Langsung ke konten utama

”Graffiti Gratitude”, Antologi Puisi ”Cyber”?

Kuswinarto*
http://www.sinarharapan.co.id/

Terbitnya buku Graffiti Gratitude (cetakan pertama: April 2001) atas kerja sama Yayasan Multimedia Sastra (YMS) dengan Penerbit Angkasa, Bandung, membawa perdebatan baru seputar peristilahan dalam bidang sastra Indonesia. Terbitnya buku bersampul ungu itu dibarengi dengan munculnya beberapa istilah baru, seperti ”puisi cyber”, ”penyair cyber”, ”sastra cyber”, dan ”sastrawan cyber” (dengan berbagai variasi penulisannya) yang membuat sementara orang bertanya-tanya merujuk ke mana istilah-istilah baru itu.

Istilah baru yang juga muncul adalah istilah ”antologi puisi cyber”. Buku Graffiti Gratitude itulah yang dimaksud sebagai antologi puisi cyber karena jelas-jelas di sampul depan buku itu ditulis ”Sebuah Antologi Puisi Cyber”. Dan seperti hendak meyakinkan bahwa yang tertulis di sampul muka itu sudah benar alias tidak salah tulis, Penyair Medy Loekito dalam ”Sepatah Kata”-nya di buku itu, menegaskan kembali bahwa buku Graffiti Gratitude adalah antologi puisi cyber. Saut Situmorang dalam esainya ”Tergantung pada Kata Hati Saja Quo Vadis Kritik Sastra Indonesia” (Kompas, 1 Juli 2001), juga tak ragu menyebut Graffiti Gratitude sebagai antologi puisi cyber/internet.

Sebagaimana yang dapat diketahui dari ”Sepatah Kata” Medy Loekito, puisi-puisi dalam antologi puisi cyber Graffiti Gratitude bersumber dari anggota milis ”penyair”, ”sastera-malaysia”, ”puisikita”, dan ”gedongpuisi”. Puisi-puisi itu pernah dipublikasikan melalui media internet. Sehubungan dengan ini, Ahmadun Yosi Herfanda dalam esai ”Puisi Siber, Genre atau ‘Tong Sampah’” (Republika, 29 April 2001), antara lain, mempertanyakan ”…apakah puisi-puisi yang diambil dari media siber dan diterbitkan dalam media cetak (buku) masih dapat disebut sebagai puisi siber; atau sebaliknya, apakah puisi-puisi yang berasal dari media cetak kemudian diubah jadi teks elektronik (e-text) dan dimasukkan ke media siber lantas dapat disebut sebagai puisi siber?”

Dan pertanyaan Ahmadun ini membuat saya bertanya, apakah kumpulan puisi Graffiti Gratitude (2001) yang bermaterikan puisi-puisi yang pernah dipublikasikan melalui media internet itu dapat disebut sebagai antologi puisi cyber?

Munculnya istilah baru ”puisi cyber” mengisyaratkan adanya puisi yang bukan puisi cyber, katakanlah ”puisi media cetak”. Demikian juga halnya, munculnya istilah baru ”antologi puisi cyber” mengisyaratkan adanya antologi puisi yang bukan antologi puisi cyber, sebut saja ”antologi puisi media cetak”. Kumpulan puisi mana yang dapat ditunjuk secara jelas sebagai antologi puisi cyber? Kumpulan puisi mana yang dapat ditunjuk secara jelas sebagai antologi puisi yang bukan cyber alias antologi puisi media cetak? Benarkah Graffiti Gratitude (2001) itu antologi puisi cyber?

Saya yakin, pegiat sastra cyber maupun yang bukan, dapat membenarkan jika saya mengatakan bahwa kumpulan puisi Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna (Bentang Budaya, 1995), misalnya, atau kumpulan puisi Nostalgi = Transendensi karya Toeti Heraty (Grasindo, 1995) itu tidak termasuk antologi puisi cyber. Saya yakin banyak yang membenarkan jika kedua kumpulan puisi itu saya sebut antologi puisi media cetak. Demikian juga jika saya katakan bahwa kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok karya Ahmad Yulden Erwin yang dapat dibaca di Situs Sastra Panorama Indonesia, merupakan salah satu contoh antologi puisi cyber, meskipun kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok itu sebelum muncul di Panorama Indonesia sudah terbit sebagai buku (=antologi puisi media cetak). Kalau banyak yang tak sependapat dengan itu, paling tidak, penyair dan esais Saut Situmorang, dapat membenarkan bahwa kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok yang di situs Panorama Indonesia itu merupakan salah satu contoh antologi puisi cyber.

Dalam makalahnya berjudul ”Sastrawan Cyber Mendobrak Hegemoni” yang disampaikan pada diskusi ”Sastra dan Generasi Cyber” di Sahid Jaya Hotel Jakarta, 9 Mei 2001, Saut Situmorang, antara lain, menulis: ”Puisi-puisi yang berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media internet adalah juga puisi cyber.” Apa yang dikemukakan Saut Situmorang ini menjawab pertanyaan Ahmadun Yosi Herfanda, ”Apakah puisi-puisi yang berasal dari media cetak kemudian diubah jadi teks elektronik (e-text) dan dimasukkan ke media siber lantas dapat disebut sebagai puisi siber?”

Kalau puisi-puisi yang berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media internet oleh Saut Situmorang juga disebut puisi cyber, kumpulan puisi yang berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media internet—mengikuti pendapat Saut—disebut juga antologi puisi cyber. Dengan demikian, kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok yang di situs Panorama Indonesia itu merupakan salah satu contoh antologi puisi cyber.

Kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) berbeda dan bahkan berkebalikan dengan kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok. Jika kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media internet (di situs Panorama Indonesia), puisi-puisi dalam Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) justru berasal dari media internet dan diumumkan kembali di media cetak. Saya menggarisbawahi apa yang dikemukakan Saut Situmorang: ”… puisi cyber adalah genre puisi yang diumumkan dalam dunia cyber. Ini jugalah ‘makna’ atau ‘definisi’ dari istilah ‘puisi cyber’ yang dipakai antologi Graffiti Gratitude.” Dengan demikian, puisi-puisi dalam Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) bukanlah puisi-puisi cyber, melainkan puisi-puisi media cetak. Karena itu, kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) itu bukanlah antologi puisi cyber, melainkan antologi puisi media cetak, meskipun di sampul muka buku itu jelas-jelas ditulis ”Sebuah Antologi Puisi Cyber”.

Berdasarkan ”makna” atau ”definisi” dari istilah ”puisi cyber” yang dipakai antologi Graffiti Gratitude, sebagaimana yang dikemukakan oleh Saut Situmorang, dapat dikatakan bahwa sajak Memandang Senja karya Nanang Suryadi benarlah jika dikatakan termasuk puisi cyber, dengan catatan jika yang ditunjuk adalah sajak itu yang di internet. Sajak Memandang Senja karya Nanang Suryadi yang terdapat di buku Graffiti Gratitude jelas bukan puisi cyber karena puisi itu berada di luar definisi puisi cyber.

Bahwa puisi-puisi dalam kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) bukan puisi cyber dan kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) bukan antologi puisi cyber, hal ini semakin tampak jika pernyataan Saut Situmorang yang ”puisi-puisi yang berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media Internet adalah juga puisi cyber” tersebut disandingkan dengan ”tandingannya”, yakni ”puisi-puisi yang berasal dari media internet dan diumumkan kembali di media cetak adalah bukan puisi cyber” dan jika pernyataan saya ”kumpulan puisi yang berasal dari media cetak dan diumumkan kembali di media internet disebut juga antologi puisi cyber” yang saya buat berdasarkan pernyataan Saut, disandingkan dengan ”tandingannya, yakni ”kumpulan puisi yang berasal dari media internet dan diumumkan kembali di media cetak adalah bukan antologi puisi cyber.”

Nah, puisi-puisi dalam Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001), dengan demikian, bukan puisi-puisi cyber lagi karena diumumkan kembali di media yang bukan internet. Dan, karena memuat puisi-puisi yang bukan puisi-puisi cyber, kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) menjadi sulit dikatakan sebagai antologi puisi cyber.

Di samping itu, senyatanya, kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) memang tidak berbeda dengan Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna (Bentang Budaya, 1995) dan Nostalgi = Transendensi karya Toeti Heraty (Grasindo, 1995) yang tidak termasuk antologi puisi cyber. Antara Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) dan Arsitektur Hujan karya Afrizal Malna (Bentang Budaya, 1995) atau Nostalgi = Transendensi karya Toeti Heraty (Grasindo, 1995) hanya berbeda sumbernya saja. Puisi-puisi dalam antologi puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) diambil dari internet, sedangkan puisi-puisi dalam dua kumpulan yang lain itu tidak dari internet.

Lantas, mana yang termasuk antologi puisi cyber? Mengikuti pendapat Saut Situmorang, jelas kumpulan puisi Meditasi dengan Sebatang Rokok karya Ahmad Yulden Erwin yang di Situs Sastra Panorama Indonesia itulah contoh antologi puisi cyber. Contoh lain untuk antologi puisi cyber adalah puisi-puisi karya Ani Sekarningsih, Sutan Iwan Soekri Munaf, Rukmi Wisnu, Budi P. Hatees, Wina Juliet Vennin, Samsul Bahri, dan lain-lain yang ada dalam antologi puisi di situs Cybersastra.net. Jadi, hingga kini, belum ada antologi puisi cyber berjudul Graffiti Gratitude. Jika kumpulan puisi Graffiti Gratitude (Angkasa, 2001) dimasukkan ke internet, barulah kita punya antologi puisi cyber berjudul Graffiti Gratitude.***

*) Peminat sastra, tinggal di Malang, Jawa Timur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…