Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Tasawuf Cinta dalam Sastra Sufi

Abdul Wachid BS
http://www.kr.co.id

MAHABBAH menjadi tingkat keruhanian penting setelah digali berdasarkan pengalaman mistik dari ahli tasawuf Ja’far al-Shidiq yang dianggap sebagai pencetusnya, lalu dikembangkan oleh Syaqiq al-Balkhi, dan Harits al-Muhasibi. Namun, di antara tokoh sufi tersebut yang mendalam dan luas pengaruh konsep mahabbah-nya ialah Rabi’ah al-Adawiyah, yang berprinsip bahwa cinta merupakan landasan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan. Pandangannya tersebut terlihat dari doanya yang terkenal (via Abdul Hadi WM, 2002:41):

Kucintai Kau dengan dua cinta
Cinta untuk diriku, dan cinta sebab Kau patut dicinta
Cinta untuk diriku ialah karena aku karam
Di dalam ingatan kepada-Mu semata, membuang yang lain
Cinta sebab Kau patut dicinta, karena Kau singkap
Penghalang sehingga aku dapat memandang-Mu
Segala pujian tidak perlu lagi bagiku
Sebab semua pujian untuk-Mu semata

Menurut Imam al-Ghazali, yang dimaksudkan Rabi’ah dengan “cinta untuk diriku” ialah cinta kepada Allah disebabkan ole…

A.D. Pirous, Zikir Visual Pelukis Tak Berbakat

Dipo Handoko, Ida Farida
http://www.gatra.com/

SETELAH 17 tahun absen berpameran tunggal, Abdul Djalil Pirous, pelukis yang banyak menekuni kaligrafi, kembali menggelar pameran serial bertajuk Restrosepktif 2. Perhelatan yang dihadiri 300 tamu itu diselenggarakan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin pekan lalu. Forum ini sekaligus menandai usia ke-70 tahun lelaki kelahiran Meulaboh, Aceh, itu. Acara juga diisi dengan peluncuran buku perjalanan berkeseniannya berjudul A.D. Pirous: Vision, Faith and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002.

Cukup meriah. Selain seremoni pembukaan oleh Fuad Hassan, yang juga membuka pameran Retrospektif (1985), ada ''parade'' penyair. Sahabatnya, Abdul Hadi W.M. dan Taufiq Ismail, memarakkan acara dengan pembacaan puisi bertema sufistik karya Hamzah Fansuri, dan karya mereka sendiri. Ajang kali ini, yang dilaksanakan hingga 31 Maret 2002, menjadi parade lengkap karya Pirous pada kurun 1960-2002.

Ada 152 karya berupa lukisan, grafis, dan studi eks…

Perempuan yang Merindukan Hujan

Indrian Koto
http://www.lampungpost.com/

SORE jatuh di ujung gedung, digantikan senja yang temaram. Segera, malam menaburkan kegelapan yang paling kelam. Langit menyajikan sekeping bulan yang patah--serupa goresan luka kecil pada wajah. Bintang bertebar di pipi malam, mewartakan batas langit dari ketinggian.

Kota tak hendak menutup kisah, menawarkan kemilau di jalan-jalan, gedung bertingkat dan papan iklan. Malam tak mesti dilalui dengan kegelapan. Trotoar, bangku-bangku dan taman mengisahkan sejarah paling masyuk sepanjang malam.

Kota menggeliat, mengabarkan kemerdekaan yang paling laknat. Kehidupan tumbuh di mana-mana, menyajikan riang wajah-wajah dan gemuruh suara-suara. Malam, waktu yang paling tepat merayakan sebuah kemenangan.

Sebuah kota di musim hujan. Orang-orang tak hendak menutup kisah di balik selimut dan kamar-kamar. Setiap jengkal malam menawarkan kisah paling indah, membawa tiap-tiap tubuh keluar rumah. Tak mesti menutup bagian tubuh, sebab dingin disapu kabut dan lampu-lamp…

MUHAMMAD YAMIN: PERINTIS PERSATUAN KEINDONESIAAN

Maman S Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, khususnya untuk bidang puisi, ada dua kepeloporan penting yang telah ditanamkan Muhammad Yamin (23 Agustus 1903—17 Oktober 1962). Pertama, dalam hal tema yang dikedepankan, dan kedua, dalam hal bentuk yang digunakan. Muhammad Yamin pada mulanya mengangkat tema kedaerahan yang kemudian secara jelas bergerak menuju tema kebangsaan. Dari sudut ini, ia telah menempatkan puisi tidak sekadar alat untuk mengekspesikan perasaan pribadinya, melainkan juga ekspresi gagasannya selaku warga bangsa. Ia menempatkan alam kedaerahan (Minangkabau-Sumatera) dalam hubungannya dengan Tanah Air Indonesia. Itulah mula pertama konsep Tanah Air digunakan yang sejalan dengan perkembangan pemikiran Muhammad Yamin, pemaknaannya bergerak dari makna yang sempit tentang tempat kelahiran (Sumatera) menjadi vaderland (fatherland)—ibu pertiwi—dan kemudian meluas dalam makna sebagai sebuah negara.

Perkembangan pemikiran Muhammad Yamin t…

Dekonstruksi “Rasisme” Sastra Buruh

Gendhotwukir
http://batampos.co.id/

Sastra adalah sastra. Karya sastra adalah karya sastra. Karya sastra tidak boleh dilacurkan pada determinasi-determinasi profesi. Jika demikian yang muncul tendensi “rasisme” karya sastra ditempatkan pada profesi-profesi pencipta karya sastra.

Fenomena determinasi karya sastra pada tataran profesi akhir ini mulai tampak. Tendensi ini berkaitan erat dengan maraknya kehadiran penulis-penulis muda dari kalangan kaum buruh migran. Kenyataan demikian melahirkan satu terminologi baru yang biasa disebut sastra buruh. Sastra buruh diartikan sebagai karya-karya sastra yang dilahirkan kaum buruh.

Tidak jelas kapan secara kronologis istilah sastra buruh ini muncul. Satu hal yang pasti, istilah ini telah menjerumuskan karya sastra pada pelacuran yang jelas-jelas melahirkan wacana serius ke gelombang “rasisme” sastra. Bagi penulis jelas, karya sastra adalah karya sastra dan pemecahbelahan karya sastra secara arogan dengan menempelkan profesi pada karya diciptakannya…

Jalinan Sejarah Sastra Iran dan Indonesia

Mohammad Kh. Azad
http://www.koran-jakarta.com/

Kebudayaan Iran dan Indonesia memiliki jalinan sejarah. Salah satu bukti yang mendukung hubungan sejarah itu adalah adanya persamaan sastra dan bahasa yang saling memengaruhinya. Keberadaan lebih dari 400 kata dari bahasa Persia pada bahasa Melayu yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan eratnya hubungan ini.

Almarhum Zafar Iqbal, mantan dosen Uviversitas Indonesia dan Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta, pernah mengaji pengaruh sastra dan puisi Persia terhadap sastra dan puisi Indonesia serta dunia Melayu dalam disertasinya. Berangkat dari itu, penulis mencoba mengaji hubungan kebudayaan Iran dan Indonesia dari sisi sastra dan syair.

Perkenalan orang Iran dengan orang Melayu memiliki sejarah panjang. Hal ini dapat dikenali berdasarkan dokumen historis, mitos, dan tulisan di batu nisan. Orang Iran, sebelum menerima Islam, karena perdagangan yang luas dengan China dan sebagai jembatan penghubung antara Barat (Kaisar R…

Fansuri, Ulama Sastrawan

Marzuzak SY
http://www.serambinews.com/

Tanah Aceh ini, sejak lampau merupakan lahan subur lahirnya para ulama yang juga pujangga (sastrawan). Sekarang sangat sedikit pengetahuan generasi karena minimnya membaca sejarah dan mengapresiasi karya sastrawan. Apalagi pendekatan dan materi pembelajaran bahasa dan satra di sekolah-sekolah, khususnya sastra daerah (Aceh) hampir tak menyentu aspek apresiasi, guru mati kreatifitas dan kaku sehingga tak menumbuhkan motivasi peserta didik untuk mengenal ranah kesusastraan daerah lebih dalam. Fakta, kesusastraan Aceh masa lampau sekarang menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Padahal, karya sastra Aceh pernah memberi warna dan makna khas bagi perjuangan rakyat daerah ini. Perang melawan kolonialisme di Aceh berlangsung dalam rentang waktu cukup panjang dan para pejuang Aceh tak pernah surut karena spirit udep saree mate syahid , tak kecuali kaum perempuan Aceh maju ke medan perang, dan mereka menina-bobo para bocahnya dengan senandung syair-syiar…

Dunia Kepengarangan, Sarana Membangun Pribadi dan Tamadun

Samson Rambah Pasir
http://www.riaupos.com/

Diskusi bertajuk “Shafirasalja” yang ditaja Dewan Kesenian Riau (DKR) pada 21 Februari lalu, merupakan ‘kicau’ perdana DKR yang diterajui Eddy Ahmad RM di aula barunya di Kompleks Bandar Serai. Bahkan, sebagaimana dikatakan Griven Saputera, Plt Sekum DKR, helat ini merupakan ‘pembuka lawang’ kegiatan di tahun 2009, dengan menghadirkan pembicara UU Hamidy, seorang budayawan terbilang di ranah Lancang Kuning, serta Shamsudin Othman, Ahmad Razali dan SM Zakir, ketiganya dari Tanah Semenanjung, Malaysia. Sedangkan saya ditugasi sebagai moderator – dalam praktiknya lebih jadi tukang sorak, sebagaimana diharapkan Dr Yusmar Yusuf.

Walau helat tersebut sudah berlalu, saya tetap berkeinginan membuat semacam “catatan yang tak terungkai tuntas” dalam perbincangan tersebut lantaran terbatasnya waktu, sehingga catatan yang “tersimpan” itu saya dedahkan di sini – dan tetap jualah bernada tukang sorak agar faedah diskusi juga dapat tersampaikan ke pembaca yan…

Melek Sastra Sedari Dini

Judul Buku: MEMILIH, MENYUSUN DAN MENYAJIKAN CERITA UNTUK ANAK USIA DINI
Penulis: Tadzkiroatun Musfiroh (Mbak Itadz)
Penerbit: Tiara Wacana, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xviii + 234 halaman
Peresensi: Abdul Muis*
http://www.ruangbaca.com/

Membumikan tradisi literer memang bisa ditempuh lewat banyak cara. Entah festival, sayembara, penerbitan karya, simposium, atau apresiasi lainnya. Namun ada satu hal yang selama ini sering dilupakan, yakni generasi kita terlambat mengenal dunia literasi. Kesan elitis muncul karena, antara lain, sedari dini pada generasi kita tak ditanamkan rasa cinta terhadap, misalnya saja, sastra.

Kemarau panjang dunia sastra sesungguhnya mewakili potret kegagalan pendidikan dalam maknanya yang luas. Kita belum mampu melahirkan generasi yang bisa diandalkan. Kebiasaan mengkambinghitamkan orang, membuat kita abai bahwa anak-anak, sebagai pewaris zaman, lebih membutuhkan perhatian.

Buku ini secara tak langsung menampar muka kita untuk menengok ke dalam. …

Sastra-Indonesia.com