Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

Menggairahkan Sastra di Kudus

Zakki Amali
ttp://cetak.kompas.com/

Waktu terus berlari, siapa pun yang tidak mampu mengimbangi laju waktu akan tertinggal. Tertinggal oleh waktu akan menjadikan manusia sebagai obyek, bukan subyek. Padahal, untuk dapat survive, manusia harus menjadi subyek atas waktu, mengelola dan mengolah waktu agar harapan tercapai. Paradigma inilah yang akan menggairahkan kembali kehidupan sastra di Kudus.

Banyak orang tidak tahu, bahkan (mungkin) warga Kudus sendiri, sastra pernah jaya di Kudus. Kala itu yang paling menonjol adalah Keluarga Penulis Kudus (KPK). Sebuah komunitas sastra daerah yang berdiri pada tahun 1991, didirikan oleh para sastrawan Kudus, seperti Yudhi Ms, Maria Magdalema Bhoernomo, dan Mukti Sutarman Espe. KPK berjasa besar dalam mengenalkan Kudus kepada daerah lain melalui karya sastra mereka. Pada dekade 1090-an eksistensi KPK menuai sukses besar. Karya sastra (cerpen atau puisi) mereka sempat merajai harian Suara Pembaharuan. Hampir setiap penerbitan halaman sastra memuat kar…

Nurhayati, “Penyelam” Sastra “La Galigo”

Suriani
http://www.sinarharapan.co.id/

MAKASSAR - Nurhayati, perempuan yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) 29 Desember 1958 silam, telah menghabiskan separuh hidupnya untuk “menyelami” sastra Bugis La Galigo yang merupakan sastra terpanjang di dunia, melebihi karya sastra Mahabaratha di India dan karya sastra lainnya.

Tak heran jika ketekunan ibu satu anak ini membawanya meraih gelar doktor, yang merupakan gelar untuk perempuan pertama di Indonesia bahkan di dunia, yang mampu merangkum dan merunut karya sastra La Galigo dari kumpulan dokumen. Rangkuman itu dari kumpulan dokumen, baik yang masih dimiliki masyarakat Bugis di Sulsel maupun daerah lain seperti Buton, Jawa, dan Maluku, bahkan dokumen tertulis yang banyak terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

“Karya sastra La Galigo banyak diteliti dan dipelajari orang asing, khususnya Belanda. Bahkan konsep navigasi tokoh sentral La Galigo, yakni Sawerigading, telah diadopsi oleh sistem pelayara…

Aku Berkarya Maka Aku Ada

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri.

Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak.

Meski demikian bukan berarti praktisi sastra Jawa banyak bermunculan. Kenyataannya, tidak banyak sastrawan yang mau secara total berkarya demi kemajuan dan keberadaan sastra Jawa. Oleh karena itu, bisa dikatakan, sastra Jawa semakin terjepit di tengah banyaknya penutur bahasa Jawa.

Keterjepitan sastra Jawa tidak hanya didasarkan pada jumlah …

Mem-Bali-kan Sastra Indonesia: Makna dan Masalahnya

I Nyoman Darma Putra
http://www.balipost.co.id/

Perkembangan sastra Bali modern (sastra yang ditulis dalam bahasa Bali dalam bentuk modern seperti puisi, cerpen dan novel) dalam lima tahun terakhir ini semarak sekali. Kesemarakannya tak hanya ditandai dengan munculnya karya-karya asli yang beberapa di antaranya sudah meraih hadiah sastra Rancage, tetapi juga muncul banyak karya terjemahan ke dalam bahasa Bali atas karya-karya sastra berbahasa Indonesia.

PUISI-PUISI karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono sudah muncul dalam versi bahasa Bali. Begitu juga cerpen-cerpen karya Mocthar Lubis, Budi Darma, Ajip Rosidi dan Umar Kayam. Novel-novel karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Panji Tisna juga sudah muncul dalam versi bahasa Bali. Sebagian karya terjemahan itu terbit dalam bentuk buku yang dicetak secara amat sederhana dan dijual di toko-toko buku, sebagian lainnya menghiasi halaman majalah sastra seperti Buratwangi dan Canangsari.

Usaha alih-bahasa ini dilaku…

Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali

Putu Fajar Arcana
http://www2.kompas.com/

SAMPAI kini mungkin tak banyak yang tahu kalau penulis lagu daerah Bali berjudul Merah Putih bernama I Gde Dharna (69). Padahal hampir setiap anak Bali yang pernah mencicipi sekolahan pasti bisa menyanyikannya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan heroisme para pejuang pada tahun 50-an itu, hingga kini sering ditembangkan dalam pementasan kesenian tradisi di Bali. Para anak muda juga suka mengumandangkan lagu itu di pos-pos keamanan lingkungan. Lagu ini secara resmi pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Bali.

Seringkali hasil karya seseorang lebih dikenal daripada pengarangnya sendiri. Kenyataan ini pulalah yang dialami oleh Gde Dharna ketika namanya disebut sebagai salah satu penerima Hadiah Sastra “Rancage” tahun 2000. Khusus kepada para sastrawan Bali, hadiah ini mulai diberikan pada tahun 1998. Awalnya Hadiah Sastra “Rancage” sejak tahun 1989 diberikan kepada para sastrawan Sunda. Menyusul tahun 1994 kepada para sastrawan bahasa Jawa.

“S…

Laman Penyair Gila: Perpaduan Teknologi dan Keindahan Kata*

Mahmud Jauhari Ali
http://sastra-indonesia.com/

Pernahkah Anda mengunjungi sebuah laman berisi sejumlah pengetahuan tentang jagad alam sastra, khusunya puisi dengan rangkaian diksi yang menawan hati kita untuk membacanya? Mungkin di antara kita pernah menemukan laman-laman yang saya maksud itu. Kemudian kita unduh bagian-bagian penting dari laman tersebut untuk keperluan hidup kita. Bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra misalnya, tentulah untuk keperluan tugas-tugas kuliah dan penyusunan skirpsi atau hanya untuk memuaskan batin guna memperkaya jiwa mereka. Mungkin pula sebagian dari kita tidak pernah menemukan laman-laman tersebut. Bahkan, mungkin masih ada saudara-saudara kita yang sama sekali tidak mengenal internet atau dunia maya sehingga mereka tidak pernah pula mengunjungi satu laman pun. Hal terakhir tadi dapat kita maklumi karena teknologi internet belum merata di Indonesia. Bisa juga karena mereka enggan bergelut dalam dunia yang satu itu. Ya, mereka lebih suka membaca buku-…

Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.com/

Perhimpunan sastrawan Bali tampaknya mendesak direalisasikan karena memang penting dan perlu. Penting untuk menjaga gawang budaya Bali yang sudah banyak kemasukan bola nyasar lewat tembakan spekulasi jarak jauh “pemain asing”. Perlu untuk semakin mengairahkan semangat berapresiasi dalam rangka memperhalus budi dan mencerdaskan atau mencerahkan masyarakat Bali. Namun, menghimpun sastrawan Bali dalam satu wadah, mungkinkah?

BALI pantas berbangga karena memiliki komunitas sastrawan yang terpencar di setiap kabupaten dan Kodya. Namun, sejauh ini, para sastrawan itu berjalan sendiri-sendiri, tak terhimpun dalam satu wadah. Di Amlapura misalnya, terbit majalah Buratwangi yang terkesan “Karangasem sentris”. Di Gianyar berdiri Pondok Tebawutu dikomandoi Made Sanggra bersama I Nyoman Manda, di Sempidi Badung berdiri Sanggar Sangupati diemban Putu Gede Suata. Yang menarik dari semua itu, penerbitan karya sastranya sangat sederhana dan bersahaja. Selain itu…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com