Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Ular

Ellyzan Katan
http://www.riaupos.com/

Semua orang tahu, Hasim itu adalah seorang pembual. Hanya dari mulutnya saja yang selalu keluar berbagai macam cerita. Padahal, setiap cerita yang dikatakannya itu tidak pernah benar. Bahkan cenderung mengada-ada. Semua orang telah tahu itu.

Begitu juga dengan aku, jauh-jauh hari memang telah paham, Hasim adalah seorang pembual sejati. Itulah sebabnya setiap kali Hasim mencoba menceritakan apa yang dilihatnya pada rumah panggung tua yang ada tak jauh dari rumahku itu, aku tetap mencoba mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal lain. Sayang, Hasim terlalu kuat. Dia tetap berkeras untuk menceritakan apa yang pernah dilihatnya.

“Dia memakai baju serba putih,” kata Hasim dengan wajah yang serius. “Perempuan itu bernyanyi. Jelas sekali aku mendengar suaranya. Dia memang bernyanyi.” Diperagakannya gaya seorang perempuan duduk di atas sebuah ambin papan.

Dalam hati aku melepaskan kata-kata begini, “Hah, pasti membual lagi. Yang ada bukan seorang perempuan bersim…

Bukhara Kota Pengetahuan

Heri Ruslan
http://www.republika.co.id/

''Gudang pengetahuan!'' Begitu sastrawan besar Iran, Ali Akbar Dehkhoda menjuluki Bukhara salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Penyair Jalaludin Rumi pun secara khusus menyanjung Bukhara.''Bukhara sumber pengetahuan. Oh, Bukhara pemilik pengetahuan,'' ungkap Rumi dalam puisinya menggambarkan kekagumannya kepada Bukhara tanah kelahiran sederet ulama dan ilmuwan besar.

Konon, nama Bukhara berasal dari bahasa Mongol, yakni 'Bukhar' yang berarti lautan ilmu. Kota penting dalam jejak perjalanan Islam itu terletak di sebelah Barat Uzbekistan, Asia Tengah. Wilayah itu, dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Wa Wara' an-Nahr atau daerah-daerah yang bertengger di sepanjang Sungai Jihun.

Letak Bukhara terbilang amat amat strategis, karena berada di jalur sutera. Tak heran, bila sejak dulu kala Bukhara telah menjelma menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, budaya dan agama. Di kota itula…

Luka Beku

Hary B. Kori'un
http://www.lampungpost.com/

AKU berpikir, inilah mungkin saatnya harus menjelaskan padamu bahwa kesalahpahaman yang terjadi memang harus diselesaikan. Bukan menjadi sebuah kebencian, yang kemudian--kulihat kemarin--menjadi bara di matamu: Barangkali sebuah dendam. Bukan salahmu, tetapi hukum di negeri ini yang tanpa pasti, sehingga memang benar-benar sampai hari ini apa yang terjadi padamu--juga ratusan lainnya--tidak pernah diungkapkan lagi.

Namun, mengapa engkau harus memperlihatkan bentuk kekecewaan itu hanya kepadaku? Matamu. Aku memang benar-benar melihat kekecewaan di sana, di sebuah pertemuan yang tidak terduga yang seharusnya menjadi surprise untuk kita. Tetapi hal itu hanya menjadi kejutan buatku. Karena, ketika aku nyaris patah hati mencarimu selama ini, engkau muncul, dan menjelaskan padaku bahwa masih ada laki-laki yang mau menerimamu, barangkali juga dengan rasa cinta seperti aku dulu. Namun, aku tetap tidak menemukan danau yang bening di mata kecilmu. Ad…

CERPEN SEBAGAI POTRET SOSIAL ZAMANNYA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra –di dalamnya tentu saja termasuk juga cerpen— bukanlah sekadar karya fiksional –menyulap fakta menjadi fiksi—tetapi juga catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu. Bahkan, tidak jarang pula sastra menjadi alat bagi pengarang untuk menyelusupkan ideologinya, menawarkan misi budaya, memprovokasi untuk melakukan pemihakan, atau meledek hal atau pihak tertentu secara tersembunyi. Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau buruk; yang tersirat atau tersurat; ledekan atau pengagungan. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situ…

Nadia

Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/

Begitu turun dari mobil, ia langsung berkelebat. Menghilang ditelan kerumunan manusia yang memadati sebuah diskotek di kawasan Jakarta Pusat.

Nadia, sebutlah ia. Rok mini dan blazer warna hitam membalut tubuhnya yang sintal. Ia duduk di pojok. Seorang lelaki bule langsung merengkuhnya hangat. Seraya menghujaninya dengan kecupan penuh birahi.

Tequila segera dipesan. Aromanya yang menyengat membuat wajah Nadia memerah.

"Lagi, double," kata Nadia pada waitres.

Ketika diteguknya kembali minuman asal Mexico itu, wajah dan tenggorokan Nadia langsung terbakar. Mister bule itu pun makin punya alasan untuk mendekap Nadia kian dalam ke dadanya.

Malam di bulan November 1999, Jakarta sedang disiram hujan. Ketika guntur menghajar langit Jakarta berkali-kali, Nadia telah benam dalam tidur. Tentu saja bersama pacar bulenya yang asal Perancis.

Nadia adalah kupu-kupu. Dialah yang pada tiap situasi yang memancarkan aroma madu bernama rupiah atau dollar senatiasa d…

Semburat Senja Bisu

Rita Zahara
http://oase.kompas.com/

“Piye Tin? Kamu mau nrima kerjaan ini? Coba kamu pikir-pikir lagi, daripada kamu bertani, dari pagi sampai sore setiap hari kamu ke sawah, tapi toh enggak bisa nyukupin kebutuhan keluargamu. Apalagi kamu itu cuma buruh tani ,”Pak De Kusno berusaha meyakinkan Sutini agar menerima pekerjaan yang ia tawarkan.

Mata Sutini berkaca-kaca, wajahnya pusat pasi, hatinya miris. Ia sadar apa yang dikatakan Pak De Kusno benar. Sudah 5 tahun menjadi buruh tani , kerja keras banting tulang setiap hari di sawah tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Penghasilannya hanya cukup untuk Kebutuhan makan, itupun makanan yang sangat sederhana. Tiwul dan gaplek adalah makanan utama sehari-hari keluarga Tini atau nasi campur jagung. Sesekali memang bisa makan enak seperti ikan goreng, itupun ikan-ikan kecil hasil tangkapan Pak Lik Jono di sungai.

Air mata Tini jatuh tetes demi tetes mengenai pakaiannya. Dengan terpaksa ia menerima tawaran pekerjaan itu. Menjadi pembantu rumaht…

Peluru Ketiga

Rifka Sibarani
http://oase.kompas.com/

“Kamu kira segampang itu memutuskannya?”
Kupakai celana dalamku. Reo meraih pinggangku dan memelukku dari belakang.
“Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Aku gak bisa melupakanmu begitu saja. Kalau aku bisa melupakanmu, pasti udah dari dulu aku ninggalin kamu. Tinggalkan saja dia. Kita menikah dan hidup bahagia,” bisiknya.

Kali ini aku tidak boleh terbujuk lagi. Kulepaskan pelukannya. Kupakai celanaku . Aku harus segera pergi.

“Reo, apapun yang terjadi aku adalah calon istri Bion. Kau lihat cincin ini? Kau kira aku bisa memutuskan ikatan kami?” Sahutku ketus. “Sebulan lagi kami akan menikah. Hanya maut yang bisa memisahkan kami.”
“Terus kamu ngapain disini? Sebulan lagi kamu menikah dan tadi malam kamu baru saja tidur dengan lelaki yang … entah apamu!” Aku terdiam. Reo benar.

Mendung menyelimuti langit pagi itu. Angin dingin berdesir menyusup masuk ke kamar kami. Hanya desir angin yang terdengar menyanyikan lagu sedih tentang kesepian.
Dering handphone-k…

Keluarga Pengkhayal

Lily Yulianti Farid
http://oase.kompas.com/

BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.
“Bapak narik taksi, ya? Wah….”

Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.

Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.

Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru.

Tapi yang mati bukan hanya adikku. Yang dikubur keesokan harinya bukan hanya jasadnya yang malang itu. Yang menempati kuburan paling dalam adalah hidup kami sekeluarga.

Adik IW bekerja di sebuah kios ayam potong di pasar. Ia bekerja Senin sampai Jumat. Dari pagi hingga petang. Ia kadang diminta pemilik kios mendatangi peternakan di luar kota untuk mengambil ayam-ayam baru. Sesekali di akhir pekan, adik IW membantu bapak di warung. Di rumah kami tidak ada ayam atau unggas lainnya. Rumah kami semp…

A M A N D A

Dodiek Adyttya Dwiwanto
http://oase.kompas.com/

Amanda Amalia. Begitu nama lengkapnya. Nama yang cantik, setara dengan kejelitaan parasnya.

Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, di sebuah casting sebuah iklan. Pertemuan yang tidak sengaja. Saat itu, aku baru saja kembali dari Washington DC, setelah beberapa tahun ditempatkan di kota, sebagai first secretary bidang ekonomi Kedutaan Besar RI untuk Amerika Serikat. Baru dua tiga hari aku menghirup udara Jakarta yang penuh polusi ini, tiba-tiba kawan akrabku, Bobby, seorang creative director biro iklan ternama di Jakarta, menelpon. “Daripada kamu bengong saja, lebih baik kamu ikut aku. Ada casting untuk iklan sabun mandi. Eh, banyak cewek-cewek cantiknya lho.”

Aku manut saja dengan ajakannya. Kebetulan juga aku sudah lama tidak berputar-putar di kota yang supersemrawut ini. Siapa tahu juga ada perempuan cantik yang bisa aku jadikan pacar. Sudah lama juga tak merasakan sentuhan perempuan lokal.

Selama berada di Washington, …

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan