Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
bukan lautan, hanya kolam lumpur
tak ada perang, gempa pun jadi
rakyat terdidik, menipu kian cerdik

Kehendak yang tak terbatas itu
oh, surga dunia
siapakah yang benar-benar ingin hidup
untuk selama-lamanya?

12/01/2007



‘ALA WAZNI

Namanya pen-ja-hat,
dengan alasan sering tertangkap
nama diganti dengan yang lain
kadang koruptor, kadang maling
nama lama diduga tak sehat
sebab mengandung huruf ‘illat

Demi membuang faktor sial
dan menaikkan nilai jual
sebuah nama perlu diganti
walaupun tetap sama arti
penodong dan penjilat sama jahat
beda teganya
perampok dan koruptor sama kotor
beda nyalinya
kalau saja kepergok petugas
akan menerima terapi penjara
meskipun tak sama rawat inapnya

Ganti nama, mentalnya sama
ganti naskah, lakonnya sama

Dari satu akar kata
nama dibentuk aneka rupa
perampok, koruptor, penodong, penjilat
matra wazan-nya pasti punya nilai cacat
jika ditasrif selalu mengandung huruf ‘illat
‘ala wazni pen-ja-hat

16/6/2005



MATTALI DAN MARKOYA

Sekali ini, perkenankan diriku
menyampaikan kembali cercaan mereka
yang membenci karena kita dianggap beda

Engkau yang gagah dan kekar
mereka bilang selalu tertinggal
kalian yang cantik tanpa kosmetik
kata mereka norak saat berdandan

Oh, kejam betul mereka menilai
apalagi bila kita semakin dipojokkan:
menghamburkan duit untuk jajan
tetapi pelit untuk urusan keilmuan

Mattali-Mattali zaman sekarang
bercita-cita jadi bintang televisi
mungkin karena impresi masa muda
yang penting tenar, akibat urusan balakangan
lupa pada kisah Kurt Cobain
yang tak tahan menanggung namanya
karena popularitas yang sangat cepat
menyulap hidup berubah 180 derajat
atau John Lennon yang mati dibedil fansnya
dia yang dulu ketika jaya
mengaku lebih terkenal daripada tuhannya

Markoya-Markoya zaman sekarang
mengidolakan Britney dan Agnes Monica
bukan pada Aisyah atau Khadijah
lebih kenal Florence Nightingale
daripada Laila al-Ghaffariyah
kini, mereka tidak pemalu seperti dulu
sebab gaul, nonton sinetron, dan juga maju
tapi sayangnya, bila datang si hidung belang
dengan busa di mulut dan jurus gombal maut
Markoya sekarang ternyata lebih mudah ditipu

Taretan Maduraku!
atas dakwaan mereka
aku sakit hati tak bisa menerima
aku tak mau bangsaku dianggap nomer dua
tapi yang bikin lebih sakit hati
saat aku berjumpa dengan mereka
berbangga-banga mengaku lainnya
karena minder kalau mengaku orang Madura!

Taretan Maduraku!
kalau kalian mau sekuler-sekuleran
sudah keduluan Perancis
dan kalau mau sombong-sombongan
selalu kalah pada Amrik
lalu, mengapa harus menjadi orang lain
jika bisa menjadi diri sendiri?

Mattali dan Markoya-ku
mohon maaf jika ini kauanggap petuah
sebab ini puisi, bukan khotbah
hanya karena aku merasa tak tahan
jika anggota keluarga besarku disepelekan
agar tak jadi genus terakhir sebelum punah
lalu Madura terhapus dari kitab sejarah

Taretan Maduraku!
sekali ini ada baiknya kita bertanya:
jika Arab punya Yasser Arafat
dan Afrika punya Nelson Mandella
lalu, Madura melahirkanmu sebagai apa?

27/8/2005

----------------
‘ala wazni, secara harfiah, berarti “sama dengan…”. Di dalam Ilmu Tashrif (sistem perubahan bentuk kata; konjugasi) ‘ala wazni digunakan untuk menimbang suatu kata pada kata dasar acuannya (wazan).

Mattali dan Markoya adalah sebagian nama tokoh di dalam drama radio yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Sumenep (Madura). Drama radio ini sangat populer sejak tahun 1980-an.

Komentar