Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Puisi Pendek dan Puisi Panjang

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

BAGI adik-adik pencinta sastra yang rajin mengikuti perkembangan dunia perpuisian Indonesia, pasti pernah menemukan puisi yang sangat pendek dan puisi yang sangat panjang. Setelahnya, mungkin adik-adik merasa bingung. Apakah sebuah puisi yang hanya terdiri dari satu kata, bisa disebut sebagai puisi? Atau, puisi yang panjangnya minta ampun, yang menyerupai panjang sebuah cerpen, apakah bisa pula disebut puisi?

Satu contoh, puisi penyair ternama dari Riau, Sutardji Calzoum Bachri. Dia pernah menulis beberapa puisi yang terdiri dari satu atau dua suku kata. Misalnya puisi yang berjudul “Kalian” dan “Luka”. Puisi “Kalian” hanya berisi kata “pun.” Sementara puisi “Luka” hanya berisi kata, “Ha Ha”. Dua puisi sangat pendek ini, tentu akan menimbulkan banyak pertanyaan pembaca. Setidak ada dua pertanyaan yang menonjol: apa maksud puisi ini, dan puisi jugakah namanya ini?

Soal “maksud” sebuah puisi, tentu tak perlu terlalu bersitegang leher mendiskusikannya, …

Merandai Kata, Musik, dan Rupa

Kurie Suditomo
http://majalah.tempointeraktif.com/

KOPER tua itu ditemukan di kamar ayahnya yang baru wafat. Di dalamnya ada selembar pasfoto. Kecil, buram, hanya menampakkan raut wajah perempuan muda, tapi kuyu. Ia kemudian memaksa membangun kontak dengan sepasang mata yang tampak di wajah itu. “Mata itu, mata Solo. Mata nenekku,” kata penyair Belanda Reggie Baay. Ada selembar surat di koper itu, yang mengutip nama sang nenek, singkat: Muinah, asal Solo-Jengkilung.

Kakek Reggie seorang Belanda totok. Semasa bertugas di Hindia Belanda, ia mengambil seorang perempuan muda menjadi gundiknya. Seorang anak lelaki lahir dari hubungan mereka. Kemudian kakeknya kembali ke Belanda. Si anak lelaki, berusia lima tahun, menurut hukum yang berlaku, dibawa serta. Surat itu adalah bukti penyerahan si anak dari ibunya kepada sang ayah. Tali kasih yang diputus, selama-lamanya.

Pasfoto dan surat itu menjadi inspirasi buku kumpulan cerpen De ogen van Solo (Mata Solo) karya Reggie, sang cucu, pada 2005. Isi…

Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Angkatan 45 Sitor Situmorang secara tak terduga Selasa (2/12) lalu tampil di hadapan publik sastra di Denpasar. Ia tampil membacakan sajak, berdialog, dan beramah-tamah dengan kalangan muda di Gallery Seputih milik Made Wianta di Jl. Pandu Tanjung Bungkak, Denpasar.

SASTRAWAN yang sudah lama menetap di Paris tersebut hadir di Bali bersama istrinya — Debora. Kedatangannya ke Bali itu kemudian dimanfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan para seniman serta peminat sastra di Bali. Penampilan Sitor di Gallery Seputih itu terbukti memang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan seni di Bali.

Mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-1965), sebuah organisasi kesenian di bawah PNI, itu pun tampak sangat gembira bisa bertemu para seniman muda Bali. Sebuah kesempatan yang katanya memang sudah lama diimpikannya. Karenanya, Sitor — sastrawan yang pernah dipenjara oleh penguasa Orde Baru pasca- G-30-S/PKI — kemudian banyak bercerita d…

Novel Biografi Sang Proklamator

Judul buku : Hatta: Hikayat Cinta dan Kemerdekaan
Penulis : Dedi Ahimsa Riyadi
Penerbit : Penerbit Edelweiss, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : vii + 279 halaman
Peresensi : N. Mursidi
http://www.lampungpost.com/

SEORANG pengarang adalah seorang penutur kehidupan. Ia bisa menuturkan peristiwa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang, bahkan peristiwa yang akan datang. Tetapi, tatkala seorang pengarang menulis peristiwa di masa lalu dengan bersandar fakta sejarah, dengan menuturkan kehidupan atau biografi tokoh ternama yang pernah menorehkan sejarah, setidaknya ia dihadapkan pada dua hal. Pertama, kebenaran faktual—dari catatan sejarah. Kedua, fiksionalisasi sejarah dalam bingkai estetika.

Dua hal itu, tak bisa disangkal, menjeburkan pengarang pada setumpuk data sejarah yang harus diolah dengan cermat, dan pada sisi yang lain menuntut pengarang mewartakan fakta yang pernah ada atau mungkin terjadi dengan perenungan intelektualitas, membangun sebuah dunia yang koheren dan kesadaran akan p…

Empat Merapal Sajak

Ismi Wahid
http://www.korantempo.com/

Empat penyair terkemuka Indonesia membacakan sajak ciptaan mereka dalam sebuah pentas puisi di Teater Salihara.

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya, mati di kayu salib tanpa celana. Dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawa celana yang dijahitnya sendiri. “Paskah?” tanya Maria. “Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga.

Begitulah penyair Joko Pinurbo melukiskan saat-saat naiknya Yesus ke surga. Ia menuangkan peristiwa religius itu dengan sangat manusiawi dalam sajaknya yang bertajuk Celana Ibu. “Agama bukan sesuatu yang angker. Agama itu nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.

Jokpin, begitu panggilan akrab sang penyair, sedang merayakan pesta puisi di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu. Jokpin tampil bersama tiga penyair te…

Pesona Sastra dan Tradisi Berfikir Nahdliyin

Arus corak Realisme-Magis dalam Sastra Kontemporer
Sobih Adnan *
http://nahdliyin.net/

“ Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengambalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya kata adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera. “

( Sutardji Calzaum Bachri. Bandung, 30 Maret 1973 )

Penggalan akhir Kredo Puisi : Sutardji Calzaum Bachri mencoba mengajak para penikmat sastra untuk sedikit bertamasya tentang puisi dari titik awal embrionya, tentang kelahiran puisi, pembebasan kata, dan yang paling menarik adalah tentang genetika kata-kata yang menurut Sutardji berasal dari mantera-mantera. Sutardji mencoba menawarkan paparan dan kesemangatan bahwa sesederhana apapun dari bentuk dan wujud kata pasti memiliki kekuatan lebih yang terkandung di dalamnya, yang tentunya lebih dari sekedar pengantar sebuah pengertian.

Penempatan serta penyuntikan pemaparan tentang kekuatan yang dimiliki oleh sebuah kata …

ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI

(Konsep Estetik Abdul Hadi WM tentang Angkatan 70-an)*
Maman S Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan, periodesasi atau angkatan. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau periodesasi itu,1 menurut hemat saya, hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik, yaitu Pujangga Baru,2 Angkatan 45,3 dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66, 4 yaitu Angkatan 70-an.5

Sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66, seperti menghadapi kegelisahan yang sama tentang situasi kesusastraan—dan kebudayaan—pasca Tragedi 1965, yaitu adanya semangat kebebasan berekspresi. Semangat kebebasan berekspresi itu dimungkinkan oleh beberapa …

“Saya Sudah Menulis 40 Buku”

In Memoriam Ramadhan KH
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

“Saya sudah menulis empat puluh buku”. Itulah pesan terakhir almarhum Ramadhan Karta Hadimadja kepada istrinya Salfrida Nasution yang bertugas sebagai Konsulat Jendral di Cape Town, Afrika Selatan. Ingat, jumlah itu belum termasuk buku-buku kumpulan puisinya. Terakhir almarhum menulis biografi Nazir, Dubes RI di Afsel. Sebenarnya masih ada empat buku dalam taraf penyelesaian Ramadhan KH, antara lain biografi mantan Gubernur DKI Tjokropranolo (alm).

Niat ini tidak kesampaian karena Tuhan telah memanggilnya pada 16 Maret 2006 persis di hari ulang tahun (HUT)-nya yang ke-79 pukul 08.45 waktu Cape Town atau pukul 13.45 WIB. Jenazah almarhum dibawa ke Jakarta, Sabtu (19/3) dan disemayamkan di rumah duka di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kemudian, jenazah dilepas Wagub DKI Ir Fauzi Bowo untuk dimakamkan di Tanah Kusir, Jaksel setelah shalat Ashar. Hadir ikut memberikan penghormatan terakhir, antara lain Riantiarno dan…

Surat Bunga dari Ubud: Putu dan ”Sejarah yang Terserpih”

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta.

Begitu pun sejarah tentang biografi di sebuah rezim di tengah prahara politik di Indonesia, hingga sekarang menjadi kemelut, menjadi kontroversi, bahkan mampu memperlambat dan memacetkan proses hukum yang sedang dijalankan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK): korban 1965 yang pembelaannya masih menimbulkan pro-kontra dari setiap lapisan politik masa kini.

Sejarah yang gamang, sejarah yang rawan.
Perasaan semacam itu tertangkap di buku Surat Bunga dari Ubud (Penerbit Koekoesan, 2008) yang diluncurkan di Goethe Institut Jl Sam Ratulangi 9-15 Jakart…

Perahu Rapuh Idrus Tintin

Agus Sri Danardana*
http://www.riaupos.com/

Bunyi pepatah: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya rupanya diyakini betul kebenarannya oleh Idrus Tintin. Sebagai sastrawan besar (setidaknya di Riau), ia tetap menghargai jasa-jasa para pendahulunya dengan membaca karya-karyanya.

Salah satu pendahulunya itu adalah Hamzah Fansuri. Ia tidak sekadar mengenal nama dan deretan judul karya “pahlawan”nya itu, tetapi betul-betul memahami dan bahkan mencoba menjadikannya sebagai barometer (ke)hidup(an). Hal itu dengan jelas tampak pada salah satu sajaknya, berjudul “Perahu”. Sajak itu oleh Idrus Tintin diberi catatan: Setelah Hamzah Fansuri di bawah judulnya. Catatan itu kemudian diberi penjelasan (berupa kutipan sebagian syair “Perahu” Hamzah Fansuri), seperti tampak dalam kutipan lengkapnya berikut ini.

PERAHU
Setelah Hamzah Fansuri*)

Perahuku kecil dan rapuh
Layarnya koyak dayungnya pendek
alat perabotnya tak kuat-kokoh
bekal airnya tanggung-tanggung
kayu dibawa terang tak…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com