunya, Dari Jawa Menuju Atjeh, kita tidak akan merasa lelah, seperti layaknya membaca berita-berita dalam headline koran. Oleh Linda, peristiwa besar macam pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dibikin ‘ringan’. Ringan, dalam artian lebih enak dibaca, bukan kacangan.

Menganut aliran Jurnalisme Sastrawi, tidak berarti naskah harus dibumbui diksi yang dramatis dan melankolis. Linda paham benar itu. Ini sangat terlihat dalam kalimat yang dipakai Linda yang begitu lugas. Tak terekam sedikitpun kekemayuan yang kadang membiaskan batas antara fakta dan fiksi–hal yang diharamkan dalam laporan jurnalistik. Linda juga tak menampilkan metafor yang mendayu-dayu.

Lugas, tak berarti kaku. Justru, keringkasan itu membuat pembaca lebih mudah mengikuti cerita. Lebih mudah dicerna. Bahkan, tak perlu terlalu sering mengerutkan kening.

Dalam situs resmi Pantau–pengusung aliran Jurnalisme Sastrawi di Ind…

Maha Karya Sastra di Bumi Majapahit

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

1. Buku Sastra Raksasa.
Ruang sastra, yang turut membentuk berlangsungnya kebudayaan pasti mengalami titik klimaks dan titik nisbi. Kapan sastra berkulminasi, ia akan mendominasi kadar warna kebudayaan pada suatu komunitas atau negara. Sebaliknya sastra pada titik nisbi cenderung termarginalkan kekuasaan dan hanya menjadi keranjang luapan keluh bagi pecintanya.

Sepanjang meruangnya sastra dalam sejarah keindonesiaan, kembang kempisnya kesusastraan juga dipengaruhi pertarungan antar sekterianisme sastra. Yang mana dalam perhelatan itu tiap sempalan (golongan) justru mengamalkan kilas balik nilai pluralisme kebangsaan.

Sumpah Pemuda yang mengikat ke satu bangsa, satu bahasa, resmi melibas spora lokalitas. Padahal, keindonesiaan itu sendiri terbentuk dari berbagai lokalitas. Dalam wacana ini, sang ‘ibu sastra’ sebagai inti lokalitas didurhakai dengan mengagungkan ‘sastra pasar’ yang menjual dagangan di lapak media yang berbasis komunal s…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com