Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Globalitas dan Lokalitas dalam “Membayangkan Indonesia”:

Sebuah Kritik Pascakolonial

Saut Situmorang
http://www.sastra-indonesia.com/

Adalah studi terkenal dari Indonesianis asal Universitas Cornell, Amerika Serikat, Ben(edict) Anderson tentang nasionalisme yang membuat kita sadar bahwa konsep “nasionalisme” bukanlah lahir begitu saja dari langit biru di atas kepala, tapi merupakan sebuah realitas yang diciptakan oleh imajinasi di dalam kepala – sesuatu yang dibayangkan, sebuah konstruk kultural. Atau dalam definisi Hugh Seton-Watson yang dikutip Anderson dalam bukunya “Imagined Communities” dimaksud: “. . . [Sebuah] bangsa eksis ketika sejumlah penting anggota sebuah komunitas menganggap diri mereka membentuk sebuah bangsa, atau berlaku seakan-akan mereka membentuk sebuah bangsa” [italic saya]. Mengikuti anjuran Anderson, kita bisa menerjemahkan “menganggap diri mereka” sebagai “membayangkan diri mereka” pada kutipan di atas.

Apa yang tentu saja masih bisa dipertanyakan lagi tentang definisi “bangsa” sebagai “sebuah komunitas politik yang diba…

Sastra Remaja: Aset Luarbiasa

Evi Idawati*
http://www.kr.co.id/

POPULER adalah cara gampang yang diburu remaja sekarang untuk mempunyai eksistensi yang diakui oleh masyarakat luas. Wajah dikenal banyak orang, kaya raya serta banyak dipuja remaja-remaja seantero nusantara. Untuk sampai pada kata populer banyak remaja yang berusaha keras, mencoba berbagai hal untuk mengembangkan potensi dan menemukan jati diri. Sastra menjadi satu pilihan di antara sekian. Ajang lomba nyanyi, pemilihan top model serta berbagai festival pelajar, baik kompetisi mata pelajaran atau kreativitas. Semua menjadi cara untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan juga bagi orang-orang yang dikasihi.

Pandangan orang tentang sastra dulu dan sekarang sangat berbeda. Tetapi karena efek dari globalisasi yang menimbulkan keterbukaan informasi menjadikan remaja sekarang sanggup menjadikan sastra seperti bagian dari gaya hidup dan kebanggaan mereka. Forum lingkar pena yang mengasah dan menghasilkan para penulis muda. Fenomena ciklit dan…

Penyair Muda Yogya Sekarat?

Mahwi Air Tawar
http://www.kr.co.id/

SEBAGAIMANA pernah disinggung dalam sebuah pertemuan oleh penyair Raudal Tanjung Banua dan cerpenis Joni Ariadinata. Bahwa, kini Yogya telah kehilangan penulis puisi yang benar-benar berkualitas karyanya. Terlepas benar dan tidaknya anggapan di atas, sejauh ini karya-karya penulis muda Yogya yang kadang-kadang nampang di media, sepertinya memang biasa-biasa saja. Justru, yang sangat pesat perkembangannya, baik secara kualitas maupun produktivitas ada di daerah lain. Penyair Yogya harus mengakui hal itu, bahwa daerah lain, seperti Lampung misalnya, jauh lebih bermutu karyanya ketimbang Yogya, yang konon pernah melahirkan banyak penyair kenamaan di jagad sastra nasional.

Namun bertolak dari anggapan penyair dan cerpenis di atas, bukan berarti kesusastraan di Yogya sekarat. Justru sebaliknya. Kini, di sini semakin menjamur penulis-penulis prosa (novel maupun cerpen), yang telah banyak dibukukan. Dan tentu saja, mun-culnya prosa maupun novel dari penulis …

AMBRADOOZZZ

Sabrank Suparno

Hari ini aku ingin lelah
Dan memijit mijit punggungku. Terasa memang ada gumpalan, benjolan cinta terkurung salju
Di lorong rimbun melesat gelap, giat mengayuh sejarah, meski serpihan bongkah berkelebat.
Di pusat sulfur ternyata ribuan cacing hidup makmur. Ouw..di titik beku es saja penguin hidup di kutub kok.. Tapi dia… lelaki setengah renta itu keluar kampung, menyeret bangkai sapi. Sang pemuda malah berteriak! Aku selalu membuat dinding fitnah di setiap face book dan internet saya..!’’.
“Kamu ingat cewek berkacamata itu?’’. Dia mengaku keluar dari persembunyiannya. Langkahnya hanya menghunus amarah. ”Mas.! kenapasih setiap orang merasa bangga, kalau aku lagi kena marah? Mereka puas ya dengan kesalahanku..!”. Seru tanya wanita itu. Merytcomplex..yahh.. merytcomplex. Memamah-pamah, mengumbar benci di sekalian saja.
Itu lho..gundukan sampah! Dan lalat berkerubung berterbangan. Weng..!weng..!.Apakah secanggih lalat kecepatan take of pesawat tempur Amerika. Laba-laba lebih cer…

Sutardji, Bakrie Award, dan Lapindo

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

SEBAGAI penyair, Sutardji Calzoem Bachri telah melakukan eksplorasi kata dalam puisi sehingga kata bergerak mencari kemungkinan arah dan tujuannya, saling membentur demi membentuk keseluruhan yang tak teramalkan. Sutardji menemukan kembali mantra, memulihkan kembali tenaga bahasa yang terlanjur dimelaratkan oleh komunikasi massa. Demikian salah satu alasan mengapa Freedom Institute memilih Sutardji sebagai penerima anugerah Bakrie Award 2008 Bidang Kesusastraan, seperti termaktub dalam website mereka www. freedom-instute.org.

Bakrie Award adalah sebuah anugerah tahunan yang dipilih oleh Freedom Institute, yang diberikan pada mereka yang dianggap telah menunjukkan dedikasinya dalam berbagai bidang, terutama kedokteran, sains, penelitian, sosial, dan kesusastraan. Bahkan, anugerah ini mengandaikan dirinya sebagai “Hadian Nobel” Indonesia. Tradisi pemberian anugerah ini telah dimulai sejak 2003. Dalam bidang kesusastraan, Sutardji Calzoem Bachri ada…

Kota, Buku Puisi, dan Sastra Pinggiran*

Fahrudin Nasrulloh

Puisi adalah sebuah kota yang sedang berperang – Hans Chinowski –

Begitulah kiranya gambaran sebuah kota yang berkobar dalam benak penyair Hans Chinowski, si tokoh absurd dalam novel Factotum, karya Charles Bukowski. Kota, ya sebuah kota, sebujur fosil dari kampung silam dan seiring menderasnya waktu perlahan tersulap oleh deru zaman dan modernitas menjadi sebuah wilayah yang menawarkan pilihan hidup tidak sekadar hidup. Di sana, hidup tidak semata mengalir seperti air, namun lautan yang menyimpan selapang harapan juga bayangan yang mungkin dapat “terampas” dan “terbuang”.

Bisakah sepotong puisi kuasa merayap dalam gemerlap kota dan memberikan spirit hidup bagi seorang penyair, bahkan manusia lainnya? Tentu secara kasat mata puisi tidak bisa menyulap si miskin jadi berharta. Puisi tak dapat menghalau rangsekan tank atau menyerap luapan banjir atau menyedot lumpur Lapindo yang kini kian tak tertanggulangi itu. Bahkan kitab suci pun tak kuasa melakukan itu. Tapi puisi ju…

Teks Buku Motivasi v Konteks Sosial

Husni Anshori
http://www.jawapos.com/

Item buku motivasi serasa begitu marak beberapa waktu belakangan. Entah itu besutan anak bangsa maupun impor atawa terjemahannya. Selain itu, bejibun pula karangan sejumlah motivator dadakan yang sebenarnya juga hanya menjajal peruntungan mengamini kecenderungan pasar. Siapa tahu bernasib mujur dapat memulung omzet melimpah. Jangan heran bila stoknya lumayan mendominasi aneka dagangan gerai pustaka di berbagai tempat. Orang-orang pun kesemsem pada remik-remik komoditas literasi musiman tersebut.

Jamaknya buku motivasi berkitar-kitar memacu dorongan psikis masyarakat untuk senantiasa istiqamah berupaya melejitkan endapan potensi diri, cerdas meretas rintangan apa pun demi kesuksesan, serta pantang menyerah dalam menyibak tiras kemungkinan penggapaian impian (kebahagiaan) hidup. Bertolak dari sekelumit liku-liku rekam jejak pribadi, biasanya sang penganggit keukeuh berbagi pengalaman tentang kiat-kiat menapak pencerahan dengan segudang kemusykilannya. …

Kontroversi KLA 2008

Asep Sambodja
http://kompas.co.id/

Pada 20 September 2008, saya mendapat email (dari milis Apresiasi Sastra), yang berisi pengumuman hasil seleksi tahap pertama (Longlist) Khatulistiwa Literary Award 2008 dari Panitia KLA 2008. Ada 10 nomine di bidang prosa dan 10 nomine di bidang puisi.

Kesepuluh nomine di bidang prosa adalah Danarto (Kacapiring), Junaedi Setiyono (Glonggong), Dyah Merta (Peri Kecil di Sungai Nipah), Ayu Utami (Bilangan Fu), Mohamad Sobary (Sang Musafir), Mashuri (Hubbu), Lan Fang (Lelakon), E.S. Ito (Rahasia Meede), Helvy Tiana Rosa (Bukavu), dan Arswendo Atmowiloto (Blakanis).

Sementara 10 nomine di bidang puisi adalah Saut Situmorang (Otobiografi), Oka Rusmini (Pandora), Afrizal Malna (Teman-temanku dari Atap Bahasa), Sutardji Calzoum Bachri (Atau Ngit Cari Agar), M. Aan Mansyur (Aku Hendak Pindah Rumah), Binhad Nurrohmat (Demonstran Sexy), Nirwan Dewanto (Jantung Lebah Ratu), Hasan Aspahani (Orgasmaya), Wendoko (Sajak-sajak Menjelang Tidur), dan trio Maulana Achmad, …

Bahan Bakar Sastra

Eriyandi Budiman
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Tragedi lumpur Lapindo, penyerangan terhadap aliran keagamaan yang berbeda, hingga beragam tragedi yang menimpa bangsa Indonesia lainnya, berbaris seperti jutaan kendaraan bermotor di jalur “leher botol”. Memadat. Beragam kejadian aneh hingga yang remeh-temeh ini, menjadi menu baru bagi pengamatan sosiopsikologis, yang membutuhkan pengamatan ekstra tinggi.

Bagi dunia sastra, yang banyak berkubang dengan persoalan-persoalan tragis, beragam kejadian itu, tentu menjadi bahan bakar, yang dapat memompa semangat berkarya. Dalam artian, untuk turut menjadikan beragam kejadian itu, sebagai pintu masuk imajinasi, sekaligus memompakan semangat kelahiran moralitas baru.

Bahan bakar ini, tentu bukan untuk sekali dilahap kemudian melahirkan karya. Perlu perenungan panjang dan mendalam, agar karya yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

Kumpulan cerpen Manusia Kamar, Saksi Mata, hingga novel Negeri Senja karya Seno Gumira Adjidarma, merupakan contoh…

Jejak Pemikiran Kritis Sang Kiai Selebritas

Akhmad Sekhu*
http://www.tempointeraktif.com/
Judul buku: Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: September 2008
Tebal: xiii + 240 halaman

Emha Ainun Nadjib adalah sebuah fenomena. Pemikirannya sangat fleksibel, bisa masuk ke berbagai ranah kehidupan: sosial, budaya, politik, keagamaan, bahkan dunia selebritas. Namun, Cak Nun–demikian sapaan akrabnya–tetap giat dalam berbagai acara rutin yang diasuhnya, yaitu Padang Mbulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Ilahi (Malang).

Bahkan, bersama grup musik Kiai Kanjeng yang didirikannya, ia kerap diundang ke berbagai negara, antara lain Mesir dan Malaysia. Bersama Kiai Kanjeng pula ia mengadakan rangkaian tur keliling di Benua Eropa, seperti di Inggris, Jerman, Skotlandia, dan Italia. Pada akhir 2006 ia melakukan serangkaian perjalanan ke Finlandia dalam acara Amazing Asia dan Culture Forums atas undangan Union for Christian C…

Sastra Wangi Aroma Selangkangan

Agus Sulton*
http://oase.kompas.com/

Kemunculan para penulis wanita untuk meramaikan dunia sastra memang bisa dibilang memberikan warna tersendiri bagi dunia kesastraan. Tapi disisi lain terjadi pergeseran orientasi dalam dunia sastra Indonesia dan banyak orang awam mengatakan, karya mereka adalah sesuatu yang tabu. Bisa dibilang mereka adalah generasi sastra dunia ketiga—menolak tabu dalam budaya patriarki yang membelenggu kaum hawa, membuka sebuah kejujuran, menolak kritik penelaah tertentu, dan menolak larangan-larangan yang ditetapkan untuk kaum perempuan. Walaupun sebelumnya Nh Dini, Dayu Oka Rusmini, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lain sudah menyuarakan gender atau semacam usaha perempuan untuk bicara sebagai suatu percikan dari gelombang ideologi dan paradigma feminisme.

Seperti juga yang disuarakan, pemimpin kritikus sastra feminis, seperti Helene Cixous, Julia Kristeva dan Luce Irigaray. Pemikir feminis ini menolak kategorisasi didasarkan pada oposisi biner yang pada akhirny…

Sastra-Indonesia.com