Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Luís Vaz de Camões atas bumi Nusantara

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=393

OS LUSIADES (canto X)
Luís Vaz de Camões

Di bawah sayap terkembang dari pagi menyala,
Lihat, tebaran pulau menghias laut cemerlang!
Tengah ratusan, walau belum bernama, lihat Ternate!
Kala siang, berliput gemawan tinggi bukit-bukitnya,
Kala malam, panji-panji api, bagai ombak menggulung,
Berkibar di laut dan giat menjulang ke langit tinggi
Di sini burung keemasan senantiasa melayangi
Angkasa, mencumbu Surya dengan warna gemilang,
Dan habis makan, terus membumbung masuk udara;
Dan baru kembali menyentuh bumi, bila habis nafasnya.
Di sini kepulauan Banda menerawang rendah indahnya
Dari ragam buahan, warna lazuwardi, merah dan putih;
Dan margasatwa -serbaindah warnanya - melagakkan
Bulunya kilau-kemilau; kala menjelajah puncak-puncak
Buih dan pucuk-pucuk pohon, ditandai sayapnya giat,
Untuk memungut upeti dari taman rempah-rempah.
Borneo pun mengembangkan dadanya yang kaya-raya,
Diselubungi oleh alam dengan hutan kapur barus.
Getah berharga yang dari pepohon…

Kisah Perempuan di Hindia Belanda

Ageng Wuri R. A.*)
http://oase.kompas.com/
Judul Buku : Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda
Penulis : Tineke Hellwig
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007
Cetakan : Edisi Pertama
Tebal : xii + 122 halaman
Harga : Rp. 24.000,00

Kaum perempuan pada masa lalu digambarkan hanya sebagai pemuas kebutuhan seksual pria saja. Mereka pada masa lalu dipandang sebelah mata oleh kaum pria. Namun, dengan tergerusnya zaman kaum perempuan dapat menyetarakan dirinya dengan kaum pria dan ikut berperan diberbagai bidang. Seperti, R. A. Kartini (1879-1904), seorang perempuan pribumi istimewa yang hidup di pulau Jawa pada masa kolonial Hindia Belanda mampu membela hak-hak perempuan untuk pendidikan. R. A. Kartini hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban dari sistem kolonial Hindia Belanda.

Penggambaran kaum perempuan dalam teks-teks kesusastraan yang berkenaan dengan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditulis oleh Tineke Hellwig da…

Putu Wijaya di Mata Para Seniman

Stevani Elisabeth
http://www.sinarharapan.co.id/

Putu Wijaya meraih penghargaaan Akademi Jakarta di tahun 2009 ini. Penghargaan itu akan diberikan kepada Putu Wijaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa dikenal dengan Putu Wijaya (65) telah meng­abdikan hidupnya dalam dunia seni dan budaya. Pria yang lahir pada 11 April 1944 ini telah menghasilkan sedikitnya 30 novel, 40 naskah drama, dan ribuan cerpen. Bahkan beberapa naskah drama dia sutradarai sendiri untuk dipanggungkan di dalam dan di luar negeri.

Di mata para seniman, Putu merupakan sosok yang pantas untuk menerima penghargaan dari Akademi Jakarta tahun 2009. Menurut Ketua Dewan Juri Rizaldi Siagian, Putu telah menunjukkan totalitasnya sebagai seniman, pelopor, dan pekerja keras, dengan disertai produktivitas cetusan pemikiran pembaharuan dalam sastra, drama, dan sinema.

”Di bidang sastra, dia pelopor cerpen absurd dan surealis yang menjungkirbalikkan reali­tas. Kritikus dan akademisi sas…

Membaca Ensiklopedi Aceh, Mengulang Dongeng Lama

Peresensi: Herman RN
http://blog.harian-aceh.com/

Judul buku : ENSIKLOPEDI ACEH
Adat Hikayat dan Sastra
Penulis : L.K. Ara dan Medri (editor)
Tebal buku : 468 + xvi
Penerbit : Yayasan Mata Air Jernih (YMAJ) bekerja sama BRR-Badan
Arsip dan Perpustakaan NAD, JKMA-ICCO
Edisi : Cetakan Pertama, April 2008

Setelah Aceh mengalami sejarah panjang dengan derai air mata, maka menjadi sebuah kepatutan mendokumentasikan segala yang pernah ada di sini, baik yang telah hilang maupun masih tersisa. Salah satu upaya mendokumentasikan tersebut dapat berupa menuliskannya menjadi sebuah buku lalu menerbitkannya.

Adalah L.K. Ara dan Medri, mereka mendokumentasikan sejumlah hal sekitar sastra dan budaya dalam sebuah buku bertadjuk “Ensiklopedi Aceh” Adat Hikayat dan Sastra. L.K. Ara adalah seorang penyair dari Tanah Gayo, Aceh Tengah. Sedangkan Medri merupakan seorang sastrawan asal Riau yang menjadi salah seorang peneliti di Balai Bahasa Banda Aceh sejak tahun 2001—karena lama berkiprah dan menulis di media-medi…

Kisah Pelancong Prancis di Indonesia

Judul Buku:Orang Indonesia & Orang Prancis Abad XVI sampai dengan Abad XX
Judul Asli: Les Français et I’Indonésie du XVIe au Xxe siécle
Penulis: Bernard Dorléans
Penerjemah: Parakitri T. Simbolon dan Tim
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan: I, Oktober 2006
Tebal: xlii + 644 Halaman
Peresensi: Tasyriq Hifzhillah
http://www.ruangbaca.com/

Claude G. Bowers (1878-1958), sejarawan dan diplomat Amerika, pernah berkata, “Sejarah adalah obor yang dimaksudkan untuk menerangi masa lampau, untuk mencegah kita mengulangi kekeliruan yang pernah kita buat.” Bowers betul ketika mengatakan itu karena sejarah mengajarkan kita agar mempelajari kemajuan ataupun kemunduran dari berbagai peristiwa.

Dalam konteks sejarah Nusantara, kedatangan orang Eropa mengandung unsur positif dalam hal penulisan sejarah, karena ada di antara petualang Barat itu yang meninggalkan kisah tertulis mengenai pelayarannya ke Nusantara. Yang terkenal di antaranya Suma Oriental yang ditulis pelancong asal Por…

Musik Sastra Ananda Sukarlan

Ismi Wahid
http://www.tempointeraktif.com/

Wahai pelayar malam
Tiga kapal karam
Masa mendendam
Apa lagi yang kau pendam
Sebelum semuanya tenggelam…

Ananda Sukarlan bukan seorang penyair. Namun pianis muda itu memiliki sensibilitas tinggi terhadap puisi. “Puisi itu seperti sudah bernada dan berbunyi menjadi musik,” katanya. Malam itu, di konser tunggalnya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, yang bertajuk “Libertas”, ia memusikalisasi puisi-puisi yang menyentuh hatinya.

Petilan puisi di atas berjudul Bibirku Bersujud di Bibirmu. Puisi karya Hasan Aspahani itu mengingatkan kita pada mahabencana tsunami lima tahun silam. Musik mulanya mengalun runtut dan datar di indra telinga. Cara Ananda menafsirkan puisi ini menarik. Tiba-tiba piano yang dibawakannya secara trio bersama biola oleh Inez Rahardjo dan alto flute oleh Elizabeth Ashford bergemuruh, mengaduk-aduk pada wilayah nada rendah. Lalu berlanjut dengan komposisi yang menyayat. Masing-masing instrumen seperti berucap sendiri, meneria…

Sastra dan Rasa Kebangsaan

Eriyanti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Perdebatan karya sastra hampir sebanding dengan perdebatan soal membangun karakter bangsa. Namun tidak dimungkiri, pemerintah sebagai lembaga yang berkompeten membangun karakteristik bangsa, seringkali tidak melibatkan karya sastra dalam penyusunan berbagai kebijakan.

Namun, pada kondisi paling ekstrem, justru kesusastraan seringkali dicurigai akan merusak dan menghancurkan bangsa itu sendiri. Pada era sebelum merdeka, buku-buku yang diterbitkan penerbitan swasta dipantau ketat oleh penerbit Balai Pustaka yang mewakili pemerintah.

Namun, kenyataan lain menunjukkan, era reformasi yang membukakan banyak kebebasan termasuk dalam penerbitan karya-karya sastra, justru cenderung paradoks. Di satu sisi, karya-karya sastra bertumbuh sangat pesat. Namun, di sisi lain, tidak menjamin bertumbuhnya karya sastra itu diikuti kualitas karya yang baik. Malah, muncul kecenderungan siapa pun dapat menulis apa pun.

Keadaan ini semakin parah karena tidak adanya ru…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com