Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Kursi Legislatif Penulis

Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/

Penulis adalah jiwa yang merdeka. Dengan menulis, kegelisahan jiwanya tak terbelenggu. Semua dapat di nukilkan dalam tulisan. Demikian juga hasil karya sebuah tulisan, kontruksi model kepenulisannya tidak jauh dari biografi penulisnya: teknik penulisan, pilihsn diksi, penuangan alur ketika menghanyutkan karya pada sebuah arus tertentu.

Novelis MD. Atmaja menyundulkan novel terbarunya kepermukaan belantara sastra. Buku setebal 355 halaman dan 53 seri ini, 70% lebih digarap dengan asosiasi politik. Adapun romantisme percintaan diperankan tokoh-tokohnya dalam tingkat kewajaran.

Kelebihan novel ini justru terbangun pada dialek sepasang kekasih Rina dan Agung. Ceplas-ceplos sepasang kekasih itu bersifat surrealis, ambiguitas, yang tak gampang di telan sebagai sosok kenyamanan makna.

Aroma kental Yogyakarta terasa menyengat. Bantul sebagai pusat kerajaan Imogiri zaman dulu merupakan kantung terkuat sentral agama jawa masih diwariskan antar tokoh d…

Hegemoni Sastra: Media Pengkultusan dan Perlawanan

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Karya sastra sebagai lembaga masyarakat yang bermediumkan bahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan sosiologi pengarangnya. Latar belakang pengarang memiliki peran yang besar dalam memberikan nuansa dan nilai dalam proses penciptaan karya sastra. Latar belakang tersebut, di dalamnya merangkum berbagai macam kondisi dimana sang pengarang memijakkan kaki, entah itu kondisi politik yang sedang bergejolak, maupun ideologi pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan di dalam proses penulisan karya sastra dapat dikatakan sebagai media yang tidak bersifat individual, melainkan di dalamnya mengandung sifat evolusi-sosial.

Hampir selama lebih dari 30 tahun, murid sekolah dan mahasiswa telah disuguhi karya sastra yang notabene telah diakui oleh pemerintah yang berkuasa (Baca: Orde Baru) dan karya sastra itu (oleh pemerintah) dikatakan sebagai sastra yang bernilai tinggi apabila di dalamnya mengandung nilai yang mendukung proses pemb…

Spirit Revitalisasi Dalam Mengungkap Teks

Agus Sulton
http://www.radarmojokerto.co.id/

/1/
Kepulauan nusantara sejak kurun waktu yang lampau memiliki beragam sejarah peradaban dan peninggalan. Masing-masing daerah mempunyai ciri khas dalam bahasa dan jenis aksaranya. Lewat berbagai temuan dan analisis isi manuskrip diberbagai daerah di nusantara akhirnya dapat diketahui bahwa setiap daerah mempunyai kekayaan intelektual dalam berbagai dasar ilmu. Kekayaan inilah yang menarik perhatian para penjajah sumber budaya untuk memburu manuskrip di pelosok-pelosok nusantara. Tujuannya tidak lain adalah untuk lebih mengetahui adat istiadat dan mempelajari budaya nusantara masa lampau guna memperluas wilayah jajahan dan akhirnya pengakuan hak paten.

Manuskrip itu merupakan salah satu peninggalan masa lalu dalam bentuk tertulis yang diturunkan secara turun temurun—-sejak dulu sampai sekarang ini. Penulisannya menggunakan tulis tangan di atas kertas, daun lontar, bambu, kayu, batang tebu dan sebagainya. Sebagian besar manuskrip tersebut tersim…

Melestarikan Pantun, Menjaga Tamadun Melayu

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Menjaga kelestarian peradaban - tamadun - budaya Melayu adalah hal positif, terutama bagi penyair atau pun penulis pantun. Namun, kaidah kesusastraan Melayu harus tetap dijaga. Tujuannya, agar “pakem” itu tak disalahpahami generasi muda pembaca buku pantun dan syair.

Hal itu diutarakan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah satu pembicara dalam acara bedah buku syair dan pantun Bual Kedai Kopi karya duet Martha Sinaga dan Suryatati A Manan yang digelar di Hotel Mitra, Bandung, Sabtu (15/5). Ungkapan itu berkaitan dengan pembedahan setiap pantun dan syair Martha maupun Suryatati setelah dikaitkan dengan aturan dan pola dalam pantun.

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang dikenal luas di seantero Nusantara. Lazimnya, pantun terdiri dari empat larik, dengan pola a-b-a-b atau a-a-a-a. Semua pantun terdiri atas dua bagian, sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, juga bagian kedua yang menyampaikan maksud, selain mengan…

Sepuluh Novel Terbongkar-bangkir

Kurniawan
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEBAGAI Kepala Subbidang Informasi dan Publikasi Pusat Bahasa, ruang kerja Dad Murniah terkesan sesak. Dengan luas sekitar 2 x 3 meter, ruang itu diisi dua rak penuh buku dan seperangkat komputer. Meja kerjanya pun dihiasi tumpukan kertas dan buku.

Dari ruang itulah lahir semua buku terbitan Pusat Bahasa, termasuk sepuluh novel karya para sastrawan yang diluncurkan pada akhir Oktober lalu. Buku-buku itu adalah Arjunawijaya karya Hamsad Rangkuti, Lubdaka yang Berkelebat karya Yanusa Nugroho, Kundangdya karya Oka Rusmini, Gandamayu: Cerita Perempuan Terkutuk karya Putu Fajar Arcana, Kisah Tuhu dari Tanah Melayu karya Abidah el-Khalieqy, Mengasapi Rembulan karya Agus R. Sarjono, Kakawin Gajah Mada karya Kurnia Effendi, Mundinglaya Dikusumah karya Gola Gong, Rara Beruk karya Suyono Suyatno, dan Janji yang Teringkari karya Imam Budi Utomo.

Sepuluh novel itu bagian dari proyek Pusat Bahasa untuk menghidupkan lagi cerita-cerita lama dari berbagai pel…

Diah Hadaning: Dewi Penumbuh Benih

Iwan Gunadi*
http://www.lampungpost.com/

Buku setebal 700 halaman yang memuat 700 puisi itu diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat siang, 7 Mei lalu. Jumlah puisi tersebut tentu berkaitan dengan 70 tahun usia penulisnya.

Penerbitan dan peluncuran buku itu tentu juga salah satu cara merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Ulang tahunnya sendiri sudah berlalu beberapa hari sebelumnya. Tepatnya 4 Mei 2010. Jumlah 700 puisi itu membuktikan produktivitas yang luar biasa seorang Diah Hadaning. Karena buku terbitan Pustaka Yashiba, Jakarta, itu bertajuk 700 Puisi Pilihan Perempuan yang Mencari, kata pilihan tersebut tentu menunjukkan bahwa puisi yang pernah ditulis perempuan bernama lengkap Sinaryu Indiah Hadaning ini lebih dari itu atau bahkan jauh lebih dari itu.

Boleh jadi, belum ada satu buku pun besutan seorang perempuan penyair di Tanah Air yang setebal itu dan memuat puisi sebanyak itu. Tak heran jika Museum untuk Rekor Dunia-Indonesia…

Ragam Ekologi Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DENGAN adanya ragam ekologi yang bergeser dari penguasaan laut, ditembusnya desa, pembangunan kota yang melibatkan kontradiksi lembaga militer, agama sampai instansi pendidikan dan birokrasi politik; pada akhirnya, ragam ekologi sastra dapat dibaca sebagai bagian pembacaan kritis terhadap alur perkembangan konteks sosial historis bangsa pada suatu masa.

Dalam buku bertajuk Sastra Hindia Belanda dan Kita (Balai Pustaka: 1983) yang ditulis Subagio Sastrowardoyo dijelaskan bahwa terjadi pengulangan pola cerita desa di dalam sastra Hindia Belanda, sastra Melayu Modern, dan sastra Balai Pustaka. Pola cerita desa itu selalu berpangkal dari hubungan asmara pemuda-pemudi desa yang dekat sejak kecil. Hubungan asmara mereka yang romantik di tengah kedamaian desa, selalu berujung pada perpisahan yang tragis karena adanya gangguan yang berasal dari luar desa, semisal: tentara Belanda, China lintah darat, bangsawan, dan punggawa dari kota.

Gejala seragamny…

Berpadunya Ilmu Silat dan Ilmu Surat

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/
Judul : Nagabumi (buku kesatu: Jurus Tanpa Bentuk)
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, November 2009
Tebal : 809 halaman

AKU sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan–tapi mereka terus memburuku bahkan sampai ke dalam mimpi. Apakah yang belum kulakukan untuk menghukum diriku sendiri, atas nama masa laluku yang jumawa, dan penuh semangat penaklukan, setelah mengasingkan diri begitu lama, dan memang begitu lama sehingga semestinyalah kini tiada seorang manusia pun mengenal diriku lagi?

Demikian Seno Gumira Ajidarma membuka novel silat Nagabumi– Buku Kesatu Jurus Tanpa Bentuk. Sebuah pembuka dengan kalimat khas Seno yang segera membetot pembaca untuk terus mengikuti kisah sampai tuntas. Kalimat-kalimat panjang tapi sama sekali tidak bertele-tele sehingga amat efektif untuk sebuah novel silat berketebalan lebih dari 800 halaman yang sebelumnya dimuat secara bersambung di sebuah harian lokal Semarang.

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan