Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Hermann Hesse Di Sumatera

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=354

PELAIANG*
Hermann Hesse

Malam benderang oleh cahaya kilat
Dan menggerenyet dalam sinar memutih
Dan berkedip ganas, goncang dan mencolok
Di atas hutan, sungai dan mukaku pucat.
Bersandar pada batang bambu yang sejuk
Aku berdiri dan menatap tiada henti,
Tanah pucat yang dicambuk hujan
Mendambakan ketenangan,
Dan dari masa muda yang jauh
Mendadak terdengar bagai kilat
Teriakan gembira lewat kesuraman mendung hujan,
Bahwa toh tidak semua hampa,
Bahwa toh tidak semua hambar dan gelap,
Bahwa petir masih memancar
Dan bahwa kebosanan hari-hari
Dilewati rahasia dan keajaiban buas yang membara.
Mengambil nafas dalam aku dengarkan guruh menghilang
Dan kurasakan kelembaban badai di rambutku
Dan untuk beberapa detik aku jaga bak harimau
Dan gembira, seperti pada masa muda
Yang sejak masa itu tiada pernah lagi aku rasakan.

* Pelaiang ialah nama tempat di Sumatera (Pelayang).

Hermann Hesse, penulis sajak dan prosa yang tertarik kebudayaan Asia, lahir di Calw, Jerman 1877. D…

Menyingkap Fajar Sejarah Nusantara

Bayu Dwi Mardana
http://www.sinarharapan.co.id/

”Terus terang proses peralihan masa prasejarah ke masa sejarah Nusantara belum banyak disoroti peneliti. Padahal bila diteliti lebih jauh, pada masa ini bisa terungkap bagaimana perjuangan nenek moyang kita untuk berhubungan dengan dunia luar,” ungkap Endang Sri Hardiati, Kepala Museum Nasional, prihatin. Padahal, persentuhan dengan dunia luar itulah menghasilkan era baru dalam sejarah Indonesia. Tentu ini tak bisa kita lupakan begitu saja.

Berawal dari rasa keprihatinan tadi, Endang melontarkan ide untuk mengadakan pameran yang berusaha menyingkap proses masa peralihan tadi berdasar dari temuan-temuan yang sudah dilakukan para peneliti arkeologi. Gayung pun bersambut. Ide manis itu ditanggapi positif Kantor Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Belum lagi dukungan dari para kolega dan ahli arkeologi dalam dan luar negeri.

Selain mengadakan pameran, Museum Nasional juga menggelar seminar dengan tema…

Meramu Tradisi dan Modernitas

A. Yusrianto Elga*
http://www.jawapos.com/

Buku ini adalah dedikasi seorang Zamakhsyari Dhofier terhadap dunia pesantren yang telah membesarkan namanya. Sebelumnya, Pak Zam -demikian panggilan akrabnya- juga menerbitkan buku bertajuk kepesantrenan yang telah diterbitkan dalam tiga bahasa (Indonesia, Jepang, dan Inggris). Buku yang semula merupakan disertasi itu berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (terbit 1982).

Studi kepesantrenan dipilih Pak Zam bukan semata karena kepentingan akademik formal. Tetapi, lebih dari itu, Pak Zam memiliki kepedulian ihwal pentingnya pendidikan di lingkungan pesantren dikembangkan agar mampu bersaing di pentas internasional. Sebab, dalam sejarah peradaban Indonesia modern, eksistensi pesantren telah memainkan peran cukup penting dan mampu mewarnai dinamika pendidikan sejak Indonesia belum merdeka. Meski demikian, waktu itu pesantren pada umumnya masih dikenal sebagai lembaga tradisional pinggiran yang selalu ditentang oleh Belanda.

M…

Sejarah Nabi Adam dan Raja-Raja

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.com/

DI buku Babad Tanah Jawi, Nabi Adam diturunkan di tanah Jawa dan kelak menurunkan raja-raja di sini. Ia berputra Nabi Sis; Sis berputra Nurcahya; Nurcahya berputra Nurasa; Nurasa berputra Sanghyang Wening; Sanghyang Wening berputra Sanghyang Tunggal; Sanghyang Tunggal berputra Batara Guru.

Batara Guru punya ‘’simpanan” putri Kerajaan Mendang, dan dari situlah bermula skandal asmara. Salah seorang di antara lima anaknya, yakni Batara Wisnu, kelayapan ke negeri Mendang dan jatuh cinta kepada ‘’simpanan” ayahnya. Ia mengawini putri simpanan itu (Batara Wisnu tidak tahu ayahnya punya simpanan; ia menduga bahwa ayahnya adalah suami yang lurus-lurus saja). Ayahnya marah. Batara Wisnu kemudian pergi meninggalkan istri yang baru dikawininya dan bertapa di bawah beringin yang berjajar tujuh batang.

Dan seterusnya, babad ini menuturkan sejarah para raja dan skandal demi skandal yang terjadi turun-temurun. Setelah silsilah Nabi Adam, kisah dibuka dengan Prabu Wa…

Mozaik Peradaban dalam Terjemahan

Bandung Mawardi*
http://www.jawapos.com/

NEGERI ini kerap alpa sejarah atau terlambat menyadari karena malas atau mungkin ketidaksanggupan untuk menulis sejarah sendiri. Pandangan ironis itu tampak pada penerbitan buku setebal bantal ini dengan sajian karangan-karangan dari para sarjana ampuh. Mayoritas 65 karangan dalam buku itu ditulis sarjana asing dengan kompetensi dan keseriusan mereka untuk membaca dan menilai Indonesia secara historis. Buku tersebut mungkin melegakan kehausan sejarah bagi pembaca, tapi juga memberi tanda seru atas kemiskinan intelektual negeri besar ini dengan ratusan juta penduduknya.

Buku ini merangkum sekian pandangan tentang terjemahan dari bahasa asing ke bahasa lokal di Nusantara mulai abad ke-9 sampai abad ke-20. Pujian pantas diberikan untuk buku ini karena telah mendokumentasikan jejak-jejak sejarah Nusantara lewat publikasi terjemahan. Konsentrasi atas proyek terjemahan memang sejak lama terabaikan dalam naluri sejarah negeri ini. Pengabaian itu hendak d…

Sastra-Sejarah Mencegah Mitos

Fauzan Santa*
http://blog.harian-aceh.com/

Seharusnya kita tak membuang semangat masa silam/bermain dalam dada/setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai disini – Ebiet G. Ade

Tersebab bermula sastra jika ditanya orang kita adalah fiksi maka kerap orang kita menempatkan karya tekstual tersebut sebagai hiburan lokal yang penting cuma sewaktu soal-soal kehidupan lain sedang butuh jeda dari rutin seharian daripada menjadi sebuah ruang pergulatan juga pertaruhan ruhani untuk menaklukan sejumlah fakta dimana sebenarnya kejernihan sesungguhnya bisa dibicarakan dan diberi makna kembali demi menemukan kesalahan-kesalahan masa silam untuk tak diulang serta menemukan kebenaran-kebenaran untuk terus diperjuangkan sampai kelak sebagai suara dari sebabak kurun yang hiruk gemuruh walau para pesastra tinggal nama diatas nisan.

Jurnalisma sampai titik tertentu mesti berhenti menyusun fakta -seperti sastrawan-wartawan Seno Gumira Ajidarma yang pernah menulis himpunan cerpen Saksi Mata (1995) karena…

Regionalisme Sastra Indonesia

Sudarmoko
http://cetak.kompas.com/

Pembicaraan mengenai regionalisme sastra dapat ditemui secara implisit dalam sejumlah kritik sastra Indonesia. Nilai positif dari pembicaraan ini memberikan kemungkinan baru dalam melakukan kajian terhadap sastra Indonesia. Untuk beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, baik secara tematik maupun geografis, sebenarnya tema seperti ini menjadi lokus-lokus yang dapat dirangkai menjadi kajian yang komprehensif atau setidaknya sebagian besar peluang penelitian atau penulisan kritik sastra Indonesia dapat diidentifikasi.

Para sastrawan Indonesia telah melampaui batasan-batasan latar belakang budaya dan geografis. Mereka berkarya dalam sebuah ranah yang bernama Indonesia, baik dalam artian bahasa, pemikiran, maupun semangat penjelajahan sumber penciptaannya. Meski demikian, memang dapat ditemui sejumlah kesan dan ciri budaya yang melekat dan hingga saat ini dijadikan acuan dalam penulisan sejumlah leksikon sastra Indonesia.

Beberapa buku leksikon dan bi…

Sastra Berbahasa Daerah Punah?

Andi Sutisno*
http://cetak.kompas.com/

Dalam kehidupan manusia, diakui atau tidak, sastra merupakan bagian yang tak terpisahkan. Bahkan, sastra kadang dianggap sebagai alat bagi manusia untuk mengenali diri beserta kompleksititas hidup yang dialaminya.

Dalam konteks tersebut, Boulton (dalam Aminuddin, 1995: 37) mengemukakan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan dan paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan/kontemplasi batin, baik berkaitan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai problem yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Oleh karena itu, mempersoalkan esensi sastra nyaris sama dengan mempersoalkan esensi kehidupan manusia. Di Indonesia, dengan kekayaan suku bangsa yang juga berimplikasi pada kekayaan bahasa daerah yang dimilikinya, sastra juga bersentuhan dengan konstruksi kekayaan budaya dan bahasa yang ada. Hal ini bisa dilihat dari berkembangn…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan